Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
⁷²UFB


__ADS_3

"Arga dipanggil juga, Kak?"


"Kemarin gue udah bilang, 'kan? ngapain make nanya-nanya lagi?" respon lelaki beranting-anting yang sedang menikmati segelas Americano itu.


"Bukan gitu, Arga kayak belum kelihatan aja. Dia juga nggak ada di cafe semalam."


"Dia ada di markas SPHINIX," sahut Alexander, lawan bicaranya gadis yang pagi itu menggunakan skirt Zara berwarna abu-abu dengan atasan ribbed T-shirt dari H&N berwarna putih. Kedua kakinya dibalut flatshoes demi formal. Mengingat ia akan mendatangi kantor polisi, bukan cafe apalagi mall.


Kembarannya sendiri tampak sangat kasual, hadir dengan celana jeans hitam yang dipadukan dengan kaos putih polos yang dilapisi jaket bomber.


Alexa dan Alexander akan memenuhi panggilan pihak kepolisian. Mereka datang berdua menggunakan kendaraan roda empat, meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan terjadi. Benar saja, saat tiba di kantor polisi sudah banyak paparazi. Untung saja Alexander sudah menghubungi Blake untuk meminta bantuan ayahnya.


Ayah Blake punya koneksi yang memadai untuk membantunya dan sang kembaran. Untuk jaga-jaga, Alexander dan Alexa tentu saja butuh kuasa hukum untuk perlindungan. Walaupun ditetapkan sebagai saksi, tidak menutup kemungkinan jika seorang saksi pada akhirnya ditetapkan sebagai tersangka.


Arga juga sama dengan mereka. Dipanggil oleh pihak kepolisian untuk memberikan kesaksian. Namun, agaknya mereka dipanggil dengan waktu yang berbeda. Sedangkan Alexa dan Alexander dipanggil dalam waktu bersama. Sebagian warga negara yang patuh akan hukum, sudah sepatutnya mereka memenuhi panggilan kepolisian. Setelah tiba di kepolisian, ada beberapa butir pertanyaan yang telah disiapkan untuk mereka jawab.


Walaupun hanya beberapa butir pertanyaan yang harus dijawab, namun waktu yang dibutuhkan untuk menjawab semua pertanyaan tersebut sampai menghabiskan ratusan menit lamanya. Saat memasuki ruangan, jarum jam baru menunjukkan pukul sembilan pagi. Keluar-keluar, jarum jam sudah ada di angka satu siang.


Alhasil Alexa sudah mulai keroncong. Dikarenakan pagi tadi ia hanya sarapan segelas susu almond instan yang sempat ia bawa dari kediaman Natadisastra. Mereka juga tidak langsung pulang setelah diinterogasi, karena Alexander ada urusan dengan kuasa hukumnya. Jadi, Alexa diminta menunggu terlebih dahulu di parkiran.


"I'am hungry," lirih Alexa. Jika kondisi keluarganya masih stabil seperti dulu, jam segini ia sudah makan siang. Terlambat makan siang hanya akan mendatangkan berbagai permasalahan pada lambung. Jadi, sebisa mungkin ia makan tepat waktu, walaupun cuma sesuap nasi.


"Eh," gumam Alexa lirih, saat ada seseorang yang tiba-tiba menyodorkan sebuah paper bag kepadanya. "Orion?"


"Ambil." Alih-alih memberikan respon apapun, pemilik nama itu malah menyerahkan barang bawaannya pada Alexa.


Alexa menerima karena paper bag itu dijatuhkan tepat di atas pangkuan. "Apa ini?"


"Lunch," jawab laki-laki yang siang itu hadir dengan Hoodie hitam dengan aksen tulisan kanji.


"Lunch? tapi, buat siapa? Arga masih di dalam, kalau kamu mau nitip-"


"Bukan buat Arga, tapi buat lo sama Alexander."


Orion Gaiden. Entah darimana munculnya laki-laki itu, yang pasti lagi-lagi dia lah yang datang membawakan Alexa makanan. Setelah dicek, isi dari paper bag tersebut benar menu lunch sehat dari sebuah restoran ternama di Bandung. Isi dari menu lunch nya sendiri adalah nasi merah, dada ayam fillet yang di-gril, tumis sayuran, serta orak-arik tahu. Tidak ketinggalan pula potongan buah segar.


Entah kebetulan atau sengaja, nasi merah memang menu makan siang andalan Alexa. Mengingat nasi merah lebih baik dari nasi putih untuk program diet. Manfaat nasi merah juga banyak sekali, yang pertama adalah membantu mengontrol berat badan. Nasi merah mengandung serat, protein, dan karbohidrat kompleks yang lebih tinggi daripada beras putih, sehingga membuat kenyang lebih lama.


Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa mengonsumsi beras merah secara rutin bermanfaat untuk mengendalikan berat badan. Hal ini menjadikan beras merah baik dikonsumsi untuk mencegah obesitas.



"Kenapa harus repot-repot?" tanya Alexa seraya beranjak dari posisi duduk. Sungguh, ia penasaran dengan alasan kenapa Orion bisa sampai seperti ini care padanya. "Kamu .... pasti punya alasan untuk semua ini, 'kan?"

__ADS_1


Orion tidak menjawab. Bibirnya masih setia terkunci. Namun, sorot mata tegasnya tak lepas sedikitpun dari lawan bicaranya.


"Udah tugas gue," jawaban, misterius.


"Maksud kamu?"


"Makan aja, jangan banyak tanya."


"Tapi...."


"Perlu gue temenin?"


Alexa langsung menggelengkan kepala. Apa-apa tawaran tersebut. Menggiurkan sekali sih, ditemani oleh lelaki macam Orion yang katanya pemilik hati paling sulit disentuh selain Arganta Natadisastra, sang ketua. Namun, Alexa masih punya otak, walaupun hidupnya sudah benar-benar berantakan belakangan ini.


Makan ditemani oleh Orion tentu saja akan mengundang pertanyaan juga masalah yang tidak dapat diprediksi.


"Bisa makan sendiri?"


"Bisa!" seru Alexa cepat. Memangnya ia anak kecil.


"Ya udah," ujar Orion sebelum berlalu pergi begitu saja.


"Nggak jelas," gumam Alexa seraya menatap punggung Orion yang makin menjauh. "Nggak ketua, nggak wakil, sama-sama batu."


"Eh." Alexa menoleh ke samping, pandangannya langsung menemukan Alexander yang datang dengan paper bag coklat berlogo Starbucks.


"Di tangan lo apaan?" tanya laki-laki beranting-anting tersebut.


"Makan siang." Alexa menjawab seraya menunjukkan isi paper bag di tangganya. Ia senang sang kembaran mulai mau banyak berinteraksi lagi dengannya.


"Dari?"


"Orion."


Mendengar nama wakil leader of SPHINIX disebut-sebut, Alexander langsung berdecak seraya mendudukkan dirinya di kursi bekas Alexa menunggu. "Ck. Ada udang di balik batu."


"Maksudnya?"


"Udah, makan aja. Nggak usah banyak tanya," sahut Alexander, masih terdengar acuh tak acuh. "Habis ini kita ke bank."


"Ke bank? ngapain?"


Seingat Alexa semua card yang ia punya, pemberian Utama sudah dibekukan oleh pihak bank. Semenjak Utama dan Sussanne ditangkap, semua card yang Alexa miliki tidak dapat digunakan. Jadilah Alexa kesulitan ketika hendak mengambil uang. Hanya satu card yang masih bisa digunakan sampai saat ini. Card itu punya limit kecil jika dibandingkan dengan yang lain. Namun, sejauh ini isinya masih bisa Alexa gunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

__ADS_1


"Tarik tunai."


"Kamu punya uang?"


"Hm. Hasil jual saham."


"Jual saham?" bingung Alexa.


"Gue nggak tol*l walaupun dibuang dari rumah. Saham yang sempat dialih namakan atas nama gue, gue jual. Sedangkan saham atas nama lo nggak bisa dijual karena masih connect sama saham bokap."


Alexa masih tidak terlalu paham. Namun, setelah Alexander menjelaskan lebih rinci, ia bisa sedikit mengerti. Jadi, selama ini ibu mereka menabung saham untuk meminimalisir sejak dini kejadian seperti ini terjadi. Karena saham atas nama Alexa lebih banyak dan riskan untuk ditabung secara diam-diam, nantinya malah Utama jadi curiga. Oleh karena itu, Sussanne menggunakan saham sang putra untuk disimpan secara diam-diam.


Utama tahunya saham Alexander sudah dijual untuk foya-foya, padahal Alexander sendiri tidak pernah tahu akan saham-saham itu. Siapa sangka jika saham miliknya disimpan pada user lain, dan sebagain lagi telah dijual. Kemudian uang dari hasil penjualan ditabung dengan nama Alexander.


"Kata Om Abbas, nyokap lakuin itu kemungkinan besar karena dua alasan. Pertama, takut gue nggak kebagian hartanya bokap sama sekali. Kedua, buat tabungan jaga-jaga kalau sekiranya terjadi sesuatu yang nggak diinginkan terjadi seperti saat ini."


"...."


Alexander menghela napas gusar setelah mengatakan. Ia juga masih tidak percaya, ia yang keluar tanpa membawa apa-apa, nyatanya punya tabungan senilai setengah Milyar di luar sana. Crazy, 'kan?


"Tapi, buat sekarang gue belum bisa beliin tempat tinggal. Terlalu riskan. Mengingat penyelidikan masih berjalan."


Alexa mengangguk patuh mendengarnya.


"Jadi, mau nggak mau lo harus tinggal lebih lama di Lumiere Cafe."


"Oke," jawab Alexa. "Asal janji satu hal sama aku."


"Apaan?" tanya Alexander, sok acuh.


"Jangan pernah tinggalin aku. Aku nggak punya siapa-siapa lagi selain kamu."


Alexander berdecak mendengar tangis kembarannya kembali terdengar.


"Gue berarti tol*l kalau sampe ninggalin lo sendirian."


🫐🫐


TBC


Semoga suka 🖤


Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘

__ADS_1


Tanggerang 25-12-22


__ADS_2