
"Anak Mama kenapa? Kok kelihatan happy banget banget?" tanya wanita yang menggunakan luxury dress berwarna biru. ia baru saja menyimpan tas Chanel hitam miliknya di meja.
"Mama baru pulang?"
Wanita itu mengangguk. "Iya, sayang. Ada arisan di rumah Tante Lolita."
"Istri anggota dewan itu?" tanya sang putri.
"Iya. Kemarin Mamah sudah cerita soal anaknya 'kan? Dia lulusan Oxford university. Kalau kamu lanjut di sana, bisa tanya-tanya sama dia. Dia juga anaknya ramah dan sopan."
"Cewek?"
Wanita itu tampak antusias saat putrinya terlihat penasaran. "Cowok dong. Eksekutif muda, ganteng dan yang pasti.... tajir melintir. Sederajat sama keluarga kita."
Gadis cantik yang mengenakan dress selutut asal rumah mode terkenal dari Paris itu tersenyum kecut. Ia sudah tahu ujung dari pembicaraan ini akan mengarah kemana. Ibunya itu pasti sedang merencanakan sesuatu.
"Kali ini Mamah mau aku ngapain sama anak dewan itu? Lunch, dinner, dating atau..... having ***?" tanyanya sarkasme.
Alexandria Natadisastra adalah darah daging wanita tersebut. Ia tumbuh, berkembang, serta bertahan hidup di rahimnya selama sembilan bulan bersama sang kembaran. Sedikit banyak ia hafal tabiat wanita yang telah berjasa besar melahirkannya ke dunia itu.
"Lexa, jangan bicara gitu dong. Mamah lakukan ini semua demi kebaikan kamu. Mamah berusaha mencarikan jodoh terbaik untuk kamu. Kamu bahkan tidak perlu repot turun tangan."
Sang putri memutar bola mata jengah. "Mah, please. Jangan ganggu kebebasan Lexa."
Wanita dengan dress biru itu beralih, mengambil tempat duduk di samping sang putri. Tangannya lantas terangkat, membelai surai lembut sang putri yang menghabiskan uang puluhan juta sekali perawatan.
"Mamah kemarin cek pengeluaran black card punya kamu. Ada mutasi transfer senilai ratusan juta ke sebuah nomor rekening. Bisa jelaskan kemana dan untuk apa uang itu?"
Deg!
Gadis cantik itu terdiam seketika, bohong jika ia tidak terkejut mengenai tindakan sang ibu. Ia kecolongan. Guna menutupi risau yang tiba-tiba mendera, ia lantas menyunggingkan seberkas senyum.
"Buat happy-happy aja," jawabnya santai.
"Happy-happy apa sampai menghabiskan uang ratusan juta? Kamu shopping tas branded lagi? Bukanya udah Mamah belikan kemarin? atau jangan-jangan kamu kalah main truth or dare?"
Alexa menggelengkan kepala."Bukan. Mamah lihat aja sendiri," ujarnya seraya mengeluarkan smartphone miliknya dari dalam saku. Mengutak-atik sejenak, lalu memberikannya pada sang ibu.
"Apa ini?" Bingung ibunya ketika menerima smartphone tersebut. Alisnya saling bertaut saat melihat sebuah video yang sedang ditayangkan pada layar monitor. "Astaga, astaga, ini penculikan?" kagetnya.
Alexa tersenyum lebar seraya mengangguk. "Happy-happy aja, Ma."
"Tapi, kamu main aman 'kan? Kalau Papah kamu sampai tahu, kamu bisa dihukum. Planning kamu belajar di universitas ternama juga bisa terancam."
"Mamah tenang aja. Lexa sudah pastikan semuanya aman terkendali."
Mendengar kalimat sang putri, wanita itu baru bisa tersenyum legs. "Good girls. Asal kamu bermain aman, Mamah bebaskan kamu melakukan apapun."
Alexa tersenyum tipis. Dalam hati ia mengutuk setiap drama dalam hidupnya. Orang tua yang tidak pernah kurang memberanikan kasih sayang, saking banyaknya sampai berlebihan. Contohnya ini, ibunya bahkan tidak melarang tindakan kriminal yang telah ia lakukan.
"Ssane?" panggil suara familiar yang langsung membuat keduanya bungkam. Mereka bahkan terlihat panik saat menoleh. Namun, mereka brdu
"Eh, Mas. Kamu sudah pulang?" wanita itu bergerak, menyambut sang suami
"Hm. Kalian sedang membicarakan apa? kedengarannya eru sekali."
"Ah, itu." Wanita yang dipanggil Ssane itu tersenyum kecil seraya menyentuh lengan sang suami. "Barusan kita ngobrol soal putra sulungnya Pak Bramantyo. Dia baru pulang dari luar negeri. Mas pagi tadi meeting sama dia 'kan?"
"Hm," respon pria bersetelan jas lengkap tersebut. "Anak muda yang cermat dan cerdas berbisnis."
Merasa tidak mau lagi terlibat pembicaraan dengan topik tersebut lebih jauh, Alexa memilih untuk beranjak. "Mah, Pah, Lexa pamit ke atas dulu."
"Ah, iya. Kamu harus belajar untuk persiapan ujian," sahut sang ibu. "Belajar yang rajin, sayang."
"Iya, Mah."
Peninggalan putri mereka, pasangan suami-istri istri lantas berpindah ke sofa.
"Ssane,"
"Iya, Mas. Ada apa?" tanya si empunya nama, keheranan. "Kamu mau aku ambilkan minum, buatkan kopi, atau...." kalimat Suasana langsung terpotong kala mendengar kalimat berikutnya yang dilontarkan oleh sang suami.
"Andra masih hidup."
"Kamu bercanda ya, Mas? Jangan bercanda deh. Nggak lucu."
"Ssane...."
"Kita tahu sendiri kalau pria itu dan putrinya sudah tewas, Mas. Sebelas tahun yang lalu."
Utama Natadisastra, suami dari Sussanne Natadisastra tampak bungkam tatapannya terarah ke wajah sang istri.
"Putrinya Andra juga masih hidup."
__ADS_1
🫐🫐
"Gobl*k?!" kata-kata itu kembali keluar dari mulut seorang laki-laki. Kentara sekali jika ia tengah dirundung emosi.
"Tahan dulu, Lex. Mungkin sekarang dia sudah ditemukan."
"Tenang Lo bilang? Adek gue hilang bangs*t!"
Gray, lelaki yang tengah mengoperasikan seperangkat PC atau Personal Computer itu menghembuskan nafasnya kecil. Menghadapi seseorang yang sedang emosional memang butuh kesabaran extra.
"Si tol*l Blake, Gue kirim dia kesana buat jagain Adek gue. Kok bisa dia kecolongan?!" maki lelaki rupawan yang sejak tadi tidak henti-hentinya berjalan kesana-kemari.
"Si Blake pasti udah berusaha semaksimal mungkin, Lex. Lo tenang dulu, gue lagi usaha ngontak dia. Hp nya nggak aktif dari pagi."
"F*ck Blake."
Emosi laki-laki beranting-anting itu tersulut semenjak mendapatkan kabar buruk soal menghilangnya seorang siswi peserta darmawisata. Si*lnya lagi mata-mata yang sengaja ia terjunkan malah sulit dihubungi.
Awalnya ia tidak tahu-menahu soal kabar hilangnya seorang siswi peserta Darmawisata Ketika kembali ke basecamp, dia tidak sengaja mendengar percakapan salah satu anggota PIONIX dengan kekasihnya, yang kebetulan anak SMA Angkasa, lewat telpon. Dari sanalah dia tanpa sengaja mendengar kabar jika salah satu siswi peserta Darmawisata hilang sejak siang. Dan sialnya lagi, siswi yang hilang itu tidak lain adalah adiknya.
"Eh, lo mau kemana Lex?"
"Cabut."
"Iya, tapi kemana?"
"Sukabumi. Gue mau cari adek gue sendiri. Si Blake ataupun leader SPHINIX sama sekali nggak bisa diandalkan.!"
"Eh, jangan gegabah, Lex." Cegah Gray. Lelaki itu buru-buru berdiri dari tempatnya duduk guna menghalau kepergian lawan bicaranya.
"Beberapa hari ini bokap lo bergerak, nyariin lo. Anak buahnya kemaren datang kesini."
"Bokap?"
"Hm. Gue rasa bokap lo tahu sesuatu," ujar Gray.
"Dasar tua bangka!" geram Alexander. Tak berselang lagi, ia membanting kunci motor dan helmnya begitu saja. "Dia tau kalau gue pergi?"
"Fifty-fifty persen. Kalau enggak mana mungkin dia nyariin lo."
"Ck."
Alexander berdecak. Ternyata gerak-geriknya sudah mulai dipantau. Untuk kedepannya ia harus semakin berhati-hati.
"Lebih mending jangan kemana-mana dulu. Takutnya bokap lo makin curiga," usul Gray. "Lo nggak mau masalah ini makin rumit 'kan? maka dari itu, ikutin kata-kata gue."
"Sabar dulu, itu yang lebih baik buat sekarang."
Alexander tidak sepenuhnya mendengarkan. Pikirannya masih berkelana kesana-kemari. Antara cemas akan kondisi sang adik, serta was-was akan gerak-geriknya yang mulai diketahui.
"Gray."
"Oi?" sahut si empunya nama.
"Lo tahu alamat adek gue 'kan?"
Lelaki bernama Gray itu mengangguk. "Daerah Dago atas. Kenapa?"
"Kirim dua anak PIONIX kesana. Awasi pria yang tinggal sama Adek gue. Jangan sampai dia kenapa-napa. Kalau ada yang mencurigakan, segera lapor ke gue."
"Oke, siap laksanakan, Ko."
"Anj*ng, jangan panggil gue begitu," sentak Alexander, tidak suka.
"Lah, kenapa? Adek lo aja boleh panggil Koko. Kenapa gue nggak boleh?" tanya Gray penasaran.
"Geli anj*ng "
"Dasar mulut kebun binatang. Nama-nama hewan-hewan terus yang keluar dari mulut lo," celetuk Gray dengan jemari yang kembali sibuk berselancar di atas keyboard.
Alexander mendengus sebelum terdiam. Dalam diamnya, isi kepala berkelana kemana-mana. Termasuk memikirkan apa yang tengah direncanakan oleh pria yang telah mewarisi darah dalam tubuhnya.
"Si tua bangka itu sebenarnya mau apa lagi?"
🫐🫐
"Buka mulut," titah suara bariton berat itu, meminta.
"Aleanska Nara," panggilnya dengan suara melembut. "Sampe kapan lo mau diemin gue? Lo sengaja?"
Manik teduh si empunya nama bergulir bola tak bersemangat. Sebelah pelipisnya tampak dihiasi oleh kain kasa steril.
"Makan. Lo mau buat gue marah?"
"Kakak pergi aja," usir gadis tersebut m Sekalinya buka suara, ia malah mengusir. "Aku nggak laper."
__ADS_1
Gadis berkaos hitam longgar itu berbalik setelah berkata demikian. Berbaring, memunggungi lelaki yang tengah mati-matin menahan emosi.
Nara memang sedang tidak punya nafsu untuk melakukan apapun, termasuk untuk makan. Ia bukan berniat mengabaikan lelaki itu, cuma sedang tidak berniat banyak bicara. Pemandangan di luar jendela tampak lebih menarik baginya, ketimbang meladeni apapun.
Namun, tiba-tiba ia merasakan sepasang lengan kokoh melingkari perutnya. Baru ingin buka suara, tapi didahului.
"Makan. Lo tahu 'kan, gue nggak sesabar itu buat nahan emosi. Sejauh ini gue masih bisa bertahan."
"...."
"Makan. Lo harus minum obat. Habis itu lo bisa tidur."
"...."
"Ck. Gue berasa ngomong sama tembok!" decakan terdengar dari arah laki-laki tersebut. Sedetik kemudian, Nara kehilangan kehangatan yang sempat membelit perut rampingnya. Lelaki itu sepertinya frustasi.
Segala cara sudah ja lakukan agar gadisnya mau makan. Tapi, sampai saat ini gadisnya masih mogok makan. Bukan saja mogok makan, tapi mogok bicara juga.
"Kalau lo memang nggak mau makan, bagus. Lo mau buat orang lain khawatir lagi?!"
Arga menatap punggung sang kekasih seraya mengepalkan tangan.
"Semua khawatir sama lo, dan lo kekanak kayak gini? Lo..."
"Kakak khawatir sama aku?" suara gadis terdengar lirih, memotong kalimat Arga.
"Nggak ada pertanyaan yang lebih rasional?" sindir Arga. "Buat apa gue cari lo, kalau gue nggak khawatir?"
"...."
"Sekarang bangun. Lo nggak cocok diem begini."
Gadis yang tengah berbaring itu masih tak bergeming. Namun, suaranya kembali terdengar beberapa detik kemudian.
"Mereka nyentuh aku," lirihnya dengan suara kecil. "Mereka ketawa, mereka...."
Suara itu tersendat, lantas hilang ditelan isakan.
Semenjak ditemukan, Nara memang jadi lebih pendiam. Ia sempat dilarikan ke puskesmas terdekat guna mendapatkan pertolongan pertama. Pelipis kirinya terluka, luka sayat lebih tepatnya.
Beberapa bagian tubuhnya juga mengalami memar dan membiru. Wajahnya pucat dan kuyu. Pakaiannya compang-camping. Yang paling mencolok adalah surai cantiknya yang panjang bergelombang, kini telah tiada. Menyisakan rambut dipotong pendek dengan model sederhana.
Nara berbalik. Netranya langsung bertemu dengan milik Arga. "Kak Arga pasti jijik sama aku."
"...."
"Aku udah disentuh mereka. Mereka berencana bunuh...."
"Jangan diterusin." Arga berkata seraya mendekat ke arah tempat tidur yang digunakan sang kekasih. Di sana ia menurunkan tinggi badannya, agar dapat menjangkau kekasihnya..
"Para kepar*t itu biar gue yang urus. Sekarang lebih baik lo makan terus minum obat. Subuh nanti kita balik, gue sendiri yang akan bawa lo pulang."
"Kakak, nggak malu?" alih-alih mengiyakan, Nara malah kembali melontarkan pertanyaan tak bermutu.
Arga menggeleng dengan tegas. "Malu buat apa? Lo bukan aib sampe-sampe gue harus malu. You are mine."
Gadis cantik itu tertegun untuk sejenak. Maniknya menatap lekat lawan bicaranya.
Arga tidak berbohong. Tidak ada kebohongan di matanya.Dia tidak berbohong. Haruskah Nara percaya? Percaya kepada lelaki yang sejak awal menemukannya terus memberikan limpahan kekuatan?
Sejatinya jiwa Nara terguncang, sehingga ia terus memikirkan sesuatu yang tidak pasti. Tragedi penculikan beberapa jam lalu benar-benar membekas dalam ingatan. Ia bahkan bungkam setiap kali ditanya mengenai tragedi tersebut. Terlalu menyakitkan baginya jika mengingat-ingat lagi.
Semua tragedi itu terasa cepat sekali berlangsung, namun meninggalkan bekas yang tak tanggung-tanggung.
"Lo tetap sama dimata gue," tambah Arga seraya membawa satu tangannya untuk mengelus pelipis sang kekasih yang kembali basah oleh air mata.
"Lo tetap cewek gue, nggak ada yang berubah sedikit pun."
Air mata Nara Kemabli mengalir dengan deras. Sekalipun Arga sudah kembali menjatuhkan kecupan di pucuk kepalanya. Bahkan lelaki itu berbaik hati meminjamkan dada bidangnya untuk menjadi tempat menangis sang kekasih.
Hari ini telah banyak hal yang Nara lalui. Dari semua perihal tersebut, ia merasakan suka maupun duka dalam satu waktu. Walaupun demikian, ia juga jadi tahu jika Arga sebenarnya begitu memegang kata-katanya.
Laki-laki yang dulu Untouchable alias tidak tersentuh itu kini telah berubah. Nara sendiri merasakan dan melihat perubahannya. Bahkan bukan Nara saja, melainkan orang lain yang menjadi saksi bisu bagaimana sang leader mencari dengan gigih kekasihnya yang tak kunjung ditemukan. Mungkin makan dari kata-kata 'cinta datang karena terbiasa ' sedang bekerja pada mereka.
Ya, pada Arga dan Nara yang memulai hubungan mereka dengan keterpaksaan. Namun, seiring berjalannya waktu bulai tumbuh rasa tulus tanpa paksaan.
🫐🫐
TBC
Semoga suka 😘
Ada rekomendasi novel keren juga nih 👇
__ADS_1
Tanggerang 06-12-22