
"Ayah?" Panggil gadis yang menggunakan kaos hitam lusuh tersebut.
Suara keributan yang datang dari luar rumah membuat rasa penasarannya bangkit begitu saja. Semenjak pulang dari Darmawisata pagi tadi, ia memang tidak berjumpa dengan ayahnya. Pria paruh baya itu tidak ada rumah saat ia kembali. Ketika berhasil memasuki rumah, ia hanya disambut oleh dua ransel besar yang sudah tersimpan di dekat pintu.
"A-yah kenapa?" kagetnya saat melihat ayahnya tergeletak mengenaskan di depan pintu rumah. Pria paruh baya itu tampak tak punya daya dan upaya untuk sekedar berbicara.
"Nara... uhuk ....uhuk..."
"A-yah kenapa bisa begini?"
Gadis cantik berambut sebahu itu tak kuasa lagi menahan air matanya. Dengan sigap ia mendekati sang ayah. Membawa tubuh renta itu untuk berdiri, namun tubuh sang ayah terlalu lemah untuk bergerak. Nara hanya bisa membawa kepala sang Ayah pada pangkuan.
"Siapa yang tega lakuin ini sama Ayah ....hiks..." tangis gadis itu semakin pecah.
Kedua tangannya gemetar, menyentuh wajah penuh memar dan luka. Pria paruh baya itu hanya tersenyum tipis, menanggapi setiap ucapan sang putri. Tanpa alat bantu pendengaran seperti saat ini, membuatnya tidak bisa mendengar apa-apa. Ia pria tuli, hanya lewat ekspresi dan gerak bibir sang putri ia bisa membaca semuanya. Putrinya cemas akan kondisinya yang pulang dalam keadaan babak-belur.
"A-yah tidak apa-apa, uhuk... uhuk..."
Nara menggeleng tegas. "Ayah bertahan, ya. Kita pergi ke rumah sakit sekarang."
"Uhuk... uhuk... kita harus pergi Nak... disini tidak aman buat kamu ....uhuk...."
"Nanti. Kita pergi setelah ayah sembuh," ujar Nara, mencoba merespon setenang mungkin, walaupun air mata terus menerus luruh dari kelopak matanya. "Tolong.... tolong.... "
Lingkungan tempat tinggalnya memang cukup sepi, karena berada ditempat kumuh. Hanya satu atau dua orang yang terkadang lewat di jam-jam tertentu.
"Tolong...." panggil Nara lagi. Kondisi ayahnya terluka parah dan butuh pertolongan pertama. Sayangnya tidak ada satupun orang yang lewat saat itu.
Tidak berselang lama, telinganya menangkap suara motor matic yang familiar. Nara mendongrak, menatap penuh harap ke arah datangnya suara kendaraan beroda empat tersebut.
"Arsen!" serunya penuh kelegaan. Ternyata benar, itu suara motor matic yang ia kenali.
"Astagfirullah, ini Om Andra kenapa?" Arsen yang baru saja memarkirkan motornya langsung berlari ke arah Nara.
"Sen, tolong Ayah aku. Ayah harus segera dibawa ke rumah sakit."
Pemuda berpakaian casual yang kebetulan datang untuk mengantarkan barang-barang milik Nara itu segera mengangguk. Ia menyimpan barang bawaan nya di rumah Nara, kemudian memanggil ambulance. Tidak mungkin ia membawa Andra, Ayah Nara menggunakan sepeda motor, mengingat kondisi Andra yang sangat mengkhawatirkan.
Untung saja Arsen merupakan salah satu anggota karang taruna yang punya kenalan seorang supir ambulance dilingkungan tempat tinggalnya. Oleh karena itu, ia bisa dengan mudah memanggil ambulance untuk membawa ayah Nara.
"Om Andra sedang ditangani saat ini."
Arsen menatap sahabatnya dari samping. Nara masih menangis, sekalipun mereka sudah tiba di rumah sakit terdekat.
Andra sedang diberi penanganan pertama. Lewat luka yang tertinggal di tubuhnya, semua itu sudah menunjukan bahwa ada dugaannya jika Andra telah menjadi korban penganiayaan atau bahkan percobaan pembunuhan. Arsen dibantu sang ibu juga sudah membuat laporan terkait insiden penganiayaan tersebut ke pihak kepolisian.
__ADS_1
"Sen."
"Iya, ada apa Nar?"
"Aku nggak punya uang. Uang yang aku punya, nggak cukup buat bayar administrasi rumah sakit." Gadis berkaos lusuh itu menunjukan dua lembar uang pecahan sepuluh dan dua puluh ribu rupiah yang ada dalam genggaman. Hanya itu uang yang ia miliki.
Arsen tersenyum seraya melipat tangan Nara. Agar uang-uang itu kembali tersembunyi di dalam lipatan tangan.
"Jangan pikirkan masalah admistrasi rumah sakit. Kamu fokus aja sama kondisi Om Andra. Soal administrasi rumah sakit biar aku yang urus."
"Tapi, Sen--"
"Sssttttt." Lelaki rupawan pemilik senyum manis itu menyela. "Gak usah dipikirin. Aku ada uang kok."
"Kamu uang dari mana? Uang yang aku pinjam waktu itu juga belum aku kembaliin, Sen," lirih Nara seraya tertunduk. Ia sadar jika selama ini telah banyak berhutang pada Arsen.
Arsen kembali tersenyum. "Kamu nggak usah khawatir, yang penting kesehatan Om Andra."
"Makasih ya, Sen. Aku benar-benar nggak tahu lagi harus berterima kasih dengan cara apa."
Fatir menggeleng. "Kamu nggak usah sungkan. Aku ikhlas kok."
"Tapi, aku udah banyak ngerepotin kamu selama ini."
Nara mengangguk. Ia sekarang bisa sedikit bernafas lega.
Nara memang merasa tidak enak hati karena banyak merepotkan Arsen dan keluarganya. Akan tetapi, hanya kepada Arsen ia bisa meminta bantuan tanpa pikir panjang. lagipula setiap Nara tertimpa masalah, hanya Arsen yang selalu ada.
"Makasih ya, Sen. Kamu selalu baik sama aku dan Ayah," ungkap Nara. Ia berkata demikian dengan sangat tulus. "Aku sayang kamu."
"Eh?" Si empunya nama mendongrak. Menatap lawan bicaranya kikuk. Sebelah tangannya menggaruk belakang leher, kebiasaan ketika gugup.
"Jangan pernah berubah ya, Sen. Kamu sahabat terbaik yang aku punya selain Cacha."
🫐🫐
"Ck. Kemana sih tuh cewek?!"
Decakan kesal kembali terdengar dari arah lelaki yang tengah duduk di sebuah kursi.
Sebelah tangannya sibuk mengoperasikan benda pipih dihadapannya. Manik jelaganya pun tak kunjung lepas dari layar benda pipih tersebut.
"Lagi ngapain bos? Nggak biasanya mainin Hp sampe segitunya."
"Bac*t lo."
__ADS_1
"Gue nanya baek-baek malah ngegas lagi!" ketus Iki, lelaki itu baru saja mendudukkan dirinya di dekat sang leader.
"Kenapa Ta?" Kini giliran Orion yang bertanya. Lelaki itu baru saja menyimpan sebotol soda kaleng di hadapan sang leader.
"Anj*ng!" umpat Arga murka sambil melemparkan smartphone miliknya asal ke atas meja.
"Weleh, iphone terbaru hampir aja nyebur ke dalam kuah bakso. Gue sport jantung lihatnya." Iki yang kebetulan berhasil menangkap benda pipih tersebut langsung berseru heboh.
"Lo kenapa, Ta?" Orion bertanya lagi sambil membuka penutup kaleng soda miliknya. "Cewek lo gak bisa dihubungi?"
Mood lelaki rupawan itu memang tak kunjung membaik. Sejak kemarin malam, ia tak menunjukan gelagat baik-baik saja. Pun dengan hari ini, ditambah lagi ia tidak bisa menemukan keberadaan sang kekasih dimanapun. Gadisnya tidak dapat dihubungi.
"Cewek lo nggak masuk, Ta?" Iki bertanya sambil menatap sahabatnya yang tengah menahan emosi.
Sebelah tangan lelaki cantik itu digunakan untuk menyodorkan smartphone milik Arga, saat sudah ia pastikan jika benda itu tidak mengalami kerusakan yang berarti.
"Gue kira pagi tadi bukan cewek lo," gumam Iki.
"Maksud lo?"
Lelaki yang tengah membumbui bakso pesanannya itu mengedipkan bahunya acuh.
"Maksud lo apaan, Iki!"
Iki menyerah. Lelaki setengah cantik itu menunda sejenak kegiatannya. "Pagi tadi gue mampir ke RS, biasalah. Beli obat nyokap. Gue nggak sengaja lihat cewek lo sama si ketos. Gue kira bukan cewek lo, Ta." Tuturnya. "Kalo mau tahu lebih detailnya, lo tanya si Arsen aja noh. Cewek lo memang gak sekolah 'kan?"
"Di rumah sakit?" monolog Arga. Perasaannya mulai tidak enak.
Sejak kemarin, nomor telepon gadis itu memang sulit dihubungi. Arga pikir mungkin karena dia sedang beristirahat. Oleh karena itu nomernya tidak dapat dihubungi. Hingga malam tiba, Arga tidak lagi mencoba menghubungi ataupun mengirimkan pesan singkat. Ia terlanjur badmood karena kedatangan 4 tamu tak diundang dalam zona teritorialnya. Kini, ia pusing sendiri karena tidak bisa menemukan kekasihnya dimanapun, pun tidak bisa menghubunginya barang sekali saja.
"Si*lan, pantes lo nggak bisa dihubungi?!"
**
TBC
Semoga suka 🖤
Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘
Ada rekomendasi novel keren juga nih 👇
Tanggerang 10-12-22
__ADS_1