Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
³⁴UFB


__ADS_3

..."Ketika seseorang menghina anda, itu adalah sebuah pujian bahwa selama ini mereka menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan anda, bahkan ketika anda tidak memikirkan mereka," - Bacharuddin Jusuf Habibie....


...🫐🫐...


Sepenggal mentari mulai meninggi, menyinari bumi dengan sinar yang cukup menusuk kulit. Angin sepoy-sepoy tidak lantas mengurangi potensi panas yang menerpa bumi. Banyak warga sekolah yang mulai berhamburan keluar dari kelas. Ruangan apapun terasa begitu panas juga pengap, apalagi saat otak terus menerus dijejali materi. Lalu lalang para siswa-siswi mulai meramaikan beberapa sudut sekolah, terutama kantin.


"Nar, kamu dipanggil Bu Dewi tuh."


Gadis yang baru saja mendudukkan dirinya di atas kursi itu menoleh. "Bu Dewi?"


"Iya. Ke tata usaha gih, ada perlu kali," ujar Cacha, si pembawa pesan.


"Em, kalau gitu aku titip ini dulu, Cha."


"Oke," jawab Cacha seraya mengacungkan ibu jarinya.


Nara memang baru saja hendak menikmati es teh manis yang baru saja dibeli. Namun, belum sempat es teh manis itu membasahi kerongkongan yang kering, panggilan dari staf tata usaha membuatnya harus mengurungkan niat tersebut. Dengan segera Nara menaiki anak tangga untuk menuju ruang tata usaha. Dia juga belum tahu kenapa tiba-tiba dipanggil oleh staf tata usaha.


"Permisi, Ibu manggil saya?" tanyanya saat ketukan yang dilayangkan dijawab dari dalam dengan perintah untuk segera memasuki ruangan.


"Oh, kamu Nara." Wanita yang berusia sekitaran 40 tahunan tersebut menyapa dengan ramah.


"Masuk, duduk disini. Ada beberapa hal yang perlu Ibu sampaikan."


Nara mengangguk, lalu mendudukkan dirinya tepat dihadapan wanita tersebut.


"Begini, maksud dan tujuan saya memanggilmu adalah karena ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan, terutama mengenai pembayaran SPP dan biaya Darmawisata yang masih belum kamu lunasi."


Nara mendongrak, lalu menatap lawan bicaranya bingung. Nara bingung kemana harus mencari uang untuk melunasi tunggakan SPP. Belum lagi membayar uang untuk Darmawisata. Nara belum mendapatkan gajinya bulan ini. Nara juga tahu ayahnya belum memiliki uang sepeser pun, karena uang hasil kerjanya telah digunakan untuk membayar kontrakan dan biaya makan sehari-hari.


"Ibu tahu kamu dan ayah kamu memiliki kesulitan ekonomi, Nara. Tapi, jika kamu tidak membayar SPP dan biaya untuk Darmawisata, kamu terancam tidak bisa mengikuti acara tersebut. Dan kamu pasti tahu sendiri bagaimana konsekuensinya jika tidak mengikuti kegiatan Darmawisata."


Nara mengerti. Karena pada dasarnya darmawisata itu mencangkup beberapa tugas dalam satu kali kunjungan. Jadi, jika tidak mengikutinya, Nara akan kebingungan saat disuruh membuat laporan hasil observasi beserta tugas yang lainya.


"Ibu, saya boleh minta kelonggaran waktu lagi?" tanya Nara, penuh harap.


Wanita itu menatap gadis dihadapannya dengan iba. Para guru-guru tahu betul jika kehidupan gadis pintar ini memiliki banyak kekurangan, terutama dari segi perekonomian. Hal tersebutlah yang membuat Nara terkadang harus mendapat surat peringatan, karena tunggakan pembayaran yang membengkak.


"Baik."


"I--ibu yakin?"


Wanita itu tersenyum, lalu mengangguk. "Sampai akhir minggu ini, sebelum keberangkatan rombongan Darmawisata. Ibu akan memberi kamu kelonggaran sampai waktu itu tiba."


Nara kini dapat tersenyum lega. Setidaknya ia masih punya kelonggaran waktu.


"Kalau begitu kamu sekarang bisa kembali ke kelas."


"Baik, Bu."


Wanita itu mengangguk, lalu mempersilahkan Nara keluar dari ruang tata usaha. Wanita itu dan guru-guru yang lain tahu jika Nara adalah anak yang pekerja keras dan gigih. Oleh karena itu, tidak ada salahnya memberi kesempatan kedua kepadanya.


"Ck. Punya tunggakan SPP aja belagu mau ikut Darmawisata," Cibir seorang siswi ketika Alea baru saja menutup pintu ruang tata usaha.


"Eh upik abu, jangan sok-sokan mau ikut Darmawisata deh lo. Bayar SPP aja gak mampu!"


"Iya. Nambah sumpek pemandangan di bus aja lo," sahut siswi yang lainya.


Nara tidak mau ambil pusing, walaupun cibiran itu mengarah kepadanya. Ia harus sabar juga abai. Toh, cibiran itu tak ubahnya ibarat sebuah pujian. Mereka yang terus mencibir berarti peduli pada dirinya, karena terus memikirkan dan mengusiknya. Sebagaimana kata Bacharuddin Jusuf Habibie. "Ketika seseorang menghina anda, itu adalah sebuah pujian bahwa selama ini mereka menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan anda, bahkan ketika anda tidak memikirkan mereka."


Sedangkan Nara tidak pernah melakukan hal yang sama. Sekarang yang harus dipikirkan oleh Nara adalah bagaimana cara mendapatkan uang dengan cepat untuk melunasi SPP dan biaya Darmawisata.


"Nara, lo nggak mau bareng aja?" tanya Cacha. Kegiatan belajar mengajar telah usai beberapa menit yang lalu. Kini para siswa maupun siswi satu per satu mulai meninggalkan area sekolah Tida terkecuali Nara dan Cacha.

__ADS_1


"Enggak. Aku mau mampir dulu ke suatu tempat."


"Ke mana?"


"Aku mau ke tempat biasa, Cha," ujar Nara sambil memeriksa jam di handphone-nya.


"Lo mau jualan kue lagi?" Nara mengangguk sebagai jawaban. Tebakan Cacha benar sekali.


Sebelum diterima kerja di Lumiere Cafe, Nara memang sempat bekerjasama dengan menjajakan kue dan barang dagangan milik orang lain.


"Buat apa? Bukanya lo masih kerja paruh waktu di cafe?"


"Aku butuh uang buat bayar SPP sama Darmawisata, Cha."


Cacha memang sudah tahu bagaimana krisis perekonomian yang dialami Nara. Bahkan ia sering kali iba melihat apa yang menimpa sahabatnya. Sayangnya, setiap kali ingin menolong, justru niatnya itu malah ditolak mentah-mentah oleh Nara. Cacha hanya diperbolehkan membantu sewaktu-waktu, ketika Nara memang sudah tidak bisa berusaha.


"Lo 'kan bisa pake uang gue dulu, Nar. Kenapa nggak bilang sih?"


Nara menggeleng sambil tersenyum tipis. "Aku masih bisa kerja kok. Terima kasih buat tawaran bantuannya."


Tuh, 'kan. Cacha mendengus mendengarnya. "Tapi, Nar...."


"Aku duluan, ya. Titip pesan buat Arsen kalau nyari aku, bilangan kalau aku udah pulang duluan."


"Kenapa sih Nar, lo selalu nolak bantuan dari gue?" lirih Cacha sembari menatap kepergian sang sahabat.


🫐🫐



Teriknya matahari tak lantas memutuskan semangat Nara untuk menjajakan dagangannya. Hari ini bukan keripik, kue kering atau kue basah yang dijajakan, melainkan beberapa jenis minuman dingin kemasan. Ketika lampu merah menyala, ia akan berlomba-lomba dengan para pedagang asongan lainya.


Ini adalah salah satu pekerjaan lamanya, berjualan ketika di lampu merah. Sasarannya adalah para pengendara yang tentu saja tertahan karena lampu merah. Kehadirannya selalu mencolok di antara pedagang lampu merah lain. Sosoknya yang cantik juga ramah, agaknya membuat pedagang asongan lain iri dan khawatir. Takut-takut semua rezeki mereka lari.


"Saya beli semua ya, cantik."


"H-ah?" kaget Nara, ia pun refleks mendongrak. Menatap si pembeli.


"Saya borong semua."


"Masnya nggak bohong 'kan?" tanya Nara pada pengendara motor sport yang mengenakan helm full face tersebut.


"Buat apa bohong? bohong itu dosa, Tuhan gak suka." pengendara itu terkekeh geli.


Nara sendiri dibuat terdiam seraya menatap sosok di balik helm full face tersebut. Suara, tawa, logat bicara, dan gestur tubuhnya terasa begitu familiar. "Kak Alexander?" tebaknya, ragu-ragu.


"..."


"Ini Kakak 'kan?" desak Nara, menanti jawaban dari lawan bicaranya.


"Yah, kok ketahuan sih?" pemuda itu menaikan kaca helm full face miliknya. Memperlihatkan sebagian wajahnya, terutama area matanya yang khas. "Hai, cantik "


"Tuh, 'kan!" Ketus Nara. "Kakak ngapain di sini?"


"Aku mau borong dagangan kamu. Masa pake nanya lagi?"


"Hah?"


"Udah, buruan sini barang dagangan kamu, keburu traffic light nya hijau lagi," ujar Alexander. Dagunya sambil menunjuk lampu jalan. "Boleh nggak nih?"


Nara mengangguk dua kali. "Boleh."


"Jadi semuanya berapa?" Alexander bergegas mengeluarkan dompet kulit miliknya.

__ADS_1


"Tujuh puluh lima ribu, Kak."


Uang pecahan seratus ribu Alexander berikan. Nara menerima uang itu dengan kening berkerut. "Nggak ada uang kecil, Kak?"


"Ambil aja, sisanya buat jajan."


Nara sempat tertegun mendengarnya. "Tapi kak...."


"Duluan ya, cantik. Udah hijau lagi tuh, thanks buat minuman dinginnya. See you again." Setelah berkata demikian, Alexander kembali melajukan motornya.


Ternyata benar, traffic light sudah kembali menjadi hijau. Nara pun langsung menepi bersama pedagang asongan yang lain. Di tangannya masih tersimpan uang yang tadi Alexander berikan. Walaupun upah dari berjualan di lampu merah tidak seberapa, setidaknya dengan uang yang tidak seberapa itu Nara bisa menyicil tunggakan SPP.


Tanpa Nara sadari, sejak tadi interaksinya diamati oleh seseorang berseragam SMA Angkasa yang melapisi luarannya dengan jaket. Tangannya mencengkram kuat kemudi semenjak melihat interaksi yang tercipta di antara Alexander dan Nara. Ia tidak suka gadisnya tersenyum untuk laki-laki lain. Membuat pening di kepalanya bertambah saja.


"Alexander sial*n," gumamnya sebelum kembali melajukan motornya.


🫐🫐


"Nar."


"Iya, ada apa, Nin?"


"Dipanggil bos ke ruangan."


Nara langsung mengalihkan pandangan dari daging ayam fillet yang tengah di-marinasi ke arah Nindi.


"Naik dulu gih. Itu biar dilanjutin sama yang lain."


Nara mengangguk, lalu mencuci tangganya di bawah keran air. Setelah selesai membersihkan tangan, Nara pun bergegas menuju kebun sayur minimalis di belakang cafe. Menyusuri jalanan yang akan membawanya ke lantai atas, dimana sang big boss tengah menunggu di ruangannya.


Nara juga tidak tahu kenapa tiba-tiba Arga memanggilnya. Entah karena ia pulang terlebih dahulu, atau karena alasan lain.


"Kakak di dalam?" panggil Nara saat ketukan di pintu tak direspon sedikitpun. "Kak, aku masuk ya?"


Nara pun memutuskan untuk masuk, karena tak kunjung mendapat jawaban. Ketika berhasil memasuki ruangan kondisi pencahayaan remang, sunyi serta bersuhu dingin seperti si empunya, Nara tidak langsung menemukannya.


"Kakak dimana?" panggilnya.


"Sstt, gue pusing. Jangan berisik."


Nara refleks menolak menoleh, mencari dari masa suara itu berasal. "Kakak sakit?" tanyanya saat berhasil menemukan sosok yang dicari.


Laki-laki itu tengah berbaring tengkurap dengan sebagian wajah terbenam di permukaan bantal.


"Hm."


"Kakak panggil aku kesini buat apa?" tanya Nara memberanikan diri.


Sosok rupawan itu mengangkat wajahnya dari bantal supaya dapat dilihat sang kekasih lebih jelas. Wajah rupawan yang biasanya dingin dan datar itu, tampak kuyu.


"Gue sakit," katanya dengan penekanan. "Masa lo nggak mau ngerawat gue?"


🫐🫐


TB


Orang sakit duka ngelindur + lagi cembukur 😂😂


Ada rekomendasi novel keren juga, nih 👇



Tanggerang 26-11-22

__ADS_1


__ADS_2