
Beberapa saat sebelum kejadian.
"Cha, aku ngumpulin sampah plastik di sebelah sana. Itu kayaknya masih banyak sampah." Nara berkata seraya menoleh ke samping. Namun, perkataannya sama sekali tidak digubris oleh sang sahabat. "Cha?"
"Nara, mending kita foto dulu. Besok kita balik, sekarang kita harus banyak-banyakin foto buat kenang-kenangan." Cacha berujar sambil mengeluarkan smartphone dengan phone case BT21 yang Aesthetic miliknya.
Nara yang mendengarnya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala. "Dasar."
Sambil membawa plastik besar berisi sampah yang telah dipungutnya sejak tadi, ia berjalan menyusuri bibir pantai, agak jauh dari posisi sang sahabat.
"Sampahnya banyak banget," lirihnya dengan telaten memunguti sampah non organik tersebar dimana-mana, bahkan sampai menggunung di bawah pohon-pohon pandan yang tumbuh tinggi dan menjulang disekitar bibir pantai.
Sayup-sayup Nara masih bisa mendengar celotehan sang sahabat yang sedang sibuk dengan smartphone miliknya.
"Mumpung sepi, dan background nya bagus juga." Cacha asik berceloteh, sedangkan Nara asik mengumpulkan sampah. "Kamera hp gue juga lagi cantik nih. No filter, tapi kayak udah diedit."
"Nara?"
Si empunya nama menoleh, ketika ia mendengar sahabatnya memanggil. Baru saja ingin membuka suara untuk menjawab, sepasang tangan asing tiba-tiba membekap bibirnya menggunakan sapu tangan.
"Nar, lo dimana?"
"Hhmpp."
Nara sekuat tenaga memberontak, menyikut sosok yang membekapnya dari belakan agar dapat melepaskan diri.
"Nara?"
"Hhmpp."
Akan tetapi, sekuat tenaga Nara memberontak, tenaga sosok misterius dibelakangnya lebih kuat. Ketika kesadarannya tiba-tiba menurun secara drastis, ia sadar ada yang tidak beres dengan sapu tangan yang digunakan untuk membekap area bibir dan hidungnya.
Sebelum bisa melepaskan diri, kesadarannya sudah terlebih dahulu direnggut secara paksa. Menjatuhkan Nara ke dalam kegelapan yang terasa hampa udara.
🫐🫐
"Ini pasti ulah lo pada 'kan?" sentak gadis berambut sebahu tersebut, murka.
Kedua tangannya dengan brutal menarik baju sang lawan bicara. Tidak mau kalah, sang lawan bicara melakukan perlawanan tak kalah brutal. terpancing emosi karena dituduh begitu saja tanpa adanya bukti.
"Atas dasar apa lo nuduh gue hah!"
"Gak usah ngeles lo. Semua ini pasti kerjaan lo. Balikin Nara sekarang?!"
"Gue nggak tahu dia dimana. Lagian gue nggak sangkut pautnya sama kehilangan Nara," bela si lawan bicara.
"Bohong lo, dasar medusa," sarkas Cacha. Ya, gadis dengan rambut sebahu itu adalah Cacha.
Ia datang dengan emosi menggebu-gebu semenjak sahabatnya menghilang. Satu-satunya orang yang ia curigai adalah ini, Rene.
"Cacha, Rene, udah," lerai seorang wanita berhijab yang merupakan seorang guru.
"Dia yang duluan nuduh-nuduh saya, Bu," adu Rene.
Cacha menatap Rene tajam seraya berkata. "Gue nuduh lo bukan tanpa alasan. Mengingat lo orang yang paling sering bully Nara, sedangkan selamat Darmawisata lo itu jadi aneh."
"Aneh bagaimana maksudnya, Cha? tolong jelaskan pada ibu," tanya Bu guru berhijab tadi.
"Dia yang suka bully Nara, Bu. Semenjak di sini dia aneh, cenderung sok nggak peduli sama Nara."
"Heh, gue udah insaf!" sewot Rene.
"Seorang Rene insaf? haha. Gue nggak percaya."
"Terserah lo mau percaya atau nggak. Tapi, memang itu kenyataanya."
Cacha mendengus mendengarnya. "Ta*k lah."
"Cacha, sudah cukup," ujar Bu guru. "Sebaiknya kita fokus dulu mencari Nara, jangan asal tuduh begini. Nara harus segera ditemukan sebelum gelap."
Cacha memalingkan wajahnya kesal. Ini sudah hampir tiga jam sejak kehilangan sang sahabat. Dan selama itu pula belum ada tanda-tanda jika gadis akan segera ditemukan. Cacha malah terpancing emosi setiap melihat Rene and the geng. Ia sudah overthinking sejak lama, karena Rene and the geng yang biasanya suka mem-bully Nara tanpa pandang bulu, tiba-tiba berhenti dari kebiasaannya. Jadi, jangan salahkan Cacha jika ia menaruh curiga pada Rene and the geng.
"Kalau sampe Nara kenapa-kenapa, lo orang pertama yang gue cari."
Rene mengedipkan bahunya acuh. "Huh, orang nething kek lo ini memang nggak bisa dikasih tahu."
"Serah lo mau bicara apa, pada dasarnya image lo itu udah buruk. Jadi, jangan salahin gue kalau curiga sama lo," pungkas Cacha seraya menatap Rene sengit.
"Sudah, Ibu bilang." Bu guru kembali berkata, beliau sudah pusing sendiri menghadapi tingkah laku kedua siswi tersebut. "Iki," panggilnya kemudian.
"Iya. Ada apa, Bu?" jawab lelaki yang kebetulan lewat di hadapan mereka.
"Sudah ada informasi terbaru soal Nara?"
__ADS_1
Lelaki berkaos hitam dengan logo SPHINIX itu menggelengkan kepala. "Belum Bu Fat, Arga sama anak-anak masih nyari." Ia kemudian menoleh, mengarahkan telunjuk ke arah teman-temannya. "Ibu bisa lihat sendiri, Arga aja komiknya udah kayak Singa ngamuk, karena betinanya belum ketemu."
Di arah telunjuknya, terlihat para anak-anak SPHINIX sedang berkerumun. Tampak juga sang leader yang sedang berdiri sambil berkacak pinggang. Laki-laki itu sepertinya tengah membicarakan sesuatu. Dari raut wajahnya yang sangat serius, pasti topik pembicaraan mengenai sang kekasih yang masih belum ditemukan.
"Buat lo berdua," Iki menoleh lagi, menatap Cacha dan Rene bergantian. "Ribut nggak bakal bawa Nara balik. Daripada ribut, lo berdua mending bantu nyari Nara."
Cacha mendengus lirih mendengar perkataan Iki. "Gue juga udah usaha nyariin dia, tapi nggak ketemu-ketemu. Hp Nara juga nggak aktif. Gue harus gimana lagi?" katanya, lemah.
Semua orang juga tahu bagaimana risau nya Cacha saat Nara menghilang. Gadis berambut pendek itu tidak berhenti mencari sambil menangis, semenjak tiga jam yang lalu. Jika sesuatu yang buruk terjadi pada Nara, maka Cacha tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Bantu do'a, kali aja mustajab," seloroh Iki jenaka.
Kalimat tersebut langsung mendapatkan hadiah berupa pukulan ringan di bahunya. "Gila lo. Gue udah tensi gini, lo masih aja bisa bercanda?!"
Lelaki berkulit putih itu tersenyum jumawa. "Ada kalanya dalam keadaan kayak gini, lo butuh kata-kata receh biar tetep waras."
"Sedeng," omel Cacha.
"Sudah. Lebih baik kalian ikut cari Nara. Kalau tidak berkenan untuk ikut mencari, silahkan kumpul dengan yang lain. Jangan berpencar supaya kejadian seperti ini tidak terjadi lagi."
"Iya, betul kata Bu Fat tuh," setuju Iki.
Rene mengangguk sambil berlalu pergi menuju gerombolannya. Sedangkan Cacha memilih mendekati gerombolan anak Osis yang sedang dipandu oleh Arsen. Lelaki itu tampak serius memberi arahan kepada para anggota. Karena tidak mau menganggu, Cacha akhirnya gabung dengan siswi dari kelasnya saja.
"Kita nggak ada kendaraan. Mau ikut nyari keluar daerah ini juga jadi terkendala," kaya salah satu anggota OSIS.
"Bener. Kita jadi susah kalau mau nyari dengan cakupan jarak jauh."
"Atau gini aja, kita ikut nyari sama anak-anak SPHINIX. Mereka 'kan nggak bawa penumpang," usul yang lain.
"Boleh juga tuh ide lo. Jadi gimana, Sen? join aja sama mereka? toh, tujuan kita sama. Cari Nara dan menemukannya secepat mungkin."
Arsen menatap teman-temannya, anggota OSIS. Mereka memang memiliki kendala soal jarak, ketika mencari Nara Walaupun sudah meminta bantuan penjaga pantai setempat, mereka tentu tidak bisa tinggal diam. Salah satu anggota osis, sekaligus teman mereka telah menghilang. Mereka tentu akan berupaya sekeras mungkin untuk mencarinya.
"Tunggu sebentar," ujar Arsen, akhirnya buka suara.
Bukannya ia tidak mau meng-iyakan usulan teman-temannya. Hanya saja hubungannya dengan ketua PASKA tidak baik sejak dua tahun belakangan. Sang leader selalu menjaga jarak dengannya, begitupun dengan para anggota. Padahal dulu saat kakaknya masih hidup, hubungan mereka baik-baik saja.
Akan tetapi demi Nara, Arsen akan meluruhkan egonya. Ia akan melewati batasan yang telah dibuat oleh seorang Arganta Natadisastra dua tahun lalu. Semua itu demi Aleanska Nara, sahabat kecilnya, sekaligus mantan kekasih almarhum kakaknya.
"Bisa bicara sebentar?"
Arga yang sedang memberikan arahan langsung memutus kalimatnya. "Bicara soal apa?" tanyanya dengan suara datar.
"Gue sendiri masih mampu nyari cewek gue. Jaga dia aja lo pada nggak becus. Sekarang lo pada mau apa?"
Arsen tahu ucapan Arga tidak sepenuhnya salah. Namun, tetap saja sebagai egonya tersindir. "Ini demi kebaikan Nara. Apa tidak lebih baik jika kita mencarinya bersama-sama?"
Arga menyeringai tipis. "Tanpa lo dan kawanan lo sekalipun, gue bisa bawa dia pulang dengan selamat."
"Jangan keras kepala."
Arga menatap lawan bicaranya tak percaya. "Keras kepala?"
"Kita berselisih seperti ini cuma membuang-buang waktu. Lebih baik kita cari Nara bersama-sama."
"Kita?" cibir salah seorang anak SPHINIX yang kebetulan ada di dekat sang leader. Sedangkan sebagai anggota lain memilih untuk memberi mereka ruang.
"Lo lupa kalau anak SPHINIX selalu minta keringanan hukuman sebagai balas budi jasa kami menjaga nama baik sekolah? Tapi, lo selalu abai sebagai Ketua OSIS," sahut suara milik Libra . "Setengah tahun belakangan anak-anak osis suka banget cari-cari kesalahan anak SPHINIX. Lupa?" imbuhnya.
Arga menyeringai kecil melihat lelaki dihadapannya diserang secara ganas oleh kawanannya. Toh, apa yang mereka ucapkan itu benar adanya.
"Sorry, itu adalah tanggung jawab kami sebagai anggota organisasi intra sekolah." Arsen buka suara tak gentar. "Tapi, kali ini demi Nara, mohon kerja samanya."
"Cih! Seorang ketos sampai mohon-mohon demi seorang mantan calon kakak ipar," cibir Libra dengan tekanan di akhir kalimat nya.
Arsen mengepalkan tangannya erat. Ia hanya ingin bekerja sama dengan geng SPHINIX untuk mencari Nata. Tapi, lihatlah bagaikan cara mereka merespon?
"Sen!" panggil suara familiar milik seseorang. Ketika menolehkan kepala, Arsen dapat menemukan Cacha yang sedang berlari ke arahnya.
"Kenapa, Cha?"
"Nara...."
"Nara kenapa?" tanya Arse dan Arga secara bersamaan. Untuk sejenak keduanya saling pandang dengan tak bersahabat. Lalu detik berikutnya saling buang muka.
"Barusan gue dapet info, katanya ada warga lokal yang lihat jeep hitam berplat nomer D ke arah sini sebelum kejadian."
"Jeep hitam?" ulang Arsen.
Cacha mengangguk sambil menstabilkan deru nafasnya. "Iya. Padahal gak ada satupun dari kita yang lihat jeep itu lewat sini. Katanya, Jeep itu nggak lama kelihatan puter balik." Cacha menuturkan informasi yang baru saja ia dapatkan. "Barusan Julian juga nyoba lacak GPS di Hp Nara sebelum di non-aktifkan. Lokasi terakhir yang terdeteksi itu daerah ujung.... ujung apa ya, namanya?" bingung Cacha, mencoba mengingat-ingat.
"Ujung genteng," celetuk Iki tiba-tiba.
__ADS_1
"Daebak. Itu nama lokasinya, ujung genteng." Cacha manggut-manggut mengiyakan.
"Ta, Ujung genteng lokasinya nggak jauh dari sini," ujar Orion, buka suara. Sejak tadi ia diam-diam menyimak.
"Lo tahu lokasinya? bisa bawa kita kesana?"
Orion mengangguk. "Hm. Gue pernah kesana. Lokasinya nggak terlalu jauh dari sini. Sekitar sepuluh sampai lima belas menitan kalau nggak ada hambatan di jalan."
"Oke, kita cabut," instruksi Arga, bergegas menuju kuda besinya.
Para anggota SPHINIX yang lainnya juga langsung melakukan hal yang sama.
"Please, gue ikut!" rengek Cacha seraya menarik ujung jaket Iki.
"Ck, ngeroptin." Iki berdecak. Namun, tak kunjung menolak. "Pake, kita otw sekarang," imbuhnya kemudian. Sebuah helm tidak lupa ia sodorkan.
"Thanks."
"No problem," jawab Iki sambil mengenakan helmnya.
Di sisi lain, Arsen dan anak-anak OSIS hanya bisa terdiam melihat anak geng SPHINIX bersiap-siap.
"Sen, gimana?"
"Kita nggak bisa maksa," sahut Arsen. Ia tidak bisa melakukan banyak hal. Sekarang yang bisa ia lakukan hanya berharap, semoga saja Nara segera ditemukan.
"Oi!"
Mendengar teriakkan cukup keras, mereka pun menoleh.
"Pada mau pergi nggak? jok penumpang kosong nih!"
Arsen menyisipkan mata dua kali. "Kalian ngajak kita?"
"Yoi. Cepetan naik, kita otw," ujar lelaki berjaket SPHINIX itu, tangannya menepuk-nepuk jok penumpang belakang.
"Tadi bukannya...." Arsen menggantungkan kalimat. Bukannya tadi Arga menolak bekerja sama?
"Buruan naek, sebelum leader kita berubah pikiran."
Tanpa ba-bi-bu lagi, Arsen dan beberapa anggota OSIS itu pun segera mengambil posisi. Masing-masing ikut di jok penumpang belakang. Ternyata, Arga memperbolehkan anggotanya untuk membawa mereka.
🫐🫐
"Ini lokasinya," ucap Orion.
Lelaki berwajah blasteran itu menatap sekelilingnya. Tempat tersebut merupakan tempat nelayan lokal menetap, menjual hasil tangkapan, dan membiarkan perahu mereka parkir di beberapa titik. Ada sebuah pos jaga TNI Angkatan Laut juga di tempat tersebut.
"Jalur ditempat ini cuma dua, jalur pertama masuk ke pasar ikan. Sedangkan jalur yang kedua adalah jalan buntu," tutur Orion. Ia kurang lebih masih hapal tempat ini, karena dulu pernah camping di sini.
"Jalan buntu?" kening Arga bertaut ketika mengatakannya.
"Ya. Jalan buntu itu mengarah ke tempat bernama Tenda biru. Tempat wisata yang lingkungannya masih berbentuk hutan hujan alami. Di sana juga banyak hewan liar, seperti biawak berukuran besar yang cukup agresif."
Arga mengangguk setelah mendengar penjelasan singkat dari Orion. Ia lantas beralih kepada penumpang di jok belakang motor Iki.
"Dimana titik tepat lokasi cewek gue?"
"Itu, Kak ....aku juga nggak tahu," cicit Cacha dengan suara kecil. "Tapi, aku tadi sempat screenshot."
"Kasih Hp lo, biar Arga lihat sendiri," ujar Iki, memberitahu.
"Ah, iya. Ini." Cacha menyodorkan smartphone miliknya pada Iki, supaya Iki memberikannya pada Arga.
Arga lantas dengan seksama mengamati apa yang tertera dilayar smartphone milik Cacha.
"Lokasi terakhirnya ada di sekitar tempat ini," kata Arga pada Orion.
"Iya, mereka ada ditempat ini. Tenda biru namanya. Gue pernah kesana, ada beberapa bangunan terbengkalai di sana. Yang paling terkenal adalah menara mercusuar," tutur Orion. "Kemungkinan besar mereka ada di salah satu bangunan terbengkalai itu, Ta. Soalnya mereka nggak akan bisa lari lagi jika sudah masuk daerah sini. Jalur yang mereka ambil jalan buntu."
Arga mengangguk paham. Ia kemudian kembali menyalakan mesin motornya. "Kalau gitu kita jemput cewek gue sekarang."
🫐🫐
TBC
Kalian bacanya deg-degan nggak sih? author mah nulisnya sambil deg-degan + gregetan 🤭❤️
Ada rekomendasi novel keren juga nih 👇
Tanggerang 05-12-22
__ADS_1