
Ketika sebuah hubungan yang awalnya baik-baik saja, harus berakhir secara paksa, pasti banyak pertanyaan yang muncul di benak kita. Baik tentang kenapa, apa, bagaimana bisa, dan serentetan kata tanya lainnya. Bahkan karena saking banyaknya pertanyaan di dalam benak, kita lupa untuk introspeksi diri.
Bisa jadi ia meminta hubungan iru berakhir, karena ada beberapa alasan yang sumbernya berasal dari sendiri.
Malam itu kota kembang diguyur hujan dengan curah hujan yang cukup tinggi. Jalanan tampak basah, licin, serta meninggalkan beberapa titik yang tergenang air. Langit sepanjang sisa hari tampak gelap gulita, dihiasi oleh awan mendung.
Di bawah guyuran hujan dengan intensitas tinggi itu, sebuah motor CBR250RR tampak berkendara dengan kecepatan rata-rata. Kendaraannya melaju menuju arah tempatnya menghasilkan pundi-pundi rupiah.
Tiba di lokasi, ia segera memarkirkan kendaraan tersebut di tempat parkir yang cukup lenggang. Area tersebut juga terlihat basah, karena terkena guyuran hujan.
Lelaki rupawan yang baru saja menanggalkan jaket bomber kebanggaannya itu lantas memasuki tempatnya meraup pundi-pundi rupiah. Dari balik dinding kaca transparan yang hampir mengelilingi area utama cafe, ia bisa melihat para staf berkumpul. Onyx gelap miliknya juga bisa menangkap sosok yang seminggu ini hilang dari peredaran.
Rindu itu menguap seketika kala melihat sosoknya. Gadis itu berdiri membelakangi pintu masuk. Seminggu menghilang bak ditelan bumi, kini ia bisa kembali dijumpai. Namun, godam tak kasap mata tiba menghantamnya tanpa aba-aba.
Leader of SPHINIX kembali tertampar oleh kenyataan gamblang malam itu. Tak ada alasan yang jelas, tiba-tiba gadis yang berstatus sebagai kekasihnya itu mengutarakan keinginannya untuk berhenti bekerja dan mengakhiri hubungan mereka.
"Ta, lo belum tidur?"
Seorang lelaki muncul dari balik pintu. Wajahnya terlihat terkejut ketika mendapati sang leader yang masih duduk di antara kegelapan ruangan.
"Dari mana?"
"Dari rumah. Bokap ngatur romantic dinner gitu buat gue sama anak relasi bisnisnya," tutur Libra sambil berjalan mendekat. Ya, yang baru saja bergabung dengan Arga adalah Genbu Galibra.
"Kesel gue, tapi mau gimana lagi. Gue belum sehebat lo dalam hal memberontak. Derita anak atu-atu-nya." Lelaki bertindik di telinga itu terkekeh kecil. "Lo kenapa? Ada masalah sama anak-anak? kusut banget muka lo."
Alih-alih menjawab, Arga malah meminta sesuatu yang biasanya tidak pernah absen dari saku celana Libra. "Bagi rokok, Lib."
Permintaan tersebut tak pelak membuat Libra menatap kebingungan. Bukannya Arga sudah berhenti menghisap benda keramat itu dua tahun belakangan?
"Bukannya lo udah berhenti nyebat, Ta?"
"Ada nggak? Kalo nggak ada, nggak usah banyak bac*t."
Libra menghembuskan nafasnya gusar. Lelaki itu lantas mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam saku jaket miliknya. Entah apa yang sedang Arga pikirkan saat ini, sampai-sampai mau bertegur sapa dengan benda berbahaya itu lagi.
Libra baru tiba di basecamp, maka tak heran jika ia banyak ketinggalan informasi. Orang tuanya sengaja merancang romantic dinner dengan salah satu seorang putri relasi bisnis mereka. Libra paham betul visi dan misi kedua orang tuanya berbuat demikian. Oleh karena itu, setelah berhasil mengelabui pasangan dinner nya, Libra langsung tancap gas menuju markas.
Derita jadi anak satu-satunya, harus menuruti ego serta keinginan setinggi langit yang orang tuanya miliki. Padahal Libra sudah berulang kali mengatakan bahwa ia tidak bisa selalu mengikuti permintaan mereka.
"Uhuk ....uhuk...."
"Udah gue bilangin juga apa, ngeyel sih," komentar Libra sambil mengambil alih rokok yang baru dihisap sang leader.
Arga tampak terbatuk-batuk saat baru saja menghisap benda berbahan dasar tembakau itu. Ternyata tubuhnya benar-benar sudah tidak mengenali citarasa nikotin yang terkandung didalamnya
"Lib,"
"Gak usah nyebat deh, kalo ujung-ujungnya lo bengek. Lagian sok-sokan msu ngerokok lagi. Lo udah vakum lama, lupa?"
"Gue butuh pengalihan!"
"Pengalihan buat? Lo ada masalah lagi sama si Nara?" tebak Libra, tepat sasaran
"Dia minta putus," balas Arga dengan suara lebih kecil.
"What the f*ck?!" kaget Libra. "Lo nggak ngadi-ngadi 'kan, Ta? kok tiba-tiba?"
"Lo pikir gue bercanda?" tanya Arg, tidak suka.
__ADS_1
"Oke, lo serius." Libra langsung menggeser duduknya, mendekat kepada sang leader. "Kenapa lagi? Lo bisa sharing sama gue kalau ada apa-apa, Ta. Gue jamin privasi lo nggak akan bocor kemana pun."
"Lo tanya Iki, atau Orion. Mereka tahu kronologinya. Gue males cerita."
Libra menyenderkan badan di punggung tempat duduk. Urusan percintaan antara sang leader dengan mantan kekasih leader terdahulu itu memang rumit. Apalagi kerumitan itu jarang di-share kepada banyak orang, termasuk dirinya. Arganta Natadisastra itu aslinya noob alias payah soal hubungan asmara. Dulu sang leader pernah berpacaran, namun tidak serumit ini.
Jauh sebelum mengenal Aleanska Nara, Arga telah mengenal dunia percintaan. Itupun tidak serumit dan sepelik kasus kali ini. Terlebih lagi, dulu Arga tidak melibatkan perasaan saat menjalani hubungan. Mereka pun berpisah secara baik-baik, karena merasa tidak menemukan arti dari hubungan mereka. Namun, kali ini kasusnya berbeda. Masa telah mengajarkan, juga menempa perasaan yang ada pada diri Arga. Kedewasaan ikut ambil bagian dalam penerapannya. Tidak mudah bagi Arga untuk mengakhiri apa yang telah ia awali.
Walaupun awalan yang ia berikan tidak baik. Tapi, sang leader juga tidak ingin hubungan itu berakhir seperti ini. Ada terlalu banyak pertanyaan yang tertinggal. Tidak mungkin egonya akan terima dan tinggal diam begitu saja ketika Nara meminta pisah, di saat Arga sudah biasa akan kehadirannya.
"Oh, jadi gitu ceritanya."
Libra mengangguk faham, sebelum menutup sambungan telpon miliknya. Ia baru saja menghubungi salah satu saksi mata yang bisa ia ajak berbagi cerita. Orion orangnya.
"Lo terima diputusin gitu aja, Ta?"
Arga tak menjawab. Ia malah sibuk menatap sisa-sisa riak hujan di luar jendela yang menimbulkan kelembaban.
"Gue pikir cewek lo memang aneh. Mungkin nggak sih kalau dia itu ....tertekan atau sengaja ditekan seseorang, Ta."
"Maksud lo?"
"Seminggu ini cewek lo jarang kelihatan keluar rumah. Rumahnya selalu sepi. Pria tunarungu itu juga nggak kelihatan belakang ini. Apa mungkin cewek lo berada di bawah tekanan, Ta?"
"Di bawah tekanan siapa? Lo tahu sendiri kalau selama ini nggak ada siapapun yang mendekati dia."
"Iya sih. Tapi...." Libra tampak berpikir untuk sejenak. "Ck, rumit juga perkaranya. Sekarang gini aja deh, Ta. Lo harus begini...." Libra mendekat, membisikkan sesuatu di telinga Arga. "Gimana?"
"Hmm."
"Lo ikutin aja dulu. Gue sama Orion juga masih berusaha nyari dan ngumpulin bukti." Libra menatap ke luar Jendela lurus. Ia tengah bergulat dengan pikirannya sendiri.
🫐🫐
"Nar, mata lo kenapa bengkak?" pertanyaannya itu dilontarkan Cacha yang sejak awal menatap sahabatnya dengan mata memicing.
"Kamu kenapa, Nar? Sakit? Muka kamu pucat loh." Satu lagi sahabat pemilik nama Aleanska Nara itu kembali bertanya.
"Iya. Lo kayak mayat hidup, beb. Sakit, ya?"
"Kamu beneran sakit?"
"Kalo sakit, lo jangan masuk sekolah dulu. Sekarang mending kita ke UKS?"
Gadis bersurai pendek sebahu itu menggeleng lemah. Dilihatnya dua orang sahabat yang selama ini selalu peduli akan keberadaanya. Cacha dan Arsen.
Nara memang berangkat sekolah dengan mata sembab dan wajah pucat. Hal itu tentu menjadi bahan perbincangan banyak orang, terutama oleh kedua sahabatnya. Kondisi tersebut tentu menjadi ajang dari berbagai pertanyaan singgah dan terlontar.
"Kamu istirahat aja dulu disini. Nanti Cacha bakal datang dan bawain kamu makanan. Kamu belum makan 'kan?" Lelaki rupawan itu membenahi selimut yang menutupi tubuh bawah hingga bagian perutnya.
"Ehm, tapi Sen-"
"Udah, istirahat aja. Lagi pula hari ini free class."
Nara menyerah. Gadis itu sempat drop ketika jam pertama berlangsung. Oleh karena itu, ia dilarikan ke unit kesehatan sekolah atau UKS guna mendapatkan penanganan pertama.
"Cepat sembuh, ya," ujar Arsen sambil tersenyum tipis. "Aku tinggal dulu."
Gadis bersurai sebahu itu hanya bisa mengangguk lemah. Badannya sudah tidak bisa diajak kompromi. Entah bawaan menangis semalaman, atau memang sudah seharusnya ia jatuh sakit di waktu yang tidak tepat.
__ADS_1
Sekelebat ingatan kembali mendera, membuatnya tersenyum miris. Ia harus kuat agar bisa melindungi orang-orang yang ia sayangi. Lemah hanya akan membuatnya semakin tertekan. Oleh karena itu, ia harus segera sembuh dan pergi menjauh dari orang-orang yang ia sayangi. Semua ini ia lakukan demi keselamatan mereka semua.
"Aku pasti bisa," irihnya, sebelum memejamkan mata guna mengistirahatkan tubuhnya.
Ia lelah. Rasanya berbaring saja tidak cukup mengobati lelah yang mendera jiwa dan raganya. Jika boleh, ia ingin menyerah. Ingin pasrah. Namun, masalahnya ini bukanlah pilihan yang menyediakan opsi menyerah atau pasrah.
"Keras kepala," lirih seseorang ketika Nara berhasil masuk ke dalam dunia mimpi. "Mau sampai kapan lo mainin drama ini?"
Tirai di samping bed tempat Nara berbaring disibak. Seorang lelaki rupawan ternyata sedang duduk di bed seberang. Manik onyx miliknya terlihat meredup, menatap gadisnya yang tengah mengkhawatirkan.
"Gaya lo minta putus, sehari jauh dari gue aja udah begini," gumamnya, miris. "Lo itu lemah, tapi sok kuat. Mau lo apa sebenarnya?" Lelaki rupawan itu beranjak dari tempatnya duduk.
Tubuh tinggi tegapnya menjulang tepat di samping bed yang Nara tiduri. Ia sudah ada di dalam UKS sebelum Nara datang. Ia sengaja diam saja supaya posisinya tidak diketahui, walaupun dengan ia jadi harus mendengar percakapan Nara dan Arsen yang menyebalkan. .
Arga tahu Nara sengaja menjauhinya, oleh karena itu ia juga mengambil jarak. Meng-iyakan apa yang diinginkan gadisnya.
"Keras kepala," komentarnya lagi sambil menyentuh surai pendek milik kekasihnya. Ah, mungkin sebutan itu tidak pantas ia sematkan lagi, mengingat gadisnya sudah tidak ingin lagi mempertahankan hubungan mereka.
Tapi, ia belum setuju untuk berpisah. Tolong dicatat itu.
"Sekarang gue tahu alasan kenapa semua orang sayang lo? termasuk ....gue."
Wajah cantik itu tampak pucat. Seakan-akan darah tak mengalir dengan semestinya pada bagian tersebut. Deru napasnya juga seperti tersengal-sengal. Suhu badannya meninggi, membuat tubuh mungil gadisnya menggigil.
"Apapun yang terjadi, lo harus bertahan. Banyak yang sayang sama lo." Arga berkata sambil merendahkan tubuhnya.
"Gue sayang lo."
Hening untuk sejenak. Arga tahu ini pengec*t. Namun, ia tidak punya kesempatan untuk mengatakannya secara gamblang untuk saat ini.
"Oleh karena itu, lo harus bertahan. Walaupun bukan buat gue, lo tetap harus bertahan."
Setelah membisikkan kalimat tersebut, Arga menjatuhkan satu kecupan di kening Nara. Cukup lama. Cukup untuk Arga merasakan betapa tersiksanya sang kekasih dalam kondisi lemah seperti ini.
Suhu tubuh gadisnya tinggi. Ia pasti demam. Maka setelah memantapkan langkah untuk keluar dari UKS, Arga terlebih dahulu menyatroni petugas PMR yang saat itu kebagian jaga. Gadis muda yang satu tingkat dibawahnya itu sempat terbengong-bengong saat melihat Arga keluar dari balik tirai tempat Nara beristirahat.
"Rawat cewek gue. Dia demam tinggi. Kalau bisa, segera bawa ke rumah sakit terdekat."
Petugas PMR itu mengangguk. Ia tak punya banyak daya dan upaya untuk menghadapi aura sang leader yang tampak begitu suram.
"Kalau ada apa-apa, lo bisa cari gue di kelas XII IPS 1."
"Baik, Kak."
Setelah memastikan gadisnya ada yang menjaga, Arga kemudian benar-benar berlalu. Menanggalkan UKS.
Ia tahu gadisnya sedang tidak baik-baik saja. Jadi, ia memilih untuk mengikuti masukan Libra. Ia akan membiarkan kekasihnya seolah-olah bebas darinya, padahal Arga tidak akan pernah sekalipun melepaskannya. Arga cuma akan melonggarkan sedikit ikatan yang ada pada mereka. Ketika tiba pada waktunya, Arga sendiri yang akan kembali mengeratkan ikatan di antara mereka.
Saat ini tugasnya cuma satu, yaitu mencari tahu. Kira-kira siapa yang telah membuat gadisnya berada di bawah tekanan. Apa ia orang yang sama dengan dalang di balik penculikan dan penyerangan terhadap ayah Nara? Arga harus segera bertindak untuk menemukan jawabannya.
...🫐🫐...
...RBC...
...Semoga suka 🖤...
...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...
...Tanggerang 14-12-22...
__ADS_1