
Pada akhirnya tangis kembali mengisi hari-harinya. Tangis kesedihan, keikhlasan, dan tangis haru berpadu menjadi satu.
Ketika membuka mata untuk pertama kali, yang ia cari adalah ayahnya, bukan mengkhawatirkan kondisi sendiri. Ia berkata bahwa ayahnya sempat muncul beberapa kali di dalam mimpi. Pria paruh baya itu tampak lebih sehat, bugar, terurus, dan bahagia. Oleh karena itu, hal pertama yang ia tanyakan adalah perihal ayahnya. Namun, sang kekasih malah menyampaikan berita yang begitu mengguncang nestapa.
Ayahnya telah pergi jauh. Meninggalkan ia seorang diri di dunia ini.
Pria paruh baya itu telah kembali pada Sang Ilahi Rabbi. Suatu tempat yang akan ia datangi juga suatu saat nanti.
"Lo nggak sendiri," bisikan itu kembali terdengar. Nyaring, berdenging di telinga.
Bisikin itu nyata dan ada pemiliknya. Nara tak lupa. Ia tidak berbaring seorang diri di atas hospital bed setelah menangis dengan hebat. Baru delapan jam pasca ia terbangun dari tidurnya selama 49 hari. Ia masih belum bisa banyak bergerak karena tubuhnya lemas.
"Tidur lagi. Kenapa bangun? masih malem."
Dengan gerakan pelan, Nara menolehkan kepala. Menghadang sang lawan bicara, namun tak lekas bersuara.
"Kenapa? ingat Ayah lagi?"
Anggukan iya berikan, karena memang itu alasannya. Ia terbangun karena lagi-lagi teringat ayahnya.
"Nanti kalau lo udah sembuh, kita pergi ke tempat peristirahatan terakhir Ayah."
Mengangguk. Nara masih merespon, namun tak mau mengeluarkan sepatah kata pun. Membuat lelaki yang ikut berbaring dengannya menghela napas gusar.
Kondisi Nara sudah jauh lebih baik pasca bangun dari koma. Dokter juga sudah memeriksanya. Tinggal butuh beberapa hari lagi untuk bed rest, karena Nara masih harus mengikuti serangkaian tes dan pemeriksaan. Alexander dan Alexa juga baru pulang setelah menjenguk Nara. Sepasang anak kembar itu tentu sangat senang saat mendapat kabar jika adik kecil mereka telah bangun dari koma. Selama 49 hari mereka menunggu, akhirnya Nara kembali pada mereka.
"Jangan terus dipikirin, nanti Ayah nggak tenang." Arga, lelaki rupawan itu dengan penuh perhatian membawa kekasihnya dalam rengkuhan.
Nara baru bisa tenang setelah ia peluk. Waktu pertama kali mendengar kabar soal kematian sang ayah, Nara menangis hebat dan Arga dengan sabar menenangkannya. Leader of SPHINIX itu berusaha semaksimal mungkin guna menjadi sandaran yang kokoh bagi kekasihnya.
"Jangan merasa sendirian, ada gue di sini. Kalau lo mau, kita bakal nikah supaya bisa tinggal serumah."
Arga tak main-main dengan perkataannya. Bukan masalah tinggal serumah saja, setidaknya jika ia sudah menjadikan Nara miliknya dengan cara yang benar, ia bisa melindungi gadis itu dengan status yang telah mengikat mereka.
"Mau?" tanya Arga lirih. Hilang sudah tabiat buruknya jika sudah berhadapan dengan sang kekasih.
Gelanggang kecil kemudian ia dapatkan. Seberkas senyum terbit di bibir saat tahu jika sang kekasih masih bisa merespon ketika ia memberikan ajakan agak gila.
"Jangan merasa sedih lagi. Ayah udah tenang di sana. Udah nggak nahan sakit lagi."
__ADS_1
"Hiks .... hiks...."
"Ikhlas, sayang. Ayah di sana nggak akan tenang kalau kamu nggak ikhlas."
"Hiks ....hiks...."
Arga dengan sabar mengelus punggung mungil sang kekasih yang masih bergetar. Kondisi kekasihnya cukup kuat sekalipun baru bangun dari koma. Yang dikhawatirkan saat ini adalah kondisi kejiwaannya yang bisa saja tergantung.
"Ayah di sana pasti ketemu Mamah gue," lirih Arga. Seketika ia terbayang wajah cantik ibunya. "Mereka pasti sedang melihat kita."
Nara kembali menumpahkan air mata. Bukan saja raganya yang masih lemah dan rawan terserang rasa sakit, jiwanya juga sama-sama lemah dan rawan terserang rasa sakit.
"Dengar, kita semua memang nggak baik-baik aja. Gue, lo, Alex ataupun Alexa. Kita nggak ada yang baik-baik aja."
"...."
"Kita semua korban dari toxic relationship, keegoisan, dan ketamakan orang dewasa."
Tidak ada yang sepenuhnya dapat disalahkan dari takdir rumit yang menjerat mereka. Namun, setidaknya Arga punya pikiran bahwa toxic relationship yang awalnya mengikat Utama dan Sussanne lah sumbernya. Karena pasangan itu, 2 orang manusia tak berdosa harus meregang nyawa. Di sisi lain, karena tindakan mereka yang egois, 4 anak manusia harus kehilangan masa-masa remaja yang seharusnya indah dan penuh warna.
"Setelah ini kita akan memulai hidup baru." Arga menarik napas dalam untuk beberapa waktu "Kita pasti akan segera menemukan fase baru dalam hidup. Sebelum fase itu datang dan menghampiri, gue mau meyakinkan lo supaya tetap berada di sisi gue."
"Gue sayang lo," ucapnya dengan segenap perasaan. "Gue janji bakal bahagiain lo. Jangan khawatir soal masa depan, gue akan berusaha memberikan yang terbaik buat lo."
🫐🫐
"Apa lagi?"
Pria berwajah campuran Asia dan Amerika itu tersenyum kecil saat melihat wajah dingin lawan bicaranya yang baru saja muncul dari balik pintu.
"Aku cuma mau mengantarkan ini." Paper bag coklat ia sodorkan ke depan.
"Apa?!"
"Sayuran organik."
Alexa, gadis dengan oversized T-shirt yang ia ambil acak dari lemari kembarannya itu menatap datar ke arah lelaki yang belakangan sering berkunjung dengan dalih memberikan ini dan itu. Ia sampai bosan melihatnya.
"Kembaran aku nggak miskin, sampai-sampai harus tiap hari kamu kirim bahan makanan."
__ADS_1
Lelaki yang berprofesi sebagai dokter itu tersenyum tipis. "Aku tau."
"And the?"
"Because this is a personal organic vegetable garden harvest. More guaranteed quality (karena ini hasil panen kebun sayur organik pribadi. Lebih terjamin kualitasnya)," tutur Andrew.
Ya, lawan bicara Alexa saat ini adalah ayah biologis dari janin dalam perutnya. Lelaki itu memang sudah mengantongi izin berkunjung dari Arga maupun Alexander. Butuh waktu untuk Alexa menerima Andrew, oleh karena itu ia masih belum bisa bersikap ramah. Apalagi saat ia tahu jika Andrew adalah sepupu Orion.
"Aku harus pergi mengajar setelah ini. Mungkin ada yang mau kamu pesan ketika aku pulang mengajar?" tawar Andrew saat Alexa sudah mengambil alih paper bag berisi sayur-mayur bawaannya.
"Kamu pulang jam berapa?"
"Waktu makan siang. Kenapa? ada yang kamu inginkan?"
Alexa mengangguk singkat. "Nanti aku chat kamu."
Mendengar ucapan calon ibu muda itu, Andrew tak kuasa menahan senyum. "Oke. I waiting your chat."
Alexa tak merespon lagi, selain mengucapkan terima kasih. Memilih berbalik badan, hendak meninggalkan Andrew, namun ucapan lelaki itu seketika menghentikan langkahnya.
"Orang tuaku lusa tiba di Jakarta. Mereka datang untuk mendampingi aku melamar kamu."
"...."
"Bayi kita butuh orang tua dengan status yang jelas sebelum lahir ke dunia. Aku harap kamu tidak keberatan soal lamaran yang aku tawarkan. Aku tidak pernah bermain-main soal pernikahan."
Ucapan Andrew dapat dipegang. Kenapa? karena ia tidak pernah mengingkari janji yang telah dibuat. Ia serius soal pernikahan. Lagipula beberapa bulan lagi bayi mereka akan lahir ke dunia. Sudah sepatutnya Andrew memberikan kejelasan mengenai status mereka. Walaupun awalnya Andrew juga sempat merasa bimbang karena ia tahu sepupunya sendiri menyukai Alexa.
Kendati demikian, setelah bicara langsung pada Orion, sepupu itu bilang tidak keberatan. Toh, ia baru sekedar suka, belum sampai cinta.
"Aku serius ingin menikahi kamu, Alexa," ucap Andrew. "Setelah kita menikah, aku tidak akan mengekang kamu. Kamu bebas memilih mau tinggal bersama kembaran kamu, atau di manapun. Terserah. Asalkan kamu mengijinkan aku untuk terus berada di samping kamu dan bayi kita."
...🫐🫐...
...Semoga suka 🖤...
...Jangan lupa rate bintang 5 🌟 like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...
...Tanggerang 02-01-23...
__ADS_1