Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
⁷⁵UFB


__ADS_3

Umat manusia diuji untuk mengetahui seberapa besar keimanan. Karena ketika berada dalam titik paling rendah, mereka akan tahu siapa sebenarnya yang paling tinggi. Tempat untuk meminta segala sesuatu dan mengadu.


Tuhan menguji umatnya bukan semata-mata tanpa alasan. Dalam beberapa riwayat dikatakan bahwa Tuhan menguji umatnya untuk mempertebal keimanan serta membuat umatnya semakin dekat dengannya. Tuhan juga tidak akan menguji dengan ujian di luar batas kemampuan umat-umatnya.


Sekarang ujian sedang menimpa para Natadisastra. Dua Minggu belakangan bagaikan neraka bagi mereka. Ujian datang silih berganti menghampiri. Mulai dari ditangkapnya Utama Natadisastra dan Sussanne Natadisastra. Kemerosotan saham milik perusahaan Natadisastra juga membawa tonggak bisnis milik Utama itu berada di ujung tanduk. Selain itu, para anak-anak mereka juga merasakan imbasnya. Terutama Alexandria Natadisastra.


"Siapa nih? princess Natadisastra bukan sih?"


"Kalau dilihat dari perawakan sama penampilannya sih, iya."


"Gila, main sama om-om bukan sih?"


"Masa om-om perawakannya mirip Nam Joon?"


"Heh, mirip Nam Joon apaan? itu mah mirip Kim Seok Jin mode jadi dosen!"


Kehebohan itu berasal dari segerombolan siswi yang sedang berdiri di depan Mading. Di area tersebut tertempel 3 buah foto yang mencetak gambar most wanted girls SMA Angkasa yang sedang berciuman panas dengan seorang laki-laki asing. Pada foto yang lain, gadis itu tampak bergelayut manja pada rengkuhan laki-laki dengan kemeja hitam tersebut. Sedangkan foto terakhir mencetak gambar mereka yang sedang meninggalkan sebuah club night.


Semenjak tertempel di mading, foto-foto tersebut ramai jadi perbincangan. Soalnya dalam foto tersebut jelas menangkap gambar Alexandria Natadisastra, sedangkan pasangannya tampak membelakangi kamera.


"B*tch banget nggak sih? padahal dulu dia kelihatan berkelas banget."


"Image doang kali. Aslinya mah memang murahan."


Alexa yang baru tiba di sekolah, kebetulan berdiri beberapa meter dari para siswi yang sedang membicarakannya. Entah dari mana datangnya foto-foto tersebut, yang pasti saat ini ia tidak punya muka sama sekali untuk sekolah. Pantas saja semenjak memasuki area sekolah, banyak mata yang memandangnya berbeda. Biasanya pandangan dengan sorot penuh kekaguman, sekarang lebih kepada menyepelekan.


Alexa pun memilih kembali memutar arah. Berlari sekuat tenaga meninggalkan area sekolah. Sudah cukup ia menjadi tuli dan abai dua Minggu ini, sekarang ia sudah tidak bisa lagi berpura-pura. Semua terasa semakin menyiksa.


Sret!


"Mau kemana?"


Alexa menoleh saat ada lengan kekar yang menahan tangannya. "Lepasin!"


"Gue tanya, lo mau kemana?" tanya lelaki dengan Jersey bola kebanggaan SMA Angkasa. Kali ini dengan sedikit penekan. "Bolos?"


"Jangan ikut campur. Aku tahu kamu nggak peduli sama aku!" jerit Alexa. Air mata yang susah payah ia tahan sudah menggenang di pelupuk mata.


"Menghindar dari masalah nggak akan menyelesaikan apa-apa."


"Aku cuma ....ingin sendiri," sahut Alexa dengan suara yang dibuat setegas mungkin. "Please, lepasin tangan aku."


"Gue bakal lepasin, kalau lo jawab mau kemana?"

__ADS_1


Alexa mendongkrak, mencoba menghalau air matanya. "Pulang."


Arga benar-benar menepati janji setelah Alexa mengatakan kemana tujuannya. Padahal Alexa tidak punya tempat untuk berpulang, akan tetapi ia tetap berkata ingin pulang. Tempat pulang untuknya saat ini tentu saja Lumiere Cafe.


"Tunggu di depan, Orion bakal anter lo pulang."


Alexa menggelengkan kepala dengan tegas. "Aku bisa pulang sendiri."


"Tunggu Orion. Lo denger kata-kata gue, 'kan?"


"Aku mau pulang sama Alexander," sahut Alexa seraya meremas pinggiran rok nya. "Jangan suruh dia kesini."


Alexa tidak memberikan Arga waktu untuk merespon, karena setelah berkata demikian, ia langsung pergi ke arah gerbang sekolah. Sebenarnya ia berbohong soal pulang bersama Alexander. Kembarannya saja tidak dapat ia hubungi semenjak kemarin. Entah Alexander tahu mengenai peristiwa buruk yang menimpa kembarannya atau tidak.


Namun, intuisi memang tidak dapat dibohongi. Ketika berhasil menjejakkan kaki di luar gerbang SMA Angkasa, Alexa bisa melihat motor CBR yang familiar di matanya. Motor ber-cc tinggi itu milik siapa lagi jika bukan milik kembarannya.


"Naik."


Alexa menurut tanpa banyak kata. Ia langsung mengambil posisi di jok penumpang bagian belakang. Ketika tidak sengaja menoleh ke arah gerbang, ia bisa melihat Arga yang masih berdiri di tempat semula. Kali ini tidak seorang diri, namun bersama seorang lelaki yang sudah siap di atas motor CBR250RR hitamnya. Itu pasti Orion Gaiden.


Alexa tidak punya muka untuk bertemu siapa-siapa, termasuk ia yang belakangan memberikan perhatian-perhatian kecil padanya. Jadi, ketika ia memutuskan untuk membuang muka, itu berarti ia juga akan kembali menutup harapan tentangnya.


🫐🫐


Alexa mendongkrak, menatap langsung ke arah mata sang kembaran. "Kamu nggak percaya sama aku?"


Alih-alih mendapat jawaban yang diinginkan, Alexander malah disuguhi raut kecewa yang tercipta di wajah Alexa. "Gue cuma tanya, siapa cowok itu?!"


Habis sudah kesabaran Alexander. Sejak tadi ia bertanya, namun kembarannya memilih bungkam.


"Aku udah bilang, aku nggak kenal sama cowok itu!"


"Lo pikir gue percaya?"


Alexa membuang muka. Air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk mata, akhirnya jatuh juga. "Terus buat apa kamu nanya? Kamu memang nggak pernah percaya sama aku."


Alexander sempat tertegun untuk beberapa saat. Melihat air mata sang kembaran yang terkenal sebagai gadis anti menye-menye, ambisius, perfeksionis, dan sombong, berhasil membuat ia sadar bahwa mungkin saja selama ini ia terlalu keras pada kembarannya sendiri.


"Sekali lagi gue tanya baik-baik, siapa cowok itu?" Alexander bertanya seraya memegang kedua bahu Alexa.


Alexa kembali menatap Alexander. Langsung pada kedua bola matanya. "Aku nggak tahu. Aku ....out of control. Semua terjadi begitu aja."


Alexander mendesah kecewa. Kembarannya tidak memberikan titik terang mengenai identitas lelaki yang ada di foto tersebut.

__ADS_1


"Gimana bisa lo lepas kendali? Lo Hangover?"


Alexa menggelengkan kepala cepat. "Aku cuma minum cocktail yang kadar alkoholnya rendah."


Oke, Alexander percaya akan yang satu itu. Nakal-nakalnya Alexandria Natadisastra, ia punya ketakutan terbesar pada kedua orang tuanya yang bisa dibilang strict parents. Jadi, tidak mungkin Alexa sampai berani mabuk-mabukan tanpa alasan. Sudah jelas ada unsur kesengajaan dari peristiwa tersebut.


"Kapan kejadian itu terjadi?"


"Malam yang sama di saat kamu jadi korban pengeroyokan."


"Pengeroyokan?" gumam Alexander. Nama Hydra Jaya Kusuma langsung terngiang di kepala. Jadi, ia dan kembarannya sama-sama tertimpa musibah di hari yang sama?


"Lo sama sekali nggak ada hubungan sama cowok brengs*k itu lagi?"


Alexa menggelengkan kepala dengan lemah. "Aku ....kabur pas cowok itu ngambil sesuatu di kamarnya. Aku takut. Pikiran aku buntu."


"Siapa yang tahu kejadian ini selain lo?"


"Aku rasa nggak ada," jawab Alexa. "Aku nggak sempat cerita ke Decha Sam Putri, karena ku buru-buru ke rumah sakit pas dengar kamu jadi korban pengeroyokan."


Alexa terdiam setelahnya. Begitu juga dengan Alexander. Hanya Isak tangis gadis itu yang masih terdengar lirih.


"Dengar," Alexander kembali buka suara. Salah satu tangannya meraih telapak tangan Alexa. Coba memberikan support pada kembarannya itu. "Lo jangan khawatir, gue bakal cari cowok brengs*k itu sampai dapet."


Alexa mengangguk dengan isak tangis yang semakin terdengar menyayat hati. Ia benar-benar terlihat lelah dan tersiksa belakang ini. "Tapi aku takut."


"Apa yang lo takuti? gue ada uang. Gue bakal suruh kenalan orang tua Blake take down postingan apapun tentang foto itu."


Alexander tahu kejahatan di dunia Maya sulit dihilangkan, karena jejak digital tidak mudah dihapuskan. Namun, sebisa mungkin ia akan berupaya untuk menarik pemberitaan apapun yang membawa-bawa nama kembarannya. Ia juga akan membawa sang kembaran ke psikolog atau pun psikiater, supaya jiwa kembarannya yang terguncang terus belakang ini mendapatkan penanganan.


"Bukan itu yang aku takutkan," lirih Alexa parau.


"Terus apa?" sahut Alexander, kali ini terdengar lebih ramah di telinga.


"Aku ....takut hamil."


...🫐🫐...


...TBC...


...Semoga suka 🖤...


...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...

__ADS_1


...Tanggerang 27-12-22...


__ADS_2