Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
⁴⁹UFB


__ADS_3

"Hatcuh.... hatcuh...." suara bersin kembali terdengar cukup nyaring, membuat seorang laki-laki mendengus mendengarnya.


"Udah gue bilangin jangan mandi hujan, tetap aja lo keras kepala!" serunya, kentara sekali kesal.


"Hatcuh.... tapi ini 'kan mau.... hatcuh.... aku Kak...." jawab lawan bicaranya. Tersendat-sendat karena bersih yang datang dengan brutal.


"Ya, daan ngikutin kemauan lo itu sama aja dengan nyakitin diri sendiri."


Gadis cantik yang wajahnya sudah kembali pucat dengan hidung memerah karena terus bersin itu tersenyum tipis. Tidak ada raut wajah takut saat menatap lawan bicaranya yang sedang merasa sebal. Padahal sejatinya laki-laki itu sangat risau.


"Kakak khawatir?"


"Nggak. Gue bahagia!" sewot laki-laki rupawan yang tengah melepas jaket kebanggaannya. Jaket itu juga basah setelah tidak kuat menampung banyaknya riak hujan yang turun.


Walaupun sempat sewot, sepersekian detik berikutnya ia kembali buka suara dengan nada yang berbeda. Lebih ramah dan bersahabat. "Sakit?" tangan kekarnya yang dingin juga ikut bergerak, menyentuh bagian pelipis sang kekasih yang dilapisi plester.


"Enggak.... hatcuh..." kekasihnya menjawab, masih ditutup dengan bersin.


"Ck. Lemah banget." Arga berdecak kecil sambil mencubit hidung sang kekasih. Gemas karena warnanya merah. Tindakan tersebut tentu membuat si empunya mengerang tidak suka.


"Sakit ih. Jangan dicubit."


"Merah, kayak badut."


Nara mengeructkan bibirnya sebal mendengar celotehan Arga. "Tadi 'kan habis kehujanan, terus jadi bersin-bersin."


Arga manggut-manggut, membenarkan ucapan gadisnya. "Hm. Atas kemauan lo sendiri. Sekarang rasain akibatnya."


"Iya, iya, aku salah." Gadis itu memegang sebelah cuping telinganya. Tatapannya masih terpaku pada sang lawan bicara. "Maaf. Nggak akan diulangi lagi deh."


Laki-laki rupawan itu urung menjawab. Wajah menggemaskan sang kekasih malah membuatnya terpana. Kapan lagi coba mereka bisa bicara empat mata dengan emosi tentram benderang seperti saat ini.


"Di maafin enggak, Kak?" desak kekasihnya.

__ADS_1


Arga tersenyum tipis. "Hm. Awas aja kalau diulangi lagi. Hukuman menanti."


"Oke, siap. Nggak akan diulangi lagi," janji Nara dengan suara lantang. Agaknya, hujan telah membuat suasana hatinya  menjadi lebih baik. Di saat orang lain biasa mengibaratkan hujan dengan sesuatu yang kurang baik. "Kakak bisa pegang janji aku," tambahnya seraya membuat promise finger dengan jari kelingking Arga.


Melihat tindakan sang kekasih, Arga tak tahan untuk tertawa. Tangganya yang gatal kembali terangkat, mengacak-acak rambut kekasihnya.


"Iya, gue pegang janji lo."


Nara tersenyum senang mendengarnya.


"Sekarang pakai helmnya lagi, kita pulang."


Nara mengangguk dengan cepat. Semua itu tidak luput dari onyx hitam Arga.


Sejauh ini, Arga lah yang menjadi saksi bisu bagaimana gadis itu menyembuhkan lukanya sendiri.


"Aye aye kapten."


Arga kembali berdecak kecil sambil menghidupkan mesin motor CBR miliknya. Keduanya memang berhenti sejenak di sebuah halte Damri guna menunggu hujan agak reda. Mereka sudah berpisah dengan rombongan geng SPHINIX dan anak Darmawisata, mengingat arah rumah Nara yang tidak sejalur.


"Iya, Kak."


"Jangan lupa chat gue kalau udah selesai minum mandi, makan, sama minum obat."


Nara tertawa kecil seraya mengangguk. "Siap, Kak."


Arga pun kembali tersenyum tipis. "Masuk gih, keburu hujan lagi." Tangganya kembali hinggap di pucuk kepala sang kekasih. Mengelusnya beberapa kali.


"Kakak juga. Hati-hati dijalan."


"Hm."


"Jangan lupa, mandi pakai air hangat, terus makan dan minum obat, biar nggak sakit," pesan Nara, seperti pesan Arga.

__ADS_1


"Copy paste hm?"


Gadis cantik itu tertawa kecil. Tawa yang hampir hilang sejak peristiwa kemarin. Kini Arga bisa merasa lega karena dapat menemukannya lagi.


"Pokoknya Kakak jangan sampai sakit gara-gara aku dan hujan. Jadi, Kakak harus nurut sama aku."


"Hmm."


"Kalau gitu aku masuk dulu, Kak. Bye."


Arga mengangguk tipis. Lelaki itu masih duduk tenang di atas motor sambil mengamati sang kekasih hati yang baru saja memasuki tempat tinggalnya.


Hatinya mendadak kembali di penuhi pertanyaan. Apa benar ia sudah baik-baik saja? Atau kah canda dan tawa gadisnya hanya sandiwara?


Arga tidak tahu pasti. Namun, ia berharap gadisnya sudah merasa lebih baik. Sambil menghidupkan mesin motornya, sekali lagi ia menengok ke arah rumah sang kekasih hati untuk memastikan, sebelum melaju pergi dengan kuda besi kebanggaannya.


Sementara itu di sebrang jalan, ada pemuda ber-hoodie abu-abu yang tampak tersenyum miring. Sejak tadi ia menikmati interaksi antara Arga dan Nara.


Sisa-sisa air hujan yang membuat rambutnya basah sampai menetes dari anting-anting di cuping telinganya, ia tak menghiraukan. Saat terkena angin, anting-anting itu berbunyi gemerincing, seakan-akan mengingatkannya kembali kepada kenyataan.


"Kembaran gue suka Kakak tiri gue, Kakak tiri gue suka Adek gue. Cih, takdir Tuhan macam apa ini?"


🫐🫐


TBC


Semoga suka 🖤


Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘


Ada rekomendasi novel keren juga nih 👇


__ADS_1


Tanggerang 08-11-22


__ADS_2