Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
²⁵UFB


__ADS_3

"Lo nggak tahu aturan?"


Refleks, Nara menoleh ke arah samping dan langsung menemukan si empunya ruangan.


"Lupa caranya ngetuk pintu?"


"Aku udah ngetuk pintu, Kak. Tapi, nggak ada jawaban dari dalam." Aura tidak bersahabat tergambar jelas pada lawan bicaranya. Masih dengan posisi berdiri di depan pintu, tanpa beralih sedikitpun, Nara kembali angkat bicara. "Kakak kenapa panggil aku kesini?"


Detik selanjutnya, bukan jawaban yang Nara dapatkan, melainkan tarikan di pergelangan tangan. Bersamaan dengan itu pintu ditutup dengan sangat keras.


"Gue mau kasih lo hukuman."


"Hukuman?" Nara tampak kaget mendengarnya.


"Lo itu bisanya cuma ngelawan gue."


"Melawan Kakak?"


"Lo banyak melanggar aturan yang gue tetapkan!"


"Peraturan yang mana, Kak?" Bingung Alea. Tiba-tiba pemilik nama lengkap Arganta Natadisastra itu mau menghukumnya tanpa alasan. Ia tentu saja kebingungan.


"Peraturan pertama yang harus Lo lakukan, pulang dan pergi sekolah sama gue."


Nara menatap sang lawan bicara tak percaya.


"Dua, jangan deket-deket sama cowok lain, terutama Alexander!"


Nara tampak menautkan kening mendengar poin ke dua. "Kak, dia itu...."


"Gue gak suka di bantah!"


Nara langsung kicep mendengarnya. Antara terkejut, bingung, serta takut. Arga itu sosok yang tidak mudah ditebak. Sebentar-sebentar marah, terkadang baik secara tak terduga.


"Tiga, lo harus selalu berada di jangkauan mata gue."


Nara menghembuskan nafasnya kasar. Fakta tentang keberadaan Arga sebagai penjaga yang dipilih Seno secara langsung, membuat hidup Nara perlahan-lahan mulai terkekang.


"Lo masih nggak paham maksud gue?"


Nara mendongrak, menatap Arga yang juga sedang menatapnya. Pergelangan tangannya masih dicekal kuat hingga saat ini. Namun, rasa sakit yang tercipta tak mampu meredakan rasa penasaran yang ada. Nara penasaran, kenapa Arga begitu marah ketika mengucapkan nama Alexander? Apa karena tadi ia pulang bersama Alexander?


"Kenapa?"


"Apanya?" Arga balik bertanya.


"Kenapa Kakak harus mengatur aku? Kakak bukan siapa-siapa aku, kita juga tidak punya hubungan apapun. Sudah semestinya Kakak tidak berhak mengatur hidup aku "


Arga tersenyum miring, lantas membuat gerakan untuk mengikis jarak di antara mereka.


"Lo butuh status buat nurutin perintah gue?"


Nara menggelengkan kepala dengan cepat. "Bukan begitu maksudnya, Kak. Aku...."


"Dengar dan ingat ini baik-baik, mulai hari ini lo ....jadi pacar gue," potong Arga cepat.


Nara yang tadinya hendak menyuarakan pendapat langsung bungkam dengan mata terbelalak hebat. Bagaimana Nara tak terkejut, Arga tiba-tiba saja memberikan status pada hubungan mereka.


"Mulai hari ini, lo milik gue."


Nara tentu saja tidak menerima status yang baru saja Arga sematkan pada mereka. Pacar katanya? beberapa hari dekat dengan Arga saja hidup Nara sudah terombang-ambing, apalagi jika sampai menyandang status sebagai pacar Arganta Natadisastra. Tenggelamkan saja sekalian.


Baru saja hendak menyuarakan penolakan, Nara dibuat terkejut bukan main saat Arga tiba-tiba merunduk dan memajukan wajahnya. Masih dalam keterkejutan yang sama, Nara bisa merasakan kesiap di bibirnya tertelan kembali saat Arga menyentuh bibirnya dengan bibir sendiri.


Gila. Arga baru saja mengecup bibirnya! tolong dicatat, mengecup. Bukan mencium, karena benda lunak itu hanya mendarat dan menyapa beberapa saat. Tanpa adanya gerakan mel*mat dan sejenisnya.


"Itu tanda kalau lo udah jadi cewek gue," ujar Arga kala berhasil menjauhkan diri. "You are mine."


Setelah berkata demikian seraya mengusap bibir Nara menggunakan ibu jarinya, Arga kian menciptakan jarak di antara mereka. Lantas mengambil langkah menjauh, meninggalkan Nara yang masih termangu di tempat. Sistem syaraf di tubuhnya seolah-olah non aktif semenjak bibirnya berhasil dinodai untuk pertama kali.

__ADS_1


Semburat merah juga tidak luput dari kedua pipinya. Menandakan jika ada ledakan rasa yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.


"Barusan itu mimpi?" cicit Nara dengan suara kecil.


Ia masih tidak percaya akan peristiwa yang beberapa menit lalu terjadi di antara ia dan Arganta Natadisastra. Mereka baru saja .... berpacaran. Ditambah lagi Arga baru saja mengecup bibirnya sebagai tanda jika mereka telah berpacaran. Gila. Nara benar-benar bisa gila hanya dengan memikirkannya.


"Ish," lirih Nara seraya menggelengkan kepala.


Bayang-bayang soal apa yang Arga lakukan pada bibirnya benar-benar membekas dalam ingatan. Ia sampai-sampai tidak fokus ketika bekerja. Padahal ketika hari beranjak sore, cafe mulai ramai dipadati pengunjung. Semua sibuk dengan job desk nya masing-masing, tidak terkecuali Nara.


"Kamu kenapa?" Nindi bertanya seraya membuka expanding file.


"Ah, enggak kok. Cuma lagi mikirin tugas."


"Kirain kenapa, habisnya kamu dari tadi uring-uringan terus."


Nara tersenyum kikuk sembari menggaruk pelipis. "Aduh, maaf. Aku jadi kurang fokus kerja."


"Iya nggak papa, yang penting jangan berkelanjutan aja."


Nara mengangguk, lalu bergegas menyelesaikan pekerjaannya kembali. Hari ini cafe akan tutup lebih awal. Katanya akan ada acara yang di adakan oleh owner cafe ini.


"Ini sebenarnya mau ada acara apa, Nin?"


Nara yang tidak tahu menahu, tentu saja bertanya pada Nindi kala melihat banyak pemuda yang berdatangan. Mereka disambut oleh Libra ketika tiba di depan pintu.


"Aku juga kurang tahu, Nar. Mungkin semacam kumpulan organisasi."


"Owh, jadi mereka semua anak SPHINIX juga?"


"Kura tahu juga, Nar. Soalnya ada beberapa wajah yang nggak aku kenal."


Nara mengangguk paham. Ia kemudian kembali bertanya beberapa saat kemudian. "SPHINIX itu gak ada anggota ceweknya, ya, Nin?"


"Setahu aku sih, mereka memang nggak buka kuota untuk anggota cewek. Soalnya di panji-panji mereka ada larangan gitu."


Nara paham sekarang. Pantas saja ia jarang melihat anggota geng SPHINIX kumpul dengan disertai kehadiran kaum Hawa. Akan tetapi, malam ini banyak wajah yang Nara kurang kenal bahkan belum pernah ia lihat sebelumnya. Walaupun cafe sudah tutup satu jam lebih awal, para pekerja termasuk Nara belum diperbolehkan pulang sampai jam biasa cafe tutup.


tanpa merasa keberatan, Nara langsung mengiyakan permintaan Ibo. Setibanya di meja nomer tiga, kehadirannya disambut oleh tatapan menggoda


"Wih, staf baru nih?"


"Bening juga, boleh kali jadi cewek gue."


Nara pura-pura tidak mendengar perkataan mereka dan segera meletakkan French fries yang ia bawa.


"Hai cantik, siapa namanya? Bagi nomer WhatsApp dong?" Goda salah satu di antara mereka, semakin berani.


"Silahkan dinikmati. Sodanya sebentar lagi akan menyusul," ucap Nara, mengabaikan celotehan mereka.


"Sombong amat neng."


"Elah, jual mahal itu mah, Rick. Padahal aslinya murahan," sindir yang lain.


Nara tidak menggubris ucapan mereka. Ia lebih memilih segera berbalik.


"Eh, mau kemana beb?" Rick, pemuda yang sejak tadi gencar menggoda Nara angkat suara seraya menarik pergelangan tangan Nara tanpa aba-aba. Nara yang tidak siap, limbung dan berakhir di pangkuan Rick.


Pemuda berwajah blasteran itu kontan saja tertawa puas melihat ekspresi Nara yang shock.


"Lepas!" Nara tentu saja meronta minta dilepaskan, namun Rick yang memiliki postur tubuh lebih besar, menyulitkan Nara untuk melepaskan diri.


"Makin gerak makin tegang loh, beb?" ujaran Rick itu tentu saja berhasil membuat teman-temannya yang lain heboh.


"Eh si bangs*t, auto main solo di kamar mandi kalau bahasa lo nggak di-filter ."


Rick hanya tersenyum miring mendengar gurauan temannya. Ia masih menahan Nara yang berontak sejak tadi. "Mau kemana sih, buru buru amat?"


"Lepas, Kak." Nara meminta dengan wajah yang sudah sangat ketakutan. Seumur hidup ia belum pernah berada dalam posisi intim seperti ini.

__ADS_1


"Nggak seru kalau gue lepasin lo sekarang. Di sini aja dulu, kita kenalan sambil ngobrol-ngobrol."


Nara menggelengkan kepala cepat. Ia masih meronta, minta diturunkan.


"Makin gerak, makin tegang nih punya gue," kekeh Rick sambil mendekatkan wajahnya ke area perpotongan antara leher jenjang dan bahu milik Nara. "Kulit lo mulus banget, buat ukuran cewek middle class ke bawah."


Nara langsung mematung kala merasakan hembusan nafas Rick di area perpotongan antara leher jenjang dan bahunya. Selain dilecehkan secara verbal, ia juga dilecehkan secara non verbal. Nara rasa ia benar-benar tidak becus menjaga diri, sampai-sampai bisa dilecehkan begitu saja di depan banyak orang. Apa ia memang selemah itu? atau memang takdir yang sekejam itu?


Tidak ada yang mau menolong dirinya, mereka malah sibuk tertawa. Nindi, satu-satunya harapan Nara. Namun, ia tahu betul jika perempuan itu sedang berada di dapur, sedang mengecek persediaan bahan-bahan makanan.


"Leher lo wangi buah, gue suka. Mau gue tandai nggak?"


"J-angan!" tolak Nara.


"Dikit aja. Mau, ya?" kekeuh Rick.


"Dikit tapi keterusan?!" sahut yang lainya.


Nara masih meronta, air matanya sudah mulai menetes saat Rick mulai mengendus lehernya.


"Tolong, lepasin aku," cicit Nara ketakutan. Ia sudah benar-benar putus asa.


Di sana hanya ada satu orang yang ia kenali, yaitu Libra. Alih-alih menolong, laki-laki itu malah menikmati pertunjukan yang terjadi di hadapannya dengan sebatang rokok.


"Hiks, lepas...."


"Diem beb, ini baru mau buat loh."


"Lepas, hiks..." cicit Nara kian ketakutan.


Nara benar-benar akan jijik pada dirinya sendiri, jika Rick berhasil meninggalkan jejak pada lehernya.


"Udahan, Rick. Kasihan tuh anak perawan orang lo buat nangis," ledek salah satu di antara mereka, disusul tawa renyah yang lain.


Namun, tawa itu tidak berlangsung lama setelah disusul oleh suara benda yang bertubrukan dengan lantai. Mereka semua sontak mengalihkan perhatian secara berjamaah.


"Bangs*t?!" umpatan itu menjadi ancang-ancang bagi pukulan yang tertuju ke arah Rick.


"Apa-apaan lo?!" Rick tentu saja murka saat dipukul begitu saja. Ia juga sudah melepaskan Nara secara tidak sadar.


"Lo kenapa, Ta? datang-datang main hajar gue aja?" protes Rick tak terima. Ia langsung berdiri sambil mengusap bibirnya yang pecah dan mengeluarkan darah. "Ck, ampe luka gini bibir kesayangan mantan," decak nya. "Lo kerasukan setan mana, Ta?" tanya Rick lagi.


"Itu balasan karena lo berani nyentuh milik gue."


Mendengar apa yang baru saja diutarakan oleh Arganta Natadisastra, semua orang di sana tentu saja terkejut bukan main. Termasuk Nindi, Iki, Ibo dan Genta yang baru saja muncul dari balik pintu dapur.


"Tangan kotor lo nggak seharusnya nyentuh milik gue, anj*ng?!" Satu pukulan, lalu satu tendangan tendangan Arga berikan. di seolah-olah tak memberi waktu bagi Rick untuk mencerna situasi.


"Bangs*t. Gue mana tahu kalau dia cewek lo, uhuk .... uhuk." Rick tumbang dengan pukulan Arga yang jelas-jelas ahli beladiri. "Gue nggak tahu Ta, sumpah!"


Semua orang di sana juga tidak tahu harus berbuat apa saat melihat kemarahan Arga. Hanya Nara yang kemudian berani mendekati Arga, sekalipun tubuhnya masih bergetar ketakutan.


"Udah, Kak," cicit Nara dengan suara tertahan. Satu tangannya ia gunakan untuk menarik ujung Hoodie yang Arga gunakan.


"Ck," Arga berdecak marah seraya berbalik, meninggalkan Rick yang sudah terkapar di lantai. "Ini peringatan buat lo semua yang berani nyentuh dia." Arga berucap seraya memeluk pinggang Nara posesif. "She is mine," tukasnya penuh penekanan.


"Ada yang berani ganggu dia, berarti siap berurusan sama gue, Arganta Natadisastra."


🫐🫐


TBC


Semoga suka 😘


Ada rekomendasi novel keren juga nih 👇



Tanggerang 19-11-22

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2