Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
³⁶UFB


__ADS_3

Di sebuah markas yang kurang terurus, dua orang lelaki tampak tengah duduk di sebuah sofa lapuk. Bau menyengat dari campuran aroma tak sedap dari nasi basi di atas meja, makanan basi di tong sampah, atau bau bangkai tikus, menjadi aroma tak sedap yang lumrah mereka hirup.


"Jadi, gue harus tetep stay direncana awal, Lex?"


"Hm. Lo harus tetep stay di sana. Awasi dia, jangan sampe kembaran gue ganggu dia."


"Oh, oke. Rombongan adik lo baru mau otw. Ada anak SPHINIX juga, mereka bertugas mengawal rombongan darmawisata."


Lelaki tampan itu tampak tidak terkejut sama sekali. "Jangan sampai mereka tahu."


"Pasti. Kalau gitu gue tutup dulu, Lex."


"Hm."


Sambungan telepon itu terputus. Laki-laki tampan yang baru selesai menerima telepon itu lantas menoleh ke samping.


"Gray, awasi anak-anak selama gue pergi."


"Lo yakin mau pergi, Lex?"


"Hm. Gue harus urus sesuatu."


"Tapi, anak-anak mulai sulit diatur. Apalagi kalau nggak ada lo."


"Atur yang bisa diatur. Gue nggak butuh anggota yang gak mau diatur!" tekan laki-laki tampan tersebut.


"Oke," ujar laki-laki satunya lagi, namanya Gray. Tangan kanan lelaki si burung api. "Tapi, lo mau tetep pergi dalam keadaan gini?" tanya Gray memastikan.


"Hm."


"Tangan lo?"


"Itu nggak penting. Yang terpenting sekarang, cari tahu soal bukti-bukti kecelakaan 11 tahun lalu," ujar laki-laki yang selalu identik dengan anting-anting tersebut.


"Gue titip anak-anak. Titip saudara kembar gue juga. Kalau ada yang janggal, langsung hubungi gue. Gue nggak mau kecolongan lagi," pesannya kepada sang tangan kanan. Sebelum ia beranjak dari tempat tersebut.


"Oke. Lo juga, hati-hati Lex."


"Hm."


...🫐🫐...


"Udah semua 'kan, Nar?"


"Iya, udah."


"Gak ada yang ketinggalan?"


"Enggak."


Kedua gadis tersebut terlihat mengobrol kecil, sambil mengingat-ingat barang bawaan mereka. Takut-takut masih ada yang tertinggal.

__ADS_1


"Jurnal udah dibawa, Nar?" tanya Cacha lagi.


Gadis cantik si pemilik nama itu mengangguk. Tubuh mungilnya terbalut seragam batik SMA Angkasa yang dilapisi dengan blazer berwarna baby blue. Sebuah ransel yang cukup besar tampak berada dipunggung mungilnya.


Hari ini jadwal keberangkatan Darmawisata ke Sukabumi. Dalam jangka waktu yang di berikan Bu Dewi--selaku staf Tata Usaha, Nara akhirnya mampu melunasi tunggakan. Uang yang dikumpulkan oleh Nara sudah terkumpul, sesuai nominal tunggakan yang tertera. Semua itu tak lepas dari bantuan Arga yang membiarkan Nara menggambil gajih nya lebih awal. Walaupun awalnya Arga menawarkan uang secara cuma-cuma, namun Nara menolak ide tersebut.


"Berarti tinggal kumpul. Bentar lagi bus kita berangkat."


"Iya."


Pemberangkatan pagi ini dijadwalkan pukul 08.00 pagi. Seluruh siswa-siswi SMA Angkasa juga sudah mulai memasuki kendaraan yang disiapkan untuk membawa mereka ke tempat tujuan.


"Duduk disini aja Nar, sama Cacha. Tempat dudukku persis di belakang kalian."


Nara mengangguk, lalu ia menoleh sejenak ke arah sang sahabat. Ada Arsen di sana.


"Kelas XII memangnya ikut, Sen?"


"Enggak. Memangnya kenapa?"


Nara menggeleng. Ia bertanya demikian, karena penasaran. Entah apa yang dilakukan para anak SPHINIX kelas XII yang sudah berkumpul di luar sana jika mereka tidak mengikuti Darmawisata.


"Cha, itu anak-anak kelas XII 'kan?"


"Iya. Gue juga baru sadar kalau mereka ada di sana."


"Hm. Kamu nggak tahu mereka ada keperluan apa di sini? bukannya mereka nggak ikut Darmawisata?"


"Mungkin mereka mau nganter kita," asumsi Cacha.


"Kamu bercanda, ya?"


"Kemungkinan, Nar. Lagi pula kalau iya juga nggak papa. Gue 'kan nanti jadi bisa lihatin kak Orion terus."


"Dasar."


Iris cantik Nara lantas melirik ke samping. Ia memang duduk di dekat jendela. Dengan begitu, ia bisa dengan mudah melihat kumpulan anggota SPHINIX. Saat tengah berpikir, iris coklatnya menangkap sebuah motor familiar yang memasuki pelataran parkiran. Motor CBR250RR tersebut berhenti tepat di samping bus. Ketika si empunya membuka helm full face yang melekat di kepalanya, jeritan histeris langsung menggema dimana-mana.


Wajah tampan dengan ekspresi datar itu tentu membuat para kaum hawa histeris melihat pesonanya. Tubuh tegapnya terbalut jaket bomber hitam kebanggaan geng SPHINIX. Setelah melepaskan helm full face yang digunakannya, semua mata langsung tertuju ke arahnya.


Bak bintang model di atas red carpet, semua perhatian kaum hawa tertuju kepadanya. Langkah panjangnya membawa pemuda tampan tersebut kepada dua orang gadis yang tengah mematung dalam posisi duduk.


"Lo lupa sesuatu," Ujarnya tiba-tiba.


Semua mata fokus kepada wajah tampan yang terlihat tengah berbicara dengan santai tersebut. Banyak hati diam diam iri saat melihat sosok tampan yang populer di kalangan siswi itu berbicara kepada satu sosok yang tak lain dan tak bukan adalah sang kekasih hati.


"Maksud Kakak?" cicit Nara dengan suara kecil.


"Lo ninggalin ini."


"Eh?" Nara terperanjat kaget saat melihat buku jurnal yang Arga sodorkan.

__ADS_1


"Nar, itu kan jurnal kita?" tukas Cacha, sama kagetnya.


"Lo kemarin ninggalin itu di kamar gue."


Ah, iya, Nara lupa.


Cacha bahkan sampai mendelik tajam saat mendengar informasi yang baru saja diucapkan oleh Arga. Ketinggalan di kamar Arga katanya, dasar ceroboh!


"Ambil."


Nara mendongkrak, lalu tangannya terulur mengambil jurnal tersebut.


Nara memang sempat pergi ke markas SPHINIX kemarin. Lebih tepatnya untuk menerima tawaran masak bersama di dapur umum markas. Beberapa anak SPHINIX yang hadir ke cafe sempat meminta Nara untuk mampir. Nara juga sampai lupa kapan ia meninggalkan jurnal tersebut di kamar Arga. Oleh karena itu, saat Cacha bertanya ia meng-iyakan seolah-olah jurnal itu ada. Karena seingatnya jurnal tersebut sudah ada di dalam tas.


"Terima kasih, Kak."


"Hm."


Arga masih tetap di sana, walaupun jurnal sudah Nara terima. "Kakak ada perlu lagi?"


"Tangan lo," pinta Arga tiba-tiba.


"Hah?"


"Mana tangan lo?" Nara mendongrak, lalu mengulurkan sebelah tangan sesuai permintaan Arga. Laki-laki itu lantas merogoh sesuatu dari saku jaketnya, kemudian meletakkan benda tersebut di telapak tangan Nara yang terbuka.


"Biar lo gak ngantuk," kata Arga sambil menarik tangannya kembali. Ternyata laki-laki itu memberikan 7 buah permen kopi pada Nara.


"I-ya, terima kasih, Kak."


Arga menatap Nara lagi, lekat. Tak peduli pada orang-orang di sekitar mereka yang memperhatikan. "Gue ada dibelakang. Kalau lo mau bareng gue pakai motor, tinggal bilang ke supir."


"I-ya."


"Gue cabut," tukasnya seraya mengacak-acak pucuk kepala Nara. Setelah berkata demikian, Arga langsung berlalu begitu saja.


Meninggalkan Nara dengan rambut bagian atas yang agak acak-acakan. Plus dengan debaran jantung yang berhasil dibuat berantakan.


Selang dua detik kemudian, pekikan seorang siswi membuat Nara sadar, bahwa bukan cuma dia yang baru saja tersihir oleh pesona seorang Arganta Natadisastra.


"Kyakk, rambut dia yang diacak-acak, tapi hati gue yang berantakan!"


...🫐🫐...


...TBC...


Ada rekomendasi novel keren juga nih 👇



...Tanggerang 28-11-22...

__ADS_1


__ADS_2