Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
³⁷UFB


__ADS_3

"Gue nggak salah denger kan, Kak Arga barusan ngajakin si Nara berangkat bareng pake motor?"


"Enggak. Kak Arga sweet banget deh."


"Kyakk, gue iri."


Walaupun sudah melenggang pergi, pesona seorang Arganta Natadisastra tetap menimbulkan after save yang menghebohkan satu rombongan.


Sedangkan Nara sendiri memilih memalingkan wajah. Walaupun Cacha, sahabatnya sendiri mulai kepo dan melontarkan berbagai pertanyaan, karena tindakan Arga barusan, Nara tetap memilih bungkam. Sekarang banyak opini negative yang terpatahkan. Setelah Arga sendiri datang menghampiri Nara. Perhatian kecil yang ditunjukkan laki-laki itu lebih dari cukup untuk membungkam mereka semua.


"SPHINIX?!"


"SATU NYALI, SATU JATI DIRI, HARGA MATI!!"


"SPHINIX?!"


"SATU NYALI, SATU JATI DIRI, HARGA MATI!!"


Perjalanan menuju tempat tujuan dimulai setengah jam kemudian setelah semua informasi penting disampaikan ulang oleh guru-guru yang bersangkutan. Mereka berangkat dari sekolah dengan iring iringan geng SPHINIX yang dipimpin oleh Arga.


Sebelum berangkat, mereka bahkan dengan bangga mengumandangkan slogan yang selalu mereka teriakkan. Nara bisa melihat bagaimana laki-laki yang sekarang menjadi kekasihnya mengendarai motor CBR250RR miliknya dengan gagah, mendahului bus yang membawa dirinya.


Nara tidak pernah tahu jika Arga and the geng akan ikut mengantar. Laki-laki itu memang tidak pernah berkata apapun. Sembari menggenggam 7 biji permen kopi yang diberikan arga, Nara diam-diam tersenyum tipis. Arga belakang ini memang sudah banyak berubah.


Perjalanan dari Bandung ke Sukabumi menghabiskan waktu tempuh 112,4 Km sekitar 2 jam 34 menit atau bisa lebih lambat atau cepat sesuai keadaan jalan. Bahkan jika keadaan jalan sedang tidak memungkinkan, perjalanan dari Bandung ke Sukabumi bisa mencapai 4 sampai 5 jam.


Perjalanan menuju kota Sukabumi sepertinya akan diwarnai pemandangan yang eksotis. Lanskap indah dari pegunungan dan hutan rimbun yang berada disisi kanan dan kiri jalan, akan menghantarkan mereka ke tempat yang memiliki nama unik tersebut.


Kota Sukabumi berasal dari bahasa Sunda, yaitu Suka-Bumen. Menurut keterangan mengingat udaranya yang sejuk dan nyaman, mereka yang datang ke daerah ini tidak ingin untuk pindah lagi karena suka atau senang Bumen-Bumen atau bertempat tinggal di daerah ini.


Pada tahun 1914 Pemerintah Hindia Belanda menjadikan Kota Sukabumi sebagai "Burgerlijk Bestuur" dengan status "Gemeente" dengan alasan bahwa di kota ini banyak berdiam orang-orang Belanda dan Eropa pemilik perkebunan-perkebunan yang berada di daerah Kabupaten Sukabumi bagian Selatan yang harus mendapatkan pengurusan dan pelayanan yang istimewa.


Tempat ini terpilih sebagai tujuan Darmawisata kerena memiliki beberapa situs yang berkaitan dengan tugas yang nantinya akan diberikan kepada siswa. Jarak tempuh dari Bandung ke Sukabumi pun tidak terlalu jauh. Bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Sepanjang perjalan menuju tempat tujuan, lanskap alam begitu membentang dengan indah disisi kanan dan kiri jalan.


Udara sejuk masih bisa menerpa rongga paru-paru. Dengan lukisan hijau nyata yang menyegarkan mata. Kota tersebut memiliki beberapa tujuan destinasi wisata yang mencangkup tentang taman margasatwa, cagar alam, budaya dan sebagainya. Masyarakat lokal yang mayoritas berasal dari suku Sunda dengan bahasa daerah bahasa Sunda yang digunakan sebagai bahasa sehari-harinya. Namun, kehadiran suku jawa dibeberapa perkampungan menambah kultur keragaman budaya yang ada di kota tersebut.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, mereka tiba ditempat tujuan. Tempat dimana mereka akan menginap selama berada di Sukabumi. Penginapan terbagi kedalam beberapa tipe dan arsitektur bangunan yang berbeda-beda. Dikelilingi rerumputan hijau dan pemandangan yang masih asri. Cukup membuat para siswa dan siswi puas dengan apa yang mereka dapatkan setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang.


"Nar, ayo turun. Kita langsung kumpul," ajak Cacha.


"Iya, ayo."


Semua anggota rombongan mulai berbondong-bondong keluar dari bus secara teratur. Membawa barang-barang mereka pribadi, kemudian berkumpul sejenak untuk diberikan pengarahan.


"Sini!"


"Eh," kaget Nara. Tiba-tiba ada yang memanggilnya dengan suara yang khas.


"Gue yang bawa."


Ransel di tangan Nara tiba-tiba berpindah.

__ADS_1


"Tapi, Kak, itu 'kan tas punya aku? Itu juga berat, biarin aku aja yang bawa."


Arga, laki-laki yang baru saja mengambil alih ransel berwarna coklat muda itu berdecak. "Lo ngeremehin gue?"


Nara menggeleng dengan risau. "Bukan gitu, Kak, maksudnya. Aku masih bisa bawa sendiri kok."


"Udah, gue yang bawa. Lo mendingan kumpul sana," titah Arga, otoriter.


Nara masih belum menyerah. Ia pun kembali buka suara. "Tapi...."


"Nolak lagi gue cium!"


Nara langsung bungkam. Kalimatnya yang belum terucap seolah-olah tertelan kembali. Sedangkan Cacha yang sejak tadi jadi saksi bisu perdebatan sepasang kekasih itu langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan. Belum lagi reaksi para siswi yang ada di sekitar mereka.


Tas lo gue yang bawa. Lo kumpul sana."


"I-ya," jawab Nara pada akhirnya. Lama-lama ia malu sendiri jika terus-menerus jadi pusat perhatian.


"Gue cabut." Tepukan ringan Raga jatuhkan dua kali di pucuk kepala Nara sebelum pergi.


Hal itu tentu kembali membuat para siswi yang lain iri.


"Buset, diancam mau dicium kayak di novel-novel," goda Cacha sepeninggal Arga.


"A-paan sih!"


"Gak usah malu gitu deh Nar. Lihat lo pacaran sama kak Arga aja udah kayak drama, apalagi cerita cinta kalian. Like a sweet story."


"Tapi aku jadi penasaran deh Nar, lo udah pernah kissu-kissu belum sih sama Kak Arga? kalau ditandai 'kan udah, tuh," tanya Cacha tanpa dosa.


Wajah Nara langsung memerah mendengarnya. "Kissu-kissu apa sih, nggak jelas banget bicaranya."


Cacha berdecak melihat sahabatnya yang pasang muka sok polos. "Ya itu, kissing masa lo...."


"Hey, kalian berdua sedang apa di sana? bukannya kumpul, malah asik ngobrol!"


Baik Nara maupun Cacha sama-sama terkejut bukan main mendengar suara salah satu guru mereka. Karena panggilan tersebut pula, Nara jadi selamat dari pertanyaan tidak bermutu Cacha.


...🫐🫐...


"Woah, pemandangannya mantul. Mantap betul!" Komentar Iki sambil merentangkan tangannya yang sempat kebas selepas berkendara. "Ini beneran tempat Darmawisata kelas XI?"


"Hm," sahut Orion yang kebetulan berada di sampingnya.


"Jalan-jalan ke kota Bantul, asli ....mantap betul cuy!" ujar Iki, jumawa. "Alus, urang baheula mah B aja."


"B aja apaan. Lo aja dulu sampe ngangah pas sampe tempat Darmawisata," seloroh Libra yang tengah duduk di atas motornya.


"Elah, ngibul lo? Gue nggak gitu juga keless."


"Serah, capek gue ngomong sama lo," ketus Libra sambil berjalan ke arah Arga yang baru saja tiba.

__ADS_1


"Darimana, Ta?"


"Cewek gue," jawab si empunya nama datar.


Libra tersenyum miring melihat ransel coklat muda dengan gantungan lucu yang dibawa Arga. "Jadi kacung lo sekarang? sampe disuruh bawa tas segala, Ta."


"Bacot."


Arga menyeringai tipis. Ia memang awalnya tidak menyetujui Arga berpacaran dengan Nara yang notabene mantan kekasih Seno. Namun, melihat seberapa besar perubahan Arga belakang ini, lebih tepatnya setelah keduanya berpacaran, Libra lagi berpikir ulang. Sepertinya semenjak berpacaran, Arga jadi lebih positif dan terkontrol. Ia juga tidak melanggar panji-panji organisasi seperti Seno. Jadi, sepertinya tidak masalah membiarkan mereka berpacaran.


"Anak-anak tadi nanya, kita buat tenda di mana?" tanya Iki yang baru datang menghampiri.


Arga menoleh, menatap space kosong di salah satu sudut. "Sebelah barat penginapan."


"Oke. Kalau kendaraan, disini aman, Ta?"


"Hm."


"Kalau gitu motor diparkir disini. Nanti anak-anak bagi-bagi tugas buat jaga parkiran sama keliling," usul Iki.


"Tumben lo bisa mikir lurus, Ki," timpal Libra tiba-tiba. Siapa sih yang tidak terkejut dengan Iki mode serius?


"Gue lurus salah, belok apalagi." Iki sempat menggerutu sebelum memutuskan untuk pergi, meninggalkan


Arga menatap kedua temanya tanpa eskpresi. Selalu saja ada perdebatan di antara mereka. Padahal mereka masih satu nenek moyang, satu keluarga, tapi sifat nya bagaikan langit dan bumi.


"Ta, anak-anak tadi ada yang nanya, kira-kira, buat masalah perut gimana?" tanya Iki yang kembali menghampiri Arga. "Ta?" panggil Iki, karena Arga tak kunjung merespon. "Ta, lo lagi lihatin apaan sih?"


Iki menoleh, menatap ke arah yang sama dengan arah pandang Arga. Ternyata yang laki-laki itu tengah pandangi dengan penuh minat walaupun wajahnya tetap datar adalah seorang gadis tengah membawa sebuah kardus berukuran cukup besar yang sesekali tersenyum ke arah temanya. Siapa lagi jika bukan Aleanska Nara, pacar Arganta Natadisastra.


Saking seriusnya menatap Nara, ketika melihat gadis itu menggerutu kecil di sana. Arga masih bisa melihatnya, walaupun ada jarak di antara mereka.


"Anj*r sampai mesem-mesem sendiri," gumam Iki sambil geleng-geleng kepala. Tiba-tiba sebuah ide cemerlang muncul di kepala. "Gue kerjain ah."


"ALE, ADA YANG LAGI NGELIHATIN NIH?!" Teriak suara melengking Iki, yang tentu saja langsung menarik banyak perhatian.


Arga saja langsung mendelik tajam saat mendengarnya.


"****. Apa apaan lo?!" Murka Arga yang tak habis pikir dengan kelakuan temanya yang satu ini.


Iki nyengir kuda, sambil mengambil ancang untuk segera melarikan diri.


"Maaf Ta, sengaja hehe" Ujarnya sambil berlari tunggang-langgang, menjauhi Arga yang siap meledak.


🫐🫐


TBC


Ada rekomendasi novel keren juga nih 👇


__ADS_1


Tanggerang 29-10-22


__ADS_2