
Mendung di langit kala itu menghantarkan langkah kecil seorang gadis. Di bawah naungan Mega mendung, ia meremat kuat tali tas lusuh miliknya. Berkali-kali ia menghela nafas lemah, guna menenangkan jiwa maupun raga. Langkah kecilnya berulang kali ia mantapkan.
Turun dari sebuah angkutan umum, keberaniannya langsung terkuras seketika. Ketakutan kembali mendera di ulu hati. Padahal ia sudah memantapkan hati sebelum tiba di tempat ini. Sudah cukup pula ia melarikan diri dan bersembunyi. Kini ia harus menghadapi dunia beserta kenyataan itu lagi.
"Nara, ngapain bengong disini? Bukannya masuk."
Seorang gadis lain muncul dari pintu di depannya. Gadis itu menyapanya dengan ramah.
"Yuk, masuk. Kirain kamu masih ambil cuti."
Ia tersenyum tipis sambil menggeleng.
"Ya sudah, ayo masuk. Anak-anak udah kangen kamu tuh."
Gadis itu mengangguk samar, lantas melangkah. Ia harus memantapkan setiap langkahnya hari ini. Agar nanti semua ini bisa terekam jelas dalam memori.
Ketika memasuki bangunan yang masih agak sepi itu, aroma lezat tercium oleh indra penciuman. Ia bisa mendengar semar-samar suara riuh dari arah dapur. Dari tempat pula aroma lezat juga suara-suara itu berasal.
"Wih, Nara. Lo udah masuk kerja lagi?"
Gadis berambut sebahu itu mengangguk.
"Gue denger nama Nara disebut, memangnya dia udah masuk?" Genta datang dari luar dapur. Lelaki itu membawa sekeranjang sayuran segar bersamanya.
"Nih, ada yang baru masuk setelah ngambil cuti lama."
"Wih, udah masuk kerja lagi Nara?"
"Iya." Gadis itu bersuara. Ia menyimpan tas lusuhnya di tempat biasa. "Hari ini launching menu baru ya, Kak?"
"Iya nih. Resep dari Iki sama Libra. Kali ini makanan fast food yang dibuat dari bahan-bahan vegan organik," tutur Genta. "Nanti ada tester, Lo harus coba."
Lelaki bertubuh gempal itu terlihat senang saat melihat Nara telah kembali bekerja. Hampir satu minggu gadis itu hilang bak ditelan bumi. Nara hanya datang dan mengutarakan niatnya untuk cuti karena harus mengurus sang Ayah. Setelahnya, ia benar-benar menghilang selama seminggu penuh.
"Aku boleh bantu?"
"Boleh, boleh banget malah." Genta berujar senang. "Iki sama yang lain belum pada bangun. Gue lumayan kewalahan. Lo bisa bantuin gue, Nar."
Gadis itu mengangguk. Ia dengan cekatan mengikat rambut pendeknya dengan karet gelang. Sebuah celemek juga sudah menggantung di lehernya. Ia tersenyum kecil saat kedua tangannya bisa kembali berkutat dengan pisau, aneka sayuran dan bumbu-bumbu yang seminggu ini telah dirindukan olehnya.
Hari ini ia akan menuntaskan hasrat akan kerinduannya memasak di dapur cafe ini. Berbaur dan bercengkrama dengan para penghuni di dalamnya dengan lugas, sebelum rindu itu kembali datang bertandang.
"Lo kenapa, kok hari ini gue rasa sikap lo aneh?" tanya Iki tiba-tiba.
"Eh, maksudnya gimana ya, Kak?"
"Lo aneh. Tatapan lo itu, kayak nggak rela. Seakan-akan lo mau pergi ninggalin tempat ini."
Ucapan Iki tentu membuat penghuni cafe terdiam berjamaah. Hari memang sudah menjelang malam. Hujan cukup deras mengguyur kota kembang. Mega mendung pun masih menggantung di langit-langit hingga saat ini.
"Lo ngomong apaan sih, Ki? Perasaan si Nara biasa aja deh." Ibo ikut bersuara. Menyela.
"Iya. Perasaan si Nara B aja." Sahut anak-anak yang lain.
"Ini pada kenapa sih? Nara baru masuk kerja lagi. Kok dibilang aneh?" Nindi ikut bersuara. Gadis itu terlihat hendak meninggalkan cafe.
Hujan di luar kembali turun membasahi bumi. Riak suaranya cukup hidmat, mengiringi percakapan dengan suasana akward di dalam tempat tersebut. Mereka masih bertahan di dalam cafe karena jutaan tetes air itu kembali menghujani bumi, meninggalkan genangan air dimana-mana.
"Ini ada apaan sih? Kok akward gini suasananya." Genta datang dari pintu dapur. Ia baru saja menyelesaikan pekerjaannya di dapur.
__ADS_1
"Ini nih, si Iki ngomongnya ngawur dari tadi. Masa si Nara dibilang aneh!"
"Lah, emang gitu 'kan?" sahut Iki.
"Tapi lo nggak boleh mengintimidasi orang segitunya, Ki. Kita 'kan gak tahu apa yang lagi Nara rasain."
Gadis yang sedari tadi namanya terus diperbincangkan itu hanya bisa berdiri mematung di tempat. Sesak menerka relung hatinya. Ia tidak menyangka jika perubahan kecil pada dirinya bisa mereka rasakan. Ia merasa keberadaanya diperhatikan. Nara terharu. Rasa haru itu kian membuatnya berat untuk bertahan.
"Nara, kamu kok nangis?" Nindi berjalan cepat menghampirinya. Ia kaget bukan main saat melihat Nara tiba-tiba menangis.
Iki, Ibo, Genta dan anak-anak yang lain ikut mendekat. Mereka juga terkejut akan tangis yang tiba-tiba Nara tunjukan.
"Maaf," lirih Nara di sela-sela isakannya.
"Nara kenapa minta maaf? Lo nggak salah kok." Genta bersuara. Lelaki gempal itu ikut berdiri di sampingnya. "Gara-gara lo, nih, Ki. Perasaan cewek itu kan sensitif. Jadi nangis, 'kan? ketahuan Arga tau rasa lo."
Iki menggaruk tengkuknya kikuk. "Lah, gue mana tahu dia bakal mewek. Gue kan...."
"Sssttt, udah. Diem aja bisa nggak sih!" Lerai Nindi. "Kamu kenapa, Nar? Udah, jangan nangis lagi. Obrolan tadi jangan kamu masukin ke dalam hati. Iki cuma bercanda. Kamu tahu sendiri'kan kalau dia suka begitu."
Tangis Nara makin menjadi. Air matanya luruh tiada henti. "Maaf."
"Nara, kamu kenapa minta maaf terus? Kamu nggak salah." Nindi kembali mencoba menenangkan Nara. Gadis itu juga tidak enak hati melihat rekannya berurai air mata. "Harusnya Iki yang minta maaf, karena udah...."
"Mulai besok aku berhenti kerja."
Nindi terdiam. Tidak lagi dapat menyelesaikan kalimatnya, sedangkan Iki, Ibo, Genta, beserta anak-anak yang lain langsung berseru secara bersamaan.
"APA?!"
Nara masih terdiam. Betah dengan tangisnya.
"Iya, Nar. Lo jangan bikin kita jantungan dong. Masa lo mau berhenti kerja gitu aja? Nanti siapa yang bantuin Genta nyuci piring lagi?"
Genta tersenyum masam mendengarnya. "Kenapa lo mau berhenti kerja? Ayah lo ngelarang lo kerja?" Ia bertanya. Bukan masalah ada atau tidaknya yang membantu mencuci piring dan peralatan kotor. Bagi Genta, kehadiran Nara lebih dari sekedar itu di bagi Lumiere Cafe.
Nara menggeleng lemah. "Maaf, aku nggak bisa ngasih tahu alasannya." Ia mendongrak. Kedua tangannya telah menghapus lelehan air matanya sendiri. Seulas senyum ia paksakan terbit senatural mungkin di bibirnya.
"Terima kasih untuk waktunya selama ini. Maaf nggak bisa bantuin nyuci piring, bersih-bersih, pilih sayur, atau main bareng lagi. Aku bersyukur bisa kerja di Lumiere Cafe. Aku senang bisa menjadi bagian dari keluarga Lumiere Cafe."
Semua orang tidak merespon. Mereka hanya menatap Nara dengan lekat. Masih shock depan informasi yang Nara sampaikan tiba-tiba.
Nindi menatap Nara sendu. "Kenapa kamu tiba-tiba berhenti kerja, Nara? Nanti siapa yang nemenin aku?"
Alea Nara kecil sebelum berujar, "kamu jangan khawatir. Nanti aku cariin pengganti aku di sini. Banyak kok yang mau kerja di cafe ini."
"Iya, aku tahu soal itu. Tapi apa mereka sanggup menghadapi Arga? Apa mereka bisa buat Arga setuju? Arga itu pemilih, Nar. Cuma kamu pengecualian buat Arga."
Bibir Nara mengatup seketika. Untuk semua ini ia belum tahu pasti jawaban dari pertanyaan tersebut.
"Maaf ya, tapi aku harus pergi," ujar Nara final. Ia harus bergegas pergi, tanpa menunggu lagi. "Terima kasih untuk kenangannya selama ini."
Tidak ada yang merespon guna menghalau kepergiannya. Mungkin mereka hanya mencoba menghargai keputusan Nara.
Nara menunduk, lantas membalikkan badan. Ia harus segera pergi dari tempat ini. Tuhan telah berbaik hati dengan tidak mempertemukannya dengan pemilik Lumiere cafe. Sebelum langkahnya kembali berat akan ketidaksanggupan, ia harus segera pergi. Lebih tepatnya sebelum laki-laki itu kembali.
"Lo pikir bisa pergi tanpa izin gue?"
Deg!
Alea meremat tali tas lusuhnya kian erat. Ia hafal siapa pemilik suara bariton berat itu. Suara itu milik lelaki yang seminggu ini mati-matian ia hindari. Kenapa juga laki-laki harus datang lebih cepat dari perkiraan?
__ADS_1
"Kak." Nara memberanikan diri untuk mendongkrak, menatap lawan bicaranya lewat manik jernihnya. "Aku mau berhenti bekerja mulai besok."
"Lo pikir gue izinin?" laki-laki itu terlihat sekali tidak berniat memberikan izin.
"Tapi, Kak, aku berhak buat berhenti kerja. Lagi pula tidak ada kontrak yang mengharuskan aku tetap tinggal karena perintah Kakak."
Lelaki rupawan dengan surai basah yang berada di ambang pintu itu berjalan mendekat. Ia tak melepaskan tatapannya barang sedikitpun dari lawan bicaranya. Sosok yang seminggu ini menjadi alasan kuat suasana hatinya kacau balau.
"Kasih gue alasan yang masuk akal supaya bisa ngizinin lo berhenti kerja?"
Nara menunduk lesu. Ia tahu, semua ini tidak akan mudah jika menyangkut lelaki pemilik suara bariton tersebut. Ia juga tidak yakin bisa pergi dengan mudah.
"A-ku mau putus," ujarnya lirih. Pedih. Perih.
Satu kalimat itu menimbulkan banyak reaksi bagi jiwa dan raga, namun Nara tetap ngeyel untuk mengatakannya. Padahal ia tahu betul, dengan mengatakan itu bukan berarti ia selamat dari Arganta Natadisastra.
Bohong jika kalimat yang terdiri dari tiga kata itu tidak mengejutkan semua orang, tidak terkecuali Arga sendiri. Alih-alih marah, laki-laki itu malah menyunggingkan seringai tipis setelahnya.
"Itu bukan alasan yang masuk akal," sahutnya santai. "Lo pikir gue bakal setuju?"
Setelah menghilang seminggu ini, gadisnya tiba-tiba muncul dan minta putus. Arga akan mengabulkannya? tentu saja tidak. Rindu yang laki-laki itu tanggung saja belum dibayar tuntas, belum lagi hutang penjelas yang belum lunas.
Lalu, sekarang gadisnya malah minta putus? tidak akan Arga kabulkan.
"T-api, aku memang mau putus dari Kakak." Nara kekeuh pada pendiriannya. Ia menatap manik gelap lawan bicaranya lekat. Memberanikan dirinya sendiri agar tak gentar kali ini. "Hubungan kita selesai sampai disini, Kak. Makasih untuk waktu dan kenangannya beberapa waktu ke belakang. Maaf, kita harus selesai seperti ini."
Gadis itu berlalu setelahnya. Melangkahkan kakinya sekuat tenaga guna meninggalkan tempat yang membuat relung hatinya sesak tersebut. Namun, belum sempat melangkah melewati pintu masuk, suara bariton itu kembali terdengar.
"Gue yang bawa lo masuk ke dalam hubungan ini. Gue juga yang punya hak buat mengakhiri hubungan ini.
Nara terpaku mendengarnya. Memang benar Arga yang memberi label pada hubungan mereka. Arga pula yang membawa Nara pada hubungan tersebut.
"Lo pikir bisa pergi dengan cara begini?"
Nara masih tak bergeming. Cara yang ia pilih memang salah. Cenderung disebut sebagai keputusan yang sembrono.
"Lo pikir semua ini akan mudah?"
"Kak, please." Nara berujar tanpa berbalik. Ia tidak mampu menatap wajah rupawan itu lagi. "Lebih baik kita akhiri semua ini, sebelum lebih banyak yang tersakiti."
"Siapa?" Arga bertanya seraya melipat tangan di depan dada. Punggung mungil gadis itu kini menjadi objek pandangannya. "Apa lo minta putus karena si sial*n Alexander?"
"...."
"Atau karena adik Seno?"
Nara menutup matanya erat guna menghalau air mata itu jatuh untuk ke sekian kalinya. Ia sudah memantapkan hati untuk semua ini. Ia harus bisa bertahan dan melewati semua ini.
"Bukan keduanya. Bukan karena Kak Alexander atau Arsen, bukan juga karena hadirnya orang lain. Ini semua murni keputusan aku. Aku yang mau hubungan ini berakhir sampai di sini." Nara menggigit bibir bagian dalamnya kuat guna menahan isakan yang bisa terdengar kapan saja. Saking kuatnya gigitan tersebut, ia bahkan mulai bisa merasakan bau anyir darah segar.
"Perpisahan lebih baik untuk kita, Kak." Katanya kemudian. "Karena ini adalah cara terbaik supaya kita tidak lagi saling menyakiti," lanjutnya di dalam hati.
**
TBC
Semoga suka 🖤
Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘
Tanggerang 13-12-22
__ADS_1