
Hari yang tadinya terang benderang mulai meredup seiring dengan bergesernya matahari ke sisi lain bumi. Awan mulai berganti warna, sesuai dengan cahaya yang membiaskan. Gugusan jingga di Cakra mulai menyingkirkan warna biru yang tadinya berkuasa.
Burung-burung juga sudah tampak sibuk terbang searah di atas langit, hendak kembali ke bersarang. Sang raja siang memang sudah siap menutup hari. Dengan sinar jingganya yang cantik, ia siap menutup edisi hari ini. Tugasnya akan berganti ke belahan bumi yang lain.
"Kak."
"Hm?"
"Kakak lebih baik diperiksa dokter. Kita ke rumah sakit aja, ya?"
"Males."
"Tapi, Kakak demam loh," tambah gadis cantik tersebut. Tampak tersirat raut cemas di wajahnya. "Suhunya juga tinggi."
"Hm, bentar lagi juga turun."
"Kalau makin tinggi demam nya gimana? Lebih baik ke rumah sakit sebelum semakin parah."
Susah payah Nara membujuk Arga untuk pergi ke rumah sakit, namun laki-laki itu urung menuruti. Laki-laki itu demam, suhu tubuhnya cukup tinggi. Sejak tadi Nara sudah mengompres kening Arga dengan handuk. Kendati demikian, belum ada tanda-tanda jika kondisinya segera membaik.
"Kakak minum Paracetamol aja nggak ada mending nya. Lebih baik ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat," ajak Nara untuk ke sekian kalinya. Laki-laki itu masih enggan mengiyakan. Ia juga sesekali menyingkirkan handuk lembab di keningnya.
"Males."
Arga memang jarang sekali tumbang. Sekalipun tumbang, ia akan menolak untuk diperiksa oleh dokter. Ia malah menjadi lebih sensitif dan mudah marah saat tubuhnya kurang fit. Seperti saat ini, Arga dengan sikap keras kepalanya adalah kesatuan yang begitu kompleks.
Padahal Nara sudah membujuk sedari tadi. Mengingat demam Arga cukup parah. Sejak siang tadi demamnya belum juga turun. Nara menjadi risau sendiri. Jadilah Nara menuruti permintaan Arga tanpa bantahan untuk saat ini, yaitu merawatnya.
Lelaki itu memang tidak meminta secara gamblang untuk di temani hingga pulih. Namun, dari balik titahnya yang to the point, Nara yakin jika Arga membutuhkan dirinya untuk tetap tinggal.
"Aku tinggal sebentar ya, Kak. Aku mau salat Maghrib dulu."
"Hm."
"Kakak duduk sandaran aja dulu. Nanti aku bawakan makan malam sama obat."
"Hm."
Nara beranjak, lalu meninggalkan Arga. Sebenarnya Nara cukup risih dengan kamar Arga yang dipenuhi dengan Katana dan benda tajam lainnya. Tapi apa boleh buat, setelah mengatakan sedang sakit, Arga langsung membawanya kesini. Markas SPHINIX. Jadilah sekarang Nara tertahan di tempat para anggota geng yang tentu tidak menyukai kehadirannya.
"Hm, maaf, Kak. Apa aku boleh bertanya sesuatu?" dengan hati-hati, Nara mendekat kepada dua laki-laki ber T-shirt hitam dengan SPHINIX.
"Eh lo, pacarnya si bos 'kan?" tanya salah satu diantara keduanya.
"Elah goblok. Udah tau dia ceweknya si bos, pake nanya lagi?!" timpal satunya lagi.
Nara menatap interaksi keduanya dengan bingung. Ia pikir mereka akan memberikan respon yang tidak bersahabat, tapi pada kenyataanya mereka bersikap cukup kooperatif.
"Lo mau nanya apaan emang?"
"Hm, dapur di sebelah mana ya?"
"Oh, dapur." Nara mengangguk.
"Mau ngapain lo nanyain letak dapur dimana?"
"Em, itu. Kak Arga lagi sakit, aku mau masak sup."
Hening seketika. Keduanya tampak saling bertatapan, sebelum beralih menatap Nara tidak percaya.
"Si bos sakit?" Nara mengangguk.
"Lo yakin leader kita sakit beberan?" tanya satunya lagi yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Nara.
"Masa, gue nggak percaya nih?"
"Sama. Gue juga?!"
"Eh," Bingung Alea akan respon keduanya. "Kak Arga memang sakit, dia demam dari siang," tutur Nara menjelaskan.
"Lo ngibul, ya? leader kita itu daya tahan tubuhnya kuat, kek baja. Jadi, dia mana pernah sakit."
"Iya. Jadi korban keroyokan aja, dia mah tahan banting."
Nara semakin terperangah mendengarnya. Mereka berdua benar-benar tidak percaya jika Arga demam. "Eh, tapi...."
"Lo lagi ngibul 'kan? Hayo, ngaku lo."
Nara menggelengkan kepala. Untuk apa juga ia berbohong. "Enggak kok. Kak Arga memang sakit. Dia demam, sakit kepala juga."
"Halah bullsh*t lo."
"Tapi...."
"Gue memang sakit bangs*t!" seru suara bariton milik seseorang yang langsung membuat ketiganya menoleh. Terutama dua laki-laki yang menggunakan T-shirt geng SPHINIX. Ketika mengangkat pandangan, mereka langsung bertemu tatap dengan onyx hitam sang leader.
"Gue juga manusia, bukan malaikat. Makanya gue bisa sakit," tukas suara bariton tersebut, penuh penekanan.
"Hehe, sorry bos. Kirain cewek lo ngibul," kekeh salah satu diantara keduanya, kikuk.
"Cewek gue mana pernah ngibul."
Dua laki-laki itu mengangguk takut.
Sadar akan atmosfir yang tak lazim, Nara membuka suara. Meminimalisir ketegangan diantar mereka. "Kakak ngapain ke sini? Kakak 'kan masih sakit."
__ADS_1
"Nyariin lo," jawab Arga cepat.
"Aku?" Nara menunjuk dirinya sendiri. "Aku 'kan udah bilang, aku mau salat Maghrib dulu. Baru nanti bawa obat sama makan malam. Kenapa Kakak malah ikutan turun? katanya pusing."
Dua laki-laki yang mengenakan T-shirt hitam itu melongok. Baru kali ini mereka melihat ada seseorang yang berani memarahi sang leader. Ditambah lagi ia seorang perempuan, dan Arga juga tampak tidak keberatan dimarahi. Buktinya ia sama sekali tidak memotong kalimat Nara.
"Lo mulai cerewet."
"Aku cerewet karena Kakak bandel," tutur Nara. "Mending sekarang Kakak balik lagi. Aku mau salat dulu, nanti aku nyusul."
Baru saja Nara selesai berkata, Arga langsung angkat bicara. "Di kamar gue ada kamar mandi. Ambil wudhu sama salat di sana. Bisa?"
Nara mengangguk. Ia juga baru tahu kamar Arga dilengkapi dengan fasilitas kamar mandi. "Eh, iya. Tapi 'kan aku juga mau...."
"Gak ada tapi-tapian," potong Arga sambil menarik pergelangan tangan Alea untuk dibawa bersamanya. "Lo salat di kamar gue aja," tambahnya sebelum mereka pergi meninggalkan dua anggota geng SPHINIX yang dibuat melongo.
"Itu barusan leader kita 'kan?" tanya salah satu di antara mereka.
"Iya."
"Ternyata leader kita beneran sakit, bro." Sembari mengangguk-anggukkan kepala, ia menepuk bahu rekannya.
"Hah, yang bener lo? sakit apaan emang? kok gue lihatnya biasa aja, ya?"
"Sakit meriyang."
"Meriyang?"
"Iya. Meriyang alias merindukan kasih sayang," jelas laki-laki tersebut seraya tersenyum geli.
🫐🫐
Selepas menjalankan ibadahnya sebagai seorang muslim, Nara turun untuk membuatkan makan malam. Laki-laki itu masih berbaring di atas ranjang saat ia pergi keluar. Sejak siang Arga memang demam dan terserang sakit kepala. Karena tidak mau diperiksa oleh dokter, Arga memilih mengonsumsi obat-obatan seadanya seperti Paracetamol dan ibuprofen untuk mengurangi demam juga sakit kepala yang diderita.
"Eh, ngapain lo di mari?"
Nara yang terkejut akan pertanyaan tersebut, hampir saja menjatuhkan wadah di tanahnya.
"Lo mau nyuri?" tuding Libra, yang baru saja bertanya.
"Mau masak, Kak," koreksi Nara.
"Siapa yang ngizinin lo masak disini emang?" sewot Libra.
"Itu..."
"Udah lah, Lib. Lagipula dia ceweknya leader. Biarin Napa," Sela Ibo yang kebetulan ada di sana, melerai Libra.
"Enek aja gitu lihatnya," tukas Libra yang malam itu menggunakan kaos berwarna maroon. Ia sedang duduk di atas meja. "Memangnya lo bisa masak apaan hah? Si Alexa aja yang bela-belain kursus masak buat Arga selalu ditolak. Apalagi lo?"
Nara mengangguk seraya tersenyum tipis. Ia lantas mengambil panci kecil untuk memasak sup ayam yang gampang dibuat. Ia hanya butuh merebus ayam sampai dagingnya lunak dan mengeluarkan kaldu. Biasanya jika sudah begitu, daging ayamnya akan Nara suwir. Sedangkan kaldu ayamnya tinggal dimasukkan irisan bawang bombai, sayuran seperti wortel, kentang, brokoli, dan bakso jika ada. lalu tambahkan penyedap rasa dan garam sesuai selera. Jangan lupa tambahkan irisan bawang daun dan seledri. Di akhir, baru taburkan bawang goreng. Sup ayam ala Nara jadi deh. Siap dinikmati selagi hangat.
"Palingan juga makanan lo berakhir di tong sampah," cibir Libra kembali bersuara, lantas berlalu begitu saja.
"Biarin aja. Lagi PMS dia. Mood swing terus bawaannya," bisik Ibo.
Nara mengangguk, lalu bertanya. "Kakak juga mau masak?"
"Iya. Berhubung Genta masih di Cafe, jadi gue yang bagian ngasih pakan buat anak-anak."
"Kok pakan sih?"
"Anggap aja mereka itu ikan. Gitu-gitu, mereka bakal langsung ngumpul kalau udah nyangkut soal makan."
Nara tertawa kecil mendengarnya. Lucu juga mereka. "Hm, sambil nunggu ayamnya lunak, boleh ngga aku boleh bantuin Kakak?"
"Wah, boleh banget. Tangan lo 'kan ajaib! Bisa buat masakan apapun dengan citarasa kek masakan Genta."
"Kakak berlebihan," ujar Nara seraya mengikat rambut panjangnya dengan karet gelang yang banyak tersimpan di dekat wastafel. "Jadi, aku bantu ngapain nih?"
"Bantuin metikin sayur buncis deh. Gue mau masak tumis baby buncis soalnya."
"Oke. Siap laksanakan."
Ibo memberikan dua jempol untuk Nara. Gadis cantik itu memang sebenarnya mudah sekali membawa diri. Pembawaannya yang ramah dan easy going membuat semua orang mudah nyaman. Hanya saja, kesalahpahaman dari masa lalu membuat ia kena getahnya.
Ternyata benar apa yang Ibo katakan, anak-anak yang mendiami markas ini langsung berkumpul setelah Ibo memberikan tanda jika makan malam sudah siap. Ada sekitar tiga puluh anggota yang langsung menyerbu dapur sambil membawa piring warna-warni dengan nama pribadi di bawahnya.
Pemandangan tersebut sangat berbanding terbalik dengan image mereka yang dicap sebagai biang keributan dan berandal jalanan. Dilihat dari manapun, mereka hanya sekumpulan pemuda yang masih punya nurani, namun tak punya rumah cukup nyaman untuk pulang.
Melihat bagaimana cara mereka makan, tanpa pilih-pilih soal makanan, pa yang tersaji di atas meja makan maka akan makan membuat hati Nara terenyuh. Jadi, ini yang ingin dilindungi oleh almarhum kekasihnya, Seno. Dan ini pula yang sekarang jadi tugas kekasihnya, Arga untuk dilindungi sepenuh hati.
"Makan Nar," ajak Ibo.
Nara menggelengkan kepala, tangannya sudah sigap membawa nampan berisi nasi hangat, sup ayam yang masih mengepulkan asap, serta juga segelas air putih.
"Duluan aja, Kak. Ada yang perlu aku rawat."
"Iya. Leader memang jarang sakit. Sekalinya sakit, beuh langsung berubah jadi singa jantan siap menerkam tanpa pandang bulu. Sensitif banget. Ati-ati ya Nara, yang sabar juga menghadapinya." Ujar Ibo, memberitahu.
Nara tersenyum tipis seraya mengangguk. Lagi-lagi perkataan Ibo benar, Arga memang sensitif sekali karena sakit.
"Kalau gitu aku duluan ya, Kak. Makasih udah dibolehin pinjam dapurnya."
"Iya, Nar. Titip leader ya, get well soon."
__ADS_1
Nara kembali mengangguk. Sebelum benar-benar pergi, ia sempat meminta Ibo untuk menghabiskan sisa sup ayam yang ia buat. Hal tersebut tentu disambut gembira oleh anak-anak yang lain.
Nara memang tidak hanya membuat sup ayam, ia juga membuat perkedel jagung, tumis baby buncis, ayam dan tempe goreng, serta sambal tomat. Sedangkan Ibo mengambil alih posisi untuk memasak nasi, serta menyiapkan lauk lain dan buah potong untuk cuci mulut.
Sekarang hasil dari kerja keras Nara dan Ibo tengah dinikmati. Para anggota geng SPHINIX makan dengan lahap di berbagai penjuru dapur. Ada yang duduk di atas kabinet, di atas meja kecil, lantai, dekat wastafel, bahkan ada juga yang mojok dekat lemari pendingin. Nara sampai geleng-geleng kepala melihat mereka.
"Lain kali masakin yang enak-enak lagi ya, Nar," ujar salah satu diantara mereka.
"Iya. Beef steak juga boleh banget tuh," imbuh suara yang lainnya.
Nara mengangguk sambil tersenyum, sebelum berlalu menuju lantai atas. Ada yang tengah menunggunya, dan benar saja. Ketika membuka pintu, ia langsung disuguhkan tatapan tajam dari arah ranjang.
"Lama. Lo ngapain dulu dibawah sana? Tebar pesona?!" semprot sang leader.
Laki-laki tampan itu tampak jelas memperlihatkan kekesalannya. Benar 'kan kata Ibo, menghadapi sang leader yang tengah sakit butuh kesabaran extra.
"Aku bantuin masak dulu sebentar, Kak." Nara menjawab seraya mendekat. "Makan dulu, terus baru minum obat. Marahnya disimpan buat nanti."
Arga mendengus sebal. Namun, ia tetap menurut tanpa disadari. Ekspresi wajahnya yang kentara sekali masih sebal saat menikmati sup buatan Nara, membuat Nara tersenyum tipis.
"Enak enggak?"
"Lumayan," jawab Arga, sok datar. "Masih bisa dimakan."
Mendengar jawaban tersebut, Nara malah tertawa. "Katanya sup buatan aku enak banget."
"Kata siapa?" sewot Arga. Ia hampir saja tersedak saat mendengar perkataan Nara.
"Kak Ibo sama yang lainnya."
"Lo ....masak sup buat mereka juga?!"
Nara menggeleng. "Sisa sup nya aku kasih ke mereka."
Arga berdecak mendengarnya. Laki-laki itu tampak tidak terima suap yang diniatkan dibuat untuk dirinya seorang, malah dibagikan secara cuma-cuma.
"Nanti lagi Lo nggak usah bagi-bagi makan yang dibuat buat gue."
Nara paham maksud dari perkataan Arga. Maka ia segera mengangguk, ketimbang menyulut emosi.
"Satu lagi." Arga menghentikan aktivitas untuk sejenak. Ditatapnya Nara dengan lekat-lekat. "Kalau lo butuh uang, bilang sama gue."
"Maksud Kakak?"
"Jangan jualan di lampu merah lagi."
Deg!
'Darimana Kak Arga bisa tahu?' batin Nara bertanya-tanya. Lantas kenapa ia tidak boleh berjalan? apa Arga malu punya pacar sepertinya?
"Gue bukan malu," sahut Arga tiba-tiba. "Gue cuma nggak mau lihat lo kerja di sana."
"...."
"Lo punya pacar yang masih sanggup ngasih lo uang," tambah Arga kemudian.
"Tapi, Kak, aku nggak mau ngerepotin siapa pun, termasuk Kakak. Ngasih uang bukan tanggungjawab Kakak sebagai pacar aku. Toh, aku masih bisa cari uang dengan cara bekerja fan pekerjaan itu halal kok," tutur Nara.
"Lo nggak merasa direpotkan. Gue malah nggak suka lihat lo jualan di jalanan."
"Tapi...."
"Gue nggak suka lihat Alexander punya kesempatan deket sama lo, karena pekerjaan itu."
Nara langsung terdiam. Arga tahu darimana? atau jangan-jangan laki-laki itu melihat saat Alexander memborong semua barang dagangannya?
"Gue masih mampu ngasih lo uang. Lo cukup kerja di cafe, nggak usah kerja dimanapun lagi. Apalagi kalau sumber penghasilan lo ada sangkut pautnya sama si bangs*t," tukas Arga tegas. "Lo ngerti?"
Nara lagi-lagi hanya Bisa mengangguk sebagai jawaban.
"Lo nggak gagu, bisa bicara 'kan?" sarkas Arga.
Nara menghembus napas lemah seraya menatap lawan bicaranya lagi. "Iya. Aku ngerti."
Laki-laki tampan itu mengangguk tipis. "Bagus."
Ketika Arga kembali menikmati sup buatan, tiba-tiba hati kecil Nara berbicara. Jadi, begini dicemburui sang leader, Arganta Natadisastra? laki-laki itu ....sedang cemburu, 'kan? dari gelagat nya saja begitu. Cuma, ia pandai sekali menutupinya.
Arga lagi-lagi meminta untuk menjauhi Alexander. Padahal ia dan Alexander tak memiliki hubungan apa-apa. Arga saj sampai cemburu, walaupun tidak mengatakannya secara gamblang. Namun, tiba-tiba Arga berkata dengan begitu jelas.
"Jangan deket-deket Alexander, udah berapa kali gue bilang. Gue nggak suka."
Tuh, kan.
🫐🫐
TBC
Udah mulai posesif ya, Ta 😁
Ada rekomendasi novel keren juga nih 👇
Sukabumi 27-11-22
__ADS_1