Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
³²UFB


__ADS_3

"Gue lebih dari sekedar egois."


Nara menatap Arga tidak suka. Entah ada apa dengan takdirnya, sehingga ia harus dipertemukan dengan laki-laki rumit seperti Arganta Natadisastra. Jalinan hubungan yang mengikat mereka berdua selama ini juga sama anehnya.


Nara tidak pernah berkata 'ya' untuk setuju menjadi pacar Arga. Ia juga tidak bisa sekedar mengatakan 'tidak' untuk menjadi pacar Arga, karena laki-laki itu tidak pernah memberinya kesempatan untuk itu.


"Makan. Gue tahu lo butuh makan," titah Arga sambil menyodorkan sebuah kantung kresek hitam yang entah sejak kapan ia bawa.


"Gak mau," tolak Nara mentah-mentah.


"Lo mau masuk rumah sakit gara-gara mogok makan? Mau penyakit lambung lo makin parah?"


"Dari mana Kakak tahu?"


Arga tersenyum misterius melihat ekspresi terkejut di wajah gadisnya. "Apa yang nggak gue tahu soal Aleanska Nara, pacar gue."


"..."


"Mending lo makan, terus minum obatnya."


Lelah mendebat, akhirnya Nara mengalah. Memilih menerima kresek hitam tersebut lalu mengeluarkan beberapa isi dari dalamnya. Ada satu botol air mineral, obat-obatan, dan satu kotak styrofoam berisi bubur.


Keheningan kembali menyelimuti saat Nara memilih mengisi perut. Arga juga mengunci bibirnya sambil menatap Nara, sedangkan Nara memutuskan untuk makan dengan tenang. Hingga decitan pintu membuat mereka berdua teralihkan.


"Memangnya lo belum tau?"


"Tau apaan?"


Nara mengedarkan pandangan ke sekeliling tirai penyekat dimana saat ini ia berada. Sepertinya ada dua anak PMR yang baru datang masuk ke ruangan ini. Dari suaranya, mereka pasti anak perempuan.


"Anak PMR?" bisik Nara sambil menatap Arga.


Yang ditatap hanya mengedipkan bahunya acuh. "Memangnya kenapa?"


"Pssstt, Kakak pelan-pelan bicaranya dong!" ujar Nara, risau.


"Terserah gue, bibir bibir gue."


"Please, Kak," pinta Nara memelas. Ia hanya tidak ingin mereka tahu ada Arga menemaninya di sini. Bisa runyam masalahnya.


"Hm." Arga merespon singkat, lalu kembali menatap bubur yang sedang dinikmati Nara. "Makan lagi," tambahnya.


"Iya."


Nara memang tidak mau mereka sadar jika di sini ada Arganta Natadisastra. Walaupun hubungannya dengan Arga sudah digembar-gemborkan, Nara tetap saja tidak mau memancing opini kurang menyenangkan. Hidupnya belakangan sudah runyam, nanti malah tambah runyam.


"Kak Arga kayaknya udah baikan sama Kak Alexa Lagai deh." Salah satu dari dua anak PMR itu angkat suara.


"Maksudnya?"


"Lo nge-follow Instagram nya Kak Arga? Masa enggak sih?"

__ADS_1


"Iya, gue follow kok. Tapi, gue belum buka Instagram dari kemaren. Nggak punya kuota gue."


"Dasar. Wifi 'kan ada, lo jadi kudet kalau gak online."


"Iya deh, memangnya Kak Arga nge-notice gimana sih? sampai-sampai lo bilang mereka baikan?"


"Nih lihat postingan nya Kak Arga, ini 'kan yang digandeng tangannya Kak Alexa? Lihat dong cincin nya."


"Iya, iya, gue juga tahu. Tapi, kok bisa ya? secara 'kan, mereka selama ini kayak musuhan walaupun adik-kakak?"


Nara masih mendengarkan dengan seksama di balik tirai. Walaupun netranya tertuju pada bubur yang tengah diaduk-aduk tak menentu, pikirannya berkelana kesana kemari. Sedangkan Arga, onyx hitamnya mulai memicing mendengar namanya disebut-sebut.


"Bangs*t!" umpatnya tiba-tiba, sadar apa kemungkinan yang sebenarnya bisa dan telah terjadi.


"Kak, jangan berisik," lerai Nara, memperingati.


"Lo dengar ada yang mengumpat?"


"Enggak tuh," ujar dua siswi yang masih berada di ruangan tersebut, bergantian.


"Jadi mereka beneran baikan, ya?"


"Kayaknya sih iya. Secara 'kan mereka bersaudara. Lebih tepatnya sibling goals."


"Terus si Nara gimana, ya? kebanting banget tuh sama Kak Alexa."


"Halah, si upik abu itu palingan cuma dijadiin babu sama Kak Arga. Sama kakaknya dipacari, terus sama adiknya di-bully."


"Bahasa lo, tapi kalau iya, kasian banget tuh si Nara."


"Iya."


"Ya udah, yuk pergi. Horor juga lama-lama di sini."


Tidak ada suara yang terdengar lagi setelah itu. Nara yakin jika mereka berdua sudah sudah pergi. Pasalnya tidak ada lagi suara yang memecahkan keheningan diantara mereka berdua.


Sepeninggalan kedua siswi tersebut, Nara maupun Arga kompak memilih bungkam.


Nara memilih diam seribu bahasa sambil merenungkan kata-kata dua siswi tersebut. Sedangkan Arga, satu tangannya sudah terkepal. Matanya menatap nyalang ke arah layar handphone miliknya sendiri.


"Mana handphone lo?"


"Eh?" Nara tentu saja kebingungan, tiba-tiba Arga meminta handphone miliknya.


"Handphone lo?" pinta Arga sekali lagi.


Nara mengangguk, walaupun sempat kebingungan. Ia lantas mengeluarkan benda pipih yang dimaksud Arga dari saku rok yang digunakannya. Menyerahkan benda itu kepada Arga, langsung diterima dengan baik olehnya.


"Kakak mau apa sama handphone?"


"Berisik!" jawab Arga yang masih sibuk dengan kedua handphone di tangganya. "Nih."

__ADS_1


Nara mengernyit bingung sambil menerima handphone nya lagi. Apa yang telah laki-laki itu lakukan dengan handphone miliknya?


"Lo satu satunya pacar gue, camkan itu," tukas Arga tiba-tiba dan penuh penekanan. Seolah-olah ingin Nara tahu jika Nara adalah satu-satunya.


"Lo satu-satunya. Itu berarti nggak akan ada yang kedua, apalagi ketiga."


Nara masih mematung bingung. ia juga sejak tadi menatap Arga, namun tidak langsung paham akan maksud dari ucapan laki-laki tersebut.


"Lo harus percaya sama gue."


Untuk percaya atau tidak, Nara masih bingung dan butuh pertimbangan. Bagaimanapun juga hubungannya dengan Arga memang tampak membingungkan sejak awal. Belum lagi pondasinya begitu apuh, rawan dan mudah terkena goncangan apalagi terpaan badai.


Arga mungkin saat ini bisa berkata jika Nara satu-satunya. Akan tetapi, masih ada ragu yang selalu membelenggu Nara. Soal bagaimana laki-laki itu berucap janji, namun ia juga yang mengingkari. Butuh bukti yang kongkrit untuk mempercayai seseorang pada saat ini. Dan Nara cuma butuh bukti, bukan ajaran kata-kata atau janji semu lagi.


🫐🫐


@TendeanSenopati_337



🤍 2.999 💬999


@TendeanSenopati_337 ❤️


8 jam yang lalu......


@ArieHiki_official2


Wetss, bau bau manipulasi user ini?? @TendeanSenopati_337


@GenbuGalib_Ra ada apa dengan sang Jendral? @TendeanSenopati_337


@Rezhaz__ potek💔 @TendeanSenopati_337


@JonielaRisty00 Ambyar😢😢😢😢


@TendeanSenopati_337


@Rheanezz Go fublik nih kak 😢😢


@TendeanSenopati_337


@Liliaaan__ @TendeanSenopati_337


💔💔💔💔💔


TBC


Kalau cowok itu harus pegang kata-kata, Kak Argaaa 😸


Ada rekomendasi novel keren juga nih 👇

__ADS_1



Tanggerang 25-11-22


__ADS_2