Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
²¹UFB


__ADS_3

Semilir angin yang masuk dari celah pintu yang menganga lebar tersebut terasa membelai kulit dengan lembut. Rumah pohon yang berada diketinggian sekitar 5 meter di atas tanah itu dalamnya ternyata cukup luas. Areanya menyatu menjadi satu, dengan beberapa bagian yang sengaja diberi sekat. Ada tempat tidur kecil dengan dua bantal minimalis, plus dengan selimut berbulu yang tampak lembut. Ada meja kec pula, lengkap dengan alat makan yang tertata rapih di sebuah keranjang kayu. Di simpan dengan rapih di dekat meja.


Rumah pohon itu berdiri dengan kokoh di balik hutan rimbun yang menutupi akses masuk. Kondisi di dalam rumah pohon di dalam sini terasa lengkap. Ada pula interior tambahan seperti lemari kecil, kursi, karpet, dan jangan lupakan jam pasir serta lampu minyak di atas meja dekat tempat tidur.


Tangan Nara bergerak, menyentuh figura kayu yang terpahat dengan baik di atas meja. Ada sebuah foto yang tentu saja sangat familiar di matanya. Foto itu diambil beberapa tahun yang lalu, lebih tepatnya saat almarhum Seno masih hidup di dunia.


Tidak hanya foto itu yang tersimpan di sana, melainkan ada banyak foto lain menghiasi satu area dinding. Foto-foto itu lah yang menarik perhatian Nara semenjak mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Selain foto yang mencetak gambar almarhum Seno dan dirinya, ada pula foto Arga serta teman-temannya. Mulai dari Arga yang terlihat sedang membangun rumah pohon ini, sampai foto Arga dan teman-teman sedang kumpul organisasi.


"Jadi apa maksud Kakak bawa aku kesini?" Nara berbalik, supaya dapat menatap Arga.


"Duduk, gue jelasin."


"Kakak mau ceritain semuanya?"


"Gue bukan tukang dongeng!"


Nara tersenyum tipis seraya mengangguk. Ia lantas mengambil posisi duduk di tepi tempat tidur minimalis di sana. Menghadap Arga yang juga tengah menatapnya dari posisi duduk di atas kursi.


"Seno, nitip lo sama gue," ujar Arga to the point.


"Kenapa? Aku bukan barang sampai-sampai harus dititipin segala."


"Tsk, dengerin gue dulu." Arga memutar bola mata setelah berdecak. "Lo adalah salah satu dari dua hal yang Seno titipin."


"Dua hal? Berarti...."


"Jangan nyela, gue nggak suka."


Alea mengangguk. "Maaf."


"Hm. Jangan diulangi lagi."


Anggukan kepala kembali Nara berikan. Ia berjanji tidak akan menyela lagi.


"Lo tanggung jawab gue semenjak hari itu. Salah satu dari dua hal yang Seno anggap berharga buat gue jaga."


"...."


"Jadi mulai detik ini, nggak ada alasan lagi buat lo jauh dari gue."


Nara tidak tahu harus merespon bagaimana. Untuk apa Seno menitipkan dirinya pada Arga? di sisi lain, Arga juga beberapa tahun ke belakang tidak peduli pada keberadaan Nara. Padahal mereka satu sekolah. Jika diminta untuk menjaga Nara, seharusnya Arga juga tidak bersikap acuh seperti beberapa tahun ke belakang.


Mengenai rumah pohon yang Arga tujukan, Nara jadi tahu jika Seno telah mempersiapkan banyak hal untu gadis yang ia cintai. Namun, sayang, Malaikat Izrail sudah terlebih dahulu datang dan membawa pergi ke sisi sang Ilahi. Lantas, Seno juga seolah-olah telah menyiapkan Arga untuk menjaga Nara.


Tapi, kenapa harus Arganta Natadisastra yang punya tempramen buruk? kenapa bukan Arsena yang jelas-jelas Seno sendiri ketahui tabiatnya dengan baik.


"Besok gue jemput, berangkat bareng sama gue."


Nara yang baru saja turun dari motor milik Arga hanya memberikan anggukan kepala sebagai jawaban. Mereka baru saja pulang dari rumah pohon yang dibangun oleh Seno dengan bantuan Arga.


"Masuk, Ayah lo udah nungguin."


"Iya."


Arga yang tidak berniat untuk berlama-lama di sana, langsung kembali menyalakan mesin motornya saat Nara kembali memanggil.


"Kak."


"Apaan?"

__ADS_1


Nara tampak menggigit bibir, seolah-olah ragu untuk berucap. "Terima kasih."


Satu alis Arga terangkat mendengar ucapan terima kasih Nara. "Buat?"


"Rumah pohon dan penjelasannya," ujar Nara seraya tersenyum tulus. "Kalau aku mau ke sana lagi, Kakak mau temenin aku?" tanyanya, ragu.


Siap sangka, Arga memberikan jawaban yang tidak pernah Nara duga sebelumnya. "Lo bisa bilang sama gue kalau mau ke sana."


Pada akhirnya Nara membiarkan senyumnya berkembang lebih lebar. Sepertinya ia mulai bisa menjalin hubungan baik dengan Arga. Memperbaiki hubungan mereka yang memburuk semenjak kematian Seno.


🫐🫐


Dua porsi nasi goreng kecap dengan topping telur mata sapi setengah matang, pagi itu menjadi menu sarapan bagi Nara dan ayahnya. Nasi semalam masih tersisa cukup banyak di rice cooker, jadi Nara memutuskan untuk mengolahnya menjadi nasi goreng kecap. Menu yang simpel untuk mengganjal perut di pagi hari.


Teenn


Teenn


Nara menoleh untuk kesekian kalinya, saat mendengar suara klakson motor tersebut. Jujur, ia risih dengan suara klakson motor yang terparkir tepat di depan rumahnya itu.


"Siapa, Arsen?" tanya sang ayah yang tengah membantu putrinya membenahi alat makan bekas sarapan. "Nara?" Tanya sang ayah lagi. Mungkin sang putri tidak mendengar pertanyaannya.


"Bukan ayah. Itu ....teman Nara."


Andra mengangguk, lalu tersenyum tipis. Ia pikir itu suara klakson motor Arsen, tapi setahunya klakson motor matic Arsen bukan begitu bunyinya.


"Anak laki-laki yang malam itu mengantar kamu?" tebak Andra, tepat sasaran.


Mau tidak mau, Nara mengangguk seraya menyelesaikan pekerjaannya. Mencuci piring.


"Memangnya Arsen kemana? tumben bukan dia yang jemput kamu."


"Arsen sedang sibuk sama Organisasi Ayah, jadi nggak bisa berangkat bareng Nara. Takutnya ngerepotin."


Nara terjebak oleh perkataanya sendiri. Ia memang tidak tahu pasti jika Arga keberatan atau tidak menjemputnya sekolah. Toh, Arga sendiri yang menawarkan diri.


"Ayah cuma mau yang terbaik untuk kamu. Jangan sampai karena dekat dengan dia, kamu masuk ke ranah yang tidak seharusnya kamu masuki," Pesan sang ayah. "Kamu mengerti kan?"


Nara tersenyum sambil mengangguk.


"Iya, Nara mengerti."


🫐🫐


"Kak, aku turun di depan halte bus aja," pinta Nara. Sebentar lagi mereka akan tiba di sekolah.


"Hm."


Gadis itu tersenyum tipis di balik punggung tegap milik Arga yang terlapisi oleh oversized Hoodie berwarna hitam. Laki-laki tampan dengan sejuta pesona itu masih sibuk mengemudi. Sesekali ia merespon celotehan Nara yang minta diturunkan di halte bus dekat sekolah. Bisa dibilang masih jauh, sih. Sekitar 200 meter dari gerbang sekolah.


Bukan tanpa alasan Nara minta diturunkan di halte bus, alasannya karena ia ingin meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan. Hidupnya sudah banyak drama belakangan ini. Nara tidak ingin menambah drama lagi dengan kedatangannya bersama most wanted SMA Angkasa yang sangat diidolakan.


Jujur, Nara masih sayang nyawa. Jadi ia enggan berurusan dengan para fans fanatik Arga.


"Eh, kok...." Nara risau sendiri saat motor yang di tumpanginya masih tetap melaju melewati tempat yang seharusnya. "Kak, aku mau turun disini."


"...."


"Kak, Kakak?!"

__ADS_1


Arga tidak menggubris, ia tetap melajukan motornya melewati gerbang sekolah. Sekalipun Nara sudah minta diturunkan.


Beberapa menit kemudian, motor CBR250RR milik Arga sampai di area parkiran. Kedatangan mereka tentu langsung menarik perhatian. Rumor kembali beredar tentang kedekatan Arga dan Nara pasti akan semakin merebak.


"Weh, leader tumben datang bawa couple," goda salah satu anak SPHINIX yang sedang berkumpul diparkiran. "Kali ini bukan sibling goals lagi, dong."


"Cewek bekas buat apa diangkut, Ta?" seloroh siswa yang lain.


Arga menatap teman-temannya datar seraya mematikan mesin motor dengan santai.


"Turun," instruksinya dengan suara yang bisa dibilang lebih ramah dari biasanya. "Ngebac*t apaan lo barusan?"


Arga menatap teman-temannya satu per satu. Siswa yang tadi berkata langsung tersenyum miring.


"Gue bener, 'kan?"


"Banyak bac*t lo!"


Tanpa bicara lagi, Arga memilih meninggalkan parkiran seraya mengandeng Nara. Lebih tepatnya memegang pergelangan tangan Nara. Membuat hampir setengah populasi geng SPHINIX melotot tak percaya.


Lah, itu Arganta Natadisastra loh. Siswa populer yang terkenal anti dengan yang namanya perempuan. Sekalipun ia punya saudara tiri yang cantik jelita, Arga tak pernah memperlihatkan ketertarikan apapun.


"Anj*r, ini mah cinta lama bersemi kembali," celetuk Iki tiba-tiba.


"Cinta lama bersemi kembali gimana? Ini kan beda protagonis prianya," sahut Ibo.


Jadi, pagi itu kedatangan Arga dan Nara menjadi topik hangat. Terutama bagi anak-anak geng SPHINIX. Mereka jadi teringat akan kisah cinta Arseno dengan gadis yang sama.


Bagaimanapun juga terkuaknya hubungan Nara dengan Seno memunculkan keraguan besar di antara anggota SPHINIX. Dari dulu mereka memang membenci fakta jika ketua yang mereka hargai meninggal dengan cara tak wajar. Belum lagi motif pembunuhan tersebut hanya karena kesalahpahaman. Sekarang ketua mereka yang baru juga malah dekat lagi dengan gadis yang sama.


"Belajar yang bener sana," titah Arga ketika mereka berdua tiba di depan kelas Nara.


"Iya."


"Gue cabut."


Nara mengangguk samar. Berangkat bersama Arga benar-benar membuatnya sport jantung.


Tiba di dalam kelas, ia juga harus menerima dengan lapang dada jika ia telah menjadi topik pembicaraan. Saat bertemu dengan mata Cacha, ia tahu jika gadis itu juga sedang menyimpan banyak pertanyaan.


"Nanti aku jelasin semuanya," Llrih Nara seraya mengambil posisi duduk di samping Cacha.


"Awas aja kalau lo bohong!"


Nara menggeleng. Ia bisa merasakan sedikit tenang, karena masih ada Cacha yang tidak terpengaruh dengan kabar simpang siur yang tengah hangat diperbincangkan.


"Btw, lo sama Kak Arga udah kayak couple goals di dunia novel romantis tau nggak sih. So sweet banget," celetuk Cacha tiba-tiba.


Kalimat itu tentu berhasil membuat Nara tertegun untuk beberapa waktu. Ia dan Arga jadi couple goals? mimpi kali.


🫐🫐


TBC


Semoga suka 😘


Jangan lupa like, vote, komentar, dan rate 5 bintang 🌟


Ada rekomendasi novel keren juga nih 👇

__ADS_1



Tanggerang 16-11-22


__ADS_2