Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
⁵⁰UFB


__ADS_3

Speedo meter yang menunjukan laju kecepatan berkendara motor CBR itu kian memelan saat memasuki pelataran sebuah cafe. Ketika kendaraanya sudah terparkir dengan apik, ia melepas helm full face yang melekat di kepalanya. Sudah hampir 5 hari tidak menyambangi sumber penghasilan utama, ia sengaja meluangkan waktunya untuk itu.


Setelah menyelesaikan urusannya dengan anak-anak di basecamp, kini tinggal anak-anak cafe yang belum ia sambangi. Denting lonceng yang terpasang di pintu, menjadi pertanda akan kedatangannya. Cafe malam ini cukup lenggang. Hanya ada motor para staff di parkiran, ditambah sebuah mobil Pajero sport hitam yang bertengger apik di sana. Ia cukup hapal, siapa pemilik benda beroda empat tersebut.


Pertanyaannya adalah, sedang apa pemilik kendaraan itu ada di cafe nya?


"Ta?" Genta menyambut kedatangannya. Lelaki bertubuh gempal itu tergopoh-gopoh menghampirinya.


"Hm?"


"Bokap sama nyokap lo ada disini. Mereka udah dari tadi nungguin lo."


"Biar gue urus."


Arganta Natadisastra, lelaki itu berjalan lurus menuju satu-satunya meja yang terisi oleh 4 orang. Mendengar derap langkah lebar mendekat, pria paruh baya yang masih tampak bugar yang mengisi meja tersebut berbalik menoleh.


"Kamu baru datang?" tampak rapih dan berkelas seperti biasa, pria dengan pakaian formal itu bertanya.


"Ada perlu apa kesini?" alih-alih menjawab, Arga malah balik melontarkan pertanyaan.


"Duduk dulu, Arganta. Papa mau bicara."


Pria itu kembali bersuara dengan tenang. Walaupun ia tahu dengan pasti jika putranya itu tidak akan mudah menuruti.


"Langsung ke intinya, mau apa kesini?" leader of SPHINIX itu kembali bertanya. Kali ini suaranya terdengar sangat dingin.


"Arga, pelan kan suara kamu. Kamu sedang berbicara dengan Papamu." Wanita yang kebetulan duduk di samping pria paruh baya tadi ikut buka suara.


Si empunya nama tak menggubris. Ia dengan cepat menarik sebuah kursi untuk diduduki. Maniknya menatap lurus ke arah pria yang menurunkan hampir 80% ketampanan pada wajahnya.


"See, gue cuma punya waktu 15 menit."


Kali ini Arga berbaik hati hati memberi mereka waktu, namun gaya bicaranya berubah.


Utama Natadisastra hanya bisa menghela nafasnya setiap kali putra sulungnya. Arganta Natadisastra itu perpaduan antara sikap dirinya yang keras, sekeras batu. Namun, Utama tahu jika Arga juga menuruni sifat perhatian dan penyayang dari ibunya. Almarhum istri pertamanya.


"Kamu dari mana saja? Papa belakang tidak melihat kamu si sekolah."


"Penting banget buat dijawab? Bukannya Anda sudah tahu jawabannya?"


Mendengar kalimat tersebut seorang lelaki yang duduk di sebrang Arga menyunggingkan seringai tipis. Ia semakin penasaran akan drama yang akan disuguhkan sepasang ayah dan anak tersebut.


"Jadi kamu ikut pergi ke lokasi darmawisata?" tanya Utama seraya membenarkan letak frame kacamata miliknya. "Mengawal anak-anak Darmawisata, atau mengawal gadis gembel itu secara pribadi?"


BRAK!


Dua gebrakan keras terdengar secara bersamaan. Bunyi-bunyian tersebut berasal dari dua pukulan telak antara kepalan tangan dan permukaan meja. Saking kerasnya, bahkan dua pukulan tersebut membuat apa yang ada di atas meja tumpah ruah kemana-mana.


"Oh my Go, dress Lexa!" seru gadis yang kebetulan duduk di hadapan pasangan suami istri tersebut, panik saat dress yang ia gunakan terkena tumpahan coffe Ice.


"Astaga, Alexa." Si ibu ikut-ikutan panik. Ia dengan segera mengambil beberapa lembar tisu untuk mengurangi noda yang timbul.


"Kalian bisa tidak jangan rusuh? Lihat, dress Alexa jadi kotor begini?" Wanita itu menatap berang putra biologis dan putra sambungnya murka.


"Bac*t!"


Seolah-olah sehati, dua laki-laki itu membalas secara berarti.


Wanita itu melotot kaget atas respon yang diberikan oleh dua lelaki muda yang menjadi lawan bicaranya. Tampak sekali ia tengah menahan amarah di depan suami serta anak-anaknya. "Kalian...."


"Apa?" Arga mengangkat wajahnya tinggi, menatap wanita yang merebut posisi ibunya sebagai istri Utama Natadisastra. "Lo nggak ada hak buat marah sama gue."


"Arga, cukup." Utama buka suara. Mencegah keributan lebih parah terjadi di antara anak dan ibu sambung tersebut. "Kalian berdua, duduk. Papa mau bicara!"


Dua lelaki muda itu kompak buang muka. Tak ada satupun dari keduanya yang mau menurut. Utama memijit pelipisnya pening. Ia pikir pertemuan ini akan jauh lebih 'baik' ketimbang pertemuan mereka terakhir kali. Ternyata kedua putranya kembali berulah dan memberontak.

__ADS_1


"Apa saja yang kalian lakukan di luar sana?"


Arga memutar bola mata malas mendengarnya. "Darmawisata. Informan Anda juga pasti tahu soal kegiatan saya selama berada di sana."


Utama tidak merespon. Tidak ada yang aneh soal kepergian putra sulungnya ke kota Santri tersebut. Toh, informan suruhannya juga berkata demikian. Arga hanya mengawal anak kelas sebelas menjalankan kegiatan darmawisata.


"Kamu....." Utama melirik putra lainnya. ".... Alexander?"


Pemilik nama tersebut memutar bola mata malas. Malam ini ia tampil dengan jaket parasut hitam yang melapisi T-shirt berwarna navy. Dipadukan dengan bawahan berupa jeans belel yang robek sana-sini. Tidak ketinggalan anting-anting panjang yang gemerincing, berbunyi nyaring saat si empunya bergerak.


"Menghilang kemana kamu belakangan ini?"


Arga menajamkan pendengaran. Informasi yang barusan ia dengar cukup membuatnya berpikir kemana-mana. Apa mungkin kepergian Alexander ada sangkut pautnya dengan insiden hilangnya Nara?


"Ngebolang," jawabnya santai. "Kenapa? Gue juga punya agenda buat keluar kota." Ia terang-terangan menoleh ke arah Arga yang tampak meliriknya lewat ekor mata.


"Pergi kemana kamu?" Utama kembali bertanya, seolah belum puas menuntut sebuah jawaban.


"Kenapa harus bertanya? Anda kehabisan uang untuk menyewa orang mengikuti gue?" balik tanya putranya. "Kemanapun gue pergi, nggak ada efeknya buat Anda."


"Alexander, jaga bicaramu!" sang ibu angkat bicara. Mengingat ucapan putranya sudah kemana-mana.


"What's wrong, mom? Gue nggak salah kok," sahut putra yang sarat akan penekanan.


"Sudah, lebih baik kamu jawab pertanyaan papa," lerai Utama. "Apa yang dilakukan pengangguran seperti kamu di luar sana, selain tawuran dan clubbing?"


Alexander tertawa renyah mendengar kalimat tersebut. Lucu sekali saat pria yang telah menyumbangkan darah pada tubuhnya itu mengatakan jika dirinya pengangguran. "Bukan cuma putra Anda yang punya udah, saya juga punya. Bedanya, usaha saya lebih tertutup ketimbang usaha putra Anda. Penghasilannya juga lumayan, mampu lah buat biaya hidup."


Sussanne menatap putranya heran. Anak kecil yang dulu pergi dari rumah itu kini hidup mandiri, bahkan sudah punya penghasilan. Padahal Sussanne selalu berpikir, bisa apa putranya di luar sana? sudah benar ikut ibunya tinggal bersama ayah kandungnya yang kaya raya


"Kalian berdua, pulanglah."


Baik Arga maupun dan Alexander kini sama-sama melayangkan tatapan ke arah sama, namun dengan makna yang berbeda.


"Pulang. Papa mau kalian pulang dan kita hidup seperti keluarga pada umumnya. Cafe dan apapun itu pekerjaan sampingan kalian, bisa kalian handle dari rumah. Bahkan bisa merger dengan perusahaan Papa," tawar Utama.


"Jika menjanjikan Papa bisa urus semuanya."


Alexander tertawa renyah mendengar kegigihan sang ayah. "Jangan deh, gue yang nggak sudi," sahutnya kemudian. "Mendingan gue kerja lebih keras buat ngembangin usaha kecil-kecilan itu, ketimbang merger dengan perusahaan Anda."


Selepas mengucapkan hal tersebut, Alexander langsung membuang muka. Cih, merger katanya?


"Ingat status kamu, Alex. Papa tidak mau kamu berulah lagi di luaran sana."


"Status? Gue ini nggak punya status apapun. Orang tua juga nggak punya, mana ada status."


"Alexander Natadisastra , jaga bicara kamu!" Sussanne, ibu kandungnya mengoreksi dengan cepat.


"Maaf, Anda hanya sebatas wanita yang melahirkan dan membesarkan saya hingga usia 8 tahun. Selebihnya, Anda bukan siapa-siapa."


Deg!


Wanita dengan red dress itu tampak tercekat di posisinya. Ia tidak menyangka akan mendengar kalimat tersebut dari bibir putra yang ia lahir kan belasan tahun silam.



"Orang tua saya telah meninggal dilalap si jago merah," tukas Alexander. "Mungkin Anda lupa, jadi saya ingatkan kembali." Senyum miring tercipta di sudut bibirnya. "Udah, gue pamit all. Mau jajan dulu, lama nggak jajan bikin dompet tebel."


Alexander berlalu setelahnya. Meninggalkan mereka bertiga, termasuk Arfa yang masih ada di sana.


Alexander tetaplah Alexander. Ia akan pergi jika sudah tidak dimengerti. Ia akan memberontak jika sekiranya sudah tidak sehati.


"Jika urusan Anda sudah selesai, sebaiknya cepat pergi dari tempat ini." Kini giliran Arga yang memperlihatkan ketidaksukaan atas keberadaan mereka yang masih enggan untuk beranjak. "Cafe sudah tutup."


Utama beranjak. Pertemuan ini memang jauh dari bayangannya. Akan tetapi, sekarang ia jadi tahu jika kedua putranya sudah kembali berada dalam jangkauan. Namun, sebelum pergi ia sempat meninggalkan pesan.

__ADS_1


"Ingat status kamu sebagai pewaris utama Papa, Arganta Natadisastra. Jangan membuat malu Papa dengan mengencani gadis gembel itu."


Arga mengeraskan rahang mendengarnya. "Peduli apa Anda soal saya? kenapa urusan asmara saya jadi masalah Anda?"


"Kamu anak Papa, sampai kapanpun hal itu tidak dapat diubah. Papa menginginkan yang terbaik untuk kamu. Papa bisa melakukan apa saja untuk membuat gadis itu sadar akan statusnya." Setelah berkata demikian, Utama berbalik. Menatap istrinya dan putrinya.


"Ssane, ayo kita pulang."


Wanita itu menanggapi. "Baik, Mas."


Pasangan suami-istri itu berlalu setelahnya. Meninggalkan Arga yang tengah mati-matian menahan ledakan emosi.


"Jauhin dia dari sekarang, Ta. Atau kamu bakal lihat Papa melakukan sesuatu yang diluar dugaan. Status kamu sama dia itu berbeda, Papa nggak akan tinggal diam sekalipun Tuhan menyatukan kalian."


Gadis yang berdiri beberapa meter di dekat Arga itu buka suara. Tatapannya terkunci hanya pada Arga. "Kamu harus ingat baik-baik ucapan Papa. Berhenti sebelum semuanya semakin rumit."


"Cukup!"


Gadis cantik itu tersenyum kecil. "Aku cuma mau bilang itu. Aku akan pergi, see you my older brother."


Alexa, gadis itu berlalu pergi setelah berkata demikian. Meninggalkan Arga yang mulai terpancing. Terlihat dari bagaimana laki-laki itu meremat jemarinya hingga memutih.


"Sial*n!" Umpatnya murka sebelum menendang meja yang ada di depannya.


Tendangan bebas tersebut tentu saja menciptakan keributan di ruangan yang hening nan sepi. Padahal, di balik pintu pantry ada beberapa pasang mata yang sejak tadi menjadi saksi bisu. Mereka ada di sana, beberapa staf inti cafe, serta anggota inti geng SPHINIX. Mereka memang dilarang menganggu oleh dua bodyguard yang dipekerjakan oleh Utama Natadisastra. Jadilah mereka semua berkumpul di dapur.


"Jadi .... leader of SPHINIX, si burung api, sama Alexa itu saudara?" salah seorang di antara mereka buka suara. Penasaran akan identitas para keluarga Arganta.


"Tapi, bukannya leader itu musuh bebuyutannya Alexander? Kok bisa mereka selama ini bersaudara? berarti selama ini kita ditipu besar-besaran?"


Orion, Libra, Iki dan Genta yang kebetulan ada di sana memilih bungkam. Mereka juga tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya pada yang lain.


"Parah, drama banget. Gue kayak lagi nonton K-Drama kesukaan nyokap." Salah satu diantara mereka nyeletuk. Tak habis pikir. Coba saja bayangkan, selama ini Arga musuh bebuyutan dengan PIONIX yang notabene diketuai oleh saudaranya sendiri.


"Udah, jangan pada bac*t lagi. Pusing gue dengernya." Libra angkat bicara. Matanya memutar malas saat anak-anak lain merasa sok dibohongi. "Arga punya alasan sendiri, kenapa sampai nutupin identitasnya sama anak-anak. Lo semua harusnya ngertiin posisi Arga."


"Yes. Hidup Arga nggak mudah, asal lo semua tahu. Lo pikir aja sendiri, gimana susahnya hidup bareng benalu yang terus nempel kayak lintah." Iki ikut menyuarakan pendapatnya. Ia jengah melihat yang lain berpendapat seenaknya. Padahal mereka tidak tahu seberapa sulit hidup Arga.


"Sejauh ini Arga udah banyak berkorban buat kita dan organisasi. Dia punya alasan kuat dibalik apa yang ditutupinya selama ini."


Dua lelaki yang tadi saling melempar argumen itu tertawa renyah. "Santai aja, bro. Lagipula, kita tahu gimana solidaritasnya seorang Arganta Natadisastra. Terlepas dari status bawaan lahirnya itu, kita tetap setia satu paham sama Jendral."


"TOP MARKOTOP?!" Iki berseru riang sambil mengangkat dua jempolnya. Ternyata mereka bisa lebih oven minded.


"Itu baru namanya anak SPHINIX."


"Iya dong, kita tetap satu JATI DIRI, HARGA MATI."


Mereka kompak tertawa renyah setelahnya. Dibalik fakta status sang leader yang mengejutkan, mereka bisa langsung men-judge seorang Arganta Natadisastra. Orang yang selama ini merangkul mereka pada sebuah organisasi yang mumpuni dari berbagai aspek.


Lagipula mereka juga sudah tahu bagaimana tabiat dan solidaritas seorang Arganta Natadisastra terhadap organisasi yang ia pimpin. Selain itu, jiwa solidaritas tanpa batas melekat kuat pada diri mereka.


Arganta Natadisastra yang memberi sebagian besar dari mereka uluran tangan ketika tercebur pada kejahatan, memberi mereka tempat bernaung, makanan yang melimpah-ruah, pekerjaan yang layak, serta memperlakukan layaknya saudara.


Oleh karena itu, mereka tidak mungkin membenci Arga hanya karena statusnya yang ternyata terikat darah dengan Alexander, leader of PIONIX. Mereka menyakini satu hal, ada alasan di balik setiap tindakan. Akan ada masanya Arga mengutarakan alasan dibalik semua keputusan yang selama ini ambil.


🫐🫐


TBC


Semoga suka 🖤


Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘


Ada rekomendasi novel keren juga nih 👇

__ADS_1



Tanggerang 10-12-22


__ADS_2