Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
²⁴UFB


__ADS_3


Alexander adalah salah satu siswa tampan dari SMA Langit. Ia memiliki mata tajam yang agak sipit di ujung. Banyak yang mengira jika Alexander memiliki darah Chinese. Sehingga ciri fisiknya begitu khas. Namun, siapa sangka jika ia tidak memiliki darah Chinese sama sekali. Perawakan dan wajah rupawan nya saja yang kerap kali menipu.


Kalung rantai dan anting-anting adalah aksesoris wajib untuk menunjang penampilannya. Wajah Alexander yang tergolong putih cenderung pucat, membuatnya dijuluki sebagai Ice Prince. Sebagai ketua geng PIONIX, siapa yang tidak mengenal Alexander. Di balik titel lady killer yang melekat, pada dasar ia hanyalah seorang anak yang haus kasih sayang. Alexander juga hidup sebatang Kara.


Alexander keluar dari rumah, karena tidak bisa menerima keputusan sang ibu. Ia lantas bertemu pasutri baik hati yang memungutnya dari dari jalanan. Pasutri yang tidak memiliki keturunan itu kebetulan berdarah Chinese, sehingga ia akrab disapa Koko. Alexander sempat merasakan keluarga yang lengkap serta harmonis bersama mereka. Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Kedua orang tua sambung Alexander harus meregang nyaman karena terpanggang dalam kobaran si jago merah.


Hingga pada akhirnya Alexander bergabung ke sebuah organisasi yang mengenalkan ia pada keluarga baru. Alexander menemukan hidupnya di sana. Ia senang bukan main karena mendapatkan keluarga baru. Sebelum kesalahpahaman memecah belah kan mereka menjadi menjadi dua kubu. Yang dulunya satu kubu, kini menjadi lawan beradu.


"....pergi. Aku mau Koko pergi dari hidup aku."


Alexander mengerjapkan mata mendengarnya.


"Koko bisa kabulkan permintaan itu?"


Alexander mengangguk. "Tapi nanti, bukan sekarang."


"Kenapa tidak sekarang? Koko bisa pergi seperti dulu. Menghilang begitu saja tanpa alasan."


"Maaf," ujar Alexander. Ia diam-diam tersenyum semu. "Untuk saat ini, Koko harus menetap."


"Kenapa?" desak Alea. "Kalau Koko sayang sama Nara, seharusnya Koko bisa melepaskan Nara."


Alexander menoleh, menatap Nara untuk sejenak. "Koko harus tetap menatap, karena menjaga kamu supaya yang tetap sama dan nyaman tinggal di sini," gumamnya sebelum kembali fokus ke jalanan..


Nara tidak membenci Alexander, hanya saja kepergian laki-laki itu dua tahun lalu menambah kepedihan pada kehilangan akan sosok Seno. Nama Alexander sempat dibawa-bawa pada kasus kematian Seno. Nara tentu kecewa berat mengetahuinya. Belum lagi anak-anak SPHINIX yang mengira pacar Seno (Nara) ada main dengan Alexander. Mereka berpikir bahwa mungkin itu lah salah satu alasan yang menjadi bibit timbulnya ke salah pahaman di antara mereka.


Padahal anak-anak SPHINIX tidak mengetahui identitas asli pacar Seno, karena laki-laki itu menjaga identitas gadisnya dengan baik. Jika membahas Nara, Seno akan menggunakan kata ganti Infinity. Segala sesuatu yang berbau dengan gadisnya juga Seno ciri kan dengan simbol Infinity yang mengandung arti tak hingga (bahasa Inggris: infinity symbol), yang dilambangkan sebagai ∞.


Hanya Arganta Natadisastra yang mengetahui identitas asli kekasih Seno. Tolong dicatat, hanya Arganta Natadisastra.


"Kenapa enggak di makan, Nara nggak suka?" Alexander menatap bingung mangkuk berisi ramen yang dipesan olehnya untuk Nara. "Mau Koko pesankan yang baru?"



Nara menggeleng keras. Selera makanya sedang buruk. Pikirannya juga sedang berkelana kemana-mana.


"Ada apa? Nara mau pulang?"


Alexander memang tidak langsung mengantar Nara pulang. Pemuda itu malah membawa Nara singgah terlebih dahulu ke restoran Cina yang dulu langganan mereka.


Nara mendongrak, menatap Alexander sejenak.


"Aku mau pulang, Koko bisa antarkan?"


Alexander mengangguk, tanpa penolakan. Ia lalu mengeluarkan dompet, meninggalkan dua lembar uang pecahan seratus ribu di atas meja untuk membayar dua mangkuk ramen pesanannya yang belum disentuh.


"Mau beli sesuatu dulu untuk Ayah di rumah?"


Nara menggeleng. "Tidak perlu repot-repot. Lagipula aku harus kerja dulu sebelum pulang."


"Ya sudah. Biar Koko antar Nara pulang sekarang."


Nara memang tidak berniat pulang ke rumah, melainkan datang ke Lumiere Cafe untuk bekerja. Kemarin ia sudah izin, hari ini ia tidak boleh bolos kerja lagi.


"Ini tempatnya?" Alexander bertanya saat mobilnya sudah berhenti di seberang Lumiere cafe.


"Iya."


"Nara kerja di Cafe nya anak lucifer itu?"


"Anak lucifer?" Nara menyipitkan mata mendengarnya.

__ADS_1


"Ah, maksudnya anak Tuan Utama Natadisastra yang terhormat."


Nara berdecak kecil seraya melepaskan seat belt. "Kakak nggak sopan."


Alexander tertawa renyah. Ia kemudian menatap cafe milik Arga untuk sekilas, lalu berkata. "Nara mau, ya, berhenti kerja. Koko bisa kok kasih uang saku buat Nara, asalkan Nara jangan kerja di sani lagi."


"Enggak. Kenapa juga Koko harus ikut campur sama pekerjaan aku."


"Nara, denger dulu. Koko bilang begini, karena...."


"Koko bukan siapa-siapa aku," potong Nara. Alexander tidak tahu sebesar apa kesulitan Nara mencari pekerjaan selama ini. Enak saja ia main suruh-suruh. "Koko nggak berhak ikut campur."


Setelah berkata demikian, Nara langsung turun dari mobil Alexander. Meninggalkan si empunya yang hanya bisa berdecak sebal


"Kenapa kamu harus kerja di sini sih, dek," gumamnya kecil, sebelum kembali menyalakan mesin mobil.


🫐🫐


Benar saja dugaannya tadi, atmosfer canggung langsung menyambut kedatangan Nara. Nara melupakan fakta bahwa Lumiere Cafe adalah basecamp kedua bagi SPHINIX.


"Wih, Infinity masih berani datang ke sini rupanya?" sindir Libra yang baru muncul dari dapur.


Pemuda itu datang sambil membawa susu kotak rasa plain yang langsung disimpan dengan kasar ke atas meja.


"Eh pesanan gue, main gebrak-gebrak maja aja lo." Kesal Iki tidak terima pesanannya disimpan dengan kasar. Tak berselang lama, pandangannya bertemu dengan Nara. "Eh, siapa nih yang masuk kerja lagi? Kayak nggak punya muka banget, masih berani masuk kerja."


"Urat malunya udah putus kali!"


"Ho'oh, nggak tahu malu banget makanya."


Sahut beberapa anak yang lain.


"Udah bro, jangan nyinyir terus. Kayak cewek aja lo pada," kata Genta yang datang dengan sepiring French fries. "Masuk Nar. Mereka nggak usah didengerin."


"Bukan gitu maksudnya bro," Ujar Genta menengahi.


"Kalau dia gabung, gue auto cabut. Ambyar mood gue lihat cewek modelan kek dia." Libra berkata seraya melipat tangan di depan dada.


"Ya udah sono cabut, jangan banyak cingcong," celetuk Iki yang sedang asik menyedot susu plain miliknya.


"Oh, jadi sekarang lo usir gue?"


"Nggak tuh. Lo 'kan tadi katanya mau cabut," sahut Iki apa adanya.


Ibo yang juga muncul dari dapur langsung melerai. Ia lantas melirik ke arah Nara. "Ini anak orang gimana?"


Nara sejak tadi masih berdiri di ambang pintu. Kakinya seolah-olah ragu hendak melangkah lebih jauh.


"Sini, Nar. Lo dari tadi di depan, pamali itu." Genta bersuara dengan ramah. Beda dari yang lain.


"Bukan pamali sih, secara logis berdiri di depan pintu itu menghalangi jalan," sanggah Ibo sambil terkekeh geli.


"Eh Nar, kamu udah datang?" sapa Nindi yang baru saja muncul. Perempuan itu tampak tersenyum hangat ke arah Nara.


Nara tersenyum tipis sambil mengangguk.


"Naik gih, bos besar nunggu kamu di ruangannya."


"Naik?" bingung Alea.


Nara tidak tahu di mana letak tempat yang di maksud oleh Nindi. Belum lagi kata 'Bos besar' membuat dirinya ingat akan satu nama. Siapa lagi jika bukan Arganta Natadisastra.


"Lewat dapur, belok kanan. Nanti kamu bakal nemu tangga buat ke ruangan atas. Ruangan paling ujung di sebelah kiri, itu ruangan bos besar."

__ADS_1


Nara mengangguk, lalu menuruti perkataan Nindi. Ia bergegas pergi ke arah dapur sambil menunduk. Banyak anak SPHINIX yang menatapnya di sepanjang perjalanan. Untung saja Nindi menyelamatkan Nara dari suasana mencekam tersebut.


Nara terus berjalan, melewati kebun minimalis di area belakang, sampai akhirnya menemukan tangga yang akan membawanya menuju lantai atas. Tempat di mana ruangan bos besar berada.


Dengan perlahan Nara menaiki satu persatu anak tangga yang dibuat dengan material kayu. Tiba di lantai yang dimaksud, ia dihadapkan dengan delapan ruangan dengan nama-nama unik yang tergantung di depan pintu. Akan tapi, bukan itu yang dicari Nara, melainkan ruangan paling ujung di sebelah kiri. Ruangan dengan lebel 'Danger' yang ditulis dengan huruf kapital. Bahkan kenop pintunya saja dililit garis polisi.


'Ini nggak salahkan?' gumam Nara sebelum memberanikan diri untuk mengetuk pintu tersebut.


Setelah ketukan kesekian, Nara memutuskan untuk meraih kenop pintu. Tidak ada jawaban dari dalam sana, jadi ia mengambil tindakan tersebut. Setelah pintu terbuka lebar, ruangan dengan dominasi gelap dan pencahayaan remang menyambut Nara. Membuat netranya bergerak lebih waspada, menatap ke sembarang arah. Hingga sebuah suara bariton dingin terdengar menyapa indra pendengaran Nara secara tiba-tiba.


"Lo nggak tahu aturan?"


🫐🫐


"Dari mana lo?"


Laki-laki yang baru saja menginjakkan kaki di markas PIONIX itu mendelik tajam. "Siapa yang biarin dia masuk?!" tanyanya murka.


"Bukan gue, Gray kali!" seorang pemuda buka suara, takut akan kemurkaan sang leader.


"Anj*ng, bukan gue. Dari tadi gue mabar sama si Cloud. Si Sean kali!" sahut si empunya nama, membela diri.


"Lo belum jawab pertanyaan gue!" desak gadis cantik yang tadi bertanya pada sang leader.


"Pergi!" usir Alexander. Datang-datang ia harus dibuat muak melihat wajah tersebut.


"Enggak, sebelum lo jawab pertanyaan gue!" kekeuh gadis berseragam SMA Angkasa itu. "Ngapain lo ke sekolah gue? Lo mau bunuh diri?" lanjutnya. Bertanya dengan nada bicara diselimuti emosi.


"Bukan urusan lo."


"Seenggaknya lo dengerin gue Alex, mending lo pergi. Jangan muncul lagi di depan Arga."


Alexander itu menatap lawan bicaranya balik. Menatap remeh sosok yang pernah berbagi tempat kala masih dalam rahim wanita yang melahirkan mereka. Alexander lantas tersenyum miris, hari ini ada dua orang yang menyuruhnya pergi. Apa kehadirannya begitu tak berarti?


"Kemana gue harus pergi?"


"Kemana aja, asal lo nggak muncul di hidup Arga lagi!"


"Ck." Alexander berdecak, ia sangsi dapat memengaruhi permintaan tersebut. "Bukan gue, tapi kita. Kita yang ganggu hidup dia. Gue, lo, dan nyokap yang udah ganggu hidup dia!"


"Lo..."


"Harusnya lo sadar diri, tingkah lo itu buat dia jijik. Gue aja gedek lihat sikap lo yang sok murahan. Apalagi dia, makanya sadar! Dia benci kita, gue, lo sama nyokap."


Ucapan Alexander tepat sasaran, berhasil menohok lawan bicaranya.


"Sial*n!" umpat si gadis sambil beranjak, meraih tas branded miliknya. "Jangan muncul di depan Arga lagi, atau.... gue bakal bikin hidup cewek miskin itu sengsara," pungkasnya sebelum pergi meninggalkan markas besar PIONIX. Meninggalkan Alexander yang masih terpaku.


"Udah cukup dulu nyokap nyakitin dia. Sekarang gue nggak akan biarin lo nyakitin dia lagi!"


🫐🫐


TBC


Semoga suka 😘


jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga 💐💐


Ada rekomendasi novel keren juga nih 👇



Tanggerang 17-11-22

__ADS_1


__ADS_2