Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
⁵²UFB


__ADS_3

"Ta, kamu mau kemana?" pertanyaannya itu agaknya berhasil membuat langkah Arganta berhenti. "Kamu mau bolos?" lanjutnya.


Gadis cantik itu baru saja muncul di depan motor Arga itu berkata seraya melipat tangan di depan dada.


"Minggir!" usir Arga yang hendak pergi bersama motor CBR250RR miliknya. Ia memang berencana untuk bolos.


"Kamu mau kemana sih? Apa masih kurang warning dari Papa?" Alexandria Natadisastra, gadis cantik itu berkata seraya berjalan cepat untuk merebut kunci motor milik Arga.


"Nggak usah ikut campur!" seru Arga, emosi. "Sekarang balikin kunci motor gue."


"Nggak. Kamu nggak boleh pergi kemana-mana."


"Lo nggak ada hak buat ngatur-ngatur gue. Urus urusan lo sendiri."


"Urusan kamu, urusan aku juga. Apalagi kalau alasan kamu bolos karena cewek kampungan itu." Alexa berkata demikian, karena ia sempat mendengar pembicaraan Arga dan teman-temannya.


"Banyak bac*t lo!"


Arga merampas kembali kunci motornya dalam satu gerakan kasar. Ia tidak mau buang-buang waktu lagi dengan meladeni Alexa. ia harus bergegas pergi ke rumah sakit. "Lo nggak punya hak buat menghalangi gue. Lo nggak lebih dari benalu di hidup gue."


Deg!


Alexa terdiam mendengar kalimat menohok yang baru saja Arga lontarkan. "Ta, kamu itu...."


"Apa? Gue sama sekali nggak lupa sama status. Seharusnya lo juga nggak lupa sama status."


"Ta...."


"Kalau lo nggak lupa sama status, lo nggak mungkin masih punya perasaan cinta buat Kakak tiri lo."


Double skakmat.


Alexa tahu jika Arga menggertak dirinya. Akan tetapi semua ucapan lelaki rupawan itu benar. Tidak seharusnya ia menyimpan rasa cinta untuk laki-laki yang masih berbagi darah dengannya.


Namun, mau bagaimana lagi. Cinta yang ia miliki singgah di tempat yang salah dan itu bukan kuasanya.

__ADS_1


Arga memanfaatkan kesempatan tersebut dengan baik. Lelaki rupawan itu segera melajukan motornya saat Alexa masih tak bergeming di tempat.


Arga tidak pernah melupakan statusnya walaupun itu memalukan. Seharusnya Alexa juga mengingatnya.


Bukan niat Arga untuk mematahkan hati perempuan manapun. Akan tetapi, sewaktu-waktu ia juga bisa saja menjadi liar dan tidak berhati. Toh, hati yang sejak dulu tak bertuan ini kini sudah terisi.


Arga tidak berniat mencari perempuan lain untuk menjadi pengisi hatinya. Sudah cukup Aleanska Nara yang mengisi hatinya sampai penuh. Itupun jika memang benar Tuhan mengizinkan mereka tetap bersama.


Tiba di rumah sakit, Arga menyempatkan diri untuk bertanya kepada bagian administrasi. Sayangnya, tidak ada nama sang kekasih tertulis di sana. Selain itu Arga juga tidak yakin siapa yang ke masuk rumah sakit. Apa memang kekasihnya? ayah kekasihnya? atau seseorang yang dekat dengan kekasihnya?


Sejauh ini informasi yang Arga dapatkan minim dan belum sepenuhnya valid.


Getaran yang tiba-tiba datang dari smartphone miliknya, berhasil mengambil alih perhatian. Ada nama Libra muncul di layar smartphone.


"Ada apa?"


"Cewek lo masuk rumah sakit. Lo tahu?" ujar suara di seberang.


"Hm."


"Lo dimana sekarang, Ta?"


"Cari aja kamar nomor 404. Di sana bokap cewek lo dirawat. Bokap nya jadi korban penganiyaan dan percobaan pembunuhan."


"Percobaan pembunuhan?" informasi yang baru saja diberikan Libra itu tentu saja mengejutkan Arga.


"Panjang ceritanya, Ta. Gue sama Orion doang yang baru tahu. Kita juga masih mantau perkembangan penyelidikan kasus ini."


Arga terdiam mendengarnya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?


"Mengenai identitas cewek lo ....gue rasa yang janggal, Ta."


"Maksud lo?"


"Bokap nya nggak pernah dikenal sama siapapun. Semacam disembunyikan gitu identitasnya. Sorry, gue baru ngasih tahu sekarang. Gue cuma nggak mau lo jatuh ke lubang yang sama kayak Seno. Jadi gue selidiki identitas cewek lo."

__ADS_1


Dean berdeham kecil, paham akan maksud sang sahabat. "Hm."


"Gue jelasin lebih detail nya di markas," sambung Libra. "Ya udah, gue tutup dulu. Nanti gue kasih informasi terbaru."


"Oke."


"Satu lagi, Ta."


"Apa?"


"Selain Arsen, ketos SMA Angkasa, cewek lo juga didampingi sama Alexander."


Arga mengeraskan rahang mendengarnya. Lagi dan lagi, ia harus berurusan dengan lelaki yang secara biologis berbagi darah dengannya.


Setelah sambungan telepon terputus, Arga segera berlalu mencari ruangan bernomor 404. Ruangan tersebut ternyata berada di lantai dua. Dengan segera, ia meraih kenop pintu setibanya di sana. Mendorongnya agar pintu bercat putih itu terbuka lebar.


Ketika pintu itu berhasil ia buka, satu pemandangan pertama yang ia lihat langsung membuat rahangnya mengeras. Tangannya mengepal kuat. Jantungnya terasa diremat. Onyx hitamnya menatap begitu lekat.


Arga lantas mengambil langkah lebar. Mendekati objek yang membuatnya seperti demikian.


"Kakak-"


BUGH!


"Sial*n!" umpat Arga murka. Tidak peduli jika pukulan telaknya menimbulkan pekikan kaget dari sang kekasih serta erangan kesakitan dari lawan duelnya.


Emosi yang telah Arga bendung sejak kemarin akhirnya terlepas. Melihat kekasihnya yang ia rindukan setengah mati sejak lagi, sedang dipeluk oleh saudara tirinya sendiri, isi kepala Arga mendadak kosong. Membuat emosi yang mengambil alih situasi.


"She is mine!"


🫐🫐


TBC


Semoga suka 🖤

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘


Tanggerang 11-12-22


__ADS_2