Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
⁵³UFB


__ADS_3

"Lex."


Pemilik nama tersebut menoleh. Mengedarkan manik jelaganya dari punggung telanjang milik client nya yang ingin menerapkan motif tribal di sana.


"Apaan? Gak lihat gue lagi kerja, Gray?"


"Ini urgent." Pemilik nama itu menepuk bahu lelaki yang tengah memegang alat pembuat tato tersebut. Memberinya tekanan lewat gerakan tersebut.


"Urgent apaan emang?" tanya Alex, masih dengan nada santai.


"Bokap Adek lo...."


Gerakan tangan yang hendak membuat motif tribal itu berhenti seketika. "Kenapa?"


"Dia jadi korban penganiayaan."


Manik jelaga milik lelaki beranting-anting itu terbelalak seketika. "Ini informasi valid nggak, Gray?"


"Valid. Blake barusan hubungin gue." Lelaki bertindik itu menuturkan. "Sekarang Adek lo ada di RS. Dari kemaren bokap nya di rawat di sana." Turut Gray. "Lo kalau...."


"Gue cabut!" potong lelaki beranting-anting itu, dengan segera menyimpan peralatannya di atas meja.


Alex langsung menyambar jaket, serta meraih kunci motornya. Ia langsung cemas kala mendengar informasi soal orang tua Nara. Seraya melajukan motor CBR hitamnya di atas rata-rata, ia tak henti-hentinya berpikir. Otaknya terus bergerilya menerka-nerka apa yang menimpa mereka sebenarnya.


Ketika berhasil tiba di rumah sakit, ia langsung bergegas menuju lantai dua. Blake memang sudah memberikan informasi lengkap mengenai ruang inap ayah Nara lewat chat. Blake yang bertugas sebagai tangan kanannya memang diberi amanah untuk menjaga kediaman sang adik. Jika ada yang janggal, tentu Blake harus segera melapor. Namun sekali lagi, Blake membuat dirinya kalang-kabut karena informasi mengejutkan.


"Si gobl*k, Blake. Lo bisa kerja nggak sih?" ujar Alex pada seorang lelaki dengan hoodie dark blue yang menghadang jalannya.


"Gue kecolongan."


"Tol*l sih." Maki Alex sambil menarik kerah baju Blake.


"Dengar, gue kecolongan karena ngejar pelaku penculikan Adik lo, Lex."


"Apa?" gerakan Alex tertahan seketika.


"Gue hafal kendaraan si pelaku. Dan siang itu si pelaku mengintai kediaman Adik lo. Gue mana tahu pas gue pergi, semua ini bakal terjadi."


"Ck. Permainan sialan!" Alex berdecak kesal. Ia masih tidak habis pikir dengan permainan sialan yang tengah dimonopoli oleh seseorang tanpa nama ini. "Lanjutin tugas lo. Bawa dua anak buat jagain Adek gue di sini. Tetep awasi kediaman mereka."


"Oke."


"Gue cabut dulu."


"Hm."


"Sorry buat yang tadi, lo bikin gue emosi, gobl*k sih." Alex terkekeh kecil sambil menepuk bahu Blake. "Thanks, lo udah jagain Adek gue lagi."


"Hm."


Setelah berkata demikian, Alexander berlalu menuju ruangan 404. Sesuai informasi yang ia dapatkan, Nara berada di rumah sakit ditemani oleh Arsen. Namun, pagi ini lelaki itu diketahui sedang tidak ada di samping Nara, karena harus pergi menuntut ilmu.


"Nara."


Ketika pintu berhasil dibuka, maniknya langsung bergerilya mencari si empunya nama. Tepat di samping hospital bed, gadis berambut sebahu itu duduk. Ia menoleh, menatap Alex yang masih berdiri di ambang pintu.


"Kakak?"


Lelaki beranting-anting itu berjalan dengan cepat. Netranya menatap lurus ke arah gadis yang wajah ayunya tampak sembab.


Grep!

__ADS_1


"Syukurlah," bisiknya lirih saat ia berhasil merengkuh tubuh mungil tersebut erat-erat.


Nara yang tiba-tiba mendapatkan perlakuan tersebut tentu terkejut. Tubuhnya menegang. Aroma khas lelaki yang dijuluki sebagai Burung Api itu menggelegar, menguasai indra penciuman. Untuk sejenak, Nara merasa menemukan sosok kakak yang telah lama ia cari pada diri Alexander.


"Syukurlah kamu baik-baik saja." Alexander berucap lagi saat rengkuhannya merenggang. "Kamu nggak papa, 'kan?"


"Aku nggak papa, Kak," lirih Nara. Kesadarannya terbawa oleh arus. Tanpa sadar ia ikut melingkarkan tangannya, membalas pelukan Alexander. Ia merasa memeluk saudara lelakinya sendiri. Rengkuhan yang tadinya renggang pun kembali mengerat.


"Gue cemas."


Alexander tak sungkan-sungkan mengutarakan apa yang dirasakan olehnya. Ia memang cemas, karena belakangan ada saja musibah yang menimpa Nara.


"Kakak--"


BUGH!


"Sial*n!" umpatan murka itu datang dari sosok Arganta Natadisastra yang tiba-tiba muncul. Tidak peduli jika pukulan telaknya menimbulkan pekikan kaget dari sang kekasih serta erangan kesakitan dari lawan duelnya.


Pukulan membabi-buta ia layangkan ke arah Alexander bak orang kesetanan. Tidak peduli jika pukulan telaknya menimbulkan pekikan kaget dari sang kekasih serta erangan kesakitan dari lawan duelnya.


"Kakak, udah, cukup!" Nara mencoba untuk melerai. Ia sebisa mungkin memisahkan Arga sedang menghajar si Burung Api habis-habisan.


"Kakak, udah. Kak Alex terluka!" Nara berteriak cukup keras. Teriakan itu cukup untuk membuat kesadaran Arga kembali.


"Lo peduli sama dia?"


"Kak Alex manusia, bukan hewan. Kakak mukul dia membabi-buta begitu, dia bisa meninggal," balas Nara seraya membantu Alex berdiri dari tempatnya terkapar.


Sang leader melemparkan tatapannya ke sembarangan arah sambil terkekeh miris.


"Kakak kenapa sih datang-datang main pukul?"


Lelaki berjuluk si Burung Api yang sedang Nara papah rampak mengalami luka di sudut bibir, serta beberapa bagian tubuhnya mengali memar.


Nara terdiam untuk beberapa saat ketika mendengar kalimat pertama yang Arga lontarkan. "Hp aku ketinggalan di rumah. Aku buru-buru, sampai lupa bawa Hp. Ayah butuh pertolongan pertama."


"Seenggaknya lo hubungin gue, sial*n."


Nara membeku saat Arga berkata kasar kepadanya. Alexander yang menyadari itu lantas mengeraskan rahang. Ia tidak terima Nara dikasari.


"Anj*ng, lo nggak usah ngumpat ke dia juga!"


"Jangan ikut campur, urusan gue sama dia."


"Urusan Nara urusan gue juga!" balas Alexander tak mau kalah.


Nara memijit pelipisnya pening setelah bisa mendapatkan kesabaran kembali. Arga dan Alexander ibarat Tom and Jerry jika sudah bertemu. Di Manapun mereka berada, pasti ada saja yang memicu pertikaian.


"Kakak tahu dari mana aku disini?" Nara bertanya. Siapa sangka, pertanyaan itu bisa langsung ditangkap oleh telinga keduanya.


"Gue...."


Arga dan Alexander menjawab secara bersamaan. Detik berikutnya mereka saling menatap tidak suka.


"Ngapain lo ngikutin gue?"


"Lo yang ngikutin gue, j*ng." Alexander membela diri. "Lagi pula lo ngapain datang-datang langsung nonjok gue? Punya dendam kesumat lo sama gue, Bro...."


"****."


Arga sengaja mengumpat, guna memotong ucapan Alexander. Ia tidak mau kekasihnya tahu tentang identitas asli mereka. Belum, belum waktunya Nara tahu.

__ADS_1


Alexander tersenyum miring. Ia tahu Arga sangat benci akan status yang mengikat mereka. Namun, apa boleh buat, semua sudah diatur sedemikian rupa oleh Tuhan, bahkan sebelum mereka lahir ke dunia.


"Nara...."


Semua perhatian teralihkan ke arah datangnya suara lemah tersebut.


"A-yah?"


Gadis itu buru-buru menjauhi Arga dan Alexander, berjalan tergesa-gesa mendekati hospital bed. Di sana, pria baruh baya yang merupakan ayahnya telah siuman.


"Ayah sudah bangun?"


"Pergi..."


Nara tercekat mendengar suara ayahnya yang tiba-tiba mengatakan satu kata, yaitu pergi. "Maksud Ayah apa?"


Jemari milik pria tunarungu itu terangkat. Menunjuk lurus ke arah satu titik. Nara mengikuti arahan sang Ayah. Pandangannya terhenti pada sosok rupawan yang berdiri tegap di dekat pintu masuk.


"Suruh dia pergi dari sini, Nak."


"A-yah, itu Kak Arga...."


"Pergi ....suruh dia pergi...."


Nara menunduk, tangannya kemudian meraih telapak tangan sang Ayah. Wajah pucat pria paruh baya itu tampak kukuh ingin mengusir sosok yang masih mematung di tempat.


Nara bimbang. Ia tidak tahu harus menolak atau memenuhi perintah sang ayah. Namun, ia rasa untuk menolak rasanya begitu berat.


"Kak ....aku minta tolong boleh?" sebuah permintaan kemudian meluncur dari bibir Nara. Setelah. Tanpa menoleh ke belakang, tempat di mana dua lelaki yang ia panggil menggunakan embel-embel 'kakak' tersebut berdiri.


"....Kakak bisa pergi dulu dari sini."


Arga menatap nyalang gadis yang berstatus sebagai kekasihnya tersebut. Belum sempat reda rasa kesalnya, kini ia harus menelan pil pahit lagi. Ia di usir oleh ayah kekasihnya serta kekasihnya sendiri. What the h*ll Is that?!


"Nara, lo...." suara Arga tertahan saat seonggok tubuh menghalangi langkahnya. "Jangan halangin gue," desisnya penuh penekanan.


Alexander, yang menghalangi langkah Arga masih tak bergeming, "kali ini aja," pinta lelaki beranting-anting tersebut. "Penuhi maunya. Ini juga berat buat Nara."


Arga menatap Alexander jengah. Ia tidak suka diperintah, karena dia lah yang suka memerintah. Namun, kali ini kondisinya berbeda. Ia melirik sang kekasih sejenak. Gadis bersurai pendek itu tampak berusaha berkomunikasi dengan sang ayah. Punggung mungilnya terlihat bergetar dari belakang sini. Arga yakin gadisnya tengah menangis.


"Oke, gue pergi." Ia pada akhirnya mengalah. "Tapi ingat, lo hutang penjelasan sama gue."


Setelah berkata demikian, lelaki rupawan berseragam SMA Angkasa yang dilapisi jaket bomber itu berlalu. Meninggalkan ruangan yang masih diisi oleh keheningan.


"Nar, gue juga pamit." Alexander buka suara setelah kepergian Arga. "Nanti gue balik lagi."


Lelaki berjaket hitam dengan logo burung Peonix api itu berlalu setelahnya. Ia tidak mendapatkan respon yang berarti dari lawan bicaranya tadi, sama halnya seperti apa yang Arga dapatkan. Tapi tidak apa, Alexander paham akan keadaan Nara. Namun, sikap ayah Nara lah yang membuatnya penasaran.


Kenapa pria lemah itu tampak tidak menyukai keberadaan Arga?


"Halo."


Alex berbicara pada seseorang yang baru mengangkat sambungan telpon di seberang sana. Setelah keluar dari ruang rawat ayah Nara, ia memutuskan untuk menghubungi seseorang


"Cari tahu identitas lengkap Adek gue, sama identitas pria yang menjadi Ayahnya. Gue mau informasi itu secepatnya."


...🫐🫐...


...TBC...


...Semoga suka 🖤...

__ADS_1


...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...


...Tanggerang 12-12-22...


__ADS_2