
Seorang gadis cantik tampak duduk di kursi makan sambil memandangi hidangan yang tersaji dihadapannya. Ada makan bernama ikan singapura, makanan yang dibuat dari daging ikan putih yang digoreng dengan lumuran campuran telur, tepung maizena, anggur, garam dan lada. Kemudian dimasak bersama campuran tumisan bawang, bumbu kari, jus nanas, jus jeruk, perasan air jeruk nipis, buah nanas, jeruk, dan water chesnut. Masakan tersebut disajikan dengan nasi putih hangat.
Di sampingnya tersaji sepiring udang kukus tanpa kulit serta kepala dan hanya menyisakan bagian daging juga ekor yang dibungkus oleh kulit kerahi. Disajikan bersama saus cocolan yang dibuat dari campuran saus ikan, air, cuka, kecap, mint, bawang merah, garam dan lada.
Tidak lupa, sepiring lumpia goreng yang tertata rapih juga tidak luput dari perhatiannya. Lumpia goreng dengan isian udang dan sayuran tersebut, merupakan salah satu bors d'ouvres Cina yang sangat disukai dengan celupan saus asam manis sebagai pendampingnya.
"Makan, cuma ini yang bisa aku sajikan," ujar seorang lelaki yang saat ini tengah berada di balik mesin pembuat coffe. Lelaki yang berkeliaran dengan kondisi shirtless itu menatap lawan bicaranya bingung. Sorot matanya tampak lembut untuk ukuran seseorang yang diacuhkan sejak tadi.
"Kenapa? Tidak suka?"
Gadis cantik itu tidak merespon. "Ada apa? Apa ada yang menganggu pikiran kamu?" tanya lelaki itu lagi.
"Satu-satunya yang menggangguku adalah kamu!" Gadis cantik yang mengenakan kemeja putih kebesaran tanpa bawahan itu menatap lawan bicaranya sengit.
"Maksudmu?"
"Aku mau pulang!" Gadis cantik itu beranjak dari duduknya. Ia ingin keluar dari tempat ini sejak membuka mata jika bisa. Namun, ia terkunci dari segala sisi.
"Alexa-"
"Don't call my name!" potong gadis cantik itu tidak suka.
Lelaki yang baru saja meletakkan segelas latte itu tersenyum tipis. Untuk ikut seorang lelaki yang sejak pagi diacuhkan dan dibentak-bentak, ia sangat sabar dalam menghadapi lawan bicaranya.
"Maaf soal semalam. Kita sama-sama mabuk dan-"
"Stop it!" jerit gadis itu penuh peringatan. "Aku mau pulang. Jangan-"
"Dengan keadaan seperti itu?" Lelaki itu kini menyela. "Tunggu sebentar, pakaian kamu akan segera diantarkan."
Gadis itu melunak untuk sejenak. Tidak mungkin juga ia pergi hanya dengan pakaian seperti ini, kemeja kebesaran tanpa bawahan. Ia bahkan tidak mengenakan apa-apa di baliknya. Walaupun sangat ingin, ia tetap tidak bisa apa-apa. Mengingat ketika pertama kali membuka mata, ia sudah bangun dengan keadaan seperti ini.
🫐🫐
"Oh My God, Alexandria Natadisastra lo kemana aja semalem?" tanya seorang gadis saat si empunya nama memasuki caffe tempat mereka janjian bertemu.
"Panjang ceritanya." Gadis cantik yang mengenakan midi dress motif flora itu berujar sambil mendudukkan dirinya. Raut wajahnya tampak suntuk, berbeda dari biasanya.
"Ringkas aja," ujar sahabatnya.
"Please deh, Decha, Putri, kayak nggak ada waktu lain aja. Laper, mana pesanan aku?"
Kedua sahabatnya saling melemparkan senyum tipis. Semalam mereka memang menghadiri party di salah satu club night ternama di kota. Namun sayang, saat hendak pulang mereka tidak bisa menemukan Alexa.
Decha dan Putri tentu saja panik. Mereka takut Alexa diculik pria hidup belang atau oknum tidak bertanggung jawab. Mengingat selain cantik, Alexa juga putri Utama Natadisastra.
"Bartender yang biasa bilang semalem lo pergi sama cowok ganteng. Siapa tuh?"
"Uhuk ...uhuk..."
Alexa langsung tersedak makanannya sendiri saat mendengar pertanyaan tak terduga yang dilontarkan sang sahabat.
"Kenapa lo?"
"Keselek." Jawab Alexa apa adanya. Ia dengan segera mengambil segelas ice leci yang ia pesan.
"Kayak panik gitu muka lo. Lo bohong ya?" celetuk Decha.
__ADS_1
"E-nggak!" Alexa tersenyum tipis seraya menggeleng. "Semalam aku pulang ke apartemen."
"Mobil lo ditinggal?"
Alexa tersenyum kecut mendengarnya. Ia melupakan satu fakta, yaitu mobilnya yang entah dimana sejak semalam. "Aku minum lumayan banyak, jadi aku panggil sopir. Mobil sengaja aku tinggal di sana."
Decha menggut-manggut mendengarnya. "Owh, gitu, kirain kemana. Mobil aman di bagasi rumah gue, lo ambil aja nanti."
Alexa mengangguk sebagai jawaban.
"Oh iya, lo tahu nggak kalau semalem ketua PASPI tumbang di tangan ketua PANCA?" kata Putri kemudian.
"Ketua PASPI--" Alexander kah? ucap Nara dalam hati. "--kenapa?"
Putri menyeruput caramel macchiato nya dulu sebelum menjawab pertanyaan tersebut. "Dia luka parah dan dilarikan ke rumah sakit. Katanya sih, hampir sekarat." Putri memberitahu dengan lugas. "Mereka nyerang anak PASPI tanpa aba-aba."
"Hm, gue juga denger dari anak-anak yang lain. Katanya sampe sekarang ketua PASPI masih belum sadar. Kemungkinan koma, ya?"
Alexa terhenyak mendengarnya. Ia memang pergi dari rumah pasca perdebatan dengan kedua orang tuanya. Dia pergi party di club night bersama teman-temannya tanpa sepengetahuan siapapun. Tapi, kenapa tidak ada yang memberinya kabar soal Alexander? Demi tuhan, kembarannya hampir sekarat dan Alexa tidak tahu apa-apa! paginya ia malah terbangun dengan kondisi tubuh telanjang bersama seorang lelaki asing.
"Eh, mau kemana lo?" panggilan Decha.
"Iya. Mau kemana Lexa? Makanan lo belum datang 'kan?" Putri juga ikut memanggil saat melihat Alexa beranjak dari duduknya. "
.A-ku harus pergi ke suatu tempat. Aku duluan." Jawab Alexa.
Tanpa menunggu respon kedua sahabatnya, gadis itu buru-buru berlalu meninggalkan cafe. Ia langsung tancap gas menuju rumah sakit. Di tangan, smartphone miliknya sudah siaga menelpon informan andalannya untuk mencari informasi yang lebih valid soal kembarannya. Tak butuh waktu lama, dering di smartphone miliknya memberinya jawaban atas apa yang ia inginkan. Informannya sudah memberikan alamat rumah sakit dimana sang kembaran dirawat.
"Di mana Alexander?" tanyanya memburu sesaat setelah tiba di depan unit gawat darurat. Ia langsung dipertemukan dengan bertemu dengan Gray yang menyambutnya dengan sebelah alis naik.
"Di mana kembaran gue!" ulang Alexa, tegas.
Alexa mengekori langkah Gray. Ia cukup kenal dengan Gray, karena mereka memang sering berpapasan saat ia berkunjung ke markas PEONIX. Lelaki itu memang selalu terlihat serius dan jarang banyak bicara. Hampir sebelas dua belas dengan karakter Arga yang jarang bicara, dingin, plus datar.
Gray berhenti di depan sebuah ruangan dengan pintu dicat warna hijau. Dagunya menunjukkan ke arah pintu. "Dia di dalam."
"A-pa Alexander terluka parah?"
"Hm."
"D-ia baik-baik saja 'kan?"
Gray menatap lawan bicaranya lekat. "Dia terluka parah di bagian kepala, lebam di beberapa bagian wajah, sama patah tulang."
Alexa terhenyak mendengarnya. "T-api dia baik-baik aja, 'kan?"
"Dia kembaran lo, seharusnya lo tahu seberapa kuatnya dia."
Ucapan Gray ada benarnya. Alexa kembaran Alexander, tapi ia seperti bukan siapa-siapa lelaki tersebut. Selama ini ia terlalu sibuk mengejar perhatian Arga, tanpa pernah melirik sang kembaran. Seharusnya ia lebih memahami lelaki yang berbagi rahim dengannya tersebut, ketimbang memahami Arga yang notabene saudara tirinya.
"Masuk, kalau lo mau lihat kondisinya."
"Hmm..."
"Jangan terlalu berisik, dia masih belum sadar," pesan Gray.
Alexa mengangguk, lantas menarik kenop pintu dari ruangan di hadapannya. Ia memasuki ruangan bernuansa putih yang kental akan aroma khas obat-obatan tersebut dengan gerakan hati-hati.
__ADS_1
"Alex-" Kalimatnya tercekat di tenggorokan. Lelaki itu ada di sana, berbaring tak berdaya di atas hospital bad dengan berbagai alat penunjang kesehatan.
Kain kasa tampak melingkari bagian kepala. Wajahnya yang pucat pasi tampak dihiasi oleh beberapa lebam dan memar. Alat bantu pernafasan juga terpasang di hidungnya. Lelaki itu terlihat tidak berdaya, berbeda dengan perangai nya sehari-hari.
"Lo...." Alexa berjalan mendekati sang kembaran. "....kelihatan jelek." Ia tertawa kecil, namun air mata luruh dari kelopak mata.
"Jangan pergi, Alex. Sekalipun gue yang nyuruh lo pergi." Rintihnya kecil. "Jangan pergi tinggalin gue. Gue .... belum minta maaf."
Tangis Alexa tak terbendung lagi. Tangannya menyentuh punggung tangan sang kembaran yang terasa begitu dingin dalam genggaman. Ia teringat kata-kata kasar yang selalu iya lontarkan untuk Alexander
Alexa benci Alex, karena Alex selalu mencari gara-gara kepada Arta. Namun, jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, Alexa tidak bisa membohongi rasa sayangnya tehadap lelaki yang dulu bertahan hidup dalam rahim yang sempit bersamanya. Lelaki yang lahir lima belas menit lebih dulu, guna memberi jalan lebih leluasa bagi Alexa kecil keluar dari rahim ibu mereka.
Alexa tidak pernah benar-benar ingin Alex pergi. Karena ia tahu, diam-diam Alex -lah yang selalu menjaga dan mengawasinya dari kejauhan. Lelaki pemilik tato burung peonix itu selalu menjaganya tanpa ia sadari.
"Lo harus bangun. Gue...." Alexa memotong kalimat. Ada sesak merongrong rongga dada. "....sayang lo, Kak."
Ia menghela nafas lemah. Semua terasa berat untuk ia lewati hari ini. "Saat lo bangun suatu saat nanti, ayo kita pergi dari sini. Kita tinggalin Mama dan Papa. Kita tinggal berdua di suatu tempat. Gue udah lelah jadi boneka, Kak," lirihnya. "Get well soon, twins. Gue tunggu lo bangun untuk bawa gue pergi dari neraka ini."
Alexa berbisik pelan tepat di telinga sang kembaran. Berharap jika lelaki itu mendengarnya, walaupun ia masih enggan membuka mata. Ia berharap sang kembaran segera membuka mata.
Alexa ingin minta maaf, sebelum semuanya terlambat. Ia juga ingin mengajak Alexander pergi jauh untuk hidup bersama. Alexa sudah tidak sanggup lagi hidup dibawah tekanan kedua orang tuanya yang gila ambisi.
🫐🫐
"Bagaimana juga mereka adalah kembaran. Mereka lahir dengan berkat sebuah keistimewaan bernama intuisi. Gue yakin, lo bakal cepat bangun karena bisa merasakan kesedihan kembaran yang lo jaga selama ini."
Gray bergumam kecil. Ia yakin Alexander akan segera bangun, jika merasakan betapa sedih dan rapuh adik-adik yang ia sayangi.
Di sampingnya, berdiri seorang wanita menggunakan dress flora berwarna putih gading panjangnya selutut, tengah berdiri sambil menenteng sebuah paper bag berukuran medium. Kedua kaki wanita itu terpaku di depan pintu yang sedikit terbuka. Dari sini, ia bisa melihat punggung sang putri yang tengah terisak sambil menggenggam tangan sang kembaran. Kedua buah hatinya terlihat sangat memperihatinkan dari sudut pandangannya.
"Anda dan suami Anda terlalu mengekang mereka. Maka inilah ni akibatnya." Gray kembali buka suara.
Bukan maksudnya lancang menasihati seseorang yang lebih tua, akan tetapi ia hanya ingin menyampaikan opini. Toh, ia adalah sahabat Alexander. Ia lebih dari sekedar tahu jatuh dan bangunnya Alexander selama ini.
"Berhenti berbuat kejam sebelum Anda kehilangan anak-anak Anda."
"Kamu...."
"Alexander mungkin akan sulit memaafkan semua kesalahan Anda. Akan tetapi, dia tidak pernah berhenti berharap akan kasih sayang wanita yang telah melahirkannya ke dunia."
Sussanne, wanita itu menatap lelaki muda di sampingnya lekat. Ucapan lelaki muda itu berhasil menohok relung hatinya.
"Anda bersikap seolah-olah mengerti soal mereka berdua. Padahal banyak yang Anda tidak ketahui soal keduanya."
"Apa maksud kamu?" yanya Sussanne tidak mengerti.
"Berhenti bersikap egois, sebelum Anda kehilangan mereka berdua seperti Anda kehilangan putri Anda yang lain," tukas Gray. "Walaupun bukan darah daging Anda, sebagai seorang ibu yang membesarkannya, Anda benar-benar tidak punya hati nurani."
Sussanne terhenyak. Ia beralih menatap lelaki muda di sampingnya yang telah berjalan menjauh. Ucapannya lagi-lagi menohok relung hatinya. Benarkah ia tidak mengetahui apapun soal putra-putrinya? Apa benar ia akan kehilangan keduanya seperti ia kehilangan putrinya yang lain?
"Tidak." Sussanne menggeleng samar. "Alexander akan menjadi penerus Ayahnya. Alexa juga akan mewarisi sebagian saham milik Ayahnya. Hidup meraka tidak akan susah jika mereka menurut dan mau diatur. Mereka anak-anakku, sudah seharusnya mereka hidup bergelimangan harta. Mereka pasti tidak akan pernah berpikir untuk pergi dari kemewahan yang telah ibunya siapkan."
...**...
...TBC...
...Semoga suka 🖤...
__ADS_1
...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...
...Tanggerang 20-12-22...