Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
²³UFB


__ADS_3

Cinta dan benci adalah dua hal yang selalu berdampingan. Ada yang bilang jika cinta dan benci itu cuma diberi sekat tipis yang menjadi pemisah. Maka tak heran jika seiring berjalannya waktu, cinta bisa menjadi benci, begitu pula sebaliknya. Benci bisa menjadi cinta. Kenapa? karena tipisnya sekat di antara kedua rasa tersebut.


Perihal itu pula yang terkadang menimbulkan perpecahan di antara mereka. Ya, lebih tepatnya antara dua kubu yang dulunya bersatu padu. Kini menjadi dua kubu yang selalu beradu.


"ABJ*NG, SEKOLAH KITA DISERANG?!"


Alarm tanda bahaya di kepala Nara tiba-tiba aktif, lantaran teriakan tersebut.


"Nar, mereka itu beneran mau nyerang sekolah kita?" cicit Cacha ketakutan. Saat ini ia bersembunyi di belakang tubuh Nara.


"Aku juga gak tahu, Cha."


Jika dilihat secara kasat mata, bisa jadi sebentar lagi akan ada dua kubu yang saling beradu. Namun, entahlah. Tidak ada yang dapat menebak.


Tak berselang lama, segerombolan anak SMA Angkasa tumpah ruah memenuhi area parkiran. Walaupun kegiatan belajar mengajar telah selesai semenjak dua puluh menit yang lalu, masih banyak siswa maupun siswi yang berada di area sekolah.


"Ngapain lo pada datang kesini? Mau cari mati?!" Ucap salah satu anak kelas XII, menyambut anak-anak SMA Langit.


Sedangkan dari arah gerombolan siswa tetangga, mereka terlihat biasa saja. Beluma da kode-kode tertentu untuk menyerang. Mereka juga tidak seperti anak SMA Angkasa yang menggunakan almamater lengkap, melainkan menggunakan atribut bebas dengan ciri khas badge serta loga yang hampir memenuhi baju bagian depan yang mereka gunakan.


Layaknya rumor yang sering diumbar-umbar oleh beberapa lambe turah sekolah, anak sekolah tetangga memang terkenal dengan siswanya yang urakan. Geng yang suka membuat onar, terkadang juga meresahkan beberapa pihak. Mereka Pasukan Api atau kerap disingkat menjadi PASPI merupakan pasukan inti dari SMA Langit yang terkenal akan segudang reputasi buruk. Namun, bukan berarti mereka tidak punya prestasi yang mengharumkan. Buktinya, anak-anak SMA Langit, terutamanya siswanya, berhasil menjadi saingan terberat SMA Angkasa dalam beberapa cabang perlombaan akademik maupun non akademik.


Jika SMA Angkasa unggul di bidang olahraga bola besar, maka SMA Langit unggul di cabang olahraga bola kecil dan percabangan dari atletik.


"Ngapain lo pada masuk kawasan kita?" Libra unjuk bicara sambil maju ke depan. "Udah bosen hidup?"


Sedangkan Nara dan Cacha hanya bisa mematung. Posisi mereka berada tidak jauh dari dua kubu itu.


"Nar, gue takut."


"Tenang dulu Cha, mereka nggak mungkin berbuat keributan di sini," ujar Nara, menenangkan sang sahabat.


"Tapi, mereka serem-serem!"


"Iya sih," lirih Nara. Bohong jika suasana di antara mereka sekarang dika menyeramkan.


"Lo pada memang udah bosen hidup? sampe-sampe datang ke kandang lawan?" ucap Iki yang ikut maju ke depan.


Sedangkan dari kubu SMA Langit, belum ada niatan untuk maju. Mereka hanya berdiri dengan santai sambil mengibarkan bendera berlogo burung api dengan tulisan PASPI yang cukup besar.


"Kenapa lo pada? takut?" cibir Iki.


"Cih, cemen juga ternyata."


"Segini kekuatan PIONIX yang sok belagu itu? sampai-sampai berani datang ke kandang lawan."


Sebagai tuan rumah, mereka merasa tertantang saat saingannya datang bertandang tanpa diundang.


"Mereka itu solid sama gue, makanya nyamperin kesini," ujar sebuah suara. Memotong keributan di antara mereka.


Membuat banyak mata beralih, termasuk Nara.


"Kenapa? Kaget lo pada? Itu kan namanya solidaritas tanpa batas antar sesama anggota," imbuhnya sambil berjalan santai melewati kerumunan anak SMA Angkasa.


Anak PASKA, Pasukan Angkasa tentu tersulut emosi. Ucapan laki-laki itu ibarat Boomerang bagi mereka. Leader geng lawan baru saja menghina salah satu pasal dari panji-panji mereka. Lebih tepatnya pasal butir ke empat, yang berbunyi tentang solidaritas tanpa batas.


"Nara." Leader geng PIONIX berganti target. "Tuh kan, kita ketemu lagi. Jodoh kali, ya?" Kekehnya kecil sambil mendekati pemilik nama tersebut.


Interaksi mereka tentunya tidak luput dari yang lain. Mereka semua penasaran dengan hubungan yang terjalin antara keduanya. Sedangkan mereka tahu betul belakangan ini Nara tengah dekat dengan Arga.


"Yuk pulang sama Koko, nanti sambil ngobrol-ngobrol."


Alexander meraih tangan Nara, namun si empunya masih tak bergeming.

__ADS_1


"Enggak!" penolakan datang dari suara melengking milik Cacha. "Nara pulang sama gue."


"Hari ini Nara pulang sama gue. Besok lo bisa pulang sama dia," ujar Alexander.


"Nggak. Nara pokoknya pulang sama gue, titik. Nggak pake koma!" Cacha tetap bersikukuh. "Nar, ayo pulang. Ngapain lo ikut pulang sama cowok asing itu, bahaya. Mendingan sama gue, aman sampai depan rumah."


Belum sempat Cacha berhasil membawa Nara kabur, ada satu sosok lain yang tiba-tiba ikut menghalangi jalannya.


"Dia pulang sama gue."


Entah dari mana datangnya Arganta Natadisastra, namun sekarang laki-laki itu sudah berdiri di samping Nara dengan tangan menahan satu pergelangan tangan Nara


"Jangan bilang lo lupa?"


Cacha gelagapan sendiri melihat Arganta. Entah menguap kemana keberaniannya. "Eh, maaf ya, Kak." Cacha lantas kembali memberanikan diri. "Nara nya mau pulang bareng aku, Kak."


"Siapa yang ngizinin?"


Kening gadis pecinta K-Pop itu berkerut. Sejak kapan pulang bersama Nara butuh izin Arganta Natadisastra?


"Tapi kak...."


"Lo berani bantah gue?"


Cacha langsung diam membatu. Siapa juga yang berani membantah ucapan sang leader. baik siswa maupun siswi SMA Angkasa memilih mengalah jika harus berdebat dengan Arga


"Tapi, Kak ....Nara nya. .."


"Udah, lo mending pulang sama gue!" tiba-tiba Iki mengajak sambil meraih pergelangan tangan Cacha. Iki juga dengan cepat membawa Cacha menjauh dari sang sahabat.


"Nara mau balik sama gue," instruksi suara milik Alexander.


Padahal baru saja Nara hendak bicara.


Sebelah tangan Nara kini ditarik oleh Alexander. Membuat gadis cantik itu tertahan di antara dua tangan yang menggenggam pergelangannya .


"Lepas. Dia balik sama gue."


"No, dia balik sama gue," tolak Alexander, mentah-mentah. "Gue lebih berhak pulang sama dia." .


"Gue bilang lepasin dia bangs*t!" geram Arga emosi.


Exelle tersenyum sinis sambil menatap Arga tajam. "Lepasin aja Nara buat gue. Lo masih punya anggota yang lagi perang batin sama kepercayaan."


Arga paham maksud dari ucapan Alexander. Tanpa sadar, ia malah semakin mengeratkan pegangannya.


"Ta, udah. Dia gak penting, biarin si bangs*t itu bawa dia pergi." Libra datang memberi solusi.


"Iya, Ta. Biarin aja," imbuh yang lainya.


Orion juga ikut ambil bagian. "Ta, kontrol emosi. Bokap lo ada di sini."


Mendengar itu, Arga langsung menghempaskan genggamannya secara kasar. Satu tangganya terkepal saat melihat seringai kemenangan di bibir Alexander.


"Yuk Nara, kita pulang."


Untuk sejenak Nara bisa melihat ekspresi tidak bersahabat dari Arga. Namun, ia juga kecewa dengan sikap pemuda tampan tersebut. Bagaimanapun juga Nara merasa dirinya dianggap seperti barang yang bisa dengan mudah dibuang ketika Arganta Natadisastra tidak membutuhkannya lagi.


Nara pada akhirnya mengangguk, lalu berbalik meninggalkan area tersebut bersama Alexander. Ternyata Arga masih belum sepenuhnya bisa dipercaya.


"Kayaknya kita butuh reuni," ujar Alexander sebelum benar-benar melangkah keluar. "Gue tunggu kabar baik kalian di Arena Fifty-one," lanjutnya sebelum benar-benar melenggang pergi bersama Nara.


"Sial*n!" geram Arga.

__ADS_1


"Lo gak papa, Ta?" tanya Libra.


Arga tak menggubris. Ia langsung memberi instruksi untuk membubarkan barusan. "Cabut!"


"Oke," tukas Libra. "CABUT?!" ulangnya keras, sehingga dapat didengar oleh anggota PASKA yang ada di sana.


Semua keributan yang mempertemukan dua kubu tersebut tentu tak luput dari sepasang mata yang terbingkai frame kacamata. Sosok yang berdiri di balik jendela ruang kepsek, mengarah langsung ke tempat kejadian. Sehingga ia memiliki akses penuh untuk merekam semua momen tersebut dalam ingatan.


"Janu."


"Iya, Pak. Ada apa?"


"Siapa siswi yang baru saja anak saya perebutkan?"


Ia jadi penasaran akan sosok gadis SMA Angkasa yang terbilang sangat sederhana itu. Namun, gadis itu memiliki daya pikat yang luar biasa. Buktinya ada dua pangeran yang berani memperebutkan dirinya.


"Nara, Pak."


"Nara?"


"Aleanska Nara, Pak. Siswi kelas XI IPA 6. Anak full beasiswa berprestasi."


🫐🫐


"Kenapa diem terus? nggak suka?"


Nara menghela napas mendengar pertanyaan tersebut. Semenjak memasuki mobil merah milik Alexander, ia memang memilih diam. Tida ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Walaupun sejak tadi Alexander mengajak mengobrol.


"Kenapa Koko muncul lagi?" Tanya Nara to the point sambil menghadap si empunya nama.


"Akhirnya Nara mau bicara juga sama Koko." Senyum tipis di bibir pemuda itu mengembang.


"Kenapa Koko muncul lagi?" desak Nara.


"Apa dua tahun ini gak cukup buat Nara maafin Koko?"


Nara membuang muka. Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar, namun tak cukup lama pula untuk memendam sebuah rasa sakit.


"Koko minta maaf Nara, tapi Koko nggak bisa hidup tanpa Nara."


"Maksud Koko apa?" tanya Nara cepat. Alexander biasa disebut Koko oleh Nara, karena dulu laki-laki itu yang meminta Nara untuk memanggilnya demikian.


"Koko sayang sama Nara. Nara tahu, 'kan? Koko bakal lakuin apa saja, asalkan Nara maafin Koko."


"Apa saja?" ulang Nara, memastikan.


"Iya."


"Kalau begitu...." Nara kembali menatap Alexander. Kali ini lebih lama dan lekat. "....pergi. Aku mau Koko pergi lagi dari hidup aku."


🫐🫐


TBC


Semoga suka 😘


Jangan lupa kritik & sarannya 🙏🏻


Ada rekomendasi novel keren juga nih 👇



Tanggerang 18-11-22

__ADS_1


__ADS_2