Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
⁴³UFB


__ADS_3

"Aduh, aduh, mata gue perih," jerit Cacha setengah tertawa.


Gadis itu masih asik bermain air, walaupun kulitnya sudah mulai menggelap disengat matahari.


"Lo ini, kesakitan tapi ketawa. Kebiasaan," timpal Julian sambil meniup kelopak mata gadis berambut sebahu tersebut.


"Namanya juga spontan Jul, lo nggak faham bener."


"Iya, Cha. Tapi, jangan kebiasaan juga. Lo bisa ketawa, padahal hati lo terluka."


Cacha berdecak mendengarnya. "Dih, apaan coba. Mulai ngawur lo."


"Yeh, dibilangin malah resek."


Gadis itu mendengus seraya mengusap sudut matanya. "Lo yang duluan, ya! tiba-tiba sok care."


"Because i care, terutama soal lo!"


"Basi, Jun!"


"Udah, udah," lerai Nara yang menghampiri mereka. "Kalian nggak malu dilihatin orang? tuh, kalian jadi pusat perhatian."


Cacha dan Julian kompak saling pandang, sebelum sama-sama menatap Nara. "Aduh, cinta. Yang jadi pusat perhatian itu lo," ucap Cacha kemudian.


"Aku?" tunjuk Nara pada dirinya sendiri. "Tapi, aku nggak ngapa-ngapain dari tadi."


"Of course, Lo nggak ngapa-ngapain." Cacha manggut-manggut seraya melipat tangan di depan dada. "Lo itu happy virus, Nar. Bisa bikin orang happy cuma dengan cara lihat lo happy."


"Eh, masa sih?"


"Iya. Lihat aja noh, mereka baru sadar kalau lo itu sebenarnya happy virus."


Nara menoleh, menatap ke sekelilingnya. Ada apa dengan semua orang? Apa ia berbuat sesuatu yang menarik perhatian mereka? kenapa ia jadi pusat perhatian?


Perasaan sejak sedari tadi ia hanya bercanda dan bermain air bersama Cacha. Pakaiannya juga tidak terbuka seperti teman-temannya yang lain.


"Itu karena kecantikan alami lo radarnya nyampe ke mereka," celetuk Cacha kemudian.


"Masa sih? Disini banyak yang lebih cantik. Rene contohnya," ujar Nara. Telunjuknya bergerak, mengarah pada gadis yang tampil dengan summer dress motif floral dengan bagian rok jatuh di pertengahan paha. Sejak tadi gadis itu tampak sibuk mengambil selfi dari berbagai angle.


"Rene and the geng mah B aja kalau nggak di-touch up make up. Lo mah biasa, sekali pun tanpa make up," komentar Cacha. "Mereka juga terpukau sama kecakapan lo yang nggak malu atau gugup pas tadi wawancara sama masyarakat lokal ataupun non lokal."


Nara menatap sang sahabat tak percaya. Benarkah demikian? Perasaan, dari dulu ia selalu direndahkan juga di-bully sana-sini. Namun, setelah ia dekat dengan the leader of SPHINIX memang banyak yang berubah dalam kehidupan putih abunya.


"Lo itu baru sekarang aja dilirik banyak orang, padahal dari dulu lo itu cantik," ujar Cacha sambil mencubit pipi Alea gemas.


"Dasar cewek," Komentar Julian yang sejak tadi menonton. Ia juga jadi korban yang dicampakkan begitu saja. "Gue ke anak-anak dulu deh," pungkasnya kemudian.


"Ya udah sono. Ngapain juga lo disini," usir Cacha. Laki-laki itu mendengus kecil, lantas berlalu tanpa banyak bicara.


"Yok, main air lagi Nar."


"Ayo."


Cacha kembali mencipratkan air asin tersebut kepada sang sahabat. Siang hari ini akan mereka habiskan untuk bersenang-senang hingga sore menjelang. Toh, ini tidak bisa mereka rasakan setiap hari. Jadi, apa salahnya menikmati momen tersebut.


"Eh, kok jadi teduh, ya?" bingung Alea. Gadis cantik yang sedang membangun istana pasir itu menoleh.


Pandangannya langsung bertemu dengan sepasang kaki. Ia lalu mendongrak untuk menatap siapakah gerangan yang telah berdiri dan menghalau sinar mentari dari belakangnya.

__ADS_1


"Puas mainnya hm?"


"Kakak." Bohong jika Nara tidak terkejut saat menemukan Arga di sana. Laki-laki itu berdiri menjulang di hadapannya.


"Berdiri."


"Berdiri?"


"Berdiri, Aleanska Nara," titah Arga lagi.


Gadis cantik itu mengangguk, lantas berdiri sesuai titah kekasihnya.


"Kakak ....mau apa?" tanya Nara cepat saat laki-laki rupawan itu mengangkat ujung kaos yang ia kenakan, tepat dihadapan Nara. "Kakak!" Nara berseru, namun ia tidak sempat menahan pergerakan laki-laki rupawan tersebut.


Kaos hitam yang Arga gunakan telah benar-benar lolos beberapa detik kemudian. Membiarkan tubuh bagian atas Arga yang bidang dan terpahat sempurna terekspos. Pekikan histeris langsung terdengar dari berbagai penjuru. Nara saja sampai menunduk guna menghalau rona merah yang muncul di pipinya.


"Pake." Arga menyodorkan kaosnya ke arah Nara. Bukannya paham, Nara malah kebingungan dengan permintaan tersebut.


"Tapi, aku udah pake baju, Kak. Mendingan Kakak pakai lagi bajunya. Jangan telanjang," cicit Nara di akhir kalimat.


Arga masih tak bergeming. "Baju lo basah."


"Baju aku memang basah...." kalimat Nara tercekat di tenggorokan. Ia baru sadar bahwa baju yang dikenakannya berwarna putih. Jika basah, pasti baju itu akan mencetak jelas **********.


"Baru sadar hm?"


"...."


"Pake. Gue nggak suka berbagi sama yang lain," ujarnya Arga seraya memberikan kaosnya.


Nara akhirnya mengangguk dan menerima uluran kaos tersebut.


"Aku pakai bajunya disini?" tanya Nara, kelewat polos.


"Hm."


"Tapi...."


"Pake, double."


Nara mengangguk, lalu dengan kecepatan kilat ia mengenakan kaus tersebut untuk melapisi pakaiannya yang sudah basah. Ternyata kaos Arga jika digunakan tubuhnya, akan jadi lebih besar. Nara bahkan hampir tenggelam dalam baju tersebut.


Arga yang melihat penampilan gadisnya dalam balutan kaosnya sendiri tersenyum tipis, sampai-sampai Nara sendiri tidak dapat melihat. Entah kenapa, ia merasa senang bisa menegaskan pada laki-laki lain jika Aleanska Nara adalah kepunyaannya.


"Ayo."


"Kemana, Kak?"


"Air terjun," ujar Arga seraya meraih tangan mungil Nara untuk digenggam. Ia bahkan mengabaikan puluhan pasang mata yang tengah menatap iri kepada mereka.


Nara menunduk, ia malu sendiri jadi pusat perhatian. Pandangannya terpusat pada tautan jemari di antara mereka. Apakah ia pernah memuji kekasihnya sebelumnya? Jika belum, Nara akan memujinya saat ini.


Arga itu tampan, kelewatan tampan malahan. Tubuh tegapnya ideal, bahkan kini terekspos secara gratis. Ia hanya menggunakan celana pendek berwarna biru Dongker. Dengan penampilan begitu saja Arga sudah memiliki aura bak selebriti.


Nara saja sampai kesulitan menghalau pesonanya. Ia juga tidak tahu mengapa, setiap kali dekat dengan laki-laki berjuluk leader of SPHINIX itu jantungnya selalu berdetak tak karuan.


"Kakak mau apa kesini?" tanya Nara saat mereka tiba di air terjun cantik tersebut.


"Main."

__ADS_1


"Main apa?"


"Geoclimbing."


Nara mengangguk faham. Geoclimbing atau panjat tebing adalah olahraga yang termasuk ke dalam jajaran sarana prasarana yang bisa ditemukan di tempat wisata tersebut. Selain Geoclimbing, di kawasan Geopark Ciletuh juga dapat ditemukan aktivitas lain seperti Geosurf atau selancar, Geodive atau menyelam, Geovaganza atau festival masyarakat seperti parade perahu hias, Geokite atau Menerbangkan layang-layang, Geogliding atau paralayang, dan Geobike atau bersepeda.


Semua itu bisa ditemukan di kawasan wisata Geopark Ciletuh.


"Terus kenapa Kakak bawa aku?" bingung Nara. Jika Arga hendak bermain, kenapa juga mengajak dirinya?


"Lo ikut."


"Aku ikut?" kaget Nara. "Tapi aku...."


"Takut?" sela Arga. Onyx hitamnya menatap iris sang kekasih dengan lembut. "Ada gue, jangan takut." Genggaman tangannya juga kian mengerat. Menyiratkan jika ia akan menjaga kekasihnya selama permainan berlangsung. "Lo harus berani. Lo bahkan berani ngelawan dan laporin geng SPHINIX waktu itu."


"Itukan beda kasus," lirih Nara.


Arga tersenyum tipis. Satu tangannya yang bebas bergerak, mengacak surai sang kekasih. Gemas. "Ayo, temenin gue main."


"Tapi, aku takut."


"Safety-nya lengkap, lo jangan takut. Ketakutan terbesar yang harus lo lawan itu diri lo sendiri."


Nara menghela napas kecil. Perkataan Arga memang benar, ia harus melawan ketakutan terbesarnya, bukan ketakutan pada ketinggian, tapi ketakutan dirinya sendiri. "Ya udah, ayo. Aku berani kok, asal sama Kakak."


Mendengar kalimat tersebut, senyum Arga kian tersungging. "Itu baru pacar gue."


Nara mengigit bibir bawahnya pelan, menahan gugup juga rona merah yang menjalar di pipinya untuk kesekian kali. Hari ini ia benar-benar merasa senang. Sisa hari yang diberikan untuk bersenang-senang benar-benar terasa begitu menyenangkan.


"Senja," lirih Nara dengan suara kecil. Panduannya tertuju pada garis samudra di barat sana.


Setelah puas bermain, Arga membawanya menjauh dari yang lain. Mereka menghabiskan banyak waktu bersama, menikmati indahnya ciptaan sang Maha Kuasa.


Di sisi lain, saat segerombolan manusia lain bersiap meninggalkan pantai. Sedangkan ada seorang laki-laki yang berdiri seorang diri, mengamati sepasang insan yang masih betah berlama-lama di pesisir pantai. Siap lagi jika bukan Arga dan Nara.


"Gue kayak stalker." lirihnya sambil menyentuh topi hitam yang melindungi bagian kepala.


Sebuah permen bergagang terselip disela-sela bibirnya. Hari sudah mulai gelap, kala sinar sang surya semakin meredup. Ini hari ketiganya menjalankan misi sebagai stalker dadakan. Sejauh ini misinya berjalan dengan lancar.


Sebagai utusan yang dikirim si burung api, ia tentu memegang tanggung jawab yang sangat besar. Namun, sejauh ini misinya tidak menemukan Kendal apapun.


"Bersenang-senanglah, Nara. Abang lo selalu mengusahakan yang terbaik buat kebahagiaan lo," gumamnya. Pandangannya tidak lepas dari Arga dan Nara yang masih asik berjalan seraya bergandengan tangan. "Gue harap dia menemukan apa yang seharusnya dia temukan. Gue juga berharap, kali ini lo, Nar, nggak jadi korban lagi."


Di sini ia hanya bertugas memantau kondisi gadis manis itu. Memastikan jika dirinya baik-baik saja, selama seseorang yang seharusnya menjaganya berhalangan hadir.


...🫐🫐...


...TBC...


...Sumber : Google & Buku 'Geopark Ciletuh Pelabuhanratu 2017'...


...Semoga suka sama cerita Leader yang makin bucin 😋🤗...


...Ada rekomendasi novel keren juga nih 👇...



Tanggerang 04-11-22

__ADS_1


__ADS_2