
Gemercik air jatuh membasahi bumi, membawa suara khas juga wangi khas bernama petrichor. Fenomena yang muncul ketika air hujan bertemu dengan permukaan tanah yang kering.
Seorang gadis tampak buru-buru memasuki area SMA Angkasa sambil berlari membawa sebuah payung lusuh yang melindunginya dari riak air hujan. Tiba di area sekolah, ia menunduk. Menatap sepasang sepatu converse hitam putih miliknya yang kotor terkena cipratan air hujan bercampur tanah yang menggenang di jalanan.
"Yah, sepatunya jadi basah dan kotor," lirihnya sedih. Mengingat sepatu tersebut adalah sepatu satu-satunya yang ia milik dan telah menemani hari-harinya selama dua tahun lebih.
"Aku ke toilet dulu deh, bersihin lumpurnya sebelum kering." Ia akhirnya memilih opsi untuk membersihkan kotoran yang tertinggal di sepatunya.
Dengan berjalan tergesa-gesa dan menundukkan kepala, Nara mencoba untuk bersikap biasa saja saat melewati beberapa kakak kelas yang hilir mudik di koridor.
Kabar kandasnya hubungan asmara antara ia dengan leader of SPHINIX telah menyebar luas. Kabar tersebut juga sudah menjadi trending topik belakangan ini. Maka tak heran jika hampir semua orang membicarakannya. Bahkan akun lambe turah SMA Angkasa juga memuat informasi soal desas-desus kandasnya hubungan Nara dengan leader of SPHINIX.
Jangan tanyakan lagi respon para warganet. Mereka tentu langsung heboh, saling berkomentar, melontarkan berbagai opini yang mereka tebak menjadi pemicu kandasnya hubungan kontroversial tersebut.
Bruk!
"Aww," lirih Bara saat ia tanpa sengaja disenggol oleh seseorang secara kasar.
"Kalo jalan lihat-lihat, dong. Iyuw, baju gue basah plus kotor karena lo."
"M-aaf kak." Nara kian menunduk saat bersuara. Ia tidak perlu mendongrak untuk menatap siapa yang menjadi lawan bicaranya. Dari sepatu mahal yang mereka kenakan saja, Nara sudah tahu siapa mereka.
Mereka sudah pasti kakel alias kakak kelas yang menjadi primadona di kelas XII. Siapa lagi jika bukan Alexandria Natadisastra and the geng. Decha dan Putri.
"Cha, udahlah. Nggak berfaedah banget ngomong sama dia. Mending kita ke kelas, yuk." Ajak siswi dengan name tag Putri tersemat di dada. Di sampingnya, Decha masih berkacak pinggang, menatap Nara jijik.
"Kalo ada yang ngomong sama lo, tatap matanya. Lo pikir lo lagi bicara sama lantai?" Decha mencengkram rahang Nara kasar, membuat gadis itu meringis kecil dengan wajah mendongkrak secara paksa.
"Lo nggak tuli 'kan ....kayak Bapak lo?"
Nara menatap Decha kaget. Bagaimana bisa Decha tahu soal ayahnya yang tidak bisa mendengar?
Decha tersenyum miring melihat respon Nara. "Kenapa, kaget?"
"Cih, mimik muka nya udah memperjelas," celetuk Putri. "Iya nggak gak, Xa?"
Pemilik nama panggilan tersebut nama tersenyum kecil saat namanya dibawa-bawa. Kedua bola matanya menatap lurus objek bully-an mereka. "Hmm. Harusnya dia udah nggak punya muka sih buat sekolah di sini. Dia udah nutupin identitasnya. Mungkin malu mengakui ayahnya sendiri yang cacat."
"...."
"Iya. Tega bener lo jadi anak. Walaupun tuli, dia tetep bapak lo. Eh, lo malah dengan nggak tahu dirinya pakai jasa orang tua wali sebagai wali murid lo," tambah Putri menimpali. "Parah bener. Bukannya lo pinter, ya? kok ke bapak sendiri durhaka sih?"
Mulai terdengar bisik-bisik dari sekeliling mereka. Nara hanya bisa memejamkan mata, menahan semua rasa sedih yang menggerogoti rongga dada. Ia tidak punya niatan untuk membalas. Kenapa? karena itu sama saja menjerumuskan dirinya pada lubang masalah yang lebih pelik.
Entah dari mana mereka tua identitas asli orang tuanya. Yang jelas, sekarang opini negatif pasti disematkan semua orang pada dirinya.
"Durhaka banget lo jadi anak. Image aja bagus, siswi tauladan plus berotak brilian. Faktanya, mengakui Bapak sendiri dalam kondisi cacat aja nggak bisa!" cibir Decha,sambil melepaskan cengkeramannya secara kasar.
"SMA Angkasa bukan tempat buat siswi pembohong kayak lo," imbuh Putri.
Nara semakin tertunduk. Air matanya kini sudah berjatuhan dengan bebas tanpa batas. Ia tidak punya perisai untuk melawan mereka atau bahkan mendesak mereka agar berhenti mengusik urusan pribadinya. Namun, tiba-tiba sebuah sepatu mahal tampak berhenti tepat di hadapannya. Sepatu mahal itu tentu Nara ketahui penggunanya.
"Arga udah bukan milik lo lagi. Sekolah ini juga bukan tempat lo lagi. Pergi dari sini kalau lo masih pengen hidup tenang. Kecuali, kalau lo mau kehidupan lo terus sengsara," bisik pemilik sepatu mahal tersebut, tepat di samping telinga Nara.
"Guys, mending sekarang kita ke kelas. Arga tadi titip pesan, katanya mau bicara sama aku."
"C'mon, princess," sahut Putri dan Decha secara bersamaan. Ketiganya berlalu sambil mengobrol riang, meninggalkan Nara yang masih mematung di tempat.
Gadis dengan surai pendek sebahu itu tersenyum kecil, lantas menaikan pandangan. Ia bisa melihat pemandangan di sekeliling sekarang. Sambil menyeka air mata yang luruh di pipinya, ia kembali melanjutkan langkah. Tidak peduli jika orang-orang di sekeliling area tersebut masih santer membicarakannya. Mereka tentu saja penasaran akan banyak hal.
"Aku harus bisa bertahan," support-nya, pada dirinya sendiri.
Apa yang Nara tanggung, rasakan, dan lakukan, hanya ia sendiri yang tahu alasan di baliknya.
__ADS_1
Hanya Nara yang paling mengerti akan semua tindakan yang ia lakukan saat ini. Oleh karena itu, Nara akan terus bertahan, karena ini adalah jalan paling benar yang ia yakini. Walaupun banyak aral melintang, menghadang jalannya.
"Nar, lo nggak papa nganterin semua pesanan ini?"
"Iya, nggak papa. Aku busa bawa si Juki buat nganterin pesanan. Boleh dipakai, 'kan?"
Gadis bersurai coklat sebahu itu mengangguk. "Boleh, bawa aja. Tapi, lo nggak keberatan sama pekerjaan ini? apalagi lo baru sembuh. Nanti kecapean, terus drop lagi gimana?"
Nara menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis. "Insya Allah, enggak. Ini 'kan pekerjaan halal. Lagipula aku juga udah sehat."
"Iya sih. Tapi, demi Tuhan, Nar. Di luar tuh lagi panas-panasnya. Lo nggak takut gosong gitu?"
Nara tertawa kecil mendengar kerisauan sahabatnya. "Lagian kalau gosong juga nggak papa. Aku 'kan memang hitam."
"Hitam, hitam, lo itu putih, baby."
Nara tersenyum tipis. Setelah keluar dari cafe milik sang leader of SPHINIX, ia memang giat mencari pekerjaan. Walaupun serabutan, Nara tetap melakukannya demi membantu menopang perekonomian keluarga. Cacha yang melihat sang sahabat mencari kerja kesana kemari, pun berinisiatif menawarkan kerja paruh waktu di cafe milik keluarganya. Walaupun gajinya tidak besar, setidaknya Cacha bisa meringankan sedikit beban sang sahabat.
"Aku berangkat dulu." Nara pamit pada pemilik kendaraan yang akan ia gunakan. "Jangan khawatir, Cha. Kamu kayak nggak kenal aku aja."
"Gue kenal lo, pake banget. Tapi, ini lo mau muter-muter Ci Cadas pake si Juki. Gue rada nggak yakin deg."
"Aku bisa kok. Lagi pula ini nganterin pesanannya juga nggak jauh-jauh amat. Dekat BTM, dekat tamkor, taman Korea juga."
Cacha menghembuskan nafasnya lemah. Tangannya terulur untuk menyentuh stang motor scoopy kesayangannya yang akan menjadi partner Nara.
"My dear, Juki, lo bawa sahabat gue yang bener ya. Awas lo kalau sampe jatuh dan buat dia lecet. Gue museum-in lo di gudang."
Nara tertawa kecil mendengar gurauan sang sahabat. Padahal ia hanya akan mengantarkan pesanan, bukan mengantarkan dirinya sendiri ke Medan perang. Cacha terlalu berlebihan. "Udah, udah, aku mau berangkat dulu. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan, jangan ngebut. Tabok aja pantatnya kalo si Juki mogok."
Nara mengangguk sambil melajukan motor scoopy berwarna purple yang dihiasi berbagai stiker dan pernak-pernik bertema Bangtan Boys atau BTS. Kendaraan roda dua tersebut tentu amat mencolok saat melaju di jalanan.
Walaupun sudah lama tidak mengemudikan alat transfortasi roda dua, itu bukan berarti menjadi penghalang bagi Nara untuk merealisasikan keinginannya. Ia malah begitu semangat ketika harus bertugas sebagai pengantar makanan. Hitung-hitung healing, keliling ci Cadas.
"Oke, tinggal satu pesanan lagi. Alamatnya berlokasi di gang Samsi satu. Masuk gang Samsi satu, terus lurus. Nanti belok kanan, deket penjual seblak sama kwetiau goreng," gumamnya, membaca alamat si pembeli.
Sambil mengendarai motor scoopy berwarna purple tersebut, Nara menatap jalanan dan gang-gang sempit di sekelilingnya was-was. Ia taku salah atau melewatkan alamat si pembeli. Jalanan yang ia lewati juga cukup sepi, dan hening. Gang-gang sempit yang hanya bisa dilewati oleh satu motor itu tampak lenggang.
Belakang ia kerap mendengar kabar bahwa gang ini cukup rawan copet, jambret, dan sebagainya. Apalagi saat ini Nara sendirian, jadi ia patut waspada.
BRAK!
"S-uara apa itu?"
Nara tentu kaget bukan kepalang saat mendengar suara-suara yang cukup jelas terekam oleh indra pendengaran. Ia sampai mengerem laju kendaraannya mendadak.
Wajah cantik gadis itu menatap sekelilingnya was-was. Hari belum sepenuhnya gelap, namun area yang dilewatinya saat ini begitu sepi. Sayup-sayup Nara bisa mendengar suara perkelahian.
"Suaranya berasal dari arah sana." Nara memberanikan diri untuk melajukan kendaraannya.
Ia sebisa mungkin berdoa di dalam hati. Takut-takut ada pelaku kejahatan yang tengah berkeliaran di sana.
Ketika tiba di sebuah area yang cukup luas, maniknya terbelalak melihat apa yang tersaji di depan sana. Ternyata ada dua kubu yang tengah beradu. Baku hantam dengan membabi buta.
Mereka saling serang menggunakan berbagai senjata, mulai dari senjata tajam yang familiar di mata, sampai senjata yang Nara tidak ketahui ketahui namanya. Suara Nara sampai tercekat di tenggorokan untuk beberapa saat. Ia ingin berteriak minta tolong, namun tidak bisa.
Ketika hendak berbalik badan, hendak meninggalkan tempat tersebut, salah satu dari sekian banyak orang yang terlibat dalam pertarungan tersebut, membuat gerakan Nara kontan terhenti. Maniknya menatap lekat sosok seorang lelaki beranting-anting yang wajahnya dipenuhi luka dan memar.
Ia terkapar tak berdaya di atas tanah dengan keadaan mengenaskan. Seorang lelaki dengan slayer di kepalanya, tampak menginjak perut sosok tersebut sambil terkekeh sinis. Saat lelaki dengan slayer itu hendak melayangkan satu pukulan, Alea refleks berlari. Ia tidak lagi jadi penonton yang tugasnya hanya diam dan menyaksikan.
Nara tidak akan membiarkan lelaki dengan slayer itu menyakiti lelaki yang cukup berarti baginya.
__ADS_1
"Berhenti! Jangan sakiti dia, kumohon." Nara buru-buru meraih tubuh lelaki yang terkulai tak berdaya tersebut.
Air matanya luruh tanpa permisi. Hatinya sesak melihat sorot lelah dari mata lelaki berkulit pucat itu.
"Siapa lo? Berani-beraninya ganggu kesenangan gue?!" Lelaki dengan slayer menatap Nara tidak suka.
"T-olong, berhenti dan segera hubungi ambulance."
Lelaki itu terkekeh sinis mendengarnya. "Berhenti? Lo pikir gue bakal berhenti semudah itu? Lagian lo siapa sih? Ganggu aja!"
Nara tidak menggubris. Ia menatap lelaki yang tubuhnya diliputi jaket hitam dengan logo burung api, kini berbaring dalam pelukannya. "Kak, bertahan ya. Kakak harus kuat."
Banyak lelaki berpakaian sama dengannya mulai tumbang. Sedangkan kubu yang menang mulai beralih menatap ke arahnya.
"Ck. Minggir. Gue mau habisin dia." Lelaki dengan slayer tadi kembali bersuara. Ia menatap Nara jengah. Jika bukan perempuan, mungkin ia tak segan untuk bersikap kasar.
"T-olong berhenti. Dia terluka parah."
"Mana gue peduli. Mati aja gue nggak akan peduli."
Nara tercekat mendengarnya. Mati katanya? tidak akan Nara biarkan Koko nya itu mati selagi ia masih ada di sini.
"Minggir. Atau lo bakal tau rasa!" sentak lelaki dengan slayer itu seraya menendang kaki Nara.
Nara kontrak meringis kecil. Bohong jika tendangan lelaki itu tidak menimbulkan rasa sakit. Namun, Nara tetap berah dalam posisinya, memeluk tubuh lemah si Burung Api. Alexander Natadisastra, ketua geng PIONIX.
"Jadi lo mau main-main sama gue?" Lelaki dengan slayer itu mencetak seringai yang mengerikan. Tangannya yang sedang memegang tongkat bisbol tiba-tiba terayun, mengarah kepada Nara.
"Kalau gitu gue juga nggak bakal segan-segan...."
"Cukup, Hydra!" parang seseorang. Menghentikan pemilik nama Hydra Jaya Kusuma itu berbuat lebih jauh pada Nara.
"Apa?" Hydra merespon, setengah berteriak.
"Dia ceweknya leader SPHINIX geng."
Hydra melotot mendengarnya. "Bercanda lo?!"
"Dia cewek itu. Infinity," lanjut teman Hydra, yang tadi menghentikannya ucapannya. Memberi tahu.
"Bilang sekarang juga, kalau bac*tan Lo barusan cuma omong kosong?"
"Sayangnya enggak," sahut temannya. "Dia memang ceweknya Arganta Natadisastra. Gue pernah lihat mereka jalan berdua."
Hydra yang mendengar itu langsung menggaruk tengkuknya frustasi. Detik berikutnya, ia berjongkok guna menatap sosok yang digadang-gadang sebagai pemilik julukan 'Infinity' tersebut.
"Kak... bertahan hiks... Kakak harus bisa bertahan."
Nara sekarang berurai air mata. Hydra bisa melihatnya. Yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa Nara harus menangisi si burung api yang notabene musuh bebuyutannya kekasihnya?
Alexander juga terlibat dalam insiden maut yang merenggut nyawa Seno, ketua SPHINIX terdahulu. Mantan kekasih Nara.
"T-olong... kita harus bawa dia ke rumah sakit..." Nara beralih, menatap Hydra penuh permintaan. Air matanya bersimbahan kemana-mana. Bau anyir darah juga mulai menyengat, sebagian dari darah itu mengotori pakaiannya.
"Ck. Kok bisa cewek si Arga nolongin si burung api? gue nggak ngerti drama macam apa yang terjadi di antara mereka?" tukas Hydra, sebelum beranjak dari posisinya.
Ia berlalu tanpa suara. Meninggalkan Nara yang masih menangis tersedu-sedu di sana, seorang diri. Namun, sebelum lelaki itu berlalu membawa kendaraanya, ia sempat menepuk bahu tangan kanannya seraya berkata, "bawa ke rumah sakit terdekat. Gue cabut."
🫐🫐
TBC
Semoga suka 😘
__ADS_1
Tanggerang 15-12-22