Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
⁷⁴UFB


__ADS_3

"Angkat telepon gue, anj*ng!" seruan dengan penuh penekanan itu terlontar dari bibir lelaki yang tengah berdiri di balik sebuah pintu.


Dari luar ia bisa mendengar suara benda pecah yang kembali berbenturan dengan lantai. Perasaannya jadi ikut kacau-balau.


"Arganta Natadisastra, angkat telepon gue!"


Demi Tuhan, jika ia punya kebebasan untuk meninggalkan kembarannya yang ada di dalam sana, ia akan pergi dengan segera. Namun, hatinya tidak merasa bebas jika harus meninggalkan sang kembaran yang emosinya belum stabil.


"Bangs*t!"


Alexander kembali mengumpat seraya men-dial sambungan tersebut. Kesabarannya habis sudah.


"Lexa, buka pintunya!" kini Alexander beralih, menggedor pintu kamar yang digunakan kembarannya semenjak satu Minggu belakangan dengan brutal. "Lexa, gue tau lo shock. Tapi, jangan begini." Nada bicara Alexander kian mengecil di akhir. "Gue nggak bisa lihat lo terus-menerus begini, Lexa."


Masih tidak ada jawaban dari dalam sana selain tangisan yang samar-samar terdengar. Sudah dua Minggu semenjak foto-foto Lexa tersebar di sekolah. Hidup gadis itu berubah total. Sehari setelah foto-foto itu muncul, Alexa langsung dipanggil kesiswaan dan kepala sekolah. Diinterogasi mengenai kebenaran foto-foto tersebut. Karena benar dalam foto tersebut adalah Alexa, pihak sekolah pun meminta Alexa untuk belajar di rumah beberapa hari, sampai kehebohan tersebut reda.


Alexa tentu saja tidak terima, karena jelas-jelas ia bukan melakukan itu dengan sengaja. Namun, pihak sekolah tidak menerima toleransi. Mereka juga sudah mendengar keterangan dari Decha dan Putri yang malam itu kebetulan sempat bersama Alexa. Akan tetapi, kesaksian Decha dan Putri sama sekali tidak membantu meringankan hukuman Alexa.


Setelah menyelesaikan hukumannya, Alexa baru bisa kembali masuk sekolah. Nyatanya satu Minggu full ia diliburkan. Satu Minggu setelah diliburkan, Alexa juga sudah tinggal bersama Alexander di sebuah rumah yang dijadikan sebagai markas baru PEONIX. Rumahnya memang tidak besar, namun cukup bagi mereka tinggal dan beristirahat.


Alexa pikir dengan banyak koneksi yang dimiliki orang kenalan keluarga Blake, kasus mengenai foto-fotonya yang menyebar sudah selesai. Foto-foto tersebut memang sudah menghilang, namun Alexa tetap jadi bahan perbincangan. Waktu itu Alexa masih bisa menahan diri. Tidak dengan hari ini.


"Tolong jaga kembaran gue, Gray."


"Hm. Lo tenang aja," sahut pemilik nama tersebut.


"Kalau gitu gue pergi dulu."


Gray mengangguk sebagai jawaban. Alexander tersenyum tipis, sebelum menepuk bahu sahabatnya. Ia sempat berbalik ke arah sang kembaran yang sedang terbaring lemah dia ats tempat tidur.


Alexander berhasil menerobos masuk setelah mendobrak pintu. Ia tidak bisa lagi berpikir positif setelah mendengar jeritan kesakitan dari dalam ruangan. Ketika berhasil mendobrak pintu, Alexander dibuat panik bukan main saat melihat tubuh kembarannya yang sudah tidak sadarkan diri.


"Bertahan, gue mohon. Jangan sampai lo menyerah seperti Ayah," bisik Alexander di kening sang kembaran. Satu kecupan kemudian ia tinggalkan.


"Kalau ada apa-apa, langsung hubungi gue," pesan Alexander sebelum pergi meninggalkan sang kembaran bersama salah satu orang kepercayaannya.


Tujuan Alexander hanya satu, yaitu tempat di mana Arganta Natadisastra berada.

__ADS_1


🫐🫐


"Lo masih betah disini?" pernyataan basa-basi itu dilontarkan lagi pada objek yang sama. Objek yang tidak memberikan respon apa-apa sekali pun sudah diajak komunikasi dengan berbagai cara.


"Tangan lo udah kecil, sekarang makin kecil," lirih lelaki tampan yang masih menggunakan almamater SMA Angkasa tersebut.


Salah satu tangannya dengan lembut membelai jemari mungil sang kekasih yang tampak dingin dan pucat. Ya, objek yang tidak memberikan respon apa-apa sekali pun sudah diajak berkomunikasi adalah kekasihnya, Aleanska Nara.


Pemilik nama itu sudah hampir satu bulan terbaring tidak sadarkan diri di atas hospital bed dengan berbagai alat penunjang kehidupan terpasang di tubuhnya. Selama kurun waktu tersebut, kekasihnya, Arganta Natadisastra tak pernah sehari pun absen untuk datang menjenguk. Tak jarang, Arga bahkan menginap di rumah sakit demi menemani sang kekasih. Selain Arga, Alexander, Cacha, serta Arse juga kerap kali berkunjung. Alexa juga kerap berkunjung, namun saat tidak ada Arga atau Alexander.


Libra, Iki, Orion, Genta, Ibo, Nindi, dan anak-anak SPHINIX yang lain juga sudah beberapa kali berkunjung. Mereka semua sebisa mungkin memberikan support bagi Nara supaya bisa cepat bangun dari kondisi koma. Kondisi vegetatif tersebut membuat banyak orang kehilangan Nara yang notabene happy virus bagi mereka. Mereka sudah lama merindukan Nara yang ceria. Bukan yang tidur seperti Princess Aurora.


Sejauh ini belum ada kabar baik dari kondisi Nara. Tidak ada perkembangan signifikan yang dapat memuaskan hari orang-orang terdekat Nara. Namun, dokternya selalu berpesan untuk jangan parah semangat, karena masih ada kemungkinan bagi kesembuhan Nara.


"Arganta Natadisastra."


Pemilik nama tersebut tidak perlu menoleh hanya untuk memastikan siapa yang baru saja menyebut namanya.


"Hm?"


"Keluar, kita perlu bicara," ujar lawan bicaranya yang ada di ambang pintu, di belakang tubuhnya.


Arga merespon singkat sebelum beranjak. Ia menjatuhkan satu kecupan di kening sang kekasih sebelum pergi menemui saudara tirinya itu.


"Ada apa?" tanya Arga to the point, ketika sudah berhadapan dengan Alexander.


"Apa gunanya hp kalau lo nggak bisa angkat telepon pas lagi dibutuhkan?"


Kening Arga bertaut mendengarnya. "Gue nggak tahu benda itu dimana."


Alexander berdecak kasar mendengar jawaban kakak tirinya itu.


"Memangnya lo ada perlu apa?"


"Lo pura-pura nggak tau? atau memang kurang update?"


"Bicara langsung ke intinya," ujar Arga dengan sorot mata acuh.

__ADS_1


"Gue tahu lo benci nyokap gue. Karena alasan itu juga lo benci gue sama kembaran gue. Tapi, buat kali ini, gue mohon singkirin dulu rasa benci lo itu."


Arga tak mengerti dengan arah pembicaraan Alexander yang berbelit-belit baginya.


"Apa mau Lo?" tanay Arga seraya menatap Alexander lekat.


"Gue punya dua adik. Keduanya sama-sama penting bagi gue. Tapi, lo cuma sayang dan cinta sama satu adik gue. Sedangkan sama yang satu lagi, lo bener-bener nggak peduli sama dia."


"Bac*t. Bicara langsung ke intinya!"


Alexander tersenyum miring seraya mengambil satu langkah maju. "Alexa hamil."


Arga langsung terdiam mendengarnya. Respon tersebut malah membuat Alexander semakin merasa miris.


"Lo nggak tau, 'kan kalau belakangan ini dia depresi?" Alexander lelah. Ia ingin menyerah. Namun, ia tidak boleh lelah apalagi menyerah. "Gue udah berulang kali hubungi lo. Kalau lo tanya kenapa? karena gue butuh figur seorang Kakak."


"...."


"Gue .... hampir berhenti nafas lihat kembaran gue motong nadinya sendiri." Napas Alexander mulai berderu tak beraturan. Emosinya naik-turun. "Gue butuh, lo. Alexa butuh lo. Bukan cuma Nara yang butuh lo!"


Arga cukup geram mendengar nama kekasihnya dibawa-bawa. Namun, ia memilih untuk menahan diri. Selama ini ia memang terlalu fokus pada kondisi kesehatan kekasihnya.


"Gue cuma minta satu hal sama lo, temukan pelaku yang udah buat Adik kita menderita. Bukan cuma gue saudara Alexa, lo juga saudaranya."


Arga menghela napas dalam, sebelum mengeluarkan perlahan. Ia memang baru tahu jika Alexa sedang mengandung. Kasus tersebarnya foto Alexa dua Minggu ke belakang memang menghebohkan jagat SMA Angkasa. Namun, Arga akui jika ia cukup menutup telinga. Ia hanya ikut memantau perkembangan kasus tersebut, seraya terus fokus mengupayakan kesembuhan sang kekasih. Sampai-sampai ia lupa jika Alexa memang benar adiknya. Walaupun ada kata tiri tersemat pada statusnya. Tetap saja, mereka adalah saudara satu ayah.


"Dengar, gue nggak mau kehilangan Nara. Kayak lo. Tapi, gue juga nggak mau kehilangan kembaran gue," tekan Alexander. "Jadi, tolong bersikap adil. Alexa juga adik lo. Seenggaknya lo temui dia. Walaupun sebentar." Alexander buang muka. Ia telah meruntuhkan banyak ego demi meminta-minta pada sang kakak. "Asal lo tau, dari dulu Alexa itu tulus sayang sama lo. Dia terobsesi sama lo, karena awalnya murni terlalu sayang sama lo."


Arga masuk menatap lawan bicaranya lekat. Ia tak merespon, namun setiap kata yang Alexander lontarkan, ia rekam baik-baik.


"Gue nggak pernah minta apa-apa selain bahagiakan Nara. Sekarang, gue minta tolong lagi demi Alexa." Sorot mata Alexander tampak lelah saat berkata demikian. "Dia sedang butuh bantuan."


...🫐🫐...


...TBC...


...Semoga suka 🖤...

__ADS_1


...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...


...Tanggerang 27-12-22...


__ADS_2