Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
⁴⁴UFB


__ADS_3

Pagi yang cerah menyambut para peserta darmawisata di hari keempat. Selama mereka berada di sana, mereka dimanjakan oleh alam yang masih asri, menciptakan kesejukan yang hakiki. Maka tak heran jika mereka betah untuk tinggal di sana. Disuguhi pemandangan eksotis, perpaduan antara gunung, perbukitan, daratan tinggi, daratan rendah, hingga hamparan laut, dipadukan dengan ekosistem alam serta biota di dalamnya mampu menghadirkan harmonisasi yang tidak habis mereka kagumi.


"Hari ini jadwalnya kemana?"


"Pangumbahan, Kak."


"Ngapain?"


"Mau observasi tempat penangkaran Penyu. Katanya penangkaran di sini penangkapan penyu terbesar di Jawa Barat."


Lelaki tampan yang tengah memainkan sejumput rambut halus sang kekasih itu mengangguk kecil. Sesekali jemarinya juga menyelipkan rambut tersebut di telinga si empunya. Jemarinya sejak tadi kecanduan memainkan jalinan surai kecoklatan sang kekasih yang harum buah.


"Dulu Kakak Darmawisata nya dimana?" tanya pemilik rambut kecoklatan yang sejak tadi jadi objek candunya.


"Yogyakarta."


"Seru enggak? terus di sana ngapain aja? senang-senang kayak di sini nggak?"


Pertanyaan dari gadisnya dijawab dengan singkat. "Hm. Biasa aja."


"Biasa aja? Masa sih. Padahal Yogyakarta itu salah satu tempat Darmawisata unggulan. Banyak monumen bersejarah yang bisa dijadikan sebagai objek observasi," tutur Nara. Setahunya darmawisata ke Yogyakarta itu termasuk darmawisata andalan. Selain banyak monumen yang kental akan sejarah dan dapat dijadikan sebagai objek observasi, di sana juga terkenal dengan berbagai tempat ikonik selalu berhasil menarik ribuan pelancong datang setiap tahunnya.


"Biasa aja, karena gak ada lo," imbuh Arga tiba-tiba.


Nara yang tidak menyangka akan mendengar kalimat seperti itu meluncur bebas dari mulut Arga, langsung tertawa kecil. Arga sampai-sampai berdecak kesal melihat kekasihnya itu.


"Apa? Udah berani ngetawain gue?"


"Eh, enggak kok." Nara mengibaskan tangannya di depan wajah, guna menampik tuduhan tersebut. "Habisnya Kakak lucu, belajar dari mana gombal begitu? receh banget."


Arga mendengus tidak suka. "Gak usah dibahas!"


"Ya Allah, Kakak. Masa gitu aja marah?" goda Nara seraya mencubit lengan Arga, pelan.


"Lo barusan ngapain?" tanya Arga dengan kening bertaubat.


"Cubit Kakak. Kenapa, sakit banget, ya?"


Arga menggeleng seraya menepuk pelipis sang kekasih dua kali. "Nggak kerasa. Lo nggak punya tenaga?."


"Ih, masa sih?" kata Nara sambil mencubit lengan Arga lagi, gemas.


"Nggak berasa," cibir Arga sambil memeluk bahu sang kekasih. Diam-diam ia menerbitkan senyuman tipis saat sang kekasih berada dalam lingkup pelukannya. Senyum yang jarang sekali diperlihatkan pada dunia. Entah sejak kapan, Nara jadi pengecualian baginya.


"Makan yang banyak supaya punya cukup tenang buat pukul gue," ucap Arga selepas menjatuhkan satu kecupan di pucuk kepala Nara.


"Aku enggak pendek, Kak. Buktinya aku bisa sentuh kepala Kakak," protes Nara, tidak terima.


Arga memiringkan wajahnya agar dapat melihat sang kekasih lebih dekat. "Masa?"


"Nih, buktinya!" seru Nara seraya menyentuh pucuk kepala Arga dengan lembut. Mengelus surai hitam miliknya dua kali.


Diperlakukan demikian, Arga tiba-tiba memejamkan mata. Meresapi perlakuan manis kekasihnya. Selama Arga hidup, hanya ada dua orang yang mendapatkan keistimewaan untuk mengelus kepalanya. Pertama, almarhum ibunya. Kedua, tentu saja Aleanska, kekasihnya.


Saat ini Arga dan Nara tengah duduk di bawah pohon yang cukup rindang, sehingga membuat memberikan keteduhan. Awalnya tadi Nara duduk disini untuk mengisi jurnal, namun Arga datang untuk menemaninya. Alhasil waktu Nara lebih banyak dimonopoli oleh Arga.


Hari ini adalah hari terakhir mereka melakukan observasi lapangan. Besok mereka akan pulang. Jadi, jadwal hari ini cukup padat dan melelahkan.


"Jangan jauh-jauh, gue sama anak-anak ada di parkiran," pesan lelaki dengan jaket bomber berlogo geng SPHINIX tersebut.


"Iya, iya. Lagi pula aku juga cuma mau lihat penyu." Nara menjawab seraya menyunggingkan senyum. "Palingan nanti ada operasi semut di akhir kegiatan," imbuhnya, mengingat-ingat jadwal hari ini.

__ADS_1


"Bagus."


"Bagus apanya, Kak?" bingung Nara.


"Biar ada kerjaan yang positif buat lingkungan."


Nara mengangguk, setuju dengan perkataan Arga.


Lelaki tampan itu lantas menunjuk ke arah siswa-siswi lain menggunakan dagu. "Kumpul sana, mereka udah kumpul dari tadi."


"Iya."


"Gue ada di parkiran."


"Iya Kak, aku nggak lupa kok," sahut Nara seraya tersenyum lebar. Sungguh, ia kadang masih tidak menyangka jika sekarang Arga menjadi salah satu alasan dari rasa senang yang tumbuh di hati.


"Woi, Nara," panggil Cacha tiba-tiba. "Pacaran aje, buruan kumpul. Kita bentar lagi otw ke tempat konservasi penyu. Jangan cogan terus yang perhatiin, tugas juga perlu di perhatiin."


Nara menggaruk pelipisnya dengan gugup. "Iya."


"Buruan, yang lain udah pada masuk."


"Iya, bawel," ketus Nara. Ia pun berpamitan pada Arga sebelum akhirnya menghampiri Cacha.


Tiga hari ke belakang, para siswa-siswi peserta Darmawisata telah menghabiskan waktu untuk mengunjugi beberapa situs. Melakukan observasi terkait situs geologi yang meliputi, Air terjun tau waterfall, bentang alam atau Landscape, komplek bebatuan unik/estetik atau Aesthetic rock, pulau-pulau kecil atau small islands, gua atau sea cave, batuan langka dan fosil atau The rare rock and fossils, serta pantai dan geyser atau Beach and geyser.


Mereka juga sudah melakukan observasi tentang keragaman budaya, seperti mengunjungi kawasan kampung adat kasepuhan Banten Selatan.


Mengenal tradisi nenek moyang yang masih dilaksanakan hingga saat ini, salah satunya adalah acara syukuran panen padi yang disebut Seren Taun. Seren taun sendiri berasal dari bahasa sunda yaitu seren artinya serah atau menyerahkan, dan taun berarti tahun.


Seren taun bermakna pula sebagai wahana untuk bersyukur kepada tuhan yang maha esa atas segala hasil pertanian yang dihasilkan dengan harapan panen tahun depan akan semakin meningkat.


Konservasi Penyu Pangumbahan agak tersembunyi, sekitar 4,3 km dari area Pantai Ujung Genteng. Konservasi Penyu Pangumbahan ini buka 24 jam, tapi proses pelepasan tukik selalu dilakukan pukul 5 sore atau pada malam hari.


"Jadi adik-adik sekalian, enam dari tujuh spesies penyu yang tersisa di dunia ada di Indonesia. Tiga spesies diantaranya ada di penangkaran ini," ujar seorang pemandu, memberikan penuturan kepada siswa-siswi darmawisata yang ingin memperluas wawasan tentang hewan penyu.


"Satwa yang memiliki nama latin Chelonia mydas ini merupakan hewan yang dilindungi dan terancam punah akibat maraknya perburuan liar, pencurian telurnya, predator dan kerusakan habitatnya di alam," lanjut si bapak. "Keenam spesies penyu yang ada di Indonesia antara lain penyu belimbing (Dermochelis coriacea), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu tempayan (Caretta caretta), penyu pipih (Natator depressa), penyu sisik (Eretmochelys imbricate), dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea)."


Tidak hanya menjelaskan, si bapak pemandu juga memperlihatkan gambar-gambar terkait materi yang sedang dibicarakan. "Penyu hijau (Chelonia mydas) merupakan penyu yang paling sering terlihat di laut tropis. Ciri paling menonjol dari penyu hijau adalah memiliki kepala kecil dan paruh tumpul.


Spesies ini memiliki tubuh berwarna abu-abu, hitam, atau kecokelatan. Nama penyu hijau sendiri berasal dari warna lemak di bawah sisik yang berwarna hijau. Penyu hijau hanya bertelur sekali dalam tiga sampai empat tahun. Penyu hijau ini adalah penyu yang paling banyak di konservasi penyu Pangumbahan."


Para siswa-siswi mendengarkan dengan Hidmat, tidak terkecuali Nara. Sedangkan Cacha adalah pengecualiannya.


"Si Chelonia mydas itu ucul banget, boleh ambil foto nggak sih?" Celetuk Cacha tiba-tiba.


"Boleh, asalkan izin lebih dulu," sahut Cacha.


"Nara, foto sama penyunya, yuk!" ajaknya kemudian.


"Iya, sebentar. Aku lagi nyalin ini dulu." Nara tersenyum tipis sambil mempercepat kegiatan, menyalin materi yang baru didapatkan.


"Udah Nar, biar aku aja yang lanjutin. Dari tadi kamu terus yang nyata." Arsen buka suara. Lelaki rupawan itu berbaik hati menawarkan bantuan pada Nara.


"Gak usah, ini udah mau selesai kok."


"Yakin? Chaca ngajakin foto tuh."


Nara mengangguk lirih. "Iya. Habis nyalin ini aku baru foto sama Cacha."


"Ya sudah." Arsen menyerah. Membiarkan gadis itu melanjutkan tugasnya. "Nar," panggilnya kemudian.

__ADS_1


"Iya. Kenapa, Sen?"


"Hati-hati."


"Maksud kamu?"


"Eng, lupain aja. Mungkin aku barusan ngawur," dalih Arsena. "Tapi, aku titip pesan satu kamu. Jangan jauh-jauh dari aku, Chaca, atau anak-anak yang lain. Perasaanku nggak enak."


...🫐🫐...


Kala matahari mulai condong ke ufuk barat, berarti hari sudah semakin sore. Kunjungan para siswa-siswi darmawisata juga telah rampung dilaksanakan. Mereka baru saja mengisi perut dengan nasi liwet, berbagai olahan seafood, seperti Ikan bakar, Ikan goreng tepung, cumi goreng tepung, cumi masak kecap, gurita bakar, cah kangkung, dan lauk lain yang berhasil menggoyang lidah.


Selepas mengisi perut, alangkah baiknya berolahraga. Itu definisi hidup sehat jika makan terlalu berlebihan. Oleh karena itu, para siswa-siswi darmawisata sekarang disuruh untuk melakukan operasi semut disekitar area tempat mereka beristirahat. Setiap regu diberi satu kantung plastik besar untuk diisi dengan sampah-sampah yang berserakan di sekitar area pesisir pantai.


"Ayo kerja, kerja, kerja!" teriak Cacha semangat.


"Semangat bener," sindir Arjuna yang kebetulan ada di sana.


"Ya iyalah, 'kan perut baru diisi." Kekeh Cacha,


"Pantesan happy, perutnya ampe buncit gitu," sindir Julian, ikut-ikutan.


"Lo berdua punya dendam apa sih sama gue? Sinis mulu bawaannya," ketus Cacha. Menatap keduanya tak lelah sinis.


"Nara, ayo kita cari sampah di sebelah sana. Jangan deket-deket sama mereka, bawaannya sensi terus. Kayak pantat baby," tukas Cacha sembari mengajak Nara menjauh dari mereka.


"Jangan jauh-jauh," ujar Fatir memperingati. Saat ini mereka sedang melakukan operasi semut per regu alias per kelompok.


"Iya. Lagian kita juga nggak mau jauh-jauh kok," balas Cacha sebelum membawa Nara menjauhi teman-teman satu regu mereka.


"Aduh, tenang dunia kalau nggak ada si Julian sama Arjun!" seru Cacha, lepas.


Nara tersenyum kecil mendengar ucapan Cacha. Gadis cantik dengan rambut di kuncir kuda itu sedang tengah mengais sampah plastik di sekitar bibir pantai. Setiap sampai yang ia temukan langsung dimasukkan ke dalam plastik sampah besar yang ia bawa. Sedangkan Cacha sibuk dengan dunianya sendiri.


"Nara, mending kita foto dulu. Besok kita balik, sekarang kita harus banyak-banyakin foto buat kenang-kenangan." Cacha berujar sambil mengeluarkan smartphone dengan phone case BT21 yang Aesthetic miliknya. "Mumpung sepi, dan background nya bagus juga," tambahnya. "Kamera hp gue juga lagi cantik nih. No filter, tapi kayak udah diedit."


"Nara?"


Karena tak kunjung dapat jawaban, Cacha mengalihkan pandangan dari smartphone nya. Menoleh ke arah sahabatnya yang tadi sibuk memunguti sampai non organik.


"Nar, lo dimana?" bingungnya kala ia tidak menemukan keberadaan sang sahabat. "Nara??"


Nara tidak ada di tempatnya tadi memungut sampah. Hanya suara deburan ombak yang menyapu pasir pantai, menyahuti panggilan Cacha.


"Nara, please jangan bikin gue takut," Risau Cacha. Nara tidak ada dimana-mana. Padahal tadi cuma ada mereka berdua di sini


"Nara, lo dimana!" jerit Cacha, kalut.


"Nara!"


...🫐🫐...


...TBC...


...NARA KEMANA WOI 😱...


...Ada rekomendasi novel keren juga nih 👇...



Tanggerang 04-12-22

__ADS_1


__ADS_2