Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
³³UFB


__ADS_3

...“Terkadang hal yang kecil saja bisa menjadi sangat istimewa.” – Bacharuddin Jusuf Habibie....


...🫐🫐...


Hari sudah mulai gelap ketika sepasang anak Adam keluar dari Lumiere Cafe. Warna Jingga sudah tampak menghiasi seluruh permukaan Langit. Gumpalan gumpalan awan yang terkena bias cahaya matahari juga tampak menampilkan ilusi optik yang luar biasa cantik. Membawa kesan tersendiri saat mata langsung disuguhkan oleh keindahan.


"Em, ini mau kemana Kak?" tanya gadis mengenakan sweater berwarna coral tersebut.


Lawan bicaranya menoleh sejenak, sebelum memberikan sebuah helm kepadanya.


"Nge-date," jawabnya, gamblang.


"Hah?" linglung Nara. Gadis itu bahkan sampai kicep. "Maksud Kakak?"


"Jalan, nonton, makan, atau apalah itu yang bisa dilakukan pas nge-date bareng pasangan."


Nara kian dibuat melongo mendengar pernyataan Arga. Ini, Arga tahu dari mana semua itu?


"Kakak yakin mau ngajakin aku nge-date?" ulang Nara bertanya. Masih belum yakin akan apa yang baru saja Arga ucapakan.


Wajah tampan yang masih menampilkan ekspresi flat itu menatap lawan bicaranya sejenak, sebelum memakaikan helm ke kepala sang kekasih.


"Hm."


Nara masih menatap Arga kebingungan. Tiba-tiba laki-laki itu memaksa untuk berhenti bekerja sore ini. Membawanya keluar dari cafe dengan alasan ingin date? Nara tentu saja tidak mudah percaya.


Ini Arganta Natadisastra loh. Arga yang punya nama tengah egois.


"Naik, kita nggak punya banyak waktu."


Nara mengangguk, lalu menaiki kuda besi milik Arga. Hari ini sunset pasti akan terlihat sangat indah, mengingat pancaran cahaya nya begitu memukau mata. Diam-diam Nara menikmati perjalanan kali ini bersama Arga. Sore ini suasana kota Kembang begitu bersahabat. Entah kemana tujuan mereka, yang pasti Nara mencoba untuk percaya saja kepada lelaki yang membawanya. Kali ini, ia putuskan percaya pada Arga.


Soal postingan Arga beberapa hari yang lalu, Nara memang dibuat kaget bukan main saat banyak notifikasi masuk dari akun media sosialnya. Ia langsung meminta konfirmasi pada yang bersangkutan. Namun, ketika meminta konfirmasi, yang bersangkutan hanya mengangkat bahu acuh, seolah semua itu adalah tindakan yang lumrah. Toh, mereka sepasang kekasih yang tidak sedang melakukan hubungan sembunyi-sembunyi atau backstreet. So, Arga bebas posting apapun soal pacarnya.


"Ini?" lirih Nara saat melihat kemana jalur yang mereka lewati.


Tak lama kemudian kuda besi milik Arga berhenti, tepat di balik pohon besar yang cukup rindang dan lebat daunnya. Nara terasa cukup singkat, mengingat Alea sendiri begitu menikmati pemandangan di sekelilingnya. Arga meminta Nara turun, lalu mengajaknya berjalan, meninggalkan kendaraan beroda dua tersebut.


Terkadang Nara merasa ovt alias over thinking sendiri. Bayangkan bagaimana jika kendaraan itu tiba-tiba menghilang, dicuri oleh orang. Mungkin jika itu sampai terjadi, mereka akan pulang dengan berjalan kaki nanti. Padahal jarak dari sini ke cafe lumayan jauh.


Setelah berjalan cukup lama, mereka akhirnya tiba di tanah lapang yang masih sama seperti terakhir kali mereka berkunjung. Nara bisa melihat jika rumah pohon itu masih berdiri kokoh di sana, lengkap dengan ayunan yang menjuntai ke bawah.


Senyum Nara mekar, ia suka tepat ini sejak pertama kali Arga membawanya. Ia menoleh, menatap Arga dengan senyum yang sama.


"Kangen tempat ini?"


Nara mengangguk, lalu berjalan terlebih dahulu. Meninggalkan Arga yang masih berdiri sambil menyunggingkan senyum tipis.


Dengan antusias, Nara membuka sepatu, lalu menaiki satu per satu anak tangga yang terbuat dari kayu. langkah demi langkah membawa Nara ke hadapan depan pintu masuk. Kali ini Nara bisa melihat tulis Welcome yang terukir di depan pintu. Dengan perlahan ia membuka pintu tersebut lalu memasukinya.


Rumah pohon itu masih sama, terawat dan bersih. Benda-benda yang menjadi interior di dalamnya masih berada di posisi yang sama, kecuali beberapa barang yang teronggok di atas nakas dekat tempat makan.


"Kita nge-date disini. Lo nggak keberatan?" tanya Arga yang berhasil menyusul.


Nara itu menoleh, lalu mengangguk sambil tersenyum tipis. Cara Arga memperlakukannya hari ini membuktikan jika laki-laki itu sudah memiliki progres dalam tahap perubahan.


"Ada popcorn juga, kita beneran mau nonton?" tanya Nara penasaran. Ia melihat ada popcorn varian caramel.

__ADS_1


"Apa salahnya." Bahu lelaki itu mengedip acuh.


"Kita nonton pakai apa, Kak?"


"Laptop," jawab Arga santai sambil membuka ransel yang memang di bawanya sejak keluar dari cafe. "Ada minuman dingin juga di bawah meja. Lo bisa ambil."


Nara mengangguk, lalu menyusun barang-barang yang tadi teronggok begitu saja dengan teratur. Satu kantung kresek berisi snack, popcorn, dan beberapa makanan kini sudah berpindah ke lantai rumah pohon yang dialasi karpet tersebut.


"Ini siapa yang beli?" Nara berinisiatif bertanya sambil mengeluarkan dua snack dari dalam kresek. Jika bersama Arga, ia memang harus inisiatif bertanya. Jika tidak, mereka hanya akan ditemani oleh keheningan


"Iki. Tapi gue yang buat list." Arga menjawab sambil mengoperasikan laptop miliknya.


Nara yang penasaran, melongok kesamping Arga. Menatap pekerjaan apa yang tengah dilakukan laki-laki itu. Sepertinya asik sekali.


"Kakak main Game?"


"Hm. Kenapa, nggak boleh?" jawab Arga santai, tangannya sibuk menggerakkan mouse wireless.


"Katanya mau nonton?"


"Bentar, nanggung."


Nara mengerucutkan bibir mendengarnya. Ternyata mahluk berekspresi flat seperti Arga juga doyan main game. Saat lelaki itu menyudahi permainan nya, Nara bisa melihat berbagai jenis game online terinstall di laptop tersebut.


"Nonton apa?" tanya Arga sambil melirik Nara yang sedang sibuk membenahi snack.


"Apa aja. Aku suka semua genre film kok."


"Lo suka nonton anime?"


Nara yang tadinya sedang fokus berbenah, langsung menoleh. "Kok Kakak tahu?"


Nara tersenyum kikuk mendengarnya. Ia lupa jika Arga sempat meminjam handphone miliknya. Ternyata laki-laki itu sempat melihat isi galerinya yang memang dipenuhi oleh gambar anime, manga, sampai donghua.


"Ada film horor remake dari manga yang sering lo baca."


Nara beringsut. "Manga horor?"


"Kalau takut bilang," celetuk Arga tiba-tiba.


"Gimana, Kak?"


"Biar gue antisipasi pas lo refleks meluk gue," tambah Arga sekenanya.


Nara bersemu. Padahal dirinya bukan sosok yang penakut. Sebagai seorang gadis, ia bisa dikategorikan ke dalam golongan yang adrenalin nya cukup tinggi. Hanya sebatas menonton film horor saja, itu bukan masalah.


Pada akhirnya mereka memutuskan untuk nonton film horor lewat laptop Arga. Walaupun berada di tempat yang asri dan jauh dari keramaian, jangkauan jaringan internet di sini bisa dibilang sangat bagus.


Waktu terasa berjalan begitu cepat setelah satu film mereka berdua tonton. Ketika matahari benar-benar tenggelam di ufuk barat, film yang tengah berjalan setengahnya jeda sejenak. Lantunan adzan samar-samar menggema, dari arah perkampungan di daratan rendah. Nara menoleh, mengecek jam yang ada di handphone miliknya.


"Di bawah ada pancuran air. Lo bisa ambil wudhu disitu."


Nara sempat terkejut saat Arga tahu niatnya untuk menanyakan lokasi mengambil air. Karena laki-laki itu lebih peka dari dugaannya, Nara pun akhirnya terdengar tipis sebagai respon.


"Iya," jawabnya seraya beranjak.


"Kakak mau salat juga?"

__ADS_1


"Hm."


Nara mengangguk, saat melihat Arga mengikuti, ternyata laki-laki itu merealisasikan ucapannya.


Sudah menjadi kebiasaan Nara membawa mukena di dalam tas. Mengingat SMA Angkasa juga menerapkan beberapa peraturan tentang kewajiban seorang muslim bagi siswa-siswinya yang mayoritas memeluk agama islam. Belum lagi karena sepulang sekolah langsung kerja, Nara selalu membawa mukena yang bahanya tipis dan ringan dibawa kemana-mana.


Ayahnya selalu berpesan kepada Nara untuk jangan meninggalkan salat. Jika mengingat sang ayah, Nara juga jadi merasa sedih karena telah berbohong selama ini.


"Terima kasih, Kak."


"Buat apa?" tanya Arga yang baru saja membuka helm full face miliknya.


"Jalan-jalannya seru."


Pukul delapan malam kurang lima belas menit, mereka kembali tiba di ibu kota. Arga langsung mengantarkan Nara pulang ke rumahnya


"Apa susahnya tinggal bilang nge-date," koreksi Arga.


"Iya. Maksudnya itu."


Arga mendengus saat Nara tersenyum geli. "Lain kali gue ajak lo nge-date yang lebih mainstream. Nggak akan gue kasih mie instan lagi kayak tadi."


Nara mengangguk. Setelah menonton dua film sampai selesai, mereka sempat memasak mie instan menggunakan komponen portabel untuk mengisi perut.


"Gue cabut."


"Iya."


"Jangan lupa, besok gue jemput." Arga mewanti-wanti sebelum pergi.


"Iya."


"Salam buat Ayah lo."


"Iya, eh." Nara kebingungan mendengar Arga tiba-tiba menitipkan salam.


"Ayah lo ada di depan pintu," bisik laki-laki itu sebelum membunyikan klakson dua kali, lantas berlalu dan pergi..


"A-pa?" kaget Nara. Dengan cepat ia langsung menoleh ke belakang. Ternyata benar, sang ayah sudah berdiri di ambang pintu dengan pakaian khas nya, Koko putih yang sudah lusuh dan bawahan kain sarung.


Apa ayahnya ada di sana sejak tadi?


Nara pun dengan segera mengambil langkah seribu untuk menghampiri sang ayah. Lantas meraih satu tangganya untuk disalami.


"Assalamu'alaikum, Ayah."


Nara tidak lupa, ia sudah memberikan kabar kepada sang ayah melalui telephone jika memungkinkan malam ini akan pulang terlambat. Namun, pada kenyataannya ia pulang jam delapan. Hanya saja, Nara dibuat bingung dengan sorot mata sang ayah. Apa pula arti pandangan ayahnya saat menatap Arga tadi? kenapa ayahnya .... terlihat tidak suka kepada Arga?


...🫐🫐😀...


...TBC...


Semoga suka 😘


Ada rekomendasi novel keren juga nih 👇


__ADS_1


Tanggerang 25-11-22


__ADS_2