Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
E P I L O G


__ADS_3

Tangis bayi perempuan yang cukup nyaring menjadi soundtrack khas di sebuah rumah yang memiliki tiga kamar tidur tersebut. Dari arah dapur, seorang ibu muda dengan dress rumahan datang tergopoh-gopoh. Bergerak menuju pintu bercat Lilac.


"Kamu apain anak aku?" tanyanya galak saat mengambil alih bayi cantik berpipi gembul dari rengkuhan seorang lelaki.


"Nggak gue apa-apain," sahut lawan bicara. "Gue gigit doang pipinya."


Ibu muda itu tampak mendengus mendengarnya. "Kamu pikir anak aku makanan? kasihan. Nangis, 'kan?"


Lelaki yang tengah rebahan di atas ranjang itu terkikik geli. "Santai dong, little Mom. Gue nggak apa-apain si chubby kok."


"Nggak usah ganti-ganti nama anak aku. Ayahnya udah kasih nama cantik."


Lelaki pemilik tato burung peonix api itu tertawa renyah. Sudah menjadi kebiasaanya di pagi hari menganggu bayi cantik penghuni rumahnya, supaya sang ibu menjelma jadi singa betina.


"Cantik apaan? hasil copas di google aja bangga."


"Jangan asal bicara kamu, Kak. Ambil dari google juga butuh usaha," ketus ibu muda tersebut. "Btw, kamu nggak kuliah? kok masih santai-santai?"


Lelaki itu beranjak, lantas berjalan mendekat ke arah si ibu muda. Senyumnya masih bertahan di bibir. Pandangan terkunci pada si cantik yang ja suka panggil chubby. Gemas sekali dengan si chubby sudah seperti anaknya sendiri.


"Gemes. Pagi-pagi Mazaya udah wangi baby powder aja," katanya setelah mengecup pipi gembul si chubby.


Mazaya adalah nama bayi perempuan yang belum genap setahun. Nama itu diambil dari bahasa Arab yang artinya kelebihan, keunggulan, dan keistimewaan.


"Itu karena ibunya rajin, makanya Mazaya jam segini udah wangi." Sahut ibunya, sambil menoyor kepala lelaki tersebut. Jika ada suaminya, lelaki itu mana berani mem-bully.


"Ck, sakit. Lo itu kayaknya bukan kembaran gue deh? masa kakak sendiri disakiti."


"Ngode buat tes DNA atau gimana, Kak?"


Lelaki itu mengedipkan bahunya acuh seraya berjalan ke luar. "Gak usah deh, buang-buang duit."


Semakin dewasa bukannya semakin bijaksana, lelaki itu malah semakin ada-ada saja tingkahnya. Padahal dulu ia terkenal sebagai ketua geng yang sangar dan liar.


"Kak Alex, ayo sarapan." Panggilan dari arah dapur menyambut kehadiran lelaki rupawan pemilik mata sipit tersebut.


"Sarapan sama apa nih?"


"Ayam mentega, tumis brokoli, sama sup. Itu aja, nggak apa-apa 'kan?"


Lelaki itu mengangguk dengan semangat. Gadis yang baru selesai memasak itu dengan segera mengambilkan nasi beserta lauk-pauk yang sudah tersedia di atas meja.


"Gimana rasanya, Kak?"


"Always nice," jawab lelaki tersebut, sumringah. Baginya makanan sederhana buatan sang adik sudah seperti makanan dari restoran bintang 5.


"Kalau gitu makan yang banyak, Kak."


"Siap."


Suasana hening menyelimuti ruang makan makan tersebut. Namun, tak bertahan lama karena kehadiran satu orang manusia.


"Assalamu'alaikum, everybody."


Suara melengking diiringi derap langkah itu berasal dari arah depan. Membuat mereka yang sedang berada di meja makan menoleh. "I'am coming everybody."


"Waalaikumsalam, Cha. Sini, ikut sarapan sama kita."


Gadis dengan t-shirt warna hijau purple yang dipadukan dengan jeans sebagai bawahan itu datang membawa beberapa buku paket. Raut wajahnya tampak sumringah. "Udah kenyang, beb. Niatnya kesini cuma mau jemput lo. Ayang aku udah nunggu di depan tuh."


"Kenapa nggak diajak masuk sekalian, Cha?"


"Ayang gue mageran. Dia lagi selingkuh sama berkas-berkas organisasi badan eksekutif mahasiswa," ujarnya seraya mengerucutkan bibir. "Resiko punya ayang mahasiswa kura-kura."


"Apaan tuh mahasiswa kura-kura?" sambung satu-satunya lelaki di sana.


"Mahasiswa kuliah-rapat-kuliah-rapat."


"Oh. Kalau cowok lo mahasiswa kura-kura, Lo mahasiswa apaan?"


"Gue sih mahasiswa kupu-kupu, Bang."


"Istilah apaan lagi tuh?"


"Kuliah-pulang-kuliah-pulang," tutur Cacha.


"Ck. Ada-ada aja."


"Bukan ada-ada aja, Abang handsome. Abang aja yang kudet alias kurang update."


Lelaki yang sudah menyelesaikan sarapannya itu mendengus sebal. "Dek, mending kamu jauhi temen spesies kayak gini. Aneh," katanya pada sang adik.


"Ish, Bang Alex kok gitu sama Cacha."


Pemilik nama lengkap Alexander Natadisastra itu bergidik. "Anj*r, geli. Adik bukan, manggilnya Abang. Memangnya gue tukang ojek?" sewot Alexander, kesal.


"Nah, itu tau."

__ADS_1


"Sial*n lo bocah ungu!"


Cekcok antara gadis pecinta Bangtan Boys garis keras dengan mantan ketua geng SPHINIX itu sudah jadi makanan sehari-hari bagi gadis yang sejak tadi memilih jadi penonton.


Hatinya menghangat setiap kala orang-orang terdekatnya bercengkrama tersenyum, dan tertawa. Ia sempat kehilangan momen ini saat tertidur selama 45 hari. Ia juga sempat lupa cara bahagia setelah terbangun dari tidur panjang.


"Nara."


"Ah, iya. Kenapa?"


"Pangeran berkuda besi lo udah di depan. Mau sampai kapan ngelamun?" Gadis yang setia dengan potongan rambut sebahu itu tersenyum jenaka kala wajah innocent sang sahabat. "Dia mau jemput lo 'kan?"


"Astagfirullah, iya. Aku sampe lupa." Nara langsung bergegas. Gadis cantik itu langsung berlari menuju kamarnya. Meninggalkan sang sahabat dan kakaknya di ruang makan.


"Nara pagi-pagi udah telmi aja," celoteh Cacha. Merasa ada yang sedang memperhatikan, ia lalu menoleh ke samping. Ternyata benar, ada sepasang mata yang sedang memicing ke arahnya.


"Duh, typo. Gue nggak maksud jelek-jelekin Nara," ralatnya dengan segera. "Gue pamit dulu, Bang. Sarapan yang kenyang. Kalo keselek jangan lupa minum, Bang."


Baru saja hendak membalas perkataan tersebut, Alexander benar-benar tersedak makanan terakhir yang sedang ia kunyah.


🫐🫐


"Udah nunggu lama, Kak?"


"Hm."


"Maaf. Kakak pasti marah sama aku?"


"Nunggu 15 menit nggak sebanding sama nungguin lo bangun 49 hari lamanya," jawab lelaki rupawan yang tengah duduk di atas kuda besi kebanggaan.


Gadis cantik itu tersenyum kecil. Ia kemudikan menerima helm yang disodorkan oleh sang pujaan hati. "Tumben Kakak jemput jam segini. Ada jadwal matkul (mata kuliah) pagi?"


"Hm."


"Habis pulang kuliah, Kakak mau kemana dulu?" gadis itu bertanya sambil mendudukkan dirinya di kursi penumpang.


"Kumpul."


"Sama Kak Alexander juga?"


"Hm," respon sang kekasih. Dengan perhatian ia ikut memastikan gadisnya duduk dengan aman dan nyaman.


Hari demi hari telah berlalu. Sudah dari 2 tahun mereka memulai hidup baru. Dalam kurun waktu tersebut banyak yang telah terjadi, di antaranya kasus percobaan melarikan diri dari lapas Nusakambangan yang dilakukan oleh Utama. Namun, percobaan itu mendapati kegagalan. Pada akhirnya Utama tetap mendapatkan hukuman mati.


Sedangkan Sussanne sempat melakukan drama pura-pura gila supaya mendapatkan keringanan. Alih-alih mendapatkan keringanan hukuman, Sussanne malah didiagnosa terkena HIV. Sekarang wanita yang sudah melahirkan Alexander dan Alexa itu sudah tiada, setelah berjuang hidup dan mati melawan penyakit yang belum ada obat mujarabnya.


Sebagian seorang suami, Andrew tentu punya wewenang untuk mengusut tuntas masalah tersebut. Mengingat gadis yang kini menjadi istrinya hampir mengakhiri hidup karena perbuatan manusia yang tidak tahu diri seperti Putri.


"Kita nge-camp sambil sunmori ke Puncak gimana?" usul lelaki dengan Hoodie coklat muda tersebut. Salah satu kepercayaan leader of SPHINIX.


"Boleh juga, tuh. Nanti kita bawa bendera yang baru buat konvoi," imbuh suara yang lain milik salah satu kepercayaan si burung api, Blake.


"Semua keputusan ada di leader sana second leader. Acc atau enggak planning ini?" kini giliran Iki yang bertanya.


Dua lelaki yang dimaksud tampak berpikir sejenak. Keduanya duduk berhadapan seraya menatap para anggotanya datar.


"Boleh. Iya nggak, Kak?" tanya salah satunya. Buka suara terlebih dahulu.


"Hm. Asal lihat situasi dan kondisi," jawab lelaki yang dimaksud.


Mereka yang dulu sering beradu, sekarang menjadi satu dalam sebuah kubu. Pasukan yang dulu terpecah belah, kini saling bahu-membahu.


"Gue cabut dulu." Lelaki yang berjuluk leader of SPHINIX itu beranjak sambil meraih jaket serta kunci motor.


"Mau kemana, Ta?" tanya salah satu temannya.


"Jemput ibu Negara?" sahut yang lain. Penasaran.


"Mau jalan sama cewek gue," sahut Arga gamblang. Ia lantas menepuk bahu adik tirinya. "Kalau Maghrib belum balik, jangan cariin dia."


"Jangan pulang kemalaman," pesan Alexander. "Isya harus udah ada di rumah."


"Hm." Leader of SPHINIX menjawab sebelum benar-benar melangkah pergi meninggalkan markas.


Arga sudah punya janji dengan sang kekasih. Dengan kecepatan sedang ia memacu kuda besinya untuk membelah jalanan kota Kembang. Tiba di depan Lumiere Cafe, ia menghentikan laju kendaraannya. Tak berselang lama, kekasihnya tampak muncul dari balik pintu seraya melambaikan tangan tinggi-tinggi.


"My cute girl," lirih Arga seraya mematikan mesin motor.


"Ayo kita berangkat!" seru kekasihnya, gembira saat menerima helm Arga.


"Pegangan yang bener."


"Udah," jawab gadis cantik yang sudah duduk di kursi penumpang belakang itu.


"Yang erat, nanti jatuh, sayang."


Gadis cantik itu tersenyum di balik punggung lebar sang kekasih. Dengan segera ia mengeratkan lingkaran tangannya. "Udah."

__ADS_1


"Kita berangkat."


Kuda bersi itu pun melaju. Meninggalkan pelataran Lumiere Cafe. Mereka berkendara dengan kecepatan rata-rata agar bisa menikmati perjalanan. Ketika memasuki rute yang mulai sepi penduduk, laju kendaraan tersebut kian pelan.


"Hati-hati," kata Arga, memperingati. Dengan sigap ia meraih pinggang sang kekasih yang hampir saja terjatuh.


Gadis itu tersenyum seraya menatap Arga dengan tatapan seolah-olah mengatakan jika dirinya tidak apa-apa.


Perjalan kembali mereka lanjutkan. Melewati pepohonan yang tumbuh tinggi dengan daun yang rimbun. Cukup lama mereka berjalan, sampai akhirnya tiba di padang Savana yang hijau. Di tengah padang tersebut masih berdiri kokoh sebuah rumah pohon yang memiliki ayunan kayu.


Senyum Nara semakin lebar ketika melihat rumah pohon itu. Ia memutuskan untuk berlari kecil untuk menjangkau tempat tersebut. Di belakangnya, Arga ikut tersenyum tipis melihat tingkah kekasihnya yang begitu menggemaskan.


"Tempatnya masih sama. Bersih, nyaman, dan terawat." Nar berkata seraya berjalan kesana-kemari. Seolah-olah tengah memindai seluruh benda yang ia temui. "Kakak suruh orang buat rawat tempat ini?"


Pandangannya beralih sang kekasih yang sedang duduk di ujung tempat tidur minimalis yang menjadi salah satu fasilitas di rumah pohon tersebut.


"Hm."


"Pantas," gumam Nara. Setelah sekian lama tidak berkunjung, ia senang bisa datang ke tempat ini lagi.


"Sini," panggil Arga.


Gadis itu menoleh. Ia tersenyum tipis sambil mendekat. "Kenapa, Kak?"


Arga tidak menjawab. Tanpa suara ia merengkuh tubuh sang kekasih. Menghirup rakus aroma buah, aroma khas kekasihnya. Aroma fresh yang selalu membuatnya tenang.


"Kakak kenapa?" tangan Nara terulur untuk membalas pelukan Arga. Sebelah tangannya bergerak pelan menyentuh belakang kepala lelaki itu.


Usut punya usut, Arga sangat suka jika kepala bagian belakangnya diusap demikian.


"Kakak kenapa sih? Capek?"


"Kangen," jawab Arga dengan suara kecil. Teredam oleh posisinya yang membenamkan separuh wajahnya di perpotongan antara leher dan bahu sang kekasih.


"Aku 'kan di sini. Enggak kemana-mana, kok kangen?"


"Ngga tau, bawaannya kangen lo terus."


Nara tersenyum seraya mengurai pelukan di antara mereka. "Masa?" godanya.


"Hm." Arga menjawab sekenanya. "Jangan pernah coba-coba pergi lagi, karena gue nggak akan biarin lo pergi."


Nara menatap sang kekasih. Seulas senyumnya tersungging. Kedua tangannya bergerak pelan menyentuh rahang tegas lelaki berjuluk leader of SPHINIX itu. Dibales oleh kecupan singkat pada kedua telapak tangannya.


"Gue udah ketergantungan sama lo. Jadi jangan pernah pergi lagi, karena gue nggak sanggup kehilangan lo."


Nara mengangguk, ia juga tak berniat untuk meninggalkan Arga. "Aku akan tetap tinggal di sisi Kakak. Selama Kakak tidak mendorong aku pergi."


Arga berdecak mendengarnya. "Gue nggak mungkin mendorong lo pergi."


Tertawa. Itulah respon yang Nara berikan kepadanya.


Arga senang sekali jika melihat kekasihnya bisa tertawa lepas seperti saat ini. "Besok tengokin Mamah gue, mau?"


Nara terdiam untuk sejenak. Sepersekian detik berikutnya, ia mengangguk. "Iya. Aku juga mau menyampaikan sesuatu sama Mamanya Kakak."


Arga tersenyum mendengarnya. Senyum yang tidak pernah ia perlihatkan kepada siapapun, kecuali pada Aleanska Nara. Besok ia akan mengunjungi ibunya lagi. Kali ini bersama calon menantunya bagi ibunya.


"Gue menggila karena jatuh cinta sama lo, Nara," ungkapnya seraya meraih bagian belakang kepala sang kekasih dengan lembut. Merangkum jarak diantara mereka hingga tak tersisa. Lantas membubuhkan ciuman lembut di bibir sang kekasih. Meramu segala jenis rasa yang ada di antara mereka.


Untuk kali ini Arga hanya ingin hidup bersama Nara. Tak apa ia tidak memiliki apa-apa, karena baginya Nara sudah lebih dari cukup. Entah kebaikan yang ia perbuat di masa lalu, sehingga Tuhan berbaik hati memberinya pasangan seperti Aleanska Nara. Gadis yang pernah ia anggap seperti benalu. Namun, kini ia begitu ketergantungan padanya yang membawa harapan baru.


"Semester depan kita nikah, ya? kali ini gue nggak nerima penolakan," bisik Arga, tepat di telinga Nara.


"K-enapa buru-buru, Kak?"


"Gue udah nunggu dua tahun, sayang."


...🫐🫐...


...THE END...


...YEY, SAMPAI DI SINI PERJALANAN ARGA, NARA, ALEXANDER, ALEXA & THE GENG....


...Terima kasih buat yang sudah baca cerita UFB sampai part EPILOG. Komentar, like, vote, dan semua bentuk dukungan Readers lah yang menjadi bahan bakar untuk memacu semangat Author 😂...


...Kalian suka ceritanya? kasih ulasan dikit dong di kolom komentar mengenai cerita UFB....


...Jangan lupa baca cerita Author Kaka Shan yang lainnya 😘😘😘😘😘😘...





...Tanggerang 02-01-23...

__ADS_1


__ADS_2