Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
⁵⁸UFB


__ADS_3

Seorang pria paruh baya berpakaian formal baru saja mendudukkan dirinya di atas sofa beludru berwarna abu-abu. Manik gelapnya menatap lekat ke arah dua kaum Hawa beda usia di hadapannya. Raut wajahnya tampak datar, namun menyiratkan sesuatu hal yang cukup krusial. Padahal biasanya jika menghadapi mereka berdua, ia akan terlihat begitu hangat dan bersahabat.


"Lexa," panggilnya.


"Iya, Pa. Ada apa?" sahut si pemilik nama.


"Kamu masih menyukai Arga?"


Pertanyaannya jebakan itu tiba-tiba terlontar dari mulut pria bernama Utama Natadisastra tersebut. Pertanyaan yang seharusnya tidak diajukan pada putrinya sendiri.


Gadis yang mengenakan dress warna baby blue dari rumah mode ternama itu mendongkrak, menatap manik sang ayah ragu. "Pa, Lexa...."


"Jawab yang jujur, Alexa. Ya atau tidak? hanya itu yang Papa tanyakan."


"Lexa," gadis cantik itu memotong kalimatnya. Di samping kiri, sang ibu memberinya support lewat sentuhan di punggung tangan putrinya. "Iya. Lexa masih suka sama Arga."


Pria berpakaian formal itu menyentuh frame kaca mata yang membingkai kedua matanya untuk sekilas. "Kamu lupa dengan apa yang Papa utarakan waktu itu?"


Alexa menggeleng kecil. "Alexa cuma belum bisa move on, Pa. Lagi pula, Alexa sama Arga itu cuma saudara tiri."


"Kakak, Alexa. Kalian itu bersaudara. Arga lebih tua dari kamu, panggilan dia dengan sebutan Kakak." Utama memperingati. Jika putrinya lupa, ia akan mengingatkan lagi.


Mana ada saudara yang saling jatuh cinta? apalagi mereka adalah saudara satu ayah, walaupun beda ibu. Dalam agama pun tidak diperbolehkan ada rasa suka jika masih terikat hubungan darah. Apalagi orang tua mereka masih menikah. (Mohon koreksi jika salah)


"Alexa koreksi, Pa. Kita cuma saudara tiri."


Pria berpakaian formal itu menatap putri satu-satunya lekat. "Keberangkatan kamu akan dipercepat. Tidak perlu menunggu kelulusan, Papa akan langsung kirim kamu ke luar negeri setelah ujian tertulis selesai. Sebaiknya kamu segera mempersiapkan diri."


Alexandria Natadisastra tentu saja terkejut mendengar. "A-pa maksud Papa? bukannya Lexa berangkat setelah acara kelulusan?"


"Keputusan Papa sudah bulat. Kamu akan berangkat lebih awal dari jadwal."


"Tapi, Pa...."


"Lexa, sudah. Ini yang terbaik buat kamu." Sussanne, Ibu Alexa berujar. Mencoba memberi sang putri pengertian.


Keputusan Utama adalah pilihan terbaik bagi Alexa. Sussanne percaya itu. Toh, jika dibiarkan lebih lama lagi, Sussane takut Alexa malah membuat banyak masalah karena rasa sukanya pada Arga.


"Papa sama Mama memang memang nggak pernah berubah." Alexa tertawa sumbar setelah berkata demikian. "Toh, orang luar taunya aku putri putri kesayangan Mama sama Papa, padahal aku ini cuma boneka yang bisa kalian kendalikan kapan saja."


"Alexa!" Utama memperingati lewat seruannya.


Alexa adalah putri satu-satunya. Semenjak Utama tahu jika ia memiliki seorang putri, ia sangat bahagia luar biasa. Selain dua putra, ternyata ia juga punya seorang putra dari rahim wanita yang ia cintai. Maka tak heran jika sejak dulu Utama selalu memberikan yang terbaik bagi putrinya, Alexandria Natadisastra.


"Lexa nggak akan pergi, sebelum urusan Lexa sama Arga selesai." Pungkas Alexa sambil beranjak dari duduknya. Gadis dengan dress warna baby blue yang jatuh 15 centi di atas lutut itu berlalu setelahnya. Menuju lantas dua di kediaman Natadisastra.


Utama yang melihat tingkah laku sang putri, hanya bisa menghela nafas. Tuhan mang berbaik hati memberinya dua putra dan seorang putri, namun dari ketiganya Utama merasa bisa mati kapan saja, saking lelahnya menghadapi tingkah laku mereka yang ada-ada saja.


Belum selesai urusan soal orang-orang dari masa lalu yang mulai bermunculan, fakta mengejutkan lain datang dari putrinya sendiri. Ternyata putrinya memendam perasaan lebih pada Arga, bukan perasan seharusnya antara adik dan kakak.


Fakta tersebut terungkap saat orang suruhan Utama menemukan video amatir tentang penculikan kekasih Arga di smartphone milik putrinya. Awalnya Utama curiga karena sang putri mulai bergerak tak terkendali. Siapa sangka, ternyata putrinya telah menjadi otak dari penculikan yang terjadi saat Darmawisata berlangsung.


Putrinya mulai menunjukan gelagat pun gejala dari sister complex. Entah sejak kapan tepatnya, yang pasti hal itu tidak bisa Utama abaikan lagi. Ia tidak mungkin membiarkan putri satu-satunya jatuh cinta pada saudaranya sendiri. Alexa dan Arga itu berbagi darah yang sama.


"Mas, sudah. Jangan terlalu berat berpikir. Kamu pasti capek, habis kerja." Sussane berpindah posisi. Wanita itu kini duduk di samping sang suami.


"Mereka membuatku sakit kepala."


"Iya. Sudah, jangan dipikirkan. Mau aku pijat kepalanya?"


"Tidak perlu." Utama menolak dengan lugas. "Kamu urusi saja putri dan mantan suamimu itu."

__ADS_1


Sussane menatap sang suami kesal. "Jangan bahas mereka. Kamu tahu sendiri 'kan, aku sudah muak dengan mereka. Lagipula anak itu bukan putriku."


Utama menatap istrinya. "Ini bukan masalah muak atau tidaknya. Mereka itu ancaman untuk kita, Sussane." Utama memperingati. "Kita akan mendapat masalah jika keberadaan mereka diketahui oleh media."


"Nggak mungkin, Mas. Mereka sudah dianggap mati."


"Tapi, buktinya Andra dan putrimu masih hidup." Tegas Utama.


Sussane menghela nafas gusar. Fakta tersebut memang benar adanya. Orang-orang dari masa lalunya mulai bermunculan. Salah satunya adalah mereka, mantan suami dan seorang anak perempuan yang dulu telah ia lenyapkan dengan cara yang begitu apik.


"Kamu tenang saja, Mas. Aku sudah beri mereka pelajaran. Si tuli dan putrinya itu pasti tidak akan berani berbuat apa-apa," ujarnya sambil tersenyum tipis.


"Apa yang telah kamu lakukan, Ssane?" Utama membelai rahang sang istri pelan. Kali ini entah apa yang diperbuat wanitanya itu.


"Sesuatu yang akan membuat mereka berpikir ulang untuk melawan. Terutama anak perbawa sial itu. Dia sekarang pasti terpuruk mengetahui identitas palsu yang aku katakan." Sussane tersenyum seraya menatap sang suami penuh percaya diri. "Dia tidak akan menganggu Arga ataupun keluarga kita lagi, Mas. Aku berani menjamin."


Utama menyeringai tipis. Pria berkacamata itu tentu faham betul setiap langkah yang akan wanitanya ambil tidak pernah setengah-setengah. Sudut pandang dan cara berpikir kritis, juga keberaniannya lah yang membuat wanitanya ini unggul, ketimbang mantan istri pertamanya. Anjani Widjaja Smith, ibu kandung Arganta Natadisastra.


Anjani hanyalah wanita yang Utama nikahi atas dasar konspirasi bisnis, bukan atas nama cinta. Padahal Anjani adalah wanita baik hati yang tidak tahu apa-apa. Olah karena itu, Utama dengan leluasa memperalat Anjani yang merupakan putri seorang konglomerat.



Tanpa mereka ketahui, ada seorang lelaki muda berdiri tegap di ambang pintu. Kedua tangannya terkepal erat, hingga membuat buku-buku jemarinya memutih. Manik tajamnya menatap penuh kebencian pada sepasang manusia yang tengah bercumbu mesra di sofa. Telinganya masih berfungsi dengan baik, juga otaknya masih bisa menangkap maksud dari pembicaraan mereka berdua.


Lelaki beranting-anting itu memutar balik badannya. Meninggalkan rumah megah yang telah menyilaukan mata dan hati ibu serta saudara kembarnya.


"Loh, kok sebentar, Lex?" Seorang lelaki rupawan yang tengah duduk di atas motor sambil merokok itu bertanya. Heran, kenapa sahabatnya yang baru saja pergi kembali begitu cepat.


"Bagi Dunhill sebatang, Gray."


Alis lelaki rupawan itu mengernyit. Namun, ia tetap memberikan apa yang sahabatnya itu minta. Satu batang nikotin, sesuai permintaan. "Kenapa lo? kecut amat."


"Cabut."


"Jangan banyak bac*t, Blake. Gue lagi nggak punya kesabaran."


"Ye, si any*ng. Gue nanya, pake ngegas lagi." Blake dengan segera menyalakan mesin motor CBR miliknya. Blake dan Gray memang sedang bersama Alexander.


Mereka sengaja menunggu lelaki itu di depan gerbang kediaman Natadisastra.


Tadinya, mereka hendak berangkat menuju markas PIONIX. Sang pemimpin tiba-tiba berputar arah menuju kediaman Natadisastra. Awalnya Alexander menolak ditemani. Namun, mengingat hubungan sang pemimpin dengan keluarganya tidak baik-baik saja sejak dulu, apalagi saat ini sedang memanas, Blake dan Gray tetap kekeuh untuk menemani.


Sekalipun mereka harus rela menunggu di depan gerbang yang menjulang tinggi, karena bodyguard keluarga Natadisastra tidak memperbolehkan mereka masuk ke dalam. Kecuali Alexander, tentunya.


"Kemana nih?" tanya Blake ketika mereka sudah mulai berkendara meninggalkan kediaman Natadisastra. Kediaman yang megah, namun tampak suram.


"Markas," jawab Alexander sambil tancap gas. Lelaki itu mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan di atas rata-rata.


"Kenapa tuh bocah?" bingung Blake.


"Udah, cabut. Lagi nggak mood dia," balas Gray, sebelum melesat bersama motor CBR merah kesayangannya.


Niat awal ketiganya memang basecamp PIONIX, namun urung di tengah jalan karena panggilan dari salah seorang anak PIONIX. Sebagian dari anak PIONIX terlibat baku hantam dengan anak PASCA. Lebih tepatnya, mereka yang diburu dengan alasan serangan balasan. Padahal posisinya, anak PIONIX tidak salah apa-apa. Mereka hanya sedang berkendara, dan tidak sengaja bertemu dengan anak PASCA yang merupakan musuh bebuyutan anak PIONIX sejak dulu.


"Hydra bawa pasukan PASCA. Mereka mengeroyok anak-anak," ujar Gray menyampaikan pada sang pemimpin


"Di mana?" tanya Alexander. Ia tidak mungkin diam saja mendengar kabar bahwa anak-anak PIONIX diserang tanpa alasan yang jelas.


"Di daerah gang Samsi. Lo tahu?"


"Hm. Kita ke sana," ujar Alexander tanpa pikir dua kali.

__ADS_1


Sebagai pemimpin, keselamatan para anggota organisasi adalah termasuk keutamaan baginya. Tapi siapa sangka, malam itu mood buruk diperkeruh dengan informasi mengenai insiden keroyokan anak-anak PIONIX membuat Alexander lepas kendali.


Pertarungan sengit pun tidak dapat dielakkan. Pertarungan itu terjadi antara Alexander Natadisastra, ketua geng PIONIX dengan Hydra Jaya Kusuma, ketua PANCA atau Pasukan Panca.


Naas, ketidakberuntungan sedang berpihak pada Alexander Natadisastra. Malam itu ia akhirnya tumbang di tangan ketua PANCA.


🫐🫐


"Cewek lo sekarang kerja jadi tukang anter makanan, Ta?" Iki bertanya sambil menyodorkan sepiring chicken wings yang dilumuri saus gochujang serta taburan daun bawang di atas meja.


"Maksud lo?" Libra yang merespon lebih dulu, bukannya Arga selalu penerima pertanyaan tersebut.


"Barusan dia nganterin makan ini. Pake scooter warna purple. Cute deh, mana scooter nya maniak Bangtan boys lagi."


"Bangtan boys?" bingung Libra.


"BTS, masa lo nggak tahu nama boyband populer asal Korea Selatan itu?"


"Tau. Tapi gak tahu kepanjangannya. Gue cuma tahu se-BTS-nya aja," sahut Libra sekenanya.


"Ta," panggil Orion yang datang dari pintu utama. Lelaki dengan jaket kebanggaan PASKA itu tampak tergesa-gesa menghampiri Arga.


"Kenapa lo dateng-dateng kayak habis di kejar begal, Yon?" tanya Libra, heran.


"Hu'um. Lo barusan kena begal beneran, Yon?" tambah Iki yang tengah sibuk menikmati chicken wings di tangannya.


Orion tidak menggubris pertanyaan Libra maupun Iki. Ia hanya fokus kepada leader of SPHINIX yang tampak sibuk dengan sesuatu di handphone miliknya.


"PASCA nyerang anak-anak PASPI."


"WTF?!" teriak Iki kaget.


"Berisik lo, Bambang," tukas Libra. Iki mendengus kala menatap Libra.


"Atas dasar apa mereka nyerang PASPI?" Arga akhirnya buka suara.


"Balas dendam," sahut Orion, singkat, padat, dan jelas.


"Tol*l. Padahal udah gue bilangin buat tahan serangan," geram Arga. Ia tak percaya ketua PASCA bisa mengambil tindakan gegabah seperti ini. "Hubungin Hydra, suruh tarik pasukan."


"Untuk saat ini nggak bisa, Ta. Mereka udah terlanjur nyerang PASPI."


Arga berdecak, lsntas beranjak dari posisi duduk. Ia lantas menyambar jaket serta kunci motor miliknya. "Bawa beberapa anak. Kita harus ke lokasi. Hydra udah melanggar kode etik yang telah disepakati."


"Ta," panggilan Orion, menghentikan langkah Arga yang hendak meninggalkan basecamp SPHINIX.


"Apa lagi!" serunya.


"Cewek lo ada di sana."


Butuh beberapa detik bagi Arfa untuk mencerna kalimat yang baru saja muncul dari mulut Orion. Ketika otaknya berhasil menerjemahkan maksud dari kalimat tersebut, lelaki itu langsung mengumpat.


"Anj*ng. Kalau terjadi sesuatu sama cewek gue, lo habis di tangan gue, Hydra Jaya Kusuma."


...**...


...TBC...


...Semoga suka 🖤...


...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...

__ADS_1


...Tanggerang 16-12-22...


__ADS_2