
Bunyi nyaring sirene ambulance terdengar begitu keras, memekikkan telinga. Diiring-iringi oleh beberapa pengendara motor CBR, mobil ambulance tersebut melesat cepat membelah kerumunan jalan. Mereka tengah berjibaku dengan waktu untuk menyelamatkan nyawa seorang pasien.
Diiringi oleh isak tangis kecil seorang gadis, para petugas medis berjibaku sekuat tenaga untuk memberikan pertolongan pertama.
Gadis cantik itu berderai air mata sejak memasuki mobil ambulance. Tangannya menggenggam erat satu telapak tangan lelaki yang wajahnya mulai pucat pasi. Rasa dingin juga melingkupi telapak tangan tersebut. Perasaannya jadi kian risau.
"Denyut nadinya melemah. Pasien juga kehilangan banyak darah."
Nara tercekat. Dunianya terasa berhenti berputar. Jantungnya berdebar-debar. Telinganya seakan berdenging, merekam ulang ucapan salah satu tim medis tersebut. Pandangannya jadi kian buram karena air mata.
"T-olong.... selamatkan Kakak saya...." pinta Nara ditengah-tengah isak tangisnya.
"Kami sedang berusaha sebaik mungkin, dek."
"T-olong.... hiks... selamatkan dia...." Nara kembali menangis di samping lelaki beranting-anting yang tidak sadarkan diri tersebut.
Alat bantu pernapasan sudah terpasang di hidung. Betapa mengenaskan penampilan ketua PIONIX geng tersebut m Pakaianya kotor terkena tanah kering dan darah yang mengering. Nara juga bisa melihat beberapa luka terbuka yang masih mengeluarkan darah, menghiasi tubuh lelaki dengan julukan Burung Api tersebut.
"Kak... bertahan, ya. Kakak kuat, Kakak pasti bisa bertahan," bisiknya di telinga lelaki yang selalu tampil urakan itu.
Malam ini mendung datang bergelung di langit Bandung. Membawa serta rintik-rintik hujan, seakan tahu jika ada kesedihan mendalam yang tengah menimpa salah satu penduduk bumi Periangan tersenyum.
Tiba di rumah sakit, Alexander langsung dilarikan ke unit gawat darurat. Beberapa anak PIONIX yang juga terluka ikut dilarikan ke unit gawat darurat. Sisanya, mereka membagi tugas. Ada yang menghubungi sisa rekan mereka di markas, menunggu rekan mereka mendapatkan perawatan di unit gawat darurat, ada juga yang bertugas mengurus administrasi.
Diantara lalu lalang lelaki berjaket hitam dengan logo burung PEONIX, Nara berjongkok di depan pintu unit gawat darurat, memeluk lututnya sendiri. Ia masih tidak bisa menahan air mata yang masih deras bercucuran. Jantungnya masih berdetak tak karuan, membayangkan apa yang terjadi pada si Burung Api di dalam sana.
Tiba-tiba sebuah sapu tangan terjulur ke arahnya. Sapu tangan itu berwarna putih dengan bordiran burung PEONIX berwarna merah serta inisial ALN di bagian ujung kiri.
"Alex ngasih ini pas gue nangis."
Nara mendongkrak. Menatap laki-laki yang menjulang tinggi di hadapannya. Saat pertama kali melihatnya, Nara jadi teringat salah satu tokoh Anime kesukaannya. Laki-laki itu milik rupa yang khas, jelas memiliki campuran darah Jepang atau Korea.
"Gue Blake, kaki tangan si Alexander." Lelaki yang berdiri menjulang di hadapan Nara itu memperkenalkan diri.
Pelipis kiri lelaki itu tampak dihiasi kain kasa. Ujung bibir bagian bawahnya juga terluka. Memar menghiasi beberapa sudut wajahnya. Kemungkinan besar, Blake ini ikut serta dalam perkelahian yang terjadi beberapa waktu yang lalu.
"Lo Aleanska Nara, 'kan? cewek nya Arganta Natadisastra, leader of SPHINIX."
"Kamu kenal aku?"
Blake mengangguk samar. "Kerja sampingan gue jadi stalker. Kebetulan, lo target utamanya."
"K-amu menguntit aku?" Nara terkejut bukan main atas kegamblangan lelaki yang memperkenalkan diri sebagai Blake itu.
"Lo polos banget ternyata. Gitu aja percaya. Kalau gue bilang anak anggota DENSUS 88, lo percaya juga?"
Nara mengangguk, lantas menggeleng. Ia juga tidak tahu kenapa bereaksi demikian. Mungkin saking tidak sejalannya antara otak dan pikiran.
"Ternyata lo memang gemesin. Pantes aja si Alex sampe segitunya protektif sama lo."
"Kakak kenal Kak Alex?"
"Pertanyaan bodoh," sahut Blake. "Jelas gue kenal dia. Gue kaki tangannya si Burung Api."
"Oh, I-ya, maaf." Cicit Nara dengan suara kecil. Ia benar-benar tidak fokus.
"Berdiri, duduk di sini," ajak Blake. Nara menurut tanpa banyak bicara. Sepertinya Blake baik dan dapat dipercaya untuk saat ini.
Nara dan Blake pun memilih duduk di kursi deret yang ada di depan unit gawat darurat. Kursi yang biasa digunakan untuk para anggota keluarga atau kerabat pasien menunggu.
"Kenapa lo nekad nolongin Alexander? Padahal tadi itu bahaya."
Nara menoleh. "K-arena aku harus."
Blake menatap Nara balik. "Sebuah keharusan pasti punya alasan, kan? Lo bisa aja terluka kalau berbuat gegabah."
__ADS_1
Membuang muka, Nara memilih menghindari tatapan Blake. "Kak Alex sering bantu aku," lirih Alea. "Aku sering suruh dia pergi, tapi dia tetap kembali."
"Itu karena dia sayang sama lo."
Nara menoleh refleks. "Maksud kamu?"
"Si Burung Api selalu bilang gini, 'jaga apa yang lo anggap berharga, karena penyesalan selalu datang terlambat'. Lo berharga buat dia. Makanya dia jaga lo mati-matian."
Nara menunduk dalam mendengarnya. Air matanya kembali berjatuhan. Entah kenapa ia menjadi sangat cengeng hari ini. Ia hanya tidak bisa menghalau ketakutannya saat melihat Alexander baring bersimbahan darah. Demi Tuhan, lelaki itu berharga baginya.
Lelaki yang selalu ia jauhi dan teriaki dengan kata 'pergi' itu berharga. Lelaki yang ia benci semenjak kematian Seno itu, siapa sangka adalah sosok yang selama ini ia cari keberadaannya.
"Kak Alex pasti selamat 'kan?"
"Entah." Blake menjawab sambil menengadahkan kepala. "Kita cuma bisa berdoa dan menggantungkan harapan pada sang Maha Kuasa. Selain itu nggak ada yang bisa kita lakukan sebagai orang terdekatnya."
Blake memberikan jeda di antara kalimatnya.
"Tapi, sejauh yang gue tahu. Alexander itu kuat. Dia bisa bertahan walaupun sesak dan sakit menyerangnya secara bersamaan. Fyi, dia udah hampir mati dua kali." Blake terkekeh kecil jika mengingat ketangguhan Alexander untuk bertahan hidup selama ini.
"...."
"Lo berdoa aja supaya kali ini dia nggak lelah bertahan dan pada akhirnya menyerah."
Nara menitihkan air matanya sambil menggenggam sapu tangan yang Blake berikan. Ia tidak mau sesuatu yang buruk terjadi kepada Alexander. Demi tuhan, lelaki itu kakaknya.
Kakak lelaki yang ia cari bertahun-tahun lamanya.
"Di mana Alexander?"
Nara dan Blake mendongrak. Keduanya menatap seorang wanita tengah baya dengan dress berwarna hitam mewah yang berjalan tergesa-gesa ke arah mereka. Salah satu tangannya tampak menjinjing tas hermes Himalayan Burkin. Ketukan heels hitam miliknya begitu menggema di lantai rumah sakit yang dingin.
"I-bu?" cicit Nara ketika pandangan mereka bertemu.
PLAK!
"Jaga sikap, Tante. Ini rumah sakit." Blake bersuara. Ia dengan sigap berdiri melindungi Nara.
"Ck. Minggir kamu, urusan saya bukan dengan kamu. Saya punya urusan sama anak pembawa sial ini!" Wanita itu berujar murka sambil mencoba menggapai tubuh Nara. "Sudah saya katakan untuk pergi dari kota ini. Kamu itu pembawa sial! Apa kurang uang yang saya berikan untuk kamu dan Ayah tuli kamu itu kurang?;"
Blake tetap memasang tubuhnya sendiri untuk menjadi tameng. Ia tidak peduli jika jemari ber-nial art milik wanita yang tengah mengamuk itu melukai tubuhnya. Ia akan tetap menjaga adik si Burung Api sesuai janji.
"Gara-gara kamu putraku terluka, sial*n! Dasar anak tidak tau diri?!"
Nara hanya bisa menunduk sambil menangis di balik tubuh Blake yang melindunginya.
"Ssane, cukup!"
"Mas, dia-"
"Ini rumah sakit. Jaga etika kamu, Ssane." Pria yang baru saja tiba itu menegur tingkah sang istri. "Di mana putra kita?"
"Alexander masih ditangani oleh dokter." Wanita yang dipanggil Ssane itu melunak. Ia berdiri di samping sang suami, sambil menatap tajam ke arah Nara.
"Kamu teman Alexander?" tanya pria berkaca mata tersebut.
Blake mengangguk. Ia tentu mengenal pria tersebut. Ia adalah Utama Natadisastra, ayah biologis Arganta Natadisastra, Alexander Natadisastra dan Alexanderia Natadisastra.
"Hm. Ada apa Om?"
"Bawa gadis gembel di belakang kamu pergi. Saya tidak mau melihatnya ada di sini."
Nara terhenyak mendengarnya. "A-ku nggak mau pergi."
"Om dengar sendiri bukan?" ujar Blake sekenanya.
__ADS_1
Utama menyeringai tipis. "Kalian ini mau melawan perintah saya....." kalimat pria itu terpotong saat pintu unit gawat darurat terbuka.
Seorang dokter muncul dari dalam sana. "Apa benar, ini dengan keluarga pasien bernama Alexander Natadisastra?"
"Iya, Dok. Saya ibunya." Sussanne menjawab dengan cepat.
"Bagaimana kondisi putra kami, Dok?" Utama ikut bertanya.
Sekeras apapun Alex menolak mengakui Utama sebagai seorang Ayah, mereka tetaplah memiliki ikatan darah. Karena Utama, Alexander dan Alexanderia lahir ke dunia.
Walaupun keras kepala, suka berbuat onar, suka seenaknya, Alexander tetaplah darah daging Utama Natadisastra. Bohong jika Utama tidak menyayangi para keturunannya.
"Pasien mengalami luka parah di bagian kepala akibat pukulan benda tumpul," tutur dokter tersebut.
Nara langsung luruh dari posisinya. Untung saja Blake sigap menahan tubuh Nara, sehingga gadis itu tidak langsung jatuh ke lantai.
Air mata Nara juga kembali mengalir deras. Sussanne pun berada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Wanita itu kini menangis histeris dalam pelukan sang suami.
"Tindakan operasi harus segera dilakukan untuk menolong pasien."
"Lakukan secepatnya, Dok. Lakukan tindakan apapun untuk menolong putra saya." Utama berujar penuh penekanan.
Dokter itu mengangguk. "Jika begitu kami membutuhkan orang tua pasien untuk menandatangani surat persetujuan."
"Baik," jawab Utama.
"Selain itu, pasien juga kehilangan banyak darah. Kami butuh donor darah untuk pasien, karena saat ini tipe golongan darah pasien sedang kosong. Pihak rumah sakit sedang menghubungi pusat."
"Ambil darah saya, Dok." Nara tiba-tiba bersuara. Membuat semua orang menoleh padanya.
"Apa golongan darah kamu, Nak?"
"A plus, Dok."
"Golongan darah pasien AB negatif , salah satu golongan darah yang langka. Pasien hanya bisa menerima transfusi dari golongan darah AB negatif, A negatif, B negatif, dan O negatif," tutur dokter tersebut.
"Golongan darah saya A negatif, Dok." Sussanne buka suara. Ada peluang untuknya menyelamatkan sang putra.
"Kamu memiliki riwayat hipertensi, Sussanne." Utama memperingati sang istri.
Ia sendiri tidak dapat melakukan donor darah kepada sang putra, karena alasan kesehatan. Padahal ia bisa saja menjadi pendonor.
"Kalau begitu telepon Alexa. Dia kembaran Alexander bukan?" Blake buka suara. Opsi tersebut sepertinya kedengaran bisa digunakan.
"Alexa tidak bisa mendonorkan darahnya," ujar Utama. Ia tahu betul jika putrinya itu memiliki tipe darah yang berbeda dengan Alexander.
"Mas, gimana ini?" tanya Sussanne, risau.
Nara pun hanya bisa terisak di samping Blake. Blake juga tidak bisa menolong. Golongan darahnya bukan AB negatif atau golongan darah yang bisa mendonorkan darahnya untuk Alexander.
"Hanya satu orang yang bisa membantu Alexander."
Mereka semua mengangkat pandangan, menatap Utama yang baru saja bersuara. Pria paruh baya itu buka suara serata menatap nyalang ke arah unit gawat darurat.
"Siapa, mas?"
Utama menghela nafasnya sejenak, sebelum kembali buka suara. "Arga."
"Arga? T-api bukannya Arga sangat benci Alexander? Mana mungkin dia mau menolong Alexander, Mas." Tangis Sussanne kembali terdengar. Mana mungkin putra tirinya itu mau menolong putra kandungnya. Ia tahu betul dendam yang Arga miliki untuk dirinya serta kedua anaknya.
Utama mengangguk paham. Ia tahu maksud dari kerisauan sang istri. "Saat ini cuma Arga yang bisa menolong Alexander. Mengingat golongan darah mereka sama, yaitu AB negatif."
...**...
...TBC...
__ADS_1
Tanggerang 17-12-22