
"Masuk sana, nanti pulang bareng gue."
Nara menatap Arga untuk sejenak. Saat ini mereka sudah berada di depan kelas Nara, semenjak lima menit yang lalu. Pintu bercat coklat itu tertutup rapat, menandakan jika kegiatan belajar mengajar tengah berlangsung di dalam sana. Sayup-sayup Nara juga dapat mendengar guru yang tengah mendiktekan materi pembelajaran.
"Kenapa lagi?" tanya Arga, namun Nara tak kunjung beranjak. "Ada yang mau lo ucapin?
Nara mengangguk dua kali. "Terima kasih."
"Hm?" satu sudut bibir Arga terangkat, membentuk seringai tipis. "Memangnya apa yang udah gue kasih sama lo?"
"Pertolongan."
"Gue nggak merasa nolongin lo."
Nara kian lekat menatap wajah rupawan di hadapannya.
"Gue orangnya pamrih. So, gue nggak secara cuma-cuma nolong lo."
"Maksud Kakak?"
"Nanti lo juga bakal tau," ujar Arga misterius. Laki-laki itu lalu berbalik, meninggalkan Nara yang masih dirundung kebingungan. Sebelum benar-benar pergi, Arga masih sempat mengingatkan Nara untuk pulang bersama dan menunggu di parkiran.
Hari ini Arga menolong Nara dari perundungan Decha. Karena kesaksian Arga juga, Nara jadi selamat dari teguran kesiswaan. Namun, karena Arga pula dirinya jadi perbincangan banyak orang. Jika pukul rata, semua membicarakan seputar hubungannya dengan Arga.
Bohong jika tidak ada yang merasa iri ketika seorang Aleanska Nara, gadis biasa saja dibela mati-matian oleh Arga. Bahkan Arga sudah menandainya. Secara tidak langsung, satu sekolah sudah tahu jika Aleanska Nara sekarang sudah ada yang punya.
"Nara, sedang apa kamu disitu?" Tiba-tiba lamunan Nara buyar karena suara feminim milik salah satu guru pengajar. "Kamu mau bolos jam pelajaran saya?"
"Eh, tidak, Bu."
"Kalau begitu cepat masuk!"
Nara mengangguk dengan gugup. "Maaf, Bu. Saya telat masuk," ucapnya sebelum masuk kelas.
🫐🫐
"Tadi gimana Nar? lo diintrogasi sama Bu Sarah?"
Pemilik nama itu mengangguk sembari menoleh.
"Terus, lo ditanya apa aja? Pasti kakel--kakak kelas sok kecantikan itu nyalahin lo terus?"
Nara hanya bergumam kecil. Decha memang terus melimpahkan semua kesalahan padanya. Namun, Arga selalu pasang badan untuk membela Nara ketika diintrogasi oleh kesiswaan.
"Udah bisa gue tebak, soalnya kelakuan Kak Decha itu minus banget. Lagaknya aja anak berduit, tapi attitude sulit. Gedek banget gue sama orang-orang kayak mereka!" Cacha berdecak sebal mengingat kelakuan para anak orang kaya yang suka di luar nalar. Alexa and the geng saja contohnya.
"Mentang-mentang mereka lahir dari keluarga old money, bukan berarti mereka bisa semena-mena." Cacha menambahkan lagi.
Nara hanya tersenyum tipis menanggapi celotehan Cacha. Tangannya sendiri sibuk membenahi alat tulis ke dalam tas, karena kegiatan belajar mengajar sudah selesai lebih cepat dua jam pelajaran dari biasanya. Guru-guru sedang ada rapat, jadi dua jam pelajaran terakhir free class. Supaya tidak menganggu jalannya rapat, pada akhirnya seluruh siswa maupun siswi dipulangkan ke rumah masing-masing.
"Oh iya Nar, hari ini lo nggak kumpul Osis?" tanya Cacha yang sudah mencangklong tasnya.
Nara menggeleng. "Enggak, kayaknya besok. Soalnya Arsen ada kegiatan lain."
"Oh, pantesan anak-anak OSIS bisa pulang lebih cepat."
Obrolan keduanya kembali berlanjut, membahas berbagai topik, mulai dari K-Pop, K-drama, Drachin, Drathai, sampai manhwa, donghua, hingga anime populer yang baru rilis. Mengingat Nara dan Cacha termasuk dua ras terkuat di bumi, yaitu K-popers dan Wibu.
K-popers dan Wibu sendiri adalah istilah-istilah yang sudah dikenal oleh banyak kalangan. Istilah K-popers sendiri biasanya ditujukkan kepada orang yang memiliki fanatik terhadap hiburan dari negeri ginseng. Misalnya Idol K-Pop, drakor atau drama Korea, dan sebagainya. Sedangkan Wibu adalah seseorang yang sangat jatuh cinta dengan budaya Jepang. Namun, kecintaannya terhadap budaya Jepang dianggap sudah berlebihan. Wibu memiliki makna untuk orang-orang bukan asli Jepang yang terlalu terobsesi terhadap kebudayaan Jepang. Semisal seseorang yang sangat menyukai animasi buatan orang Jepang. Jika Nara sendiri, ia sangat menyukai animasi dari rumah produksi Ghibli, di bawah tangga animator ternama Jepang, Hayao Miyazaki (宮崎 駿 Miyazaki Hayao).
Hari ini Cacha ada acara les di luar, oleh karena itu mereka tidak bisa pulang bersama. Mau tidak mau, Nara harus menunggu Arga yang sudah beberapa kali mengingatkan untuk menunggu di parkiran. Mereka akan pulang bersama, catat itu.
Ternyata di parkiran tidak sepi seperti di dalam area sekolah. Ada anak-anak SPHINIX yang sedang berkumpul. Kedatangan Nara otomatis menarik perhatian mereka. Banyak yang menatap enggan kearahnya, Nara jadi merasa tidak enak sendiri.
Walaupun berdiri agak jauh dari posisi mereka, Nara bisa melihat dengan jelas ada Iki dan Libra yang juga tengah menatapnya penuh selidik. Lama kelamaan Nara semakin merasa tidak nyaman berada di sana. Apa yang akan mereka pikirkan jika mengetahui alasannya berada di parkiran adalah untuk menunggu Arga?
Karena tidak mau membuat masalah baru, Nara memilih putar badan. Membawa langkahnya menjauh dari area parkiran. Mungkin jika beruntung, ia masih bisa pulang menggunakan Damri, tanpa harus nebeng ke Arga. Namun, baru saja beberapa langkah, suara klakson motor yang cukup memekikkan telinga berhasil menarik perhatian Nara.
"Mau kabur?" tanya suara bariton si pengendara, saat berhasil mengejar langkah Nara. Pemuda berjaket bomber dengan logo elang biru dan elang api itu menoleh kebelakang. Memberikan kode agar Nara segera naik ke jok penumpang.
"Naik, lo mau berdiri disini terus?"
Nara menggelengkan kepala. Tadi ia sudah bertekad untuk pulang sendiri. "Aku pulang sendiri aja, Kak," pintanya.
__ADS_1
"In your dream," sahut Arga. Selang dua detik kemudian, ia menggunakan telapak tangannya untuk menepuk jok penumpang belakang.
Nara paham maksud Arga. Dikarenakan hari sudah semakin sore dengan awan kelabu yang semakin banyak menggantung, Nara akhirnya mengangguk. Sulit jika juga harus menunggu angkutan umum. Apalagi sebentar lagi sepertinya adakan turun hujan.
"Pegangan!"
"Udah," cicit Nara dengan suara kecil. Tangannya sudah memegang kedua bahu lebar milik Arga.
"Gue bukan ojol!" seru si empunya.
Nara tentu saja kebingungan mendengarnya. "Eh, maksudnya?"
"Pinggang," kode Arga.
"Pegangan di pinggang Kakak?" tanya Nara, mencoba memahami kode yang Arga berikan.
"Lo telmi banget buat ukuran peraih juara umum," ejek Arga. Tanpa permisi, ia kemudian menarik turun tangan Nara supaya melingkari pinggangnya. "Pegangan aja nggak ngerti caranya!" cibir Arga.
Belum sempat Nara melontarkan protes, Arga sudah terlebih dahulu menjalankan kendaraannya setelah memperdengarkan raungan gagah motor kebanggaannya itu.
Kepergian pasangan yang baru menetas itu sontak diiringi oleh sorak-sorai dari anak-anak geng SPHINIX. Namun, semua itu tak digubris oleh Arga maupun Nara.
Seperti biasa, walaupun mereka berkendara berdua, mereka tetap sibuk dengan dunia masing-masing. Keheningan menjadi perantara di antara mereka. Sore itu, jalanan kota Bandung cukup lenggang. Mungkin dikarenakan suhu di luar ruangan yang sedang tidak bersahabat. Sebagian besar orang pasti memilih untuk beraktivitas di dalam ruangan, kecuali orang-orang yang memang memiliki kewajiban untuk beraktivitas di luar ruangan.
Ketika tengah asik menikmati pemandangan di sepanjang trotoar, tiba-tiba motor yang Arga kendarai menepi.
"Ada apa, Kak?"
Arga tidak menjawab. Sepersekian detik kemudian, Arga mengeluarkan handphone berwarna hitam dari dalam saku celana. Tebakan Nara, ada telepon masuk, sehingga Arga memilih menepikan motornya. Takut-takut ada informasi penting.
Cukup lama Arga menerima panggilan. Laki-laki itu sempat merespon singkat dua kali, lantas kembali memasukkan handphone tersebut ke dalam saku celana setelah panggilan terputus.
"Turun "
"Hah?" cengo Nara. "Maksud Kakak?"
"Iya, Kak." Dengan segera Nara turun dari jok penumpang. "Memangnya kenapa Kakak suruh aku turun...."
Belum usai kalimat itu disampaikan, Arga tiba-tiba saja tancap gas tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Meninggalkan Nara yang masih membeku di trotoar jalan.
Jadi, Arga memintanya turun untuk ini? Nara tak habis pikir. Ia kemudian menoleh ke sekitar, jalanan ini cukup sepi. Belum lagi jalan ini bukan rute tercepat menuju rumah Nara. Tidak ada satu pun angkutan umum yang kedapatan melewati jalur ini.
Rute ini adalah jalan memutar yang cukup jauh dari alamat rumahnya. Belum lagi dari rute ini menuju Lumiere Cafe juga sangat jauh. Jika berjalan kaki, bisa menghabiskan waktu hingga 40 menit. Nara mua tidak mau harus memutar otak. Akibat tindakan Arga yang tidak bisa ditebak, ia pada akhirnya harus mengeluarkan uang tabungannya untuk membayar ojek online. Satu-satunya transformasi yang sekarang bisa ia andalkan.
🫐🫐
Guratan-guratan letih tampak menghiasi wajah cantik Nara. Setelah insiden ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan, Nara akhirnya bisa tiba di cafe dengan ojek online. Setibanya di cafe, Nara juga harus bekerja keras, karena banyak staf yang tidak masuk. Nara juga tidak melihat Iki, Ibo, maupun Libra dan anak-anak SPHINIX yang lain. Hanya ada Nindi, Genta dan 4 staf lainnya.
Setelah selesai bekerja, Nara langsung bergegas pulang menggunakan Damri terakhir. Hari ini cafe tutup lebih awal karena kekurangan staf, sedangkan staf yang ada mulai kewalahan.
"Makan dulu."
"Iya, Ayah."
Rasa letih Nara terasa menguap begitu saja ketika kembali pulang ke rumah. Sang ayah selalu berhasil membuatnya mengesampingkan rasa tersebut.
Ayahnya pasti lebih merasa lelah ketimbang dirinya. Di tengah-tengah keterbatasan yang ia miliki, ayah Nara tetap bekerja keras demi memenuhi kebutuhan hidup mereka.
"Ayah, apa Ibu dan Kakak juga sudah makan di luar sana?" tanya Nara tiba tiba.
"Makan yang banyak Nara, biar cepat besar," kata sang ayah. Tidak menggubris ucapan Nara.
"Ayah, apa Ibu dan Kakak rindu sama kita?" tanya Nara, lagi.
"Nara," lirih sang ayah, memperingati.
"Ayah, Nara kangen Ibu dan Kakak. Nara ingin bertemu mereka...."
"Cukup Nara?!" bentak sang ayah, kelepasan. Detik itu juga Nara langsung mengunci bibirnya rapat-rapat.
Respon Andra ketika ditanya soal ibu dan saudaranya selalu sama. Di wajahnya tersirat amarah begitu besar, rasa kecewa dan rasa sakit yang membelit.
__ADS_1
"Nara, Ayah minta maaf. Ayah salah telah meninggikan suara."
Nara mengangguk dalam diam. Ia masih shocked.
"Nara mau memaafkan Ayah?"
"Iya. Nara juga salah," ucap Nara penuh penyesalan.
Andra menggelengkan kepala seraya menatap sang putri. "Ayah cuma tidak suka Nara mengingat-ingat orang yang sudah tidak ada."
"Maaf Ayah, Nara salah."
Andra mengangguk lagi, lalu tersenyum tipis. "Ayo habiskan makananmu, setelah itu istirahat."
"Iya, Ayah."
"Tugas rumahnya jangan lupa dikerjakan."
"Iya."
"Kalau begitu Ayah keluar dulu, ada urusan sebentar di rumah Pak RW." Andra beranjak setelah berpamitan. "Ayah berangkat dulu, Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Sepeninggalan sang ayah, Nara kembali dipeluk oleh hening dan sepi.
Sejak kecil, Nara tidak pernah bisa mendapatkan kesempatan untuk merasakan kasih sayang dari seorang ibu. Orang tuanya berpisah sejak ia kecil, entah apa alasannya. Yang jelas semenjak itu ia hanya hidup berdua dengan ayahnya.
Derrrtt
Derrrtt
Gadis cantik berkaos peach itu menoleh ke arah datangnya suara. Tangannya masih penuh busa dari sabun cuci piring, membuatnya urung untuk mengecek notifikasi. Namun, tak berselang lama, bunyi notifikasi berikutnya terdengar dan berhasil menarik perhatian.
Karena tidak berhenti-henti, Nara akhirnya meraih benda tersebut setelah membuka buku biologi untuk dipelajari. Handphone miliknya memang berada dalam mode getar, karena ia lebih suka handphone nya tidak bersuara.
"Palingan cuma sms dari provider jaringan," gumam Nara. Urung lagi mengecek notifikasi.
Empat puluh menit berikutnya, Nara yang sudah bersiap untuk tidur, baru menyempatkan diri untuk mengecek notifikasi. Ketika sudah dicek, lumayan banyak pesan yang masuk, mulai dari Cacha, Arsen, beberapa anak OSIS, dan grup sekolah tentunya.
"Ini siapa?" bingung Alea saat menemukan satu pesan dari nomer asing.
^^^+6213.......^^^
^^^Bsk gw jmpt Kyk bs^^^
^^^Jgn llet!^^^
Nara sempat dibuat kebingungan oleh pesan dari nomer asing tersebut. Nomer itu juga tidak ada di grup kelas. Siapa ya?
Barulah setelah lima belas menit berlalu, Nara sadar siapa pengirim pesan tersebut. "Kak Arga?" batinnya.
Jika benar, dari mana laki-laki itu punya nomernya? Lantas, haruskah Nara percaya pada ucapan Arga untuk kali ini? setelah apa yang laki-laki itu lakukan hari ini?
Keesokan harinya, Nara sudah siap berangkat sekolah seperti biasa. Ia sudah menyiapkan sarapan plus bekal untuk dirinya sendiri dan sang ayah. Menu bekal hari ini adalah tumis keciwis atau ceciwis, cuciwis, baby kol, atau baby kailan adalah sayuran yang berasal dari tanaman bergenus Brassica. Sayuran ini masih bersaudara dengan kailan, kol, kembang kol, brokoli, kale, dan brussel sprout. Ciri utamanya adalah daun yang tebal dan renyah dengan permukaan kesat. Selain tumis keciwis, Nara juga memasak perkedel jagung dan sambal untuk pelengkap.
Matahari mulai meninggi, jarum jam pun terus bergulir ke kiri. Namun, sosok yang Nara tunggu-tunggu tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Ketika jarum jam sudah menyentuh angka tujuh lewat dua puluh menit, Nara tersenyum masam seraya berjalan menjauh tempatnya menunggu.
Sepertinya sosok itu ingkar janji lagi. Dan bodohnya, Nara lagi-lagi jadi korban karena percaya begitu saja pada sebuah janjinya.
Poor Nara.
🫐🫐
TBC
Semoga suka 😘
Ada rekomendasi novel keren juga nih 👇
Tanggerang 22-10-22
__ADS_1