
"Beach, I'am coming." Teriak seorang gadis berambut sebahu itu, kegirangan.
Tubuh putihnya yang cukup ideal, tidak terlalu kurus atau gemuk, berlari dengan girang ke arah air. Riak air yang begitu mempesona, seakan-akan menjadi penebus dahaga di kerongkongan. Setelah aktivitas berkendara bolak-balik dengan jarak tempuh lumayan jauh, akhirnya tubuhnya bisa bersantai. Bermandikan terik mentari yang membuat kulit putihnya mulai memerah. Membiarkan tubuhnya basah terkena air asin tersebut.
"Woi, Cha. Tungguin gue!" panggil seseorang, berseru tidak kalah heboh.
"Sini, gue mau berenang."
"Sok-sokan lo. Memang bisa berenang?" sindir suara lain yang baru saja menghampiri.
"Gue emang bisa berenang, ya, Jul. Jangan lupakan fakta tersebut."
"Owh, seingat gue, dulu lo nggak bisa berenang. Gue cuma takut lo tenggelam," jawab lelaki berkulit sawo matang itu sambil berkacak pinggang. Tubuh bagian atasnya dibiarkan terbuka, mengekspose perut kotak-kotak miliknya. Penampilannya itu sontak menarik perhatian beberapa lawan jenis, tidak terkecuali gadis berambut sebahu itu.
"Kenapa?"
"Enggak," kikuk gadis yang mengenakan atasan crop top tanpa lengan dengan model tali spaghetti yang melilit ke belakang leher.
"Gue ganteng. Iya 'kan? Atau lo malah tergoda buat nyentuh perut gue?"
"Dih, apaan coba?!" ketus Cacha seraya menciptakan cipratan air ke arah lawan bicaranya.
"Dih, blushing gitu juga. Ngaku hayo?" goda lawan bicaranya, kian gencar.
"Juljul, baejul jangan berisik lo?!" jerit Cacha kian salah tingkah.
Julian yang melihatnya malah tertawa puas. Tawa yang membuat Cacha kian terpesona. Laki-laki tanpa atasan berkulit Tan atau kecoklatan adalah kelemahan terbesar Cacha.
Saking asiknya main air berdua, Cacha dan Julian sampai tidak menghiraukan aktivitas di sekitarnya.
"Gak mau main air juga?"
Nara yang sejak tadi jadi penonton, kontan menoleh. Di sana hanya ada dirinya yang duduk sendirian di atas pasir. Sedangkan yang lain asih dengan dunia masing-masing. Jadi, pertanyaan itu pasti ditujukan padanya.
__ADS_1
Pertanyaannya tersebut dilontarkan oleh laki-laki yang datang dengan pakaian kasual, celana pendek selutut yang dipadukan dengan kaos putih polos. Sederhana memang, namun sebagai seseorang yang berpengaruh di SMA Angkasa, pesonanya tak lekang dimakan waktu.
"Mau kok, ini juga mau nyusul Cacha."
"Hm. Bareng aja."
Nara menagngguk. Di saat yang lain sibuk pamer pakaian pantai terbalik, mulai dari pakaian jenis two piece, atasan berpotongan of shoulder, crop top tanpa tali atau pun dengan tali, serta jenis pakaian terbuka lainnya, Nara tetap setia menggunakan kaos oversize dengan bahan lembut yang dingin ketika dipakai, dipadukan dengan bawah celana pendek berwarna peach. Mungkin hanya Nara yang tampil begitu sederhana.
Nara tidak terlalu peduli pada outfit, karena cuma pakaian itu yang ia punya. Ada hal yang lebih penting ketimbang adu outfit, yaitu bergegas ikut main air dengan yang lain.
Cuaca cerah, serta posisi mereka yang sedang dekat dengan pantai, tentu saja membawa godaan dahsyat untuk segera bermain air. Walaupun sinar sang Surya sedang terik-teriknya.
Salah satu tempat wisata yang ramai
dikunjungi wisatawan di Ciletuh adalah Pantai Palangpang. Pantai ini merupakan pintu masuk ke dalam Geopark Ciletuh. Palangpang memiliki hamparan pantai yang cukup luas dan panjang. Pasirnya putih halus, dan memiliki air laut yang jernih. Pantai ini juga yang sempat dikunjungi oleh Nara dan Arga ketika berburu sunset.
Pada saat cuaca bagus, pantai ini memiliki air laut yang cukup bersih untuk digunakan berenang. Ombak pantai ini juga tidak terlalu besar, sehingga aman untuk semua usia. Namun, ketika musim hujan datang, disarankan tidak berenang di laut ini karena air laut di pantai ini akan berwarna kecoklatan dan kotor.
Pantai ini juga memiliki pemandangan yang cukup elok. Di sebelah kanan, langsung terlihat curug Cimarinjung. Curug terdekat yang bisa diakses langsung lewat pesisir pantai. Di sekitar pantai juga ada banyak sekali villa yang memiliki desain bangunan yang cantik dan unik.
"Oh my good, beach."
Selain Cacha, ternyata ada satu orang lagi yang begitu antusias saat menyambangi bentangan pantai tersebut. Antusias lelaki bercelana boxer motif polkadot hitam merah tersebut antusias.
"Aduh, Ki. Biasa aja ekspresinya kali. Lo kayak nggak pernah liat pantai aja."
Laki-laki berwajah Europe yang menggunakan celana pendek motif polkadot itu berdecak. "Ya 'kan, namanya juga anak Mommy. Kalau pulang ke rumah, gue jarang berenang. Kalau di basecamp, lo tahu sendiri nggak ada kolam renang. Kalau empang lele sih ada."
"Iya sih. Kita memang jarang weekend juga. Biasanya weekdasy sampai weekend kita kerja di caffe. Selain kerja, kita juga sibuk sekolah sama tawuran. Full job deh pokoknya," sahut satu anggota yang baru saja nimbrung.
"Oleh karena itu, mumpung kita lagi ada disini. Yok, seru-seruan. Mumpung belum dipusingin sama masalah ujian," ujar Iki seraya berkacak pinggang. "Anggap aja lagi healing biar nggak makin sinting."
"Betul tuh kata si Iki," sahut anak SPHINIX yang lainnya.
__ADS_1
"Ya udah yok, berenang," ajak Iki. "Cuaca cerah, di pantai, ditemani sekumpulan cewek berbikini. Nikmat mana lagi yang kau dustakan, slurr."
Selorohan Iki itu kembali jadi pemantik tertawa anak-anak SPHINIX yang lain. Benar kata Iki, selama ini hidup mereka hanya berputar di sekitar sekolah-kerja-tawuran, begitu saja secara terus menerus. Terkadang karena sibuk dengan organisasi, bahkan sampai mengesampingkan masalah pribadi.
"Anak-anak kelihatan lepas banget, mungkin karena udah lama nggak healing," ujar suara deep milik salah satu tangan kanan Arganta Natadisastra. "Lo nggak mau ikutan, Ta?"
"Gak berminat," si empunya nama yang sejak tadi hanya menampilkan wajah wajah flat.
"Lo pasti berubah pikiran setelah ini, Ta," celetuk pemilik suara deep tersebut. "Arah jam enam, kaos oversize putih pakai bawahan peach."
Arga awalnya enggan menoleh, namun karena yang baru saja bicara adalah Orion Gaiden, jadilah ia menurut. Menelengkan kepala, menoleh ke arah yang dimaksud. Onyx hitam miliknya langsung menangkap kekasihnya yang ternyata menggunakan outfit yang barusan Orion ucapkan. Kaus oversize dan celana pendek berwarna peach.
Gadis itu tampak asik bermain air. Senyum cerianya terpatri begitu lebar, seakan-akan ia sangat bahagia hanya karena bermain air. Saking asiknya, ia sampai tidak sadar jika semua mata mai memperhatikan gerak-geriknya. Kaos putih oversize yang digunakannya bahkan sudah basah terkena cipratan air. Membuat siluet tubuh di dalamnya tercetak lumayan jelas.
"Sial*n."
Umpatan kembali lolos begitu aja dari mulut Arganta Natadisastra, membuat lawan bicaranya tertarik untuk menyeringai tipis.
"Berubah pikiran, Ta?"
Arga tidak menjawab. Namun, detik berikutnya ia berjalan menjauh, menggalakan Orion sendirian.
"I mean, lo udah beneran jatuh, Ta." Orion bergumam seraya melihat punggung Arga yang kian menjauh. "....jatuh cinta lebih tepatnya."
...🫐🫐...
...TBC...
...Semoga suka 😘...
...Ada rekomendasi novel keren juga nih 👇...
__ADS_1
Tanggerang 03-12-22