Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
³¹UFB


__ADS_3

Teriknya sang Surya yang mulai meninggi, membuat tubuh gadis berseragam putih abu itu sesekali menitihkan peluh. Sudah lebih dari tiga puluh menit ia berdiri disini. Di tengah-tengah lapangan upacara tanpa ada satupun peneduh baginya. Tangannya berada dalam posisi hormat, menghadap sangkakala bendera merah putih. Pandanganya mulai lemah, ketika panasnya sang Surya terasa kian menyengat.


Nara, gadis itu tengah menjalani hukuman dijemur selama dua jam pelajaran karena terlambat datang ke sekolah. Bukan niatnya ingin datang terlambat, hanya saja ia menjadi korban dari janji seseorang. Dalang dari penderitaannya saat ini.


Seumur hidup, Alea Nara baru satu kali sekali dihukum begini, mengingat dirinya selalu disiplin dan taat akan peraturan pada setiap kesempatan. Namun kali ini ia melanggar peraturan karena kepercayaannya pada orang lain.


Dari tempatnya berdiri, Nara bisa melihat sang ayah menatap iba ke arahnya. Sambil memegang sapu dan plastik sampah, ayahnya terus menatap Nara dengan setia. Seolah-olah tatapan pria paruh baya itu menggambarkan jika ia siap menggantikan posisi putrinya, dihukum di lapangan yang panasnya minta ampun.


Gadis cantik itu menggeleng, menandakan jika dirinya tidak apa-apa. Nara bahkan menggerakkan satu tangannya, membentuk pola yang biasa di gunakan sebagai isyarat ketika harus berkomunikasi dengan sang ayah tanpa alat bantu pendengaran.


"Kamu kuat, Nara!" lirihnya, menyemangati diri sendiri.


Empat puluh menit sudah hampir berlalu. Kini pening mulai menghampiri. Perutnya yang belum sempat terisi sesuap nasi pun mulai terasa tidak nyaman. Sakit melilit ditambah rasa mual yang mulai menggerogoti ulu hati. Alea tidak lupa jika dirinya memang memiliki permasalahan kronis dengan lambung. Namun hari ini entah kenapa maag nya tiba-tiba kambuh. Padahal pagi tadi ia menyempatkan diri untuk sarapan.


Kaki mulai lemas dan pandangan yang kabur, membuat tubuhnya kian melemah. Hingga batas kesadaran yang dimiliki, ia masih sempat mendengar seseorang memanggil namanya sebelum tubuhnya benar-benar limbung ke tanah berlapis cor-coran semen.


"Nara."


...🏍🏍🏍🏍...


"Eh, Aquarius. Gue udah setor bulan ini, ya! Jangan nagih gue mulu."


"Setor apaan? Lo terakhir bayar uang kas bulan kemarin, Ki."


"Gue udah bayar pokonya, titik. Nggak pake koma," kekeuh Iki. Sudah menjadi tabiat Aries Iki berdebat dengan bendahara kelas XII IPS I. Ia memang terkenal sebagai anak sultan yang getol nunggak uang kas. Padahal uang jajannya lebih dari cukup.


"Ta, lihatin apaan lo dari tadi?" tanya Libra, penasaran akan apa yang sedari tadi mencuri perhatian sahabatnya. Arganta Natadisastra.


Laki-laki tampan yang duduk di dekat jendela itu tidak menjawab. Sepasang manik jelaganya masih getol menatap satu-satunya objek yang kini berdiri di tengah lapangan. Di bawah terik sang Surya yang semakin meningkat.


"Pasti telat tuh bocah," komentar Iki yang ikut nimbrung. "Atau mungkin..... dia jadi korban ingkar janji seseorang," imbuh Iki sambil melirik Dean lewat ekor mata.


Hari ini kelas XII IPS I sedang free class. Berhubung ada rapat guru, jadi guru yang bertugas hanya meninggalkan kelas dengan setumpuk tugas. Namun, bukannya mengerjakan tugas, seisi kelas malah asik dengan dunianya masing-masing. Ada yang mojok dipojok kelas, main game bareng, membuat video tok tok, baca novel online, ghibah, dan banyak kegiatan lainnya.


"Eh, mau kemana lo, Ta?" Tanya Iki, karena tiba-tiba si empunya nams beranjak.


"Tw, mau kemana lo?" Kini giliran Libra yang memanggil si empunya nama, namun si empunya nama masih tetap abai.


"Kemana tuh bocah?" tanya Libra. Keheranan.


"Ke lapangan kali."


"Ke lapangan, ngapain?" bingung Libra.


"Noh, lihat sendiri." Telunjuk Iki mengarah ke lapangan. "Ceweknya udah mau pingsan gitu. Dia pasti mau nolongin lah."


"Sok tahu lo!"

__ADS_1


"Eh, gue emang tempe, ya!" sewot Iki. "Lagi pula, dia itu ceweknya. Ya kali, ceweknya mau pingsan dia B aja."


"Kita lihat aja nanti," sahut Libra. "Toh, cewek itu begini juga pasti karena dia."


🫐🫐


"Nara?"


Gadis yang baru saja siuman itu mengerjapkan mata beberapa kali. Hal pertama yang ia tangkap saat berhasil membuka mata adalah ruangan bernuansa, dengan bagian kanan dan kiri tempatnya berbaring dipasang sekat dari tirai. Ah, ternyata ini Unit Kesehatan Sekolah, batinnya.


"Lo udah bangun?" tanya suara risau Cacha yang langsung menyeruak saat si empunya nama mulai membuka mata. "Kenapa, ada yang sakit ya?"


"Aku kenapa ada disini?" tanyanya linglung.


"Kamu tadi pingsan pas dihukum di lapangan."


"Oh, iya. Aku ingat sekarang." Nara tampak terdiam setelahnya.


"Kenapa, ada yang sakit?"


Nara menggeleng kecil. Kepalanya memang masih agak pening, tetapi tidak separah tadi.


"Yang bawa aku kesini siapa, Cha?"


Cacha diam sejenak, tidak langsung menjawab.


"Hehehe, bukan. Arsen lagi ada ujian praktek di laboratorium."


"Oh, berarti anak PMR?"


"Eh, iya. Anak PMR yang udah bawa lo kesini. Itu kan tugas mereka, masa anak pencak silat hehe," kekeh Cacha.


Nara mengangguk paham, pandanganya kini beralih kearah jam yang menempel di dinding. Sekarang sudah pukul 10.05 menit. Berarti sudah cukup lama dirinya tidak sadarkan diri.


"Tadi yang manggil aku juga anak PMR? atau kamu?"


Cacha tersenyum kikuk, lalu mengangguk samar. "Iya, 'kan mereka yang nolongin lo."


Nara baru saja akan percaya, jika saja tidak ada suara lain yang menyela.


"Bullsh*t."


"Kak Arga!" kaget Cacha. Saking terkejutnya dengan kedatangan pemuda yang muncul dari tirai pembatas itu, Cacha sampai sampai terperanjat dari tempatnya duduk.


"Udah jelas-jelas gue yang bawa dia kesini," tuturnya penuh penekanan.


Nara menoleh, menatap Cacha penuh tanya. Seolah-olah meminta penjelasan.

__ADS_1


"Hehehe, gue pergi dulu ya, Nar. Gue lupa kalau sebentar lagi ada kumpul cheerleader." Tanpa menunggu respon Nara, Cacha langsung lari tunggang-langgang dari tempat tersebut.


Meninggalkan Nara berdua dengan Arga yang tengah menatapnya.


"Kenapa?" Alih-alih berterima kasih, Nara malah melontar kata 'kenapa' sebagai kata pertamanya untuk menyambut Arga.


"Karena cewek gue pingsan," jawab Arga santai sambil mendudukkan dirinya di kursi bekas Cacha.


"Padahal kakak tidak perlu peduli sama aku."


Arga berdecak mendengarnya. "Ck. Gue mana bisa."


"Kenapa?"


"Udah dua kali lo tanya kenapa. Udah jelas-jelas, karena itu lo."


"Kenapa sama aku?"


"Karena lo cewek gue," jawab Arga singkat, padat, dan jelas.


Nara terdiam dengan pandangan lurus ke arah Arga. Ceweknya? apa Nara tidak salah dengar?


"Kalau lo tanya kenapa gue lakuin itu lagi, karena lo pacar gue. Itu yang harus seorang pacar lakukan. Ngerti kan?"


"Buat apa Kakak klaim aku sebagai pacar, kalau sikap Kakak tidak mencerminkan arti hubungan itu sendiri."


"Jadi mau lo apa?" tanya Arga pada akhirnya.


"Kenapa kita nggak udahan aja? Hubungan ini juga gak jelas, Kak. Kakak yang klaim aku, bukan berarti aku mau."


"Tapi lo harus mau."


"Itu namanya pemaksaan."


Arga menyeringai tipis mendengarnya. "Memang, dan gue maksa lo jadi pacar gue."


"Kakak egois!"


"Lo baru tau?" tanya Arga sambil terkekeh kecil. "Gue lebih dari sekedar egois."


🫐🫐


TBC


Ada rekomendasi novel keren juga nih 👇


__ADS_1


Tanggerang 24-11-22


__ADS_2