Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
²²UFB


__ADS_3

"Owh, jadi gitu."


Nara mengangguk seraya menikmati yogurt kesukaannya.


"Intinya Kak Arga itu semacam diberi amanah sama Kak Seno. Permintaan terakhir nggak sih?"


Nara kembali mengangguk lemah. Kini keduanya tengah berada di kantin sekolah, setelah jam olahraga usai. Masih menggunakan seragam olahraga, keduanya tampak asik mengobrol. Tidak menghiraukan gunjingan dari para penghuni di sekitar kantin.


"Telinga lo panas gak sih?"


Nara menggeleng. "Enggak, memangnya kenapa?"


"Kayaknya banyak kaum ghibah deh disini yang lagi bicarain kita. Makanya telinga gue panas."


Nara paham kemana arah ucapan Cacha. Memang banyak yang membicarakannya semenjak memasuki area kantin. Terutama Rene and the geng yang biasa join bersama para senior dari kelas XII.


"Hai. Boleh gabung, 'kan?"


Nara dan Cacha kompak menoleh. Kendati demikian, Cacha lah yang paling duluan merespon.


"Darimana aja lo?"


"Ruang kepsek. Ada beberapa proposal yang harus di-Acc."


"Owh. Kirain namu lagi ke sekolah tetangga," sahut Cacha sambil menyeruput susu milo kesukaannya.


Namu yang di maksud Cacha adalah kunjungan antar sekolah. Biasanya ketua Osis di utus sebagai perwakilan sekolah untuk menyampaikan beberapa hal menyangkut sekolah.


"Kamu belakangan sibuk banget, ya?" l


Kini giliran Nara yang bertanya.


Arsen yang baru saja membuka tutup botol air mineral mengangguk. Job desk sebagai Ketua Osis memang terasa tidak ada habisnya. Entah urusan di sekolah maupun di luar sekolah, ada saja yang harus ia selesaikan. Belakang ia sampai kesulitan punya waktu untuk dirinya sendiri.


"Aku juga jadi jarang nganter kamu karena sibuk. Maaf, ya."


"Gak papa kok. Kamu 'kan sedang sibuk." Nara menggelengkan kepala seraya berkata.


"Iya, Sen. Lagi pula Nara udah punya ojol baru, ojol plus-plus pula," Celetuk Cacha tiba-tiba. Celetukan itu berhasil membuat Nara mendelik tajam.


"Arganta Natadisastra? Anak XII IPS I. Benar?" Arsen hanya ingin memastikan. Walaupun sering sibuk mengurus organisasi, mata dan telinganya masih berfungsi dengan baik.


"Ho'oh. Most wanted SMA Angkasa. Gila 'kan level ojol nya Nara? Sekali sabet langsung dapet cogan paket komplit."


Arsen tersenyum tipis, lalu mengalihkan pandangan ke arah yang bersangkutan. "Jadi itu semua benar?"


Nara mengangguk samar, untuk apa juga menutupi. Hampir semua anak SMA Angkasa sudah tahu. ia sangsi jika Arsen juga tidak mengetahui informasi yang tengah hangat diperbincangkan tiga angkatan.


Arsen menatap Nara penuh tanya. Semenjak pertama kali melihat kedekatan Nara dan Arga, ia memang merasa ada yang janggal. Padahal Arsen juga tahu Arga membenci Nara semenjak Seno meninggal. Namun, lihatlah kedekatan mereka berdua akhir-akhir ini? di mana letak rasa benci yang dulu seorang Arga tunjukkan dengan bangga?


Sekarang, Arga malah percaya diri memperlihatkan kedekatannya dengan Nara.


"Selesai *** nanti kita pulang bareng ya, Nar. Ada titipan dari Ibu buat kamu."


Nara mengangguk. Sudah lama juga ia tidak pulang bersama Arsen.


"Eh kok gitu, Nara tuh mau pulang sama gue!" protes Cacha cepat. Orang dia yang sudah terlebih dahulu membuat janji pulang bersama Nara.


"Lo udah janji mau nganter gue ke toko buku itu loh, Nar!" Imbuh gadis tersebut jutek.


"Ah iya. Aku lupa, Cha."


"Kita bertiga aja ke toko bukunya. Aku juga sekalian mau beli buku Fisika buat referensi lomba." Arsen tiba-tiba bersuara.

__ADS_1


"Wih, good idea tuh." Cacha tentu saja.


"Tapi, hari ini aku harus kerja di cafe."


"Lo bagian shif siang?" Nara mengangguk membenarkan.


"Gini aja, habis dari toko buku kita langsung antar lo ke cafe. Gimana?"


"Boleh juga ide Cache. Aku juga penasaran sama tempat kerja kamu yang baru," tambah Arsen.


"Memangnya kamu gak sibuk?" Nara bertanya pada Arsen.


"Aku free hari ini."


"Iya, Nar. Jarang-jarang loh orang sibuk kayak Arsen free. Kita harus manfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya."


Nara tertawa kecil, sedangkan Arsen pun ikut tersenyum. Ketika sedang asik mengobrol, tiba-tiba ada suara lainnya yang terdengar.


"Nara?"


Alea menoleh, mencari si pemanggil.


"Nara? Lo Aleanska Nara, 'kan?" tanya pemuda tampan yang baru saja mendekat.


Nara mengangguk. Tak disangka-sangka, detik berikutnya pemuda tampan bermata tajam agak sipit itu merengkuhnya erat. Membuat banyak mata terbelalak di ruangan tersebut. Tidak terkecuali Cacha dan Arsen.


"Lo pasti lupa sama gue."


Nara mana sempat menghindar atau menolak. Semuanya terlalu spontan dan tiba-tiba. Pemuda dengan almamater sekolah tetangga itu kini berdiri tepat di hadapan Alea, setelah merenggangkan rengkuhan.


"Kakak ini.....?"


"Alexander!" Itu bukan suara Nara, apalagi lawan bicaranya. Melainkan orang lain.


"Eh bangs*t, ngapain lo di sini?"


Alexander melipat kedua tangan di depan dada. "Kenapa? Masalah buat lo?" .


Suasana kantin jadi tegang semenjak kehadiran Alexander dan anak-anak SPHINIX, salah satunya adalah Iki.


"Lama kita gak ketemu. Lo makin cantik aja," puji Alexander.


"What the f*ck?! Lo bilang apa barusan?"


Alih-alih Nara yang merespon, malah Iki yang heboh sendiri.


"Kenapa? Memang fakta kalau Nara itu cantik." Alexander menjawab santai. Ia lantas menatap Nara lagi. "Masa lupa? Ini aku, Alexander?"


"Wih, mancing keributan dia." Iki berkacak pinggang seraya menoleh ke kanan dan ke kiri. Bisa gawat urusannya jika Arga melihat keberadaan Alexander di sini.


Sedangkan Alexander sendiri tampak santai, walaupun jadi pusat perhatian seisi kantin. Ia datang bukan untuk mancing keributan, Iki saja yang lebai.


"Eh ketos, lo tahu kedatangan gue kesini mau ngapain?"


Arsen mengangguk tipis seraya beranjak dari posisi duduk.


"Ayo kita pergi, jangan buat keributan di sini."


"Siapa juga yang buat keributan. Rakyat lo aja yang pada lebay."


"Ayo, Alexander. Kamu sudah ditunggu kepala sekolah di ruangannya."


"Oke, fix. Gue ikut lo," ujar Alexander pada akhirnya. "Nanti kita bicara lagi, Nara," bisiknya lirih sebelum pergi.

__ADS_1


Selepas kepergian Alexander, Nara masih membeku di tempat. Setelah sekian lama, mereka akhirnya bertemu kembali. Pertanda apakah ini?


Setelah Arga, sekarang Nara harus berurusan dengan Alexander. Padahal beberapa tahun ke belakang, kedua laki-laki itu sama-sama kompak menghilang dan menghindar dari kehidupan Nara. Lantas, kenap sekarang mereka sama-sama kembali?


Sama halnya dengan Arganta Natadisastra, di SMA Angkasa siapa yang tidak mengenal Alexander. Ia merupakan ketua geng PIONIX. Musuh bebuyutan SPHINIX. Alexander berasal dari sekolah tetangga, SMA Langit. Ia juga menjabat sebagai ketua Pasukan Api atau PASPI.


Alexander terkenal dengan tabiat buruknya, mulai dari hobby clubbing, balapan liar, playboy kelas wahid, pecandu alkohol, perokok aktif, dan segudang tabiat buruk lain.


"Nar lo kenal sama cowok tadi?" bisik Cacha pelan.


Alea mengangguk kecil sebagai jawaban.


"Lo yakin?"


Alea mengangguk lagi.


"Ish. Lo kok akhir-akhir ini kenalannya cogan semua! Bikin jiwa-jiwa jones gue meronta-ronta."


Alea tidak tahu harus berkata seperti apa. Mengenal mereka berdua tak lantas membuat Nara bahagia, yang ada malah tersiksa.


Dari mata beningnya, Nara bisa melihat Iki pergi meninggalkan kantin dengan emosi. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Nar, lo gak papa, 'kan?"


Tepukan halus yang mampir di bahu, membuyarkan lamunan. Semenjak insiden di kantin, Nara memang jadi banyak melamun.


"C'mon kita pulang. Ngapain masih diem aja?"


Nara mengangguk. Ia lantas beranjak, membenahi alat tulisnya.


"Jadi nggak ke toko bukunya?"


"Eh, iya, jadi."


"Arsen mana nih? Barusan gue udah chat dia, katanya otw. Tapi, belum muncul-muncul juga." Gerutu Cacha sambil membenahi alat tulisnya.


"Kita tinggu di depan aja, Cha. Mungkin Arsen masih ada kepentingan."


"Oke, deh."


Selang beberapa menit kemudian, keduanya sudah menunggu di parkiran.


"Itu anak sekolah sebelah bukan sih?" tanya Cacha tiba-tiba.


Nara menoleh, menatap ke arah yang dimaksud oleh Cacha. Detik berikutnya matanya terbelalak hebat. Bagaimana tidak, hampir puluhan siswa dari sekolah tetangga datang ke SMA Angkasa. Mereka juga datang bukan tanpa tangan kosong, melainkan membawa beberapa benda yang biasa digunakan untuk tawuran.


"Mereka mau ngapain tuh?" bingung Cacha. "Masa sih mereka mau nyerang sekolah kita?"


Nara juga bingung, entah kenapa anak-anak sekolah tetangga sampai nyasar ke SMA Angkasa. Tidak lama kemudian, terdengar suara menggelegar dari koridor barat, lebih tepatnya koridor kelas XII di lantai tiga.


"ANJ*NG, SEKOLAH KITA DISERANG?!"


🫐🫐


TBC


Semoga suka 😘


Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, dan rate 5 bintang 🌟


Ada rekomendasi novel keren juga nih 👇


__ADS_1


Tanggerang 17-11-22


__ADS_2