Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
⁷⁹UFB


__ADS_3

Malam itu sebenarnya Andrew ingin segera menyambangi apartemen yang baru ja tinggali beberapa hari. Namun, teman-teman lamanya mendesak untuk ikut party di sebuah club night. Mereka berdalih jika itu adalah welcome party untuk menyambut kedatangan Andrew. Ingin menolak, namun sungkan karena salah satu atasan di rumah sakit tempat barunya bekerja juga ikut hadir. Alhasil Andrew akhirnya ikut.


Padahal setelah hari pertamanya masuk kerja, pemilik nama lengkap Andrew Alfred itu hanya ingin bermalas-malasan di atas ranjang. Ia memang baru kembali dari Amerika, dan langsung ditugaskan untuk menjadi salah satu tenaga medis di rumah sakit kota Kembang. Ia juga akan bekerja sebagai dosen pengganti.


Di usianya yang masih muda, Andrew memang sudah memiliki karir yang gemilang. Maka tak heran jika ia sudah mengantongi gelar profesor.


"Lo nggak mau gue pesenin temen, Drew?"


Walaupun lama tinggal di luar negeri, Andrew tak bodoh dengan maksud dari kalimat sang sahabat. Bagas namanya. Teman yang dimaksud Bagas sudah tentu wanita bayaran yang sejak tadi berseliweran.


"Tidak perlu. Aku akan pulang setelah pukul dua belas malam."


"Halah, nggak seru lo mah. Ini 'kan welcome party buat nyambut lo."


"Tidak ada yang meminta dibuatkan welcome party seperti ini. Tapi, terima kasih."


Bagas berdecak seraya kembali bermanja-manja pada wanita malam yang menemaninya. Cuma Andrew yang tidak tertarik untuk mencari teman. Ia sebenarnya sedikit merasa dibohongi, karena welcome party yang dimaksud malah lebih mirip party wanita malam.


Ketika sedang asik menikmati minumannya, pandangan Andrew tertarik pada dua orang gadis muda yang tampak bersitegang dengan seorang bartender. Mereka terlibat cekcok cukup lama, sampai akhirnya salah satu gadis memberikan sesuatu pada si bartender.


"Seharusnya mereka di rumah, mengerjakan tugas sekolah," gumam Andrew. Di lihat dari perawakannya, mereka pasti masih di bawah umur. Setidaknya, baru punya kartu tanda penduduk.


Jika di Amerika ia lumrah melihat pemandangan seperti itu, tidak dengan Indonesia yang masih menganut paham budaya orang Timur.


Tidak berselang lama, datang satu gadis lain yang lebih menarik perhatian Andrew. Gadis itu tampak cantik sekalipun berdiri di bawah temaramnya cahaya lampu. Ia menggunakan midi dress hitam yang tampak melekat indah di tubuhnya kecilnya.


"Tsk."


Andrew berdecak kecil. Sadar jika ia sudah mirip pedofil. Padahal beberapa saat lalu ia sendiri berpikir jika mereka tak seharusnya ada di tempat seperti ini. Namun, pandangan Andrew tak mau jauh dari ketiga gadis itu. Terutama si gadis cantik yang tampak memiliki ciri khas dengan raut wajah sombong dan congkak.


Ketiga gadis itu tampak bergabung dengan yang lain. Sepertinya mereka juga sedang mengadakan sebuah party. Sampai ketika sebagian dari mereka sibuk berjoged, dua gadis tadi meminta sesuatu pada si bartender. Ternyata sebuah minuman untuk si gadis dengan midi dress hitam. Andrew rasa ada yang aneh dengan mereka.


Cukup lama ia mengamati, sampai ketika gadis dengan midi dress itu ditinggal seorang diri di meja bar bersama seorang pria dewasa. Andrew entah mengapa tidak mau tinggal diam. Ia punya firasat buruk mengenai gadis itu.


"Woi, Drew! mau kemana, lo?" panggil Bagas saat ia beranjak begitu saja.


"Aku pulang," bohong Andrew. Padahal ia sudah bertekad untuk membawa gadis itu pergi dari pria yang mulai lancang melakukan physical touch.


Andrew sebenarnya tidak terlalu yakin, apa yang membuatnya bertindak sejauh itu untuk mengurusi kehidupan orang asing. Namun, yang pasti saat ia mengetahui gadis itu sudah berada di bawah pengaruh alkohol, ia tidak berpikir dua kali untuk membawanya pulang. Andrew juga sempat berdebat dengan pria yang sempat lancang pada gadis tersebut.

__ADS_1


"Alexandria," ucap Andrew untuk pertama kalinya.


Walaupun berada di alam bawah sadar, gadis itu sempat menjawab ketika ditanya siapa namanya.


"Nama yang cantik."


Andrew tidak bohong. Alexandria adalah nama yang cantik. Nama sebuah kota di daratan Mesir. Kota pelabuhan kecil Rhakotis, tepi laut Mediterania yang kini berubah menjadi ibu kota yang besar.


Andrew tidak sepenuhnya mabuk malam itu, mungkin tipsy (agak mabuk). Namun, ia dapat mengingat semuanya dengan jelas. Tentang bagaimana mana ia memulai perkenalan dengan gadis bernama Alexandria itu, sampai ia membawanya pulang dengan tujuan menolong, berakhir pada godaan paling tidak bisa ia tolak seumur hidup. Semua berjalan seperti air, mengalir begitu saja.


Andrew tidak punya niatan apa-apa selain merengkuh gadis itu saat menangis dan bercerita tentang keinginannya untuk keluar dari penjara yang selama ini menyiksa dirinya. Andrew awalnya hanya ingin membantu, walaupun caranya salah. Namun, Andrew berjanji pada dirinya sendiri, apapun yang terjadi setelah mereka menghabiskan satu malam bersama, ia akan sepenuhnya bertanggung jawab.


Andrew sempat kehilangan jejak Alexandria nya. Hampir saja ia putus asa mencari gadis yang sudah ia renggut kehormatannya itu. Namun, pemberitahuan yang sedang heboh terkait pasangan suami-istri Natadisastra, berhasil membuat Andrew menemukan titik terang. Ternyata Alexanderia nya juga satu sekolah dengan sang sepupu.


BUGH!


"Jadi lo yang selama ini gue cari!"


Satu pukulan dilayangkan, dan Andrew tak berniat untuk melawan, apalagi menghindar.


"Berani-beraninya lo sentuh kembaran gue, brengs*k?!"


Alexander murka. Ia melayangkan pukulan membabi buta. Sedangkan Alexa hanya bisa terisak ketakutan. Tak lama, muncul beberapa orang melerai perkelahian tersebut. Ada beberapa orang perawat juga yang datang dan langsung menolong Andrew.


"Diem!" lerai Arga yang tiba-tiba muncul dari sela kerumunan. "Tahan emosi lo."


"Bajing*n itu yang selama ini kita cari."


Arga menoleh, menatap ke arah Andrew yang sudah terluka di beberapa bagian tubuh. "Kita bisa bicarakan ini baik-baik."


"Gue kepancing emosi lihat mukanya."


Arga menghela napas gusar seraya menatap Alexander lagi. "Lepaskan Adik saya," pintanya kemudian. "Biar saya yang mengurus Adik-adik saya," lanjutnya.


Setelah berkata demikian, Alexander dilepaskan. Dengan catatan ia tidak membuat keributan lagi, ditambah lawannya adalah salah satu tenaga kesehatan di sini. Orang-orang yang berkumpul pun satu per satu diminta meninggalkan tempat tersebut.


"Lexa, lo nggak papa?" Alexander bergegas mendekati sang kembaran.


Alexa menggelengkan kepala dengan wajah tertunduk. "Aku mau pulang," lirihnya seraya mengeratkan pelukan pada tubuhnya sendiri.

__ADS_1


"Oke," sahut Alexander. "Kita pulang sekarang."


"Tunggu, masih ada yang harus kita bicarakan." Andrew tentu saja tak tinggal diam mendengar Alexandria nya akan pergi begitu saja. "Bisa kalian tinggalkan tempat ini," ucap Andrew pada dua orang perawat yang tadi membantunya.


"Tapi, luka Anda...."


"Saya bisa menanganinya sendiri," ujar Andrew meyakinkan. "Terima kasih atas pertolongan kalian."


Dua perawat itu pun pergi tanpa membantah. Mereka berpikir Andrew mungkin punya urusan pribadi dengan tiga remaja tersebut.


"Saya Ayah biologis dari bayi yang Alexa kandung. Tolong beri saya kesempatan untuk bicara," pinta Andrew. Ia bahkan tak peduli pada luka-luka terbuka yang dibuat disebabkan Alexander.


"Lo yang bicara sama dia, kalau gue nggak sudi," sahut Alexander seraya menggenggam tangan sang kembaran. "Kalau dia lulus kualifikasi lo, baru boleh bicara sama Lexa."


Setelah berkata demikian, Alexander membawa pergi Alexa dari tempat tersebut. Meninggalkan Arga dan Andrew yang tampak kecewa. Arga baru buka suara ketika Alexander dan Alexa benar-benar sudah pergi.


"Bang."


"Hm."


"Jadi, lo orangnya?" Arga berkata dengan sorot mata yang tidak dapat diartikan. Setelah sekian lama tidak berjumpa, mereka malah dipertemukan dalam kondisi seperti ini.


Andrew mengangguk seraya membuang nafas gusar. "Ternyata Alexandria Adik tiri kamu," monolog Andrew.


Arga terdiam. "Lo ....benar Ayah bayi itu?"


Andrew kembali mengangguk seraya tersenyum tipis. "Kamu pasti tidak menyangka. Tapi, memang benar aku Ayah biologisnya."


"Orion udah tau?"


Kening Andrew bertaut mendengar nama familiar itu dibawa-bawa. "Kenapa dengan Orion?"


"Sepupu Abang suka sama Alexa."


🫐🫐


TBC


Semoga suka 🖤

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘


Tanggerang 01-12-22


__ADS_2