
Suara spatula yang bertemu dengan permukaan penggorengan menyambut pendengaran lelaki yang baru saja memasuki area dapur. Ia melangkah lurus menuju lemari pendingin, mengabaikan lelaki yang tengah sibuk memasak di depan kompor. Aroma harum yang tercium juga ia abaikan begitu saja.
"Woi, ini keasinan," komentar suara nyaring milik seseorang yang terdengar familiar di telinga.
"Belum gue tambahin gula," jawab si koki. Lelaki yang berada di depan kompor itu sibuk mengaduk-aduk masakannya.
"Owh, pantesan." Iki terkekeh mendengarnya. Pantas saja rasa kuah masakan yang ia coba sangat asin. Menyadari kehadiran leader of SPHINIX, Iki segera menoleh. "Ta, lo semalem dari mana?" Iki bertanya kepada Lelaki yang baru saja menenggak habis setengah botol air mineral yang ia ambil dari dalam lemari pendingin.
"Orion, nanti temui gue di rooftop."
Bukannya menjawab, pemilik nama itu memilih mengalihkan topik pembicaraan sebelum pergi meninggalkan dapur.
Ia melenggang datar, tak peduli jika Iki berceloteh tak jelas karena diabaikan begitu saja. Langkah kakinya menuju ruang tengah. Di sana ia memilih mendudukkan dirinya di atas sofa, lantas meraih benda pipih dari atas meja dekat sofa.
Sejak semalam benda itu ia biarkan begitu saja di sana. Ketika menekan tombol power, benda pipih itu menyala, memperlihatkan foto seorang wanita yang tengah tersenyum cantik ke arah kamera. Dalam pelukan wanita tersebut ada bayi tampan yang dibungkus oleh selimut berwarna biru muda tengah terlelap. Bayi itu dirinya, delapan belas tahun yang lalu. Ketika ia masih begitu polos, saat pertama kali dilahirkan ke dunia.
Satu getaran mengalihkan fokusnya yang melayang entah kemana. Sebuah pesan singkat baru saja masuk lewat sebuah notifikasi. Ia mengabaikannya. Lagi pula pesan tak bertuan itu selalu memenuhi notifikasi. Ia tidak punya waktu untuk sekedar membaca ataupun membalas.
"Ternyata lo di sini, Ta."
Arga, pemilik nama panggilan tersebut menoleh. "Ada apa?"
Lelaki bertindik yang baru saja mendudukkan dirinya di hadapan sang leader melemparkan pandangan lekat pada lawan bicaranya. "Gue bawa Informa penting."
"Soal?"
"Identitas cewek lo."
Arga langsung memusatkan perhatian, pendengaran serta pandangan, semuanya tertuju hanya pada Libra.
"Semua yang lo cari ada di sini." Libra menyodorkan sebuah map berwarna coklat. Arfa menerimanya dengan segera.
Lelaki itu dengan segara membuka benda tersebut. Mengeluarkan isinya, lantas membaca untai demi untai kata dengan seksama. Tiap kata dalam kalimat-kalimat tersebut ia cermati dengan teliti.
Beberapa menit setelahnya, Arga mengepalkan kedua tangannya kuat. Buku-buku tangannya sampai memutih, saking kuatnya kepalan tersebut. Rahangnya mengeras seketika. Sepasang maniknya memerah menahan amarah.
"Itu informasi ter-valid yang bisa gue dapat." Libra buka suara. "Mereka adalah dua korban tabrakan tunggal sebelas tahun lalu. Secara hukum, mereka sudah dianggap mati pasca kecelakaan tersebut. Walaupun mayat mereka tidak ditemukan sampai sekarang."
"...."
"Dulu mereka pernah tinggal di kota Surabaya dan Semarang, bahkan pernah tinggal di luar pulau Jawa. Mereka hidup nomaden atau berpindah-pindah sebelum datang ke kota ini."
Arga masih mendengarkan dengan seksama.
"Andra Atmajaya dulunya bekerja di salah satu BUMD yang berpusat di Jakarta. Dia juga pernah berkerja untuk BIN, sebelum dia dan putrinya hilang dalam kecelakaan tragis tersebut." Libra menuturkan dengan lugas. Untuk masalah ini, ja benar-benar bekerja ekstra. "Menurut rekapan medis, tes DNA mereka cocok, Ta. 99,9% mereka kemungkinan besar adalah Andra Atmajaya dan putrinya."
"Apa hubungan mereka sama bokap?"
"Teman sekaligus rekan bisnis. Almarhum Ibu lo juga sahabat dekat istrinya Andra Atmajaya."
"Wanita itu sahabat dekat Mama?" Arga menyeringai remeh mendengarnya. "And then, wanita itu sekarang merebut posisi Mama."
Libra hanya mampu terdiam mendengarnya. Walaupun ia punya orang tua yang suka menuntut ini dan itu, tetapi sejauh apa yang ia lihat, baik ayah maupun ibu nya kelihatan tidak berpeluang untuk selingkuh. Mengingat mereka adalah pasangan yang sudah saling melengkapi, dan klop satu sama lain dari sudut pandang Libra.
Sedangkan Arga ingatannya kembali melanglang buana. Ia ingat betul saat pertama kali ayahnya membawa wanita itu dan kedua anaknya memasuki kediaman Natadisastra. Saat itu ibunya sedang sakit parah. Alih-alih membawa sang istri ke rumah sakit, ayahnya malah memperkenalkan wanita asing yang ia sebut sebagi ibu serta saudara baru baginya.
Arga sebenarnya tidak terlalu asing dengan wajah Sussanne, mengingat ibunya pernah beberapa kali mengikutsertakan Arga kala bertemu wanita yang katanya sahabat dekat mamanya itu. Cuma bagi Arga wanita itu tetap wanita asing yang tiba-tiba masuk di antara hubungan orang tuanya.
Libra berdeham kecil. Mencoba mengembangkan perhatian Arga. "Tapi ada yang lebih penting dari itu, Ta."
"…."
"Kalau benar itu mereka, maka kemungkinan besar cewek lo adalah darah daging wanita itu. Jadi, sudah jelas jika kalian ....bersaudara."
Damn, ucapan Libra berhasil membuat sang leader sadar sehabis tertampar. Jika benar, gadis itu adalah darah daging wanita yang sangat ia benci. Adik dari Si burung api dan kembarannya.
Gadis itu berbagi darah dengan para benalu yang telah merenggut kebahagiaan nya.
"Ta?"
Leader of SPHINIX beranjak tanpa banyak kata. Lelaki itu menyambar kunci motor dan jaket kebanggan miliknya sebelum pergi dari basecamp. Ia mengendarai kuda besi miliknya dengan kesetanan. Seolah-olah jalanan berada dalam kuasanya saat ini.
Tujuannya hanya satu saat ini, yaitu rumah berpagar besi lusuh dengan warna cat kusam yang sudah mengelupas di beberapa bagian. Rumah itu saat ini ada di hadapannya. Sepi diantara rimbunnya tumbuhan hijau yang sengaja ditanam oleh tangan rajin si empunya rumah. Kanan maupun kiri rumah ini masih berupa perumahan padat penduduk, namun tampak tidak ada aktivitas kehidupan yang menunjukkan eksistensi manusia.
"Nara!" Arga memanggil si empunya dengan suara keras, hampir berteriak.
__ADS_1
Ia tak peduli jika gadis itu marah maupun mengusirnya. Saat ini hanya satu yang ingin ia ketahui. Kebenaran. Ia ingin mengetahui kebenarannya secara langsung dari mulut gadis tersebut.
"Nara, buka pintunya! Gue tahu lo di dalam." Arga memanggil gadis itu lagi. "Nara!" ulangnya untuk kesekian kali. Namun, tidak ada satupun jawaban dari si empunya rumah.
Langit mulai menangis. Gerimis. Mendung mulai bergulung. Rintik hujan itu mulai berjatuhan satu per satu diiringi angin kencang, petir serta guntur yang menggelegar jauh di sana. Arga itu tak gentar. Suaranya tak kalah menggelegar, memanggil si empunya rumah. Bersahutan dengan suara guntur yang tak mau mengalah.
"Nara, buka pintunya!" lirih lelaki rupawan tersebut sambil menempelkan dahinya di pintu yang masih enggan terbuka.
Tubuhnya sudah basah terkena hujan. Rambut hitamnya lepek, wajah rupawan nya mulai memucat. Namun, ia masih tidak mau beranjak sedikitpun dari tempat tersebut. Ia masih gigih memangil walaupun semesta mulai tak bersahabat.
"Eh, Aa ini sedang apa?"
Arga menoleh cepat saat mendengar suara lain di sana.
"Aa ngapain di sini?" tanya bocah lelaki yang datang dengan mantel hujan melingkupi tubuhnya yang tidak sampai pinggang Arga. Bocah itu menggenggam sebuah keresek hitam berukuran medium di tangannya
"Nyari teh Alea ya, A?"
Arga mengangguk tanpa berbicara.
"Teh Alea mah tos te aya atuh, A."
"Kemana?"
"Duka. Tadi mah pergi sama bapakna," tutur bocah lelaki yang bicaranya kental dengan logat sunda tersebut.
"Perginya naik apa?"
"Mobil, A. Kayaknya mau pergi jauh."
Arga mengepalkan tangannya kian kuat. "Kamu nggak tahu mereka pergi ke mana?"
Bocah itu menggeleng. "Teh Alea cuma bilang mau pergi jauh. Gitu katanya," jelas bocah lelaki tersebut. "Mendingan Aa pulang, hujan. Nanti sakit kalau Aa hujan-hujanan."
Arga mengangguk lirih. Bocah itu pamit pergi setelahnya. Ia yang sudah dewasa dinasehati oleh anak kecil, kian menambah kesadaran yang diraup.
"Bagus." Arga berbalik. Seulas senyum tipis menghiasi bibir. "Lo pergi disaat gue tahu informasi sial*n ini."
Arga tidak harus mencari gadis itu kemana. Mungkin hal ini sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari oleh gadis itu. Atau mungkin, gadis itu sudah mengetahui jika identitasnya bocor, maka ia memilih pergi?
🫐🫐
"Makan, lo belum makan dari kemarin."
Sepiring nasi goreng yang dilengkapi dengan suwiran daging ayam tanpa kulit, bakso, kacang polong, dan sayuran hijau tersaji dihadapannya. Lengkap dengan uap yang masih mengepul dari makanan tersebut. Tak ketinggalan aroma lezat yang siap memanjakan indra penciuman.
"Gue nggak laper."
"Lo mungkin nggak laper, tapi tubuh lo butuh asupan nutrisi," timpal lelaki yang kini menyodorkan segelas air putih tersebut
"Gue nggak lapar, anj*ng!" bentak leader of SPHINIX, lawan bicaranya murka.
"Hmm, terserah. Seenggaknya gue udah jalanin amanat dari dia." Lelaki itu berlalu setelah berkata demikian.
Arga memandangi punggung Orion yang kini berjalan menjauh. Ada dengan lelaki itu? Biasanya Orion tidak akan repot-repot mengurusi perut Arga. Toh, Arga tidak akan masuk rumah sakit hanya karena tidak makan seharian. Kali ini kenapa Orion harus repot-repot begitu?
Lamunan lelaki rupawan itu buyar kala mendengar suara keras yang membuatnya terlonjak kaget. Maniknya spontan menatap tumpukan benda yang baru saja seseorang jatuhkan di atas meja. Benda tersebutlah yang baru saja menimbulkan suara yang cukup keras.
"Anj*ng! Gue udah bilang jangan ada yang berani ganggu gue!" umpat Arga murka.
Lelaki yang baru saja menjatuhkan buku-buku tebal itu tak menggubris. Ia memilih menebalkan muka. "Ini buku paket sama kisi-kisi ujian dua minggu lagi. Lo harus pelajarin semuanya, Ta. Biar gampang pas ujian."
"F*ck!"
"Kita juga ada jadwal pemantapan sepulang sekolah, jangan lupa." Masih tak menggubris. Laki-laki itu sibuk mengerjakan tugasnya.
"Gue nggak peduli!"
"Minggu depan ada jadwal praktek, jangan lupa."
Dean tak henti-hentinya mengumpat. Entah ada apa dengan orang-orang hari ini. Mereka memperlakukan dirinya seperti tidak ada yang terjadi. Padahal sudah jelas-jelas jika sang leader tengah kelimpungan mencari sang kekasih hati. Namun, mereka malah memperlakukannya seperti anak kecil yang harus diperhatikan.
"Gue pergi dulu. Jangan lupa makan makanan lo--"
"Berisik. Anj*ng!"
__ADS_1
"Yeh, si Any*ng. Dibilangin malah mancing," Kesal lelaki tersebut sambil memutar bola matanya malas.
"Gak usah ganggu gue!" titah Arga memperingati.
"Lagian siapa juga yang mau gangguin lo, Ta. Kita itu cuma mau menjalankan amanat terakhir dia," awab lelaki tersebut sebelum melenggang pergi, meninggalkan Arga seorang sendiri.
"Ck. Ada apa sama mereka?"
Arfa sadar betul jika ada yang berubah diantara para anggota inti geng SPHINIX. Mood-nya memang hancur beberapa hari ini. Namun, para anggotanya menganggap semuanya baik-baik saja. Mereka bahkan jadi terlihat semakin aneh, karena selalu memperhatikan semua kebutuhannya mulai dari hal-hal sepele.
"Ada apa sama lo pada?!" bentaknya murka.
Setelah melewati hari-hari yang cukup membuatnya tidak nyaman, akhirnya Arga memilih untuk mengumpulkan para anggota gengnya. Ada lebih dari 50 anggota aktif yang berkumpul malam ini. Mereka menggunakan almamater andalan, kaos hitam, jaket hitam berlogo Geng SPHINIX, dengan bawahan celana jeans lengkap dengan ornament lain seperti topi, slayer, headbend, dan sebagainya.
"Bicara sama gue, lo pada kenapa hah?! Bukannya jalanin tugas yang udah gue kasih, lo malah pada sibuk ngurusin hal-hal sepele!"
"Itu udah tugas kita," sahut Libra.
"Tugas dari mana?"
"Tugas dari dia."
Arga menatap Libra yang barusan menjawab pertanyaannya dengan tajam. "Dia siapa? Kenapa lo pada ikutin arahan dia, bukan gue?! Mau jadi pengkhianat lo pada!"
"Dia Infinity," jawab Libra tak gentar. "Dia infinity yang sekarang menjelma menjadi kekasih leader of SPHINIX."
"Omong kosong!"
"Iya. Infinity ngasih kita amanat sebelum pergi." Iki ikut buka suara. "Dia pamit lewat pesan teks. Bukan cuma gue, Libra sampai Orion, bahkan hampir semua anggota aktif dapat pesan dari infinity."
"Hm. Dia pamit juga nitip amanat buat selalu jagain lo," tambah Orion. "Dia lakuin semua ini sebelum pergi."
"Kenapa nggak ada yang bilang sama gue, bangs*t?!" tanya Arga murka.
"Tahan emosi, Ta." Orion menyahut. Ia menahan lengan sang leader yang sudah mengepal kuat.
"Lepas gue!"
Orion tetap diam. "Dia pamit sebelum pergi, tapi lo abay, Ta."
"Dia pamit tapi lo terlalu murka dan kebawa emosi saat tahu soal informasi itu." Libra melangkah maju. "Dia udah mempersiapkan ini jauh sebelum lo tahu segalanya. Dia nggak mau lo tambah tersakiti, Ta."
"Bukan gini caranya kalau dia takut gue tersakiti, anj*ng!"
Para anggota geng SPHINIX kompak terdiam.
"Dia nggak harus ninggalin gue," lanjut Arga dengan emosi yang masih belum stabil.
Libra mendongkrak, menatap Arga lagi. "Mungkin ini bukan cara yang bener menurut lo, tapi menurut dia ini cara yang paling bener dan efektif."
"Ini tetep nggak adil buat gue!" Arga menatap para lawan bicaranya dengan amarah berkobar. "Lo pada dapat informasi bahwa dia bakal pergi ninggalin gue, kenapa lo pada nggak cegah dia buat gue hah?!"
Orion mengambil posisi. "Karena ini yang terbaik buat kalian, Ta."
"Banyak bac*t lo, Lib, Yon." Arga murka. Sangat murka. Mereka bahkan baru pertama kali melihat Arga murka seperti ini setelah meninggalnya Seno. "Kalian tahu dia mau pergi, dan kalian ngak ngasih tau gue?"
Libra menggelengkan kepala. "Gue nggak punya hak buat ngasih lo tahu, Ta. Lo yang abay sama dia. Lo yang nggak faham maksud dari semua perjuangan dia."
Arga menyeringai kecil mendengarnya. "Bagus. Sekarang lo pada mulai mengkhianati gue?"
"Ini bukan soal pengkhianatan, Ta. Dari awal lo yang udah melanggar panji-panji kita. Jikapun kita berbuat begini, kita niru lo, Leader of SPHINIX."
Arga mengepalkan tangannya keras. Manik gelapnya mengkilat marah menatap ke sembarang arah.
"Mau dia apa sebenarnya? Kenapa dia pergi gitu aja ninggalin gue tanpa penjelasan," lirihnya kemudian. Berhasil membungkam para anggota yang menyadari jika tindakan mereka memang sudah terbilang egois.
Mereka telah memisahkan sang leader dengan soulmate nya dengan cara yang tidak benar.
...**...
...TBC...
...Semoga suka 🖤...
...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...
__ADS_1
...Tanggerang 21-12-22...