
Gemerincing anting-anting panjang yang terhembus angin sore, menimbulkan suara khas di sela-sela keheningan. Tempat yang ditumbuhi berbagai rumput liar dan ilalang tersebut, tampak sepi dan tidak terurus. Pagar besi yang sudah berkarat masih memagari tanah luas yang dulunya sangat terjaga dan terawat.
Di tengah-tengah lahan tersebut, ada sebuah bangunan yang tidak terurus. Beberapa sudut bangunan masih terlihat tetap kokoh, walaupun tidak terurus.
Lelaki tampan itu mendorong pintu pagar, membiarkan kedua kakinya yang terlapisi jins belel berjalan masuk. Mengarah ke bangunan yang tidak terurus tersebut. Sebelah tangannya sesekali menyingkirkan tanaman menjalar yang menghalangi jalan. Tiba di depan pintu, ia termenung untuk sejenak. Bangunan ini masih sama seperti memorinya simpan sejak 11 tahun silam.
Pintu bercat putih yang sudah kusam itu terkunci. Namun, ia tidak kehabisan akal. Di samping pintu tersebut, ada patung ikan yang sudah potong bagian ekornya. Dahulu, patung ikan itu berwarna putih dengan pahatan-pahatan yang estetik. Namun, kini patung ikan itu hanya patung kusam yang warnanya sudah tidak putih lagi. Beberapa bagian patung ukiran tersebut juga sudah mulai diselimuti tumbuhan lumut.
Ia berjongkok, lantas menggeser patung ikan itu dengan kedua tangan.
"Kuncinya ada dibawah si Koi. Ayah simpan di sana, ya."
Sekelebat memori mengingatkan dirinya. Ia pikir, memori itu hanyalah ilusi dari cerminan aktivitas di masa lalu. Akan tetapi, ketika ia menggeser benda tersebut. Foila, ia benar-benar menemukan kunci yang mulai berkarat di bagian bawah patung ikan tersebut.
Bibirnya tersenyum miris. Pria itu tidak pernah berubah, pikirnya. Namun, satu pertanyaan muncul di kepala. Apa pria itu masih berpikir akan ada yang kembali ke rumah ini setelah sekian lama? Buktinya, ia tetap meninggalkan kunci di tempat yang sama. Di bawah patung ikan yang sering disebut patung Koi oleh para pengisi bangunan tersebut.
"Kalau masuk rumah, Kakak baca do'a dulu. Jangan lupa."
Lagi, sekelebat memori itu menghantam benak. Ia memejamkan mata sejenak, meredam semua kilasan-kilasan memori tersebut. Lantas setelahnya, ia menggunakan kunci tersebut untuk membuka pintu.
Berhasil.
Pintu bangunan tersebut berhasil di buka. Sekarang apa yang akan ia lakukan?
Ketika masih termenung di ambang pintu, tiba-tiba panggilan itu kembali hadir, bahkan lebih terdengar nyata. Ia juga mulai mendengar suara-suara lain, bukan lagi cuma satu suara.
"Kakak sudah pulang? Ayo, masuk. Bunda sedang menyiapkan makan siang. Kita makan bersama."
"Ayah ada di rumah?" sahut suara lain, itu ... seperti suaranya saat masih anak-anak.
"Iya. Ayah dapat cuti dari perusahaan," jawab suara lain, suara seorang gadis kecil yang familiar di telinga.
"Woah.... berarti besok kita jadi nonton bioskop?"
"Hm. Bisa!"
"Tapi, Lexa mau ke seaworld."
"SeaWorld?"
"Iya. Dunia bawah laut, Ayah. Kata Alex, ada mermaid di sana."
"Owh, putri ayah mau lihat mermaid, ya?"
"Iya. Bunda juga, biar Adek lihat mermaid sekalian."
"Iya. Nanti kita pergi ke SeaWorld, ya."
"Hore.... kita main ke seaworld."
"Memori sial*n?!"
Laki-laki beranting-anting itu berdecak sebal. Padahal ia masih berada di ambang pintu. Akan tetapi, semua memori itu sudah begitu kental menyelimuti setiap sudut bangunan minimalis tersebut.
Di setiap penjuru ruangan ada memori yang tertinggal. Ia masih ingat letak dimana orang-orang rumah ini suka bercengkrama sambil menikmati teh hangat dan biskuit kemasan. Ia juga ingat dimana dulu ia sering dimarahi, berkelahi, menangis, atau mengerjai kembarannya.
Dulu, rumah ini diisi oleh canda dan tawa. Hidup lima nyawa didalamnya. Menciptakan kehangatan yang mengisi setiap penjuru rumah.
Dulu, ada seorang istri yang selalu sabar mengasuh putra-putrinya, ketika suaminya bertugas di luar kota. Seorang istri yang tak kenal lelah. Namun, sifat dasar manusia tetap lah mudah merasa lelah jika terus melakukan hal yang sama dalam kurun waktu yang cukup lama.
Walaupun wanita yang dipanggil bunda olehnya itu telah lama menikah, serta dikaruniai 3 orang anak, sepi yang menghampiri ternyata tiba pada puncaknya. Hingga pada suatu hari, ketika ia baru kembali dari aktivitas bermain bola. Ia menemukan kembarannya tengah memeluk pria asing yang hadir dengan setelah jadi mahal. Pria asing itu juga datang membawa banyak mainan, makanan, serta keramahan dalam setiap ucapannya. Namun, semua itu hanya berlaku bagi ia dan kembarannya, tidak pada adik kecilnya.
Awalnya ia tidak terganggu dengar kehadiran pria tersebut, mungkin karena waktu itu ia masih terlalu kecil untuk memahami situasi dan kondisi yang sebenarnya. Sampai suatu ketika, sang bunda memintanya untuk merubah panggilan.
"Papa? Tapi, kenapa Bunda?" tanyanya pada pada wanita yang ia panggil bunda. Jelas sekali tercetak raut bingung di wajahnya.
"Karena Om ini Papa kamu."
"Aku punya Ayah, bukan Papa."
"Alex, dengarkan Bunda. Kamu itu ....anaknya Papa. Kamu bukan anak kandung Ayah."
"Maksud Bunda apa?"
Si kecil Alex kebingungan. Di usia yang belum genap menyentuh angka tujuh, ia tidak dapat membedakan apa itu artinya ayah kandung.
"Sudahlah, Sussanne. Alex masih kecil. Dia pasti belum mengerti."
"Tapi Mas, putra mu ini harus tahu yang sebenarnya."
"Hm. Tapi, semua butuh proses, Sussanne. Biarkan Alex lebih besar sedikit lagi untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi."
Wanita itu mengangguk. Mengalah, menurut pada pria yang belakangan kembali mengisi kekosongan di hatinya.
"Sekarang lebih baik kalian berkemas. Kita akan segera pergi dari sini."
"Baik, Mas." Wanita itu lantas beralih, menatap Alex kecil lagi. "Ayo ambil barang-barang kamu, secukupnya saja. Kita akan segera pergi dari sini."
"Pergi? memangnya kita mau kemana?"
"Kita mau pindah ke rumah Papa. Rumah Papa besar loh, ada kolam renangnya juga." Alih-alih sang bunda yang menjawab, kembaran Alex lah yang menjelaskan dengan raut begitu gembira.
__ADS_1
"Pindah?"
"Alex, ayo kemasi barang-barang kamu," ucap sang bunda yang baru saja mengambil alih tas kembaran si kecil Alex.
"Kita mau pergi kemana, bunda? terus Ayah sama adek dimana?"
"Jangan banyak tanya kalau kamu mau ikut sama Bunda."
Lagi, kilasan memori itu menggema dengan sangat nyata. Sekarang ia yakin, dulu sebelum meninggalkan tempat ini ia pernah bertanya kapan ayah dan adiknya menyusul. Bundanya menjawab nanti mereka akan segera menyusul. Akan tetapi, pada kenyataanya mereka tidak pernah menyusul. Bahkan sampai berbulan-bulan setelah mereka bertiga tinggal di rumah mewah bak istana.
Malahan pada suatu hari ia mendengar berita mengenai kecelakaan hebat yang menewaskan tiga orang korban di tempat. Informasi tersebut ia dapatkan dari televisi. Lewat televisi pula, ia tahu jika identitas dua dari tiga korban tersebut ia dikenali.
Bocah yang belum genap berusia tujuh tahun itu kalut bukan main. Ia tergesa-gesa menuju kamar bundanya. Mengabaikan si nyonya rumah yang memintanya untuk berhati-hati, pun dengan bocah laki-laki yang lebih tua satu tahun darinya. Putra kandung dari nyonya kebencian semenjak ia beserta ibu dan kembarannya tinggal di sana.
Ia mengetuk pintu dengan brutal, tapi sang bunda tak kunjung membuka pintu. Ia pun akhirnya nekad, menerobos masuk dengan mata yang sudah berair. Tidak peduli peduli dengan aktivitas dua manusia yang hampir telanjang di dalam sana.
"B-unda ....Ayah..."
"EXEL?!" dua orang yang berada di ruangan tentu saja kaget bukan lain. Kondisi mereka sedang tidak ramah dilihat anak sekecil Alex.
"Kalau masuk ke kamar Bunda, ketuk dulu. Kamu nggak tahu sopan santun? Lupa sama apa yang sudah Bunda ajarkan?" maki sang bunda yang menghampiri Alex dan selimut tebal membungkus badannya.
"A-yah, bund. Ayah..."
"Kenapa sama pria itu? Dia mati!" Bentak bundanya, frontal.
Alex kecil menggelengkan kepala dengan tubuh tremor. "A-yah kecelakaan.... hiks..."
"Mati saja sekalian. Bunda sudah muak sama dia."
Alex kecil menatap sang bunda dengan berlinang air mata. Apa telinganya tidak salah dengar?
"Bunda...."
"Pergi sana! Belajar yang giat. Jangan pedulikan pria itu lagi."
"Tapi, Bunda...."
"Bunda banyak pekerjaan!" seru sang bunda seraya mendorong tubuh ringkih Alex agar menjauh dari ambang pintu. Setelahnya yang terdengar hanya bunyi pintu yang ditutup begitu keras, bersama dengan suara tangis yang kian deras.
"Sial*n!"
Umpatan kembali dilontarkan ketika suara-suara itu berdenging di telinga.
ia pernah punya ingatan soal keluarga yang harmonis, namun tidak berlangsung lama. Ujung-ujungnya hanya ada kepahitan yang tersisa karena sebuah keegoisan.
Alex kecil kehilangan kebahagiaan serta lupa rasanya bahagia semenjak sebelas tahun silam. Sesaat setelah bundanya sendiri mengenalkan neraka dunia padanya, serta setelah perpisahan antara ia dengan ayah dan adiknya yang menjadi korban kecelakaan sebelas tahun silam.
"Apa Ayah masih hidup?"
...🏍🏍🏍🏍...
Kimi wa ima namida nagashita
Nakijakuru kodomo no you ni
Natsu no sora miagete niranda
Lagu opening sebuah Animasi populer asal negeri Sakura, Naruto Shippuden itu menggema cukup keras. Membuat beberapa pasang mata yang sedang beristirahat saling curi pandang.
"Eh, itu ringtone Hp nya si Naea 'kan yang bunyi?" tanya Cala, teman satu regu si pemilik handphone.
"Eh iya. Di sini selain si Nara yang maniak kartun siapa lagi?" celetuk Cacha sambil merogoh saku tas milik sang sahabat. "Lihat ya, lo harus jadi saksi gue. Gue nggak ngambil apapun, cuma ngambil hp doang."
"Iya. Aku bersaksi," ujar Cala, malas mendebat.
Cacha menatap layar benda yang tengah menyala tersebut. Ada nama 'ayah' yang muncul di layar. Sedangkan si empunya tengah menunaikan ibadah salah dzuhur selagi istirahat berlangsung.
"Si Nara kemana emang?" tanya Arjun.
"So," Cacha menggantungkan kalimatnya.
"So apaan? So, jadi gitu?" sahut si Arjun.
"Bukan, tapi isoma. Alias Istirahat Solat Makan. Si Nara lagi so-nya, alias solat," tutur Cacha.
"Ribet banget dah. Tinggal bilang solat aja, apa susahnya."
"Ye, 'kan gue mau yang rumit." Baru saja Arjun hendak menimpali, suara ringtone telepon Nara kembali terdengar.
Kimi wa ima namida nagashita
Nakijakuru kodomo no you ni
Natsu no sora miagete niranda
Kimi wa ima namida nagashita
Nakijakuru kodomo no you ni
Natsu no sora miagete niranda
__ADS_1
"Eh, Bokap si Nara nelpon lagi nih," dumal Cacha. Ia takut dianggap tidak sopan jika mengangkat panggilan tersebut.
"Angkat aja lah, gak usah ribet," usul Julian.
"Gak ah. Gue rasa nggak sopan."
"Ya udah, reject aja. Susah banget."
"Itu apa lagi." Gerutu Cacha. "Ngasih solusi yang bener dong!"
Di tengah perdebatan tersebut, muncul Arsen yang juga baru kembali dari mushola.
"Itu Hp Nara?"
"Iya. Lo lihat yang punya gak?"
"Masih salat. Tadi mukenanya gantian. Kenapa?"
"Ini, bokap nya nelpon mulu dari tadi."
"Oh, gitu. Ya udah, sini. Biar aku yang bicara."
"Wet... caper." Goda Julian.
Arsen tidak merespon apapun. ia memilih untuk segera mengangkat panggilan tersebut.
"Calon keluarga cemara," celetuk Julian tiba-tiba.
"Maksud lo?" bingung Cacha.
"Bayangin aja, kalau Arsen sama Nara sampe jodoh. Mereka pasti jadi keluarga cemara. Mereka selalu punya cara untuk mengatasi krisis kehidupan, mereka 'kan sama-sama smart."
"Sotoy!" sanggah Cacha. "Nara sama Arsen itu cuma BFF. Nggak lebih, nggak kurang. Toh, si Nara juga sekarang pacarnya Kak Arga."
"Seandainya. Masih diranah seandainya, Cha."
"Iya, tetep aja mereka nggak bakal nyampe ke tahap itu."
"Bisa aja dong. Kita nggak tahu jodoh kita siapa loh. Kali aja dari temen jadi demen," kekeh Julian, kian menjadi-jadi. Baginya Arsen dan Nara itu adalah definisi couple goals sesungguhnya. "Mereka kalau beneran jodoh, bisa jadi keluarga cemara new version. Sama-sama baik, smart, suka menolong, sabar, terus...."
"Terus?"
Baik Cala, Julian, Arjuna maupun Cala kompak menoleh. Keempatnya langsung bertemu pandang dengan onyx hitam Arganta Natadisastra yang datang bersama Nara.
"Kalian lagi bahas apa? Seru banget kayaknya. Aku kayak dengar keluarga cemara dibawa-bawa?" tanya Nara sambil tersenyum tipis.
"Bukan keluarga cemara kok," dalih Cacha dan Julian, kompak.
"Eh?" Nara memicingkan mata melihat tingkah teman-temannya. "Kalian kenapa kayak gugup gitu?"
Mereka kompak menjawab dengan gelengan kepala. Tidak ada yang mau bicara apa yang sebenarnya. Sampai akhirnya Arjun angkat bicara .
"Eh, Kak Arga. Ada urusan apa disini Kak?" tanyanya, mengalihkan topik pembicaraan.
Arga menatap datar teman-teman kekasihnya, sebelum akhirnya menjawab. Padahal Arjun sudah overthinking sendiri, berpikir jika basa-basi nya terlalu badi sampai Arga enggan merespon.
"Nganterin cewek gue." .
"Woah... kak Arga so sweet banget, sampai nganterin Nara," celetuk Cacha, ikut mendukung usaha Arjuna.
"Masalah?"
"Enggak!" Jawab Cacha, Cala, Arjuna dan Julian secara bersamaan.
"Kalian kenapa sih?" bisik Nara. Ia tahu pasti ada yang mereka sembunyikan.
"Kita gak papa kok." Cacha menjawab, mewakili yang lain.
"Gue balik," ucap Arga tiba-tiba. "Kalau ada apa-apa, jangan lupa telepon gue." Sebelum pergi, seperti biasa, ia mengacak pucuk kepala sang kekasih dua kali. "Ngerti?"
"Iya," jawab Nara seraya mengurangi senyuman tipis. Mereka berdua bertemu saat Nara dalam perjalanan pulang dari mushola.
Arga berdeham, lantas berbalik. Sebelum benar-benar pergi meninggalkan sang kekasih bersama teman-temannya, ia sempat kembali berkata.
"Lo semua...."
"Iya, Kak," sahut teman-teman Nara.
Arga menoleh, tanpa membalikkan badan. Namun, onyx hitamnya mampu menatap tajam mereka semua. "Berhenti jodohin cewek gue. She is mine."
...🍄🍄...
...TBC...
Semoga suka 😘
Jangan lupa like, vote, komentar, dan follow Author 🙏🏻
Ada rekomendasi novel keren juga nih 👇
Tanggerang 03-12-22
__ADS_1
Tanggerang 03-12-22