
"Anj*r, cewek siapa sih ini? Ganjen amat." Lontaran perkataan berbau ketidaksukaan itu berhasil menarik perhatian yang lainnya.
"Cewek mana?"
"Ini." Iki menyodorkan layar handphone miliknya. Sejak tadi ia memang asik berceloteh sendiri.
"Oh," Libra, lelaki yang tengah menikmati kentang goreng dengan saus dan mayonaise itu merespon singkat.
"Lo kenal cewek ini? Muka modal skincare dua puluh ribuan aja belagunya minta ampun. Beningan gue kemana-mana juga," cibir Iki. Bibirnya tak henti-hentinya mengomentari foto seorang gadis di room chat miliknya.
"Lah, emangnya tuh cewek buat masalah apa sama lo?" Ibo yang kebetulan duduk di samping Libra ikut bersuara. Penasaran juga.
"Noh, soken alias sok kenal banget jadi cewek. Ujung-ujungnya dia cuma mau nomer Nata alias Arganta Natadisastra kita. Kurang asem nggak tuh?"
Libra dan Ibo kompak tertawa mendengarnya. Ternyata itu alasan kenapa sejak tadi Iki terlihat badmood.
"Kasian," cibir keduanya.
"Sial*n lo pada. Mencibir aje bisanya!"
"Ngambek, Ki? Kekanakan amat."
Iki menekuk wajahnya kesal. "Serah deh, serah. Ngobrol sama kalian memang nggak ada habisnya. Iya gak, Yon?"
Si empunya nama yang baru saja hendak meloloskan kaus hitam dari tubuhnya melirik Iki sejenak. "Hm?"
"Eh, jangan sembarangan ganti baju lo. Keranjang cucian penuh!" Ketus Iki. Lelaki itu buru-buru menahan Orion yang hendak melepaskan baju.
"Apa urusannya?"
"Hari ini laundry langganan tutup. Jadwal nyuci gue nih. Gue males ya banyak baju kotor. Kalau baru dipake sekali, gantung aja di hanger. Boros detergen woi kalau dicuci."
"Lah, gue pake baju dua kali. Ketiga kalinya auto masuk mesin cuci dong," sahut Libra.
"Gue malahan empat kali make, belum dicuci. Noh, masih gue gantung di belakang pintu." Anak yang lain ikut bersuara.
"Jorok anj*r!"
"Pantesan kamar lo banyak kecoak nya, Bro. Jorok sih."
"Lah, orang masih wangi buat apa dicuci coba? Itung-itungan hemat detergen. Sesuai kata Iki," bela Ibo yang mulai terpojok.
Eden yang sudah bertelanjang dada hanya bisa memutar bola mata malas. Malam ini basecamp akan kedatangan tamu sekutu. Oleh karena itu, banyak anak SPHINIX yang sudah kumpul di sana sejak sore.
"Arga mana?" Orion bertanya sambil membuka kaleng soda yang baru saja ia dapatkan dari lemari pendingin.
"Gak lihat." Ibo menjawab. "Belum balik dari RS kali. Dari tadi...."
BRAK!
"Astagfirullah!" kaget Iki setengah menjerit. Bunyi gebrakan dari pintu yang baru saja terbuka dengan kasar itu berhasil membuat mereka terkejut.
"Lo kenapa, Ta? Dateng-dateng kok rusuh?" Libra menyambut sang leader dengan pertanyaan. Dari hawa-hawa nya, sang leader sepertinya sedang dalam mode senggol bac*k.
"Bac*t."
Tuh, Kan. Mode kesenggol dikit, auto bac*k kepala anak orang.
"Ambilin gue minum, Ki!" serunya kemudian, lebih tepatnya setelah mendapatkan satu tempat duduk.
"Minum apaan nih? Soda, susu, air raksa, atau air keras?" canda Iki.
Arga tidak menjawab. Namun, dari onyx hitamnya yang menatap begitu lekat, Iki langsung paham akan satu hal. Arga sedang tidak dapat diganggu gugat.
"Oh, oke. Soda dingin kayaknya cocok buat lo." Iki berkata sebelum pergi. Diikuti oleh Ibo yang buru-buru pergi saat aura mencekam mulai menaungi.
"Lib, gimana?" tanya Arga tiba-tiba bertanya.
"Apanya?"
__ADS_1
"Si pelaku."
'Oh." Libra ber-oh ria mendengarnya. "Mereka berhasil lolos dari pantauan," Tutur Libra kemudian, sambil sibuk mengunyah kentang gorong. "Tapi gue sama Orion berhasil ngumpulin beberapa informasi."
"Informasi apa?"
"Bokap cewek lo." Orion ikut buka suara. "Identitasnya kemungkinan besar dipalsukan. Dari data siswa, identitas orang tua Nara janggal. Nara menggunakan wali sebagai identitas pengganti orang tuanya."
"Wali?"
"Hm. Orang tua walinya itu Bu Sarah."
Arga menatap Libra lekat. Takutnya salah dengar.
"Ibunya Seno, kesiswaan SMA Angkasa." Seolah-olah mengerti, Libra pun memperjelas kalimatnya.
Arga diam-diam meremat jemarinya kuat. Kepalanya mulai pening memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi. Apalagi kini ayahnya mulai campur tangan. Ia tahu tidak akan mudah melawan Utama Natadisastra.
"Satu lagi."
Arga mendongrak, menatap Libra lewat onyx gelapnya. Ia menanti lanjutan kalimat lelaki bertindik di cuping telinga tersebut.
"Alexander juga ternyata ngawasin cewek lo selama ini. Dia ngirim Blake, tangan kanannya. Selama Darmawisata, Blake ditugaskan untuk mengawasinya cewek lo. Kemungkinan besarnya, dia juga tahu siapa penculik cewek lo."
Arga tidak merespon. Manik jelaganya bergulir menatap ke sembarangan arah. Pikirannya tengah kacau saat ini, sekacau hatinya.
"Ta, kayaknya kali ini Alexander nggak main-main."
"Lib." Orion memperingati. Seharusnya Libra bicara cukup sampai informasi yang seharusnya disampaikan.
"Ini cuma pandangan subjektif gue," ujar Libra, membela diri. "Gue bisa lihat kalau kali ini Alexander beda cara mainnya. Lo harus hati-hati, Ta. Kita nggak tahu apa yang bakal dia lakuin dengan melibatkan cewek lo."
"Lib, pikiran lo terlalu jauh."
"Itu cuma opini gue. Terserah lo pada mau percaya atau enggak. Tapi dari gelagatnya Alexander patut dicurigai, dia kelihatan banget melindungi Nara. Entah atas dasar sayang atau suka macam apa, tapi...."
"Uhuk..." Libra terbatuk-batuk menerima pukulan tiba-tiba yang tidak sempat dihindari. "Ta, apa-apa lo...."
"Banyak bac*t," potong Arga. Lelaki itu mengibaskan tangannya ke udara setelah berhasil memukul Libra.
"Lah, ini kenapa malah baku hantam gini?" tanya Iki yang baru saja tiba dengan 2 kaleng soda di tangannya. "Lo kenapa Ta? Ini Libra, bukan Alexander. Main timpuk aja lo sama sahabat sendiri."
"Udah, gue nggak papa. Jangan banyak bac*t." Kekeh Libra sambil menyentuh bekas pukulan Arga. Ia sudah biasa jadi samsak hidup, baik oleh Arga, maupun kedua orang tuanya.
"Gue cuma mengungkapkan pendapat, Ta. Lo cari tahu aja lebih detailnya kalau nggak percaya sama gue. Tapi, sejauh ini pengamatan gue nggak pernah meleset."
Libra beranjak setelah berkata demikian. Lelaki itu tidak lupa membawa piring berisi kentang goreng yang selesai dinikmati olehnya. "Ki, susul gue ke belakang. Kentang goreng gue mau habis, buatin lagi."
"Oke. Nanti gue nyusul, beb."
"Bab, beb, pala lu peang. Najis gue dengernya." Sembur Libra sebelum hilang di balik pintu.
Iki tertawa kecil mendengar ucapan Libra. Ia buru-buru menyimpan barang bawaan nya di atas meja, lantas menatap sang leader untuk sejenak.
"Libra gitu-gitu peduli sama lo, Ta. Jangan main pukul, gue nggak suka lihat leader tempramental. Apalagi kalau sikap lo itu efek masalah di luar organisasi. Libra udah cukup jadi samsak hidup orang tuanya, lo jangan nambah-nambahin lagi. "
"Ki," lerai Orion. "Libra udah nunggu."
"Iya, iya. Gue ke belakang dulu, Libra berisik kalo perutnya keroncongan. Najis banget gue dengerin bac*tan nya. Untung dikasih kentang goreng aja diem." Iki bergegas pergi setelahnya.
Sebelum benar-benar pergi, ia sempat menepuk bahu Orion. "Bilangin tuh. Suasana hatinya lagi kacau balau, bisa-bisa anak PASCA diamuk sama dia."
"Hm."
"Hm, hm, doang, kasih tahu woi. Irit banget bicaranya." Kesal Iki sebelum berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
Sepeninggalan Iki, tinggal Orion dan Arga di sana. Sisanya, anak-anak yang lain sibuk bersenda gurau di area depan basecamp. Sebagian ada juga yang tengah sibuk di bengkel basecamp.
"Bokap cewek lo ngusir lo?" tebak Orion to the point.
__ADS_1
Arga tidak merespon. Orion pasti sudah tahu jawabannya.
"Kenapa lo kaget, Ta? Gue tahu karena gue mengamati gerak-gerik pria itu." Orion kembali berujar. "Pria tunarungu yang kerjanya nyapu di halaman sekolah, dia bokap cewek lo, 'kan?"
"Hm."
"Gue rasa, kejanggalan identitas cewek lo tercium sama bokap lo, Ta. Dia ngelarang lo deket sama Nara, berarti secara tidak langsung dia udah tahu banyak soal cewek lo."
Dalam hati Arga menyetujui ucapan Eden. Ayahnya itu memang selalu bertindak setelah mempertimbangkan segala sesuatunya dengan baik. Selain itu Arga juga tahu tabiat sang ayah dengan segala kekuasaan dan koneksi yang dimiliki.
"Soal penculikan Nara, sehari sebelumnya Alexa kedapatan pergi menemui seseorang."
"Darimana lo tahu?" Arga menoleh, menatap Orion lekat.
"Lokasi mereka janjian ada di kawasan pengembangan wisata keluarga milik bokap gue. Kebetulan gue punya koneksi buat cek semua CCTV di sana." Orion mengeluarkan sebuah flashdisk dari saku celananya. "Sayangnya, posisi si lawan bicara membelakangi CCTV. Dia seakan-akan tahu letak aman pada setiap kesempatan. Mukanya sama sekali nggak ketangkap kamera."
Arga menerima flashdisk tersebut. Ia menggenggam benda tersebut sambil menimang-nimang. Pikirannya kembali berkelana kesana kemari.
"Kasus ini rumit, Ta. Bisa jadi pelaku penculikan dan penganiayaan orang tua cewek lo ini, orang yang sama. Tapi, bisa juga mereka orang yang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama," tutur Orion. "Jangan risau sendirian, Ta. Gue sama anak-anak bakal bantu semaksimal mungkin."
Arga mengangguk. "Hm. Kalau bisa, mulai sekarang kirim beberapa orang buat jagain cewek gue."
Orion mengangguk sebagai balasan.
"Kirim orang buat ngawasin Alexa dan Alexander juga, anak-anak wanita ular itu nggak bisa di prediksi jalan pikirannya."
"Oke."
Obrolan keduanya terhenti begitu saja, karena suara riuh tiba-tiba terdengar dari luar. Pekikan nyaring dan dan siulan terdengar meriuhkan suara-suara di luar sana.
"Mereka datang," Ujar Orion, lekas beranjak.
Arga mengangguk paham. Lelaki rupawan itu beranjak, lantas dengan cepat berlalu untuk menyambut tamu yang malam ini bertandang. Ia berdiri tegap di depan pintu basecamp, kedua tangannya di masukan ke dalam saku celana.
Di lihatnya 8 orang pengendara yang baru saja memasuki area basecamp menggunakan kan motor sport kebanggan mereka. Mereka bahkan sempat melakukan free style sebagai tanda kedatangan mereka di basecamp SPHINIX.
"Wah, sambutan yang hangat."
Salah satu dari 8 pengendara itu bersuara. Ia telah melepas helm full face miliknya. Membiarkan wajah rupawan dengan kepala terbalut slayer dongker itu tampak dipandang mata.
Ia berjalan lurus, berhenti tepat di hadapan sang tuan rumah, leader of SPHINIX. Ia tersenyum tipis, sebelah tangannya masih memegang helm full face hitam.
"Apa kabar Jendral?" Sapanya sambil terkekeh kecil. Arga bisa melihat tahi lalat di bawah matanya tersamarkan saat lelaki itu terkekeh.
"Selamat datang. PASKA menyambut kedatangan PASCA. Mari, masuk ke basecamp kebanggaan kami."
Libra mempersilahkan. Lelaki itu sudah muncul sejak deru 8 motor itu terdengar memekikkan telinga. Kondisinya terlihat baik-baik saja, walaupun semua orang bisa melihat luka sobek di ujung bibirnya.
"So?" Lelaki dengan slayer itu memastikan, menatap sang leader.
"Masuk, gue dan anak-anak SPHINIX menyambut kalian." Sang leader akhirnya bersuara.
Lelaki Deng slayer itu tersenyum, lalu mengangguk. "Oke. Thanks atas undangannya. Kita memang sudah lama tidak berjumpa, Arganta Natadisastra."
"Hm. Lama nggak lihat lo juga, Hydra. Gue pikir lo mati setelah perang antara PASCA dan PASPI pecah."
Tawa lelaki dengan slayer itu terdengar, namun sebentar. Detik berikutnya ia menatap lawan bicaranya lekat. "Adik tiri sial*n lo itu hampir buat pasukan gue punah."
Kini, giliran sang leader yang menyunggingkan senyum tipis. "Bagus, berarti kita bisa bersatu karena punya musuh yang sama."
...🫐🫐...
...TBC...
...Semoga suka 🖤...
...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...
...Tanggerang 13-12-22...
__ADS_1