Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
⁴⁶UFB


__ADS_3

Seorang pria paruh baya tengah berdiri sambil menatap pemandangan yang tersaji. Matanya yang terbingkai frame kacamata terlihat begitu seksama mengamati pemandangan yang tersuguh di bawah sana. Ia lalu bersuara, memanggil seseorang yang berdiri di belakangnya.


"Janu."


"Iya, Pak."


"Putra saya kemana?" ia bertanya demikian bukan tanpa alasan, melainkan karena belakangan ini ia tidak melihat putranya dimana pun. Entah di sekolah, maupun ditempat biasa putranya berada.


Bukan satu, tetapi kedua putranya. Dua-duanya belakangan ini luput dari pengawasan. Ia juga sudah menyuruh beberapa orang untuk mengawasi keduanya, tetapi hasilnya belum dilaporkan.


"Den Arga tidak masuk sekolah, Pak."


"Alasannya?"


"Mengawal siswa-siswi kelas sebelas melakukan kegiatan Darmawisata ke Sukabumi, Pak."


Pria berkacamata itu mengernyit. "Darmawisata?"


"Iya. Setiap tahun juga begitu, Pak."


Pria bersetelan jas formal itu kembali mengamati pemandangan di bawahnya. "Janu," panggilnya lagi.


"Iya, Pak?"


"Apa benar jika seluruh warga sekolah ini sudah tahu jika putra saya mengencani anak miskin itu?" tanyanya tiba-tiba.


Pak Janu, salah satu tenaga pengajar SMA Angkasa, terperangah mendengarnya. Ia tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. "Sepertinya sudah, Pak. Pasalnya belakang ini Den Arga kerap kali mengumbar kemesraan dengan Nara."


"Anak itu benar-benar," gumam pria berkacamata tersebut. Utama Natadisastra, siapa lagi.


Ketika tengah sibuk mengawasi pemandangan di bawah sana, maniknya tanpa sengaja menangkap sosok renta yang sedang menyapu dedaunan kering di dekat gerbang utama.


"Jadi kalian berhasil lolos dari maut?" gumamnya lirih kala manik gelapnya tidak sengaja bertemu dengan manik pria renta di bawah sana.


Seulas seringai tipis mengembang saat sosok renta itu terlebih dahulu memutuskan kontak mata diantara mereka.


"Tidak akan aku biarkan putrimu mendekati putraku. Jika putrimu berani mendekati putraku, akan ku pastikan kali ini kalian lenyap dari dunia ini."


...🫐🫐...


Hari semakin gelap saat matahari sudah tenggelam disepanjang garis pantai. Sinar terangnya perlahan mulai memudar, digantikan kegelapan yang menyapa dengan nyata. Ketika membuka mata, kegelapan itu pula yang menyambut pandangannya. Temaram lebih tepatnya, karena di atas sama ada rembulan yang sedang bertugas menyinari bumi.


Dalam temaram lingkungan di sekitar, ia masih bisa melihat dinding beralaskan tanah menjadi objek pertama yang ia temukan. Saat menoleh ke samping, ia bisa menemukan kegelapan lebih pekat membungkus area pepohonan yang tumbuh lebat dan padat. Indra pendengarannya juga bisa menangkap suara deburan ombak, serta suara hewan nokturnal atau hewan yang aktif di malam hari.


"Hhmpp."


Nara mencoba berteriak guna meminta tolong, tapi aksesnya tertutup. Iya, Nara baru saja bangun dari tidur panjangnya, entah berapa lama ia tidak sadarkan diri. Saat mendapatkan kesadarannya lagi, tangan dan kakinya sudah terikat dengan kuat. Bibirnya juga disumpal oleh kain.


"Hhmpp."


Nara meronta, berharap akan ada keajaiban yang datang. Akan tetapi, sekuat apapun meronta, ia tetap tidak bisa meloloskan diri. Sebutir air mata berhasil jatuh dari tempatnya. Bohong jika ia tidak ketakutan. Dalam sanubari, Nara terus berdoa pada tuhan-Nya. Berharap ada satu keajaiban yang bisa membuatnya lolos dari kondisi ini.


Ketika terdengar ada derap langkah yang mendekat, Nara semakin dibuat was-was. Maniknya bergulir kesembarangan arah, memastikan jika derap langkah itu nyata dan ada.


"Hhmpp."


"Sudah sadar ternyata."


Nara mendongrak, mencari sosok pemilik suara tersebut. Sebuah cahaya tampak menyala, menjadi satu-satunya penerangan yang ada. Akan tetapi, ia tidak bisa melihat sosok tersebut walaupun ada penerangan. Agaknya penerangan tersebut berasal dari senter handphone.


"Bagusnya kita apakan?" Lagi, satu suara terdengar diiringi nyala senter handphone yang lain.


"Hhmpp." Nara kembali memberontak sekuat tenaga ketika ada yang menyentuh dagunya.


"Kenapa hm?"


"Hhmpp."


"Lo ternyata cantik juga, ya. Pantes si Arga jadiin lo ceweknya."


Nara meronta. Ia menolehkan wajahnya ke kanan dan ke kiri guna menolak sentuhan tersebut. Ia tidak mau disentuh sembarangan oleh tangan-tangan kotor mereka.


"Ck, sok jual mahal."

__ADS_1


"Cewek model lo itu banyak di kelab," timpal suara yang lainnya. "Murahan."


Nara tidak bisa melihat rupa mereka. Disini gelap, netranya tidak bisa menangkap secara jelas visual mereka. Belum lagi silau dari senter handphone yang diarahkan tepatnya ke wajahnya, membuat akses penglihatan Nara semakin terbatas.


"Tapi, dia cewek baik-baik kayaknya."


"Ya iyalah, cewek baik-baik. Kalau bukan, mana mungkin dua leader SPHINIX bisa kepincut sama dia."


Gelak tawa terdengar setelah kalimat tersebut diutarakan. Perasan Nara semakin tidak karuan saat ini. Campur aduk antara rasa takut, serta rasa sakit.


"Gue gak bisa habisin lo, mungkin karena lo cantik dan naif."


"Penilai banget lo."


"Karena itu faktanya," ujar salah satunya seraya merendahkan tubuh.


Nara yakin jika mereka berdua adalah seorang lelaki. Dari siluet tubuh dan suara, Nara bisa sangat yakin. Kini salah satu dari mereka sedang mengambil posisi jongkok di hadapannya.


"Gue pilih opsi lain, ketimbang bunuh lo."


"Hhmpp." Nara memberontak saat pipinya kembali disentuh.


"Kulit lo putih plus bersih. Mau gue ukir sebelah mana dulu nih? Lo juga boleh request pola ukiran."


Nara menggelengkan kepala keras-keras. "Hhmpp."


"Oh, lo mau pipi dulu? Mau motif apa?"


Sekali lagi, Nara menggeleng dengan tegas. Namun, tak diindahkan sama sekali.


"Keep silent, beb. Kita cuma mau main-main aja."


"Tolong jangan sakiti aku," gumam Nara. Ia masih coba untuk melawan, namun hasilnya tetap saja nihil.


Crash!


"Ups, sengaja."


Air mata Nara langsung berjatuhan saat mendengar suara sesuatu yang terpotong.


Lagi, suara sesuatu yang dipotong menggunakan gunting kembali terdengar di telinga Nara.


"Wow, lo keliatan makin cantik." Laki-laki yang tadi jongkok kini berdiri. Nara hanya bisa melihat kakinya yang dibalut jeans serta sepatu combat hitam.


"Hhmpp."


"Sssttttt, jangan ganggu kesenangan gue."


Nara yang sejak tadi memberontak langsung terdiam saat melihat benda tajam yang diarahkan kepadanya. Tepat di depan wajahnya.


"Gue unboxing bagian ini." Sebuah tangan kekar terjulur, mengarah ke dada Nara.


"Buruan unboxing, gue juga penasaran!"


"Santai, kita pelan-pelan aja."


Nara meronta, sekalipun tubuhnya sudah mulai lemas karena terus memberikan perlawanan.


"Diem!" salah satu laki-laki itu membentak Nara. Bersamaan dengan kakinya yang menginjak kaki Nara.


"Ahk." Rintihan Nara terdengar samar, karena terhalau.


"Lo banyak gerak, jadi gue kesel."


"Kayak ulet kepanasan aja. Lanjut unboxing lagi, bro."


Air mata Nara semakin deras mengalir saat ia bisa merasakan beberapa bagian tubuhnya dijamah. Pakaiannya seperti dikoyak-koyak, sehingga dinginnya angin menerpa kulitnya secara langsung. Namun, kesenangan kedua laki-laki itu tidak bertahan lama karena ada yang datang.


"Ada yang datang."


"Siapa? Cek dulu, mungkin warga sekitar."


"Kayaknya anak SPHINIX. Mereka bawa kawanan."

__ADS_1


"Anj*ng!" umpat salah satunya. "Kita belum beres."


"Kita cabut sekarang. Mereka udah dekat."


"Ya udah," setuju satunya lagi. Sebelum pergi, salah satu di antara mereka masih sempat menyentuh dagu Nara. "Bye, pretty doll."


Tangis Nara semakin menjadi. Walaupun suaranya teredam oleh kain penutup, siakannya masih bisa terdengar. Jiwa maupun raganya telah terluka. Ia juga tidak tahu harus berbuat apa, selain menunggu orang-orang menolongnya. Ia tidak berdaya, bahkan untuk sekedar menjaga tubuhnya sendiri saja tidak bisa.


Hembusan angin malam yang dingin berulang kali menerpa tubuhnya. Rasanya sangat menusuk, sampai ke sumsum tulang. Mengingat beberapa bagian pakaian yang digunakan olehnya telah terkoyak. Ia juga bisa mencium bau anyir darah segar. Kemungkinan besar ada luka terbuka di tubuhnya, tetapi entah di bagian mana. Nara rasa sebagian tubuhnya mati rasa.


"NARA!"


Ada suara yang menyerukan namanya. Secara spontan, ia mencoba untuk bersuara. Ia berharap mereka segera datang dan menolongnya.


"Nara."


"Hhmpp."


"Nara, lo dimana?"


Suara-suara semakin dekat. Nara bisa merasakan sedikit lega, karena posisinya berada di tempat yang cukup terbuka. Seharusnya mereka bisa dengan mudah menemukannya.


"Astaga, Nara!"


Nara tak kuasa menahan tangis saat sebuah cahaya menimpa ke arahnya. Mereka berhasil menemukan dirinya.


"Nara, lo nggak papa 'kan hiks?" suara familiar milik Cacha menjadi suara pertama yang Nara kenali.


Gadis berambut sebahu itu sepertinya sekarang sudah menangis, terdengar dari suaranya yang parau.


"Lo sekarang aman, Nar," ucap Cacha, menenangkan. Padahal tangannya sendiri gemetaran saat mencoba melepaskan ikatan di tubuh Nara.


"Cacha hiks..."


Nara menangis tersedu-sedu saat kain yang menyumpal mulutnya dilepaskan.


"Lo aman sekarang. Lo aman, Nar." Rengkuhan itu Nara dapatkan. Cacha memeluknya.


Tangis dua gadis itu pun pecah di tengah pelukan tersebut. Tak berselang lama, ada derap langkah tegas yang mendekat dengan tergesa-gesa.


Lewat nalurinya yang berkerja, Nara melonggarkan pelukannya dengan sang sahabat secara. Ia membawa wajahnya untuk mendongrak, membiarkan air matanya kembali berjatuhan saat mencari sosok yang ia tunggu-tunggu sejak tadi.


"Kak Arga...." panggilnya. "Kakak ....datang?"


Tidak langsung menjawab, namun pemilik nama itu memilih untuk berlutut terlebih dahulu di hadapan Nara. Lantas tanpa kata, ia menarik tubuh ringkih kekasihnya yang masih gemetaran ke dalam dekapan.


"Kakak ....hiks ....kenapa lama?"


Air mata Nara kembali berjatuhan, malah kian banyak saat ia memeluk balik tubuh tegap lelakinya. Ia ....sudah jauh lebih merasa aman ketika berada dalam dekapan seorang Arganta Natadisastra.


"Berhenti nangis, gue ada disini. Ada di dekat lo."


Alih-alih berhenti, Isak tangis menyayat hati itu kian menggema di keheningan malam. Bukan cuma Arga yang tidak kuat mendengarnya, mereka, Cacha, Arsen, Orion, Iki, Libra, serta anak-anak lain yang ikut membantu mencari Nara juga sama. Tidak sanggup mendengar kesakitan yang Nara perlihatkan lewat tangisnya.


"Berhenti, gue mohon. Gue nggak sanggup lihat lo nangis," ucap Arga seraya menjatuhkan satu kecupan di pucuk kepala gadisnya.


Mendengar tangis pilu gadisnya, membuat amarah di rongga dada kian berkobar-kobar. Sebelah tangannya mengepal kuat, menjadi bukti bahwa ia juga sedang emosional.


Dalam hati ia berjanji akan segera menemukan si pelaku dan memberi mereka balasan yang setimpal dengan tangannya sendiri. Untuk saat ini, tugas utamanya adalah membuat gadisnya tenang lebih dulu.


Cara yang bisa ia lakukan hanya memberikan pelukan yang lebih erat juga hangat, supaya gadisnya merasa lebih tenang dalam perlindungannya. Bibirnya yang biasa irit bicara juga ikut berkontribusi, menenangkan gadisnya dengan kata-kata penenang.


"Please don't cry, baby. You hurt me too."


...**...


...TBC...


...KASIHAN NARA 😭😭...


Ada rekomendasi novel keren juga nih 👇


__ADS_1


Tanggerang 06-12-22


__ADS_2