Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
⁶⁵UFB


__ADS_3

Suara para sopir dan kenek bus komersial yang menyuarakan rute tujuan kendaraan mereka pergi menjadi suara yang santer terdengar di tempat yang dipenuhi kendaraan roda empat tersebut. Seorang gadis tampak menatap ke arah sembarangan dengan tatapan kosong. Tangan mungilnya menggenggam erat tali tas punggung yang ia kenakan.


"Nar, kamu beneran mau pergi?" pertanyaan itu kembali terdengar di telinga.


Sosok yang duduk di sampingnya lah yang menjadi sumber dari pertanyaan tersebut.


"Iya, Sen. Keputusan aku sudah bulat."


"Coba kamu pikirkan sekali lagi, Nar," bujuk lelaki yang mengenakan hoodie abu-abu tersebut. Ia memang sengaja datang untuk mengantar. Lelaki itu diberi tahu oleh Nara sendiri, kemudian menawarkan diri untuk mengantarkan Nara itu bersama ayahnya. Padahal dari awal Arsen sudah mewanti-wanti untuk memikirkan ulang keputusan tersebut.


"Nara, coba pikirkan soal Cacha, Arga, dan orang-orang yang peduli sama kamu. Jangan pergi. Seharusnya kamu tunjukan kepada mereka keberanian kamu," jika bukan demi aku, setidaknya dia, bertahanlah. lanjut Arsen di dalam hati kecilnya.


"Kamu nggak mengerti, Sen," lirih Nara gusar.


Pergi adalah jalan terbaik untuk semua orang. Jika ia pergi, Arga tidak akan patah hati untuk kesekian kali. Alexander juga tidak terancam lagi. Alexa juga tidak akan membenci lebih dalam lagi.


"Apa kamu tahu, Nar, jika Thomas Alfa Edison menyerah saat percobaan yang ke 9.998-nya yang gagal, kemungkinan dunia saat ini akan terasa gelap."


"…."


"Jika Walt Disney menyerah dan membuang semua konsep taman bermainnya, setelah ditolak 302 kali, mungkin sekarang kita tidak bisa melihat kartun-kartun hebat garapan Walt Disney ."


"…."


"Jika kamu menyerah, siapa yang akan bertanggung jawab soal kemurkaan Arganta Natadisastra? Siapa yang akan bertanggung jawab soal perasaanya yang digantungkan begitu saja?"


Nara mendongrak, menatap lawan bicaranya lemah. Ia ....tidak bisa memprediksi.


"Jangan pergi hanya dengan anggapan bisa menyelesaikan sebuah masalah. Pergi bukan solusi. Bukan juga pemecah, melainkan membuat masalah jadi terbengkalai dan tidak terurai." Arsen berkata dengan begitu mantap. "Masalah ada untuk diselesaikan. Hadapi, lawan semua keraguan itu dengan berani."


Arse kemudian beranjak setelah berkata demikian. "Maaf, aku kayaknya terbawa emosi, jadi terlalu banyak bicara." Lelaki itu tersenyum kecil di akhir kalimat. "Tahu enggak, Nar. Sebelum meninggal, Bang Seno titipin kamu sama Arfa."


Deg!


"M—aksud kamu?"


"Bang Seno anggap kamu berharga seperti organisasi SPHINIX yang dia buat bersama kawan-kawannya. Kamu begitu berarti buat Bang Seno. Kemudian Arganta Natadisastra adalah orang terpilih untuk menjaga kamu yang dia anggap berharga, bukan aku yang adik kandungnya sendiri."


Arsen tersenyum kecil sambil menyimpan kedua tangannya di dalam saku celana. "Semua itu Abang lakukan karena dia percaya kalau Arga mampu menjaga serta membuat kamu bahagia."


Nara terhenyak mendengarnya. Benarkan apa yang baru saja Arsen katakan barusan? Seno menitipkan dirinya pada Arga? menolak lupa, ia juga pernah mendengar perkataan yang sama dari Arga.


"Aku pergi dulu. Bus kamu sebentar lagi berangkat." Arsen tersenyum kecil sambil mengalihkan pandangan. Ia tidak bisa terus bertahan untuk mengantarkan kepergian Nara.  "Hati-hati dan sampai jumpa lagi lain waktu, Nat."


Lelaki itu benar-benar pergi setelahnya. Ia yang rela bolos sekolah dem mengantarkan Nara, kini telah pergi dengan senyum yang lepas.


Nara sendiri tidak tau harus berkata apa. Hingga Arsen menghilang diantara kerumunan sekalipun, Nara masih tak berucap sedikitpun. Ia bungkam. Hanya pertanyaan demi pertanyaan yang memenuhi kepala. Salah satu pertanyaan terbesit di kepala adalah soal kebenaran dari keputusan yang ia ambil.


"Nara."


"Ah, iya. Kenapa, Yah?"


Pria paruh baya yang baru saja datang itu menatap sang putri dengan tatapan menelisik. "Ada apa, Nar?"


"T—idak ada apa-apa, Yah," dalih sang putri.


Ayahnya mengangguk, walaupun masih menyimpan keraguan. "Arsen sudah pergi?"


Nara mengangguk kecil. Pertanyaan demi pertanyaan soal keputusannya semakin berkeliaran di kepala.


Haruskah ia pergi?


Atau kah menetap?


Nara tidak tahu kenapa hatinya menjadi ragu seperti ini setalah mendengar perkataan Arsen.


"Nara, ada yang sedang kamu pikirkan?"


"Tidak ada, Ayah," jawabnya sambil tersenyum tipis.


"Jangan berbohong, Nak. Ayah tahu kalau kamu sedang gelisah."


Nara menoleh, lantas menatap sang Ayah. "Aku cuma bingung. Aku tidak tahu harus bagaimana, Ayah. Aku tidak tidak yakin kalau ini keputusan yang benar."


Andra tersenyum tipis. Ia menatap sang putri sayang. Satu-satunya harta berharga yang ia milik, ternyata saat ini tengah dilanda kebingungan.


"Ambil keputusan yang menurut kamu paling benar, Nak. Apapun keputusannya, Ayah akan selalu ada di belakang kamu untuk mendukung kamu."


Gadis cantik bersurai pendek itu terisak hebat setelahnya. Entah mengapa lelehan kristal bening itu berjatuhan dengan deras. Andra yang melihat itu mengulas senyum kecil, lalu merengkuh tubuh mungil putrinya. Hatinya teriris setiap kali melihat putrinya menangis. Ia merasa telah menjadi orang tua yang paling tidak berguna bagi putrinya.


Andra cacat, miskin, serta tidak berguna lagi bagi siap-siap, termasuk putrinya.

__ADS_1


Kali ini Anda akan berusaha sekuat tenaga guna mewujudkan kebahagiaan sang putri. Walaupun itu artinya ia harus mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk melawan mantan istri juga mantan sahabat dekatnya sendiri.


"Gimana, Sen, udah bisa dihubungi?"


Nara menggeleng lesu. "Mungkin Arsen sedang dalam perjalanan."


Ayahnya mengangguk kemudian. "Sudah, jangan bersedih lagi. Ini waktunya kita berusaha."


Nara, gadis bersurai sebahu itu mengangguk mantap. Seulas senyum tipis terbit di bibirnya. "Iya, Ayah."


Maniknya tak lagi menyiratkan keputusasaan juga kebingungan. Kini ia bisa menatap ke arah luar jendela dengan perasaan lega. Benda beroda empat itu akan akan kembali membawanya pulang, bukan lagi pergi. Ya, kini ia telah mengambil keputusan yang dianggapnya paling benar. Didukung pula oleh restu sang ayah.


"Ada apa, Pak?" Andra bersuara saat supir taxi dari taxi yang mereka naikin berulang kali melirik ke arah kaca spion.


"Sepertinya mobil hitam itu mengikuti kita, Pak."


Anda menoleh. Menatap ke jalan di belakang sana. Ternyata benar, ada sebuah kendaraan yang terlihat mengikuti mereka.


"Ada apa, Yah?" tanya Alea. Ia bisa melihat kekhawatiran di wajah sang Ayah, walaupun belum tahu apa sebenarnya yang tengah terjadi. 


"Pegangan yang erat, Nak. Mobil hitam di belakang sepertinya mengikuti kita."


"Apa?" kaget Alea sambil menoleh ke belakang. "Tapi, mereka siapa, Ayah?"


Andra menatap sang putri lemah. "Ada dua kemungkinan, Bak."


"Siapa?" tanya sang putri


"Orang-orang suruhan ibu kamu, atau orang-orang  suruhan Ayah Arga."


Alea terpaku mendengarnya. Apakah peristiwa sebelas tahun silam akan kembali terjadi?


Jika iya, apakah kali ini mereka juga akan selamat dari maut seperti waktu itu?


"Pak, mereka mengejar kita. Bagaimana ini?"


"Jalan saja terus, Pak. Nanti turunkan kami....." belum usai Andra berbicara, suara benturan keras telah membuat mereka terkejut. Sesuatu baru saja menabrak body belakang mobil yang mereka tumpangi.


"A--yah?" cicit Nara, ketakutan.


"Tenang, Nak. Ayah akan melindungi kamu. Ayah janji," ujar Andra. Padahal ia belum belum tahu bagaimana cara untuk meloloskan diri dari mobil orang suruhan yang dibayar untuk menyakiti mereka.


Si supir gagal menguasai kemudi. Detik berikutnya mobil oleng dan menabrak pembatas jalan sebelum terbalik masuk ke sebuah lembah kecil di pinggir jalan. Jatuh terperosok ke dalam lembah tersebut dengan kondisi mengenaskan karena terguling-guling dan menghantam bebatuan.


🫐🫐


"Ayo makan lagi, kenapa berhenti?" tanya gadis cantik berseragam SMA Angkasa.


"Kenyang."


"Tapi lo baru makan sedikit."


"Gue kenyang, lo nggak tuli, 'kan?!" ujar lelaki yang duduk di atas hospital bad tersebut, marah.


"Oke. Kalau gitu gue kupas buah, lo mau makan buah, 'kan?"


Manik elang milik lelaki yang tampak tidak berselera meladeni itu menoleh sekilas. "Terserah."


Gadis cantik itu tersenyum kecil. Ia menyimpan mangkuk bekas bubur yang ada di tangan, lantas mengambil buah-buahan segar yang akan dikupas.


"Kenapa lo ada di sini?"


Gadis itu menoleh, menatap lawan bicaranya. "jagain lo, apa lagi?"


"Lo nggak habis kebentur batu, 'kan?"


Gadis itu menggeleng cepat. "Kenapa memangnya?" tanyanya kemudian


"Lo aneh."


"Apa kedengarannya aneh kalau gue mau jenguk kembaran gue sendiri?" tanya balik gadis bernama Alexandria Natadisastra itu.


Sebelah alis lelaki beranting-anting itu mengernyit. "Kerasukan setan mana lo? Aneh banget."


Alexa tersenyum jenaka. "Gue udah insaf kali. Nggak percaya?"


"Medusa kek lo, insaf? mana gue percaya."


"Gini-gini juga gue kembaran lo, o'on."


Alexander, lelaki rupawan beranting-anting masih menatap sang lawan dengan mata memicing. Bagaimana ia tidak curiga dengan Alexa. Gadis yang identik dengan sikap pemarah itu tiba-tiba saja menjadi peduli kepadanya.

__ADS_1


"Nih, makan." Gadis itu menyodorkan sepiring buah apel dan pier hijau yang telah dikupas serta dipotong dadu ke arah Alexander. "Lo kenapa sih lihatin gue gitu? Gue tahu lo masih nggak percaya sama gue, tapi nggak gitu juga respon. Lo nyakitin perasan gue."


Alexander tak menggubris. Ia mengambil piring berisi buah-buahan potong itu dengan cepat tanpa mendebat.


"Habis lo keluar dari sini, kita tinggal bareng, yuk."


"Uhuk… uhuk…"


"Lo kenapa? Keselek, ya?" risau Alexander. "Nih, minum dulu." Ia menyodorkan segelas air putih dengan segera.


"Lo bilang apa barusan?"


Alexa menunduk sebelum menjawab pertanyaan tersebut. Ciut di depan kembarannya. "Gue mau keluar dari rumah itu. Gue mau ikut lo. Gue janji nggak akan ngerepotin, ataupun bikin lo pusing. Gue juga mau kok kalo lo nyuruh gue jadi babu."


Alexander menautkan kening, kian kebingungan. "Lo ini kenapa?"


"Gue nggak mau tinggal di rumah itu lagi. Gue mau ikut lo!"


Alexander tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Perubahan sifat Alexa itu yang cukup ekstrim membuatnya bingung.


Ada apa dengan kembarannya itu? Tapi, dari semua sikap gadis itu, Alexa yakin ada yang telah terjadi saat dia tidak sadarkan diri.


"Boss…" panggil suara riuh dari ambang pintu diiringi oleh masuknya segerombol lelaki berjaket bomber dengan logo burung Peonix Api. "Lo akhirnya sadar juga, boss."


"Lebay," cibir suara khas milik sang tangan kanan Alexander Natadisastra, Grayson Anderson.


"Tauk lo, lebay banget," imbuh salah seorang anggota.


"Ngapain lo pada datang ke sini?" tanya Alexander kemudian, menyambut kedatangan para anggota.


"Jenguk lo lah," jawab mereka serempak.


"Eh, ada siapa nih?" ujar Lingga, salah seorang anggota sambil menaik turunkan alisnya melihat Alexa yang duduk di samping hospital bed Alexander.


"Gue pergi deh. Nanti gue balik lagi."


Alexa memilih beranjak. Ia tidak mau berada di antara para teman-teman Alexander, karena merasa jika ia bukan bagian dari mereka. Terutama dari lelaki pemilik iris coklat menyala yang pernah memergokinya menangis waktu itu.


"Diem," ujar Alexander, membuat Alexa urung beranjak.


"Udah mendingan?" tanya Gray. Lelaki itu baru saja mendekat.


"Menurut lo?"


"Hm. Lo nggak sekarat lagi."


Ucapan Gray itu tentu menyulut gelak tawa para anggota PEONIX. Mereka datang untuk menjenguk sang leader yang katanya sudah siuman. Mereka bisa bernafas lega kala melihat lelaki yang dijuluki Burung Api itu sudah siuman dan membaik.


"Blake mana?" tanya Alexander, mencari keberadaan sang kepercayaan.


"Dia ada urusan bentar." .


"Iya. Si hitam buru-buru pergi ke UGD pas lihat dua orang korban tabrakan maut," Imbuh lelaki bernama Lingga.


"Tabrakan?" ulang Alexander.


"Ya. Korban tabrakan maut itu ada tiga orang kalo nggak salah. Yang satu meninggal di lokasi kejadian," tutur Lingga.


Alexa yang masih diam mematung di posisi duduk, ikut menyimak obrolan kembarannya dan para anggota geng PIONIX.


"Bukan itu alasannya. Mungkin Blake—“ ucapan Gray terjeda saat pintu dibuka dengan kasar dari luar.


"Lex!" panggil dalang dari tindakan kasar tersebut. Nafasnya yang terengah-engah, sampai terdengar. Ia layaknya baru saja lari berkilo-kilo meter jauhnya.


"Ada apa Blake?" tanya Gray mewakili.


"I--tu…" Blake mendongrak. Menatap si Burung Api lekat-lekat.


"Ada apa?" kini giliran Alexander yang menyahut. Informasi Blake sepertinya ditujukan untuknya.


"Adik lo kecelakaan."


...**...


...TBC...


...Semoga suka 🖤...


...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...


...Tanggerang 21-12-22...

__ADS_1


__ADS_2