Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
⁶⁰UFB


__ADS_3

BUGH


BUGH


BUGH


"Udah Ta!" lerai beberapa orang untuk kesekian kalinya.


Mereka menatap ngeri ke arah dua lelaki yang sedang terlibat duel maut. Mereka berdua Keduanya tampak saling serang dengan begitu bringas. Sebagian besar tubuh mereka juga sebagian besar sudah terkena pukulan satu dama lain. Namun, semangat untuk beradu masih menggelora.


"Apa masalah lo, anj*ng!" tukas lelaki dengan slayer hitam, napasnya terengah-engah. Ia baru saja tersungkur ke atas lantai.


"Lo melanggar kode etik yang telah disepakati bangs*t!" jawab lawan duelnya.


"Udah, Ta." Salah satu anak SPHINIX mendekat. Itu adalah Orion. Jika bukan Orion yang maju, maka mustahil ada yang berani untuk melerai.


"Ck." Pemilik nama itu berdecak sebal sembari melepaskan lawannya.


"Lo bisa lepas kendali begini, karena alasan gue melanggar kesepakatan?"


Arga yang tadinya sudah berniat pergi, kembali berhenti. Ia berbalik, melemparkan tatapan pada asal suara.


"Ck. Si Hihid nggak ada takut-takutnya," gumam Iki. Lelaki itu duduk di kap mobil bersama dengan Libra. Menyaksikan Arga dan Hydra Jaya Kusuma berduel hebat.


"Kebiasaan dua, suka mancing keributan." Komentar Libra.


Mereka berdua masih sibuk menonton pertunjukan yang disajikan Arah dan Hydra.


"Cewek lo ada di sana. Dia nolongin musuh bebuyutan lo. Kaget 'kan lo?"


Leader of SPHINIX tak menggubris. Ia memilih mengabaikan ucapan tersebut. Toh, itu memang benar adanya.


Ketika mendapat kabar pecahnya perang antara PASCA dan PASPI, ia memang langsung menuju lokasi. Saat tiba di lokasi, hanya tersisa anak PASCA. Sedangkan anak PASPI banyak yang tumbang dan telah dilarikan ke rumah sakit terdekat. Saat tiba di lokasi, tidak ada satu pun anggota PASPI, tidak terkecuali kekasihnya.


"Dia selingkuh, kayak cewek lo yang dulu."


Arga menghentikan langkah. Lelaki rupawan itu terdiam untuk sejenak sejenak.


"Anjir, si Hihid nyari mati," celetuk Iki.


"He'em. Mancing keributan dia. Nggak tahu aja kalo Arga lagi badmood."


"Si anying Hihid memang perlu dilakban bibirnya. Mana sotoy lagi, kapan pula Nata kita diselingkuhi? orang mereka putus baik-baik."


"Setuju. But, see, Kayaknya bentar lagi bakal ada yang duel lagi." Kekeh Libra.


"Hyd, udah. Loh udah terlalu banyak bicara." Salah seorang anak PASCA bersuara setelah mendengar obrolan Iki dan Libra.


"Iya. Lo gak mau mati di sini 'kan?"


Dua anak PASCA mendekat. Keduanya menghampiri Hydra. Mewanti-wanti agar lelaki itu tidak banyak bicara lagi. Sekarang mereka tengah berada di markas SPHINIX. Bisa gawat urusannya jika Hydra terus memancing keributan.

__ADS_1


"Nggak usah ungkit-ungkit masa lalu." Leader of SPHINIX bersuara. Ia berputar arah, kembali melangkah mendekati Hydra. Berjalan perlahan namun pasti, membawa aura membunuhnya sendiri. Ia berhenti ketika sudah berada tepat di hadapan lelaki bertahan lalat di bawah mata.


"Gue muak sama sesuatu yang diungkit-ungkit."


Hydra tersenyum tipis seraya menatap sang leader. "Fine, gue diem. I'am tired."


Semua mata menatap Hydra bingung, shock juga tak percaya. Semudah itu?


"Gue kebawa emosi tadi. Anak PASCA ada yang pernah dikeroyok anak PASPI. Sebagai leader gua refleks aja pengen balas dendam."


"Tapi nggak gitu caranya!" sorak Libra.


"Iye. Lo kelewatan. Ingat sama S&K yang berlaku dong," imbuh Iki.


"Iya. Gue salah." Hydra menatap sang Jendral sambil terkekeh kecil. "Sekarang gue udah lega. Si Burung Api sendiri tumbang di tangan gue."


Lelaki itu menyeringai tipis. Tujuannya memanglah si Burung Api. Melihat lelaki itu tumbang di tangannya sendiri sudah lebih dari cukup membalaskan dendamnya.


Dulu salah seorang anggota PASCA yang juga teman dekatnya meregang nyawa pasca mengalami gegar otak berat. Ia meninggal karena kepalanya terkena pukulan benda tumpul. Usut punya usut, Alexander Natadisastra lah terduga pelaku pemukulan tersebut.


Dendam itu memupuk hati Hydra selama bertahun-tahun. Hingga tiba pada waktunya, ia membalaskan semua dendam tersebut pada satu kesempatan.


"Lo juga mau dia mati 'kan?" tanya Hydra kepada Arga.


Semua orang yang mendengar itu terhenyak. Baik anak PASKA maupun PASCA ataupun seorang gadis yang berdiri di belakang leader of SPHINIX.


Apa benar leader of SPHINIX selamat menginginkan hal itu?


Ia rela datang jauh-jauh setelah menerobos hujan badai guna mencari leader of SPHINIX. Dan ini yang ia temukan.


"Gue...." Arga menggantungkan kalimatnya. "....nggak sebodoh itu," lanjutnya. "Balas dendam nggak selamanya harus dibayar sama nyawa. Mati bukan berarti masalah selesai, ataupun dendam usai."


"...."


"Lo salah paham, Hydra."


Hydra tertawa tipis mendengarnya. "Gue sih percaya, Ga. Tapi dia ....mana gue tahu percaya atau enggak."


Hydra menunjuk ke belakang Arga dengan dagunya.


Arga kemudian mengikuti kode tersebut tanpa kata. Ternyata benar, ada yang sejak tadi berdiri di belakang sana. Itu adalah sosok


yang membuat harinya kacau-balau. Sosok itu terlihat membeku dengan tubuh basah kuyup.


"Lo ngapain disini?" tanya Arga. Walaupun masih menampilkan raut wajah datar, ia tak dapat menutupi semua kerisauannya.


"Kakak...." suara gadis itu tercekat di tenggorokan. "Bisa kita bicara sebentar?"


"Hm. Bicara. Nggak ada yang bisa melarang lo bicara di sini."


"Aku mau bicara empat mata, Kak?" ujar gadis itu, memperjelas.

__ADS_1


"Hm. Memang lo mau bicara apa?"


"Sesuatu yang sangat penting, Kak." Gadis itu, Nara berujar sambil menunduk. Sadar jika semua perhatian di ruangan kini tertuju padanya. Ia baru mengangkat pandangan saat merasakan sesuatu baru daja menyelimuti bahu dan punggungnya.


Ketika menoleh, Nara menemukan jaket kebanggaan milik leader of SPHINIX melindungi bahunya.


"Ayo."


Nara belum sempat merespon, saat lelaki itu meraih telapak tangan untuk digenggam, sebelum membawanya pergi.


Arga membawa Nara pergi dari ruangan berisi anak-anak SPHINIX dan PIONIX, sesuai permintaan Nara untuk bicara berdua.


"Sekarang bicara."


Arga membawa Nara ke area kebun yang ditumbuhi pohon pinus. Letaknya berada di belakang basecamp. Tempat itu tidak gelap sama sekali, karena ada penerangan dari lampu yang sengaja di pasang. Suasana di sana cukup sunyi. Hanya ada suara jangkrik dan suara hewan malam lain. Beberapa tumbuhan juga tampak lembab karena terkena air hujan.


"Aku mau minta tolong."


Nara berkata to the point.


Sebelum pergi ke tempat ini ia sudah memantapkan diri. Kini, ia tinggal merealisasikan niatnya untuk meminta tolong.


"Untuk?"


"Menyelamatkan hidup seseorang."


"Gue bukan penolong baik hati, kalau itu yang lo cari." Arga melipat kedua tangannya di depan dada. "Lo berani juga banget muncul lagi setelah permintaan putus sebelah pihak waktu itu," sindirnya.


"Kak, ini keadaanya genting. Kakak harus tolongin aku."


"Memangnya gue harus nolong lo dengan cara apa?" sahut Arga, gemas sendiri. Perasaannya sudah jauh terasa lebih lega ketimbang sebelum-sebelumnya. Alasannya tentu saja karena kehadiran Nara.


"Transfusi darah."


Arga mengernyitkan dahi. "Maksud lo? Lo sakit?"


Nara menggelengkan kepala dengan cepat. "Kak Alexander butuh donor darah. Golongan darah Kak Alex AB negatif, sama seperti Kak Arga."


"Lupain niat lo itu." Arga berbalik setelah berkata demikian. Ia langsung melangkah pergi tanpa banyak kata. "Gue nggak bisa biarin setetes pun darah gue diambil buat dia."


...**...


...TBC...


...Semoga suka 🖤...


...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...


^^^Ada rekomendasi novel keren juga nih 👇^^^


__ADS_1


...Tanggerang 18-12-22...


__ADS_2