
"Hai, Adik kecil. Maaf baru bisa jenguk kamu lagi."
Gadis yang biasanya menggunakan dress anggun dari brand kenamaan itu hari ini tampil sederhana dalam balutan celana jeans dan kaus paling murah yang ia miliki. Dilapisi pula dengan Hoodie dengan Zipper di bagian depan. Ia tidak datang dengan tangan kosong, melainkan membawa satu bouquet bunga seruni atau Krisan. Bunga cantik ini secara umum diyakini mewakili kebahagiaan, cinta, umur panjang dan kebahagiaan. Di Asia, Krisan menandakan kehidupan dan kelahiran kembali. Sedangkan di Eropa, makna bunga Krisan adalah mengekspresikan simpati.
"Gimana kabar kamu hari ini? sudahkah ingin kembali?" tanyanya, walaupun ia sadar kecil kemungkinan untuk mendapatkan balasan. "Hari ini Kakak bawa bunga Krisan. Tapi, sepertinya kalah spesial sama bunga yang dibawa Pangeran kamu."
Alexa, gadis cantik dengan wajah yang agak pucat itu melirik ke arah vas bunga di atas meja dekat hospital bed yang diisi oleh rangakaian bunga mawar merah dan baby's breath. Semua orang juga tahu jika rangkaian bunga mawar merah dan baby's breath memiliki filosofi tentang cinta sejati, romansa, dan sebagainya.
(bentuk bouquet bunga dari Arga)
Rangkaian bunga itu sudah jelas dibawa oleh Arganta Natadisastra yang selalu memperhatikan perihal apapun mengenai kebutuhan kekasihnya.
"Hari ini Kakak juga mau memberitahu kamu sesuatu," lirih Alexa. "Di sini, ada yang sedang tumbuh dan berkembang," lanjutnya sembari mengelus permukaan perut sendiri. "Usianya mulai memasuki Minggu ke-lima."
Walaupun tidak mendapatkan respon, Alexa tetap berceloteh di samping tubuh Nara yang terbaring di atas hospital bed. Koma dapat berlangsung kurang dari empat minggu dengan pemulihan secara bertahap. Namun, tidak sedikit pasien yang mengalami koma selama bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun.
Mengutip dari suara.com, kasus koma terlama pernah dialami oleh mantan bintang sepak bola Prancis, Jean-Pierre Adams yang sempat koma selama 39 tahun. Jean-Pierre Adams meninggal dunia pada Senin (6/9/2021) pada usia 73 tahun di Rumah Sakit Universitas Nîmes di Prancis.
Koma dapat terjadi karena adanya kerusakan sementara atau permanen pada bagian otak.
Menurut Healthline, prioritas pengobatan pada pasien koma adalah mempertahankan kehidupan dan fungsi otak. Dokter dan tim medis akan memantau perkembangan, memastikan tidak terjadi infeksi, dan memberikan nutrisi yang seimbang selama pasien mengalami koma.
Peluang seseorang untuk pulih dari koma hingga saat ini belum dapat diprediksi secara akurat dan sangat bergantung pada tingkat keparahan, penyebab cedera otak, usia, dan berapa lama pasien mengalami koma.
"Kamu ....harus segera bangun. Sebentar lagi kamu bakal jadi Aunty." Digenggamnya tangan mungil sang adik. Menyalurkan rasa hangat pada tangan dingin tersebut.
Walaupun belakang ini kondisi mentalnya sedang down, ia tidak pernah lupa untuk mendoakan kesehatan sang adik. Dulu, mungkin ia pernah jadi begitu jahat, sehingga berencana untuk menyingkirkan adiknya sendiri. Sekarang, ia ingin hidup lebih lama lagi untuk menebus dosa-dosanya terhadap sang adik.
"Kamu harus segera bangun. Minggu depan pembacaan putusan akan keluar. Nasib wanita yang dulu kita panggil Ibu akan ditentukan hari itu," ujar Alexa memberi tahu.
Kasus yang menjerat Utama dan Sussanne memang masih menjalani beberapa rangkaian persidangan. Minggu depan adalah jadwal pembacaan putusan.
Proses peradilan pidana untuk menentukan nasib terdakwa kerap memakan waktu yang lama. Tak seminggu dua minggu, mulai tahap pertama hingga terakhir berupa putusan pengadilan, persidangan bisa berlangsung hingga berbulan-bulan bahkan tahunan.
Perkara pidana umum harus diputus dan diselesaikan paling lama 6 bulan sejak perkara didaftarkan oleh Jaksa Penuntut Umum dalam hal terdakwa tidak ditahan. Perkara pidana yang terdakwanya ditahan akan diputus dan diselesaikan oleh Pengadilan paling lama 10 hari sebelum masa tahanan berakhir.
Sedangkan untuk kasus Utama dan Sussanne, para penggugat yang terdiri dari para korban membawa serta kuasa hukum yang sudah kawakan dan profesional. Proses peradilan bisa jadi cepat karena kondisi yang kondusif, dalam artian pihak terdakwa tidak dapat lagi menyangkal gugatan yang dilayangkan, karena disertai dengan bukti-bukti yang memadai.
"Kamu harus bangun. Kamu tidak boleh menyerah, walaupun merasa lelah." Alexa tersenyum tipis, walaupun terasa getir. "Kakak juga akan berusaha untuk bertahan, walaupun terasa begitu berat." Alexa beralih, membuang pandangan ke sembarang arah. "Kakak harap kamu akan segera bangun. Kita harus berusaha bersama-sama. Alexander, aku, dan kamu. Kita harus berusaha untuk hidup yang lebih baik."
"...."
__ADS_1
Tidak da respon apapun yang ia dapatkan, kecuali suara alat rekam jantung, elektrokardiogram atau EKG. Sebuah alat tes yang digunakan untuk menilai kesehatan jantung secara menyeluruh, termasuk mengukur detak jantung seseorang.
Sesuai janji, Alexa hanya butuh menghabiskan waktu selama 30 menit dengan adiknya. Itu yang ia janjikan saat meminta izin pada Arga juga Alexander. Setelah puas mengobrol dengan adiknya, ia akan menyusul sang kembaran yang menunggu di kantin. Sedangkan Arga, entah pergi kemana lelaki itu.
Ketika tengah dalam perjalanan menuju kantin rumah sakit, Alexa sempat mencium bau amis yang entah berasal dari mana. Yang pasti, perutnya langsung terasa seperti dikocok. Mual seketika menyerang, membuatnya langsung berlari mencari toilet terdekat. Karena rasa mual yang tidak tertahankan, ia sempat menabrak beberapa orang yang berpapasan dengannya di koridor rumah sakit.
"Hoek ....Hoek...."
Alexa langsung muntah-muntah setibanya di toilet.
"Hoek .....Hoek...."
"Keluarkan semuanya!" seru suara entah siapa yang berasal dari belakang tubuh Alexa. Ia berjongkok di depan closet sambil mengeluarkan isi perut.
"Tidak apa-apa, keluarkan semuanya."
Alex tidak tahu siapa itu. Namun, suaranya terdengar cukup familiar di telinga. Ketika sudah berhasil mengeluarkan semuanya, ia kemudian digiring menuju wastafel, kemudian disuruh kumur-kumur.
"Sudah merasa lebih baik?"
Alexa mendongkrak, menatap siapa kah gerangan pemilik suara cukup familiar yang sejak tadi berceloteh dengan nada cemas terselip dalam tiap kalimatnya.
"Hei? apa kamu masih mau muntah?"
"Kamu...."
"Iya. Aku, kenapa?"
Alexa mengerjapkan mata satu kali. Lantas detik berikutnya ia menjauhkan tubuh dari jangkauan lelaki dengan snelli putih tersebut.
"Kenapa?"
"Kamu yang kenapa?!" alih-alih menjawab, Alexa malah balik melontarkan pertanyaan. "Kenapa kamu bisa ada di sini!"
"Aku bekerja disini," jawab lelaki tersebut. Jika dilihat lebih jeli, ia sepertinya mewarisi rupa rupawan campuran darah Asia dan Amerika.
Alexa terpaku mendengarnya. Jadi, selama ini lelaki yang dicari-cari ada di sini. Lelaki yang telah merenggut kehormatannya bekerja di rumah sakit ini.
"Kamu sudah merasa lebih baik? Kalau masih merasa mual, lebih baik kamu...."
"Jangan sok peduli," potong Alexa. "Kita tidak saling kenal."
Lelaki itu terdiam untuk sejenak. Untung saja toilet perempuan itu sedang kosong, jadi mereka bisa leluasa bicara
__ADS_1
"Alexa, dengar. Aku...."
"Jangan sembarang sebut namaku," sela Alexa. "Lebih baik sekarang kamu pergi. Ini toilet perempuan."
"Aku tidak akan pergi sebelum kita bicara."
"Nggak ada yang perlu kita bicarakan."
"Ada," sahut lelaki itu. "Janin di perut kamu."
Alexa langsung mundur satu langkah mendengarnya. Ia tentu terkejut saat mengetahui lelaki itu sudah tahu soal kehamilannya.
"Itu bayi kita."
Alexa rasa dunianya akan segera berakhir saat mendengar lelaki itu mengklaim hak atas janin yang ada di dalam perutnya.
"We need to talk, Alexa."
Alexa menggelengkan kepala dengan tegas. Untuk saat ini ia belum bisa bicara apa-apa dengan ayah biologis dari janin yang dikandung olehnya.
"Aku harus pergi," pungkas Alexa. Ia langsung mengambil ancang-ancang untuk meninggalkan toilet, namun tiba-tiba suara gaduh datang dari balik pintu. Tak berselang lama, pintu terbuka dengan lebar. Memunculkan wajah panik sang kembaran.
"Lexa!"
Alexa tersenyum tipis seraya bergerak cepat ke arah kembarannya. Namun, tangannya sudah lebih dulu dicekal oleh lelaki ber-snelli tadi.
"Lepasin tangan lo dari kembaran gue!" instruksi Alexander seraya bergegas masuk. "Berani lo sentuh dia, lo berurusan sama gue."
Lelaki yang sudah pasti usianya jauh di atas Alexander dan Alexa itu menoleh, menetapkan pandangan pada Alexander, lalu pada Alexa. "Kalian kembar?" tanya, lelaki itu. Alih-alih mengiyakan perintah untuk melepaskan pegangan tangannya.
"Nggak usah banyak bac*t. Mendingan lo lepasin tangan kembaran gue!" pungkas Alexander. Namun, detik berikutnya pengakuan lelaki itu membuatnya bungkam.
"Saya Andrew. Ayah biologis dari janin yang sedang Alexa kandung."
🫐🫐
TBC
Semoga suka 🖤
Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘
Tanggerang 30-12-22
__ADS_1