Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
⁷¹UFB


__ADS_3

"Kamu ....mau masak apa?"


Merasa ditanya, Genta yang tengah berada di depan kompor menoleh. Ibo yang berada di depan wastafel, sedang menata piring dan gelas di rak besi juga ikut menoleh.


"Aku mau bantu, tapi aku nggak bisa masak," cicit satu-satunya kaum Hawa di sana.


"Mau masak ayam mentega buat makan malam. Lo tau ayam mentega, 'kan?"


Alexa mengangguk. Ia tahu makanan tersebut dan pernah mencobanya beberapa kali.


"Buat yang simpel-simpel aja sih," ujar Genta lagi. Pada dasarnya ia memang ramah dan friendly orangnya.


Lumiere Cafe memang ditutup lebih awal dari jam operasional biasa. Alasannya karena ada banyak wartawan yang menyamar jadi pelanggan demi mendapatkan informasi dan klarifikasi dari Arganta Natadisastra. Alhasil cafe ditutup sebelum jam makan malam demi menghindari sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.


Sebenarnya para wartawan itu salah tempat jika mencari Arganta Natadisastra. Toh, lelaki itu memang sudah tidak ada di cafe semenjak Alexander meninggalkan Alexa di sana.


"Kalau boleh tau, ini dibuatnya dari bahan-bahan apa saja?"


Genta menoleh lagi. Bukan saja dirinya yang sekarang sedang memperhatikan mantan princess Natadisastra tersebut, melainkan seluruh manusia yang ada di dalam ruangan tersebut.


"Bahan dasar untuk membuat ayam mentega cukup sederhana, yaitu dada ayam fillet, ¼ lada, ¼ sendok teh garam, 1 butir telur, kemudian dicampur. Sedangkan untuk tepung lumuran, siapkan 8 sendok makan tepung terigu, 2 sendok makan tepung maizena, 3 sendok makan tepung bumbu, aduk rata, kemudian jadikan sebagai balutan daging ayam.


Sedangkan untuk saus mentega, siapkan 3 sendok makan mentega, 2 siung bawang putih, setengah bawang Bombay, 4 sendok makan kecap Inggris, 1 sendok makan kecap manis, 1 sendok makan saus tiram, 2 sendok makan saus tomat atau sambal, gula, garam, air, dan penyedap rasa secukupnya."


Alexa terdiam mendengarnya. Ia juga sempat ikut kursus memasak, dan sampai saat ini skill memasaknya masih noob alias payah. Mengingat selama ini ia tidak pernah memasuki dapur selama menjadi putri tunggal Natadisastra. Ia hanya tinggal panggil pelayanan jika menginginkan suatu makanan.


"Dijelasin panjang lebar juga dia nggak bakal ngerti, Gen. Lihat aja tuh komuk nya," seloroh Iki yang baru saja masuk dari pintu belakang. Dalam dekapan kedua tangannya, ia membawa keranjang yang terbuat dari anyaman bambu, berisi daun selada yang segar-segar.


"Mana mau ngerti kalau Genta jelasinnya udah kayak baca koran," timpal Ibo.


Genta tertawa melihat respon kedua sahabatnya. Ia kemudian kembali beralih ke arah Alexa setelah memasukkan potongan ayam. goreng tepung ke dalam saus mentega.


"Kalau mau belajar masak, harus rajin dan tekun. Terus ada usaha, itu aja dulu kuncinya."


"Masa kalah sama Nara?" celetuk salah seorang anak geng SPHINIX.


"Iya, tuh. Nara pinter masak loh. Bahkan kemampuannya hampir menyamai Genta."


"Apalagi sup ayam buatan Nara. Beuhhh, bikin nagih. Leader aja sampai suka pake banget."


Alexa bisa saja marah karena dibanding-bandingkan dengan orang lain. Namun, ia sadar diri. Ia di sini hanya numpang tinggal. Alexander berpesan untuk menjaga sikap. Toh, bukan masalah jika mereka lebih akrab dengan Nara. Lagipula gadis itu memang punya bakat alami untuk menarik perhatian orang dengan cara sederhana.


"Maaf, aku memang nggak bisa masak. Tapi, kalau bantu-bantu mengurus keuangan aku bisa."


"Kalau masalah itu, tanya ke Nindi. Soalnya keuangan adalah tahta tertinggi nya Nindi," sahut Ibo.


"Nindi?" bingung Alexa. Pasalnya ia belum melihat pemilik nama tersebut.


"Nindi hari ini ambil cuti. Katanya mau jenguk Nara, plus bantu-bantu siapin kebutuhan pengajian Ayah Nara," ucap Genta, memberitahu.

__ADS_1


Alexa manggut-manggut mendengarnya. Ternyata selain Nara, ada satu perempuan lagi yang beruntung, bisa diterima dengan baik oleh Arga dan teman-temannya.


"Lo bantu cuci piring deh," ujar Iki memberi solusi.


"Cuci piring?"


Iki mengangguk seraya menunjukkan tumpukan peralatan dapur yang masih menumpuk di wastafel. Tadinya Ibo yang mengerjakan pekerjaan tersebut.


Melihat respon Alexa yang patut dicurigai, Iki langsung memicingkan mata. "Jangan bilang lo nggak pernah cuci piring seumur hidup?"


Alexa menggeleng ragu. "Di rumah ada mesin cuci piring. Kalau peralatan dapur di cuci sama pembantu," ujarnya jujur. "Kalau nggak percaya, tanya Arga."


"Hadeeh," desah Iki. "Terus lo bisanya ngapain?"


"Hm, banyak. Tapi, nggak soal masak dan urusan dapur."


"Huh, nggak guna!" seru beberapa anak geng SPHINIX, sebelum mereka berlalu pergi begitu saja.


Meninggalkan Alexa, bersama Genta dan segelintir orang yang tersisa.


"Nggak usah dimasukkan ke dalam hati," ucap Genta tiba-tiba. "Anggap aja sebagai bentuk sambutan. Dulu Nara juga diginiin pas awal-awal masuk. Malah lebih parah."


"Sungguh?"


Genta mengangguk seraya memindahkan ayam mentega buatannya ke atas piring. "Lo mending bantu petik daun kangkung. Tau caranya, 'kan?"


"Oke. Petikin dua iket aja, itu cukup buat ngasih pakan anak-anak."


Senyum kecil terbit di bibir Alexa. Ia tampak cantik jika begitu, mengingat biasanya ia menampilkan wajah arogan nan sombong.


Mendapatkan tugas pertama dari Genta, Alexa pun mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Semenjak tiba di sini, ia langsung diberikan arahan untuk menyimpan barang-barang miliknya di sebuah kamar yang berada di lantai dua. Berhadapan langsung dengan kamar milik sang pemilik cafe. Kendati demikian, sejak tiba di sini, Alexa sama sekali tidak melihat Arga. Entah kemana laki-laki itu pergi. Padahal saat tiba bersama Alexander, ia sempat melihat motor Arga terparkir di depan sana.


"Nah, sekarang tinggal panggil anak-anak."


Makan malam telah matang dan selesai dihidangkan. Hari ini menu utamanya adalah ayam mentega, ditemani oleh tumis brokoli, ada juga soun goreng, tempe mendoan, serta sambal. Sederhana sih, amat sangat sederhana bagi Alexa. Namun, masalahnya ia tidak bisa makan makanan tersebut. Menu tersebut terlalu tinggi kalori bagi makan malam.


"Kenapa nggak makan, Xa?" tanya Genta yang sudah mengambil nasi kedua.


Alexa menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis. Sebenarnya ia juga lapar. Namun, ia tidak bisa makan makanan seperti itu.


"Dia pasti nggak bisa makan beginian," celetuk Iki. Ia memang yang paling julid semenjak kehadiran Alexa. Tak pelak ujaran itu menarik berbagai respon dari yang lain.


"Aku .... punya issue tersendiri soal makanan." Alexa tiba-tiba bersuara di antara kericuhan yang terjadi. Wajahnya tertunduk, menatap kedua tangannya yang tersimpan di atas paha. "Dulu aku pernah mengalami obesitas karena terlalu banyak makan fast food. Aku ....jadi gemuk dan Mama membenci hal itu. Oleh karena itu, aku pernah tidak diberi makan selama beberapa hari, hanya diizinkan mengonsumsi air dingin serta salad."


"Halah, lo pasti bohong!" sanggah Iki.


Alexa menggelengkan kepala. "Enggak. Kalau kalian nggak percaya, coba tanya ke Arga. Dulu dia tahu gimana gemuknya aku."


Alexa tidak mengada-ada soal memiliki masalah issue dengan makanan. Ia pernah mengalami obesitas atau kelebihan berat badan saat tahun-tahun awal tinggal di kediaman Natadisastra. Seperti anak-anak pada umumnya, ketika tinggal di rumah mewah dengan fasilitas serba ada, Alexa jadi gemar makan dan main. Karena lost control, berat badannya melonjak pesat dan didiagnosis mengalami obesitas.

__ADS_1


Sussanne tentu saja murka. Ia pun menerapkan diet ketat pada Alexa agar bisa kembali pada bentuk tubuhnya yang semula. Alhasil Alexa kecil pernah mengalami masa-masa yang sulit, di mana ia dilarang makan selama beberapa hari dan hany boleh mengonsumsi air serta salad. Padahal anjuran dari dokter tidak harus diet ketat apalagi ekstrim, namun harus menerapkan pola makan dan gaya hidup sehat.


Jejak dari peristiwa tersebut, Alexa jadi mengalami Anoreksia nervosa atau kondisi yang membuat penderitanya enggan makan, karena takut berat badannya naik. Orang-orang dengan kondisi ini umumnya memiliki berat badan yang sangat rendah.


Anoreksia nervosa juga termasuk Eating disorder atau serangkaian gangguan mental yang ditandai dengan pola makan yang tidak sehat atau tidak wajar. Kondisi ini dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan fisik maupun mental. Tak hanya berdampak secara emosional, gangguan makan dapat memengaruhi kemampuan tubuh untuk mendapatkan gizi yang cukup dan menghambat kehidupan sehari-hari.


"Maaf kalau aku nggak bisa ikut makan sama kalian," lirih Alexa seraya menatap beberapa orang yang ada di sekelilingnya.


Hilang sudah image moswanted girl SMA Angkasa yang selalu terlihat jual mahal, jutek, berkelas, dan tidak bersahabat. Sekarang yang duduk di antara mereka hanya Alexandria Natadisastra yang sudah tidak punya apa-apa. Walaupun pakaian yang melekat pada tubuhnya keluaran brand ternama semua, itu tak lantas membuat kepercayaan dirinya kembali seperti semula.


Merasa kehadirannya hanya menjadi sumber ketidaknyamanan, Alexa memilih untuk beranjak. Namun, baru saja hendak beranjak, sebuah nampan berisi salad sayur, potongan buah segar, serta segelas air putih hadir di hadapannya.


"Makan dulu baru naik," ujar pelaku dari hadirnya makanan sehat tersebut.


"Ini ....buat aku?" tanya Alexa, ragu.


"Hm."


"Darimana kamu tahu menu makan malam aku?"


Alexa bukannya tidak tahu terima kasih. Namun, bagaimana bisa tiba-tiba ada orang asing yang mengetahui menu makannya selain keluarga dan para pekerja yang biasa melayaninya. Belum lagi porsi dari salad sayur itu sendiri pas. Komposisinya juga sesuai, ada jagung manis, kol ungu, lettuce, telur rebus, wortel, kentang, tomat ceri, mentimun Jepang, kemudian disiram oleh salad dressing. Potongan buah segar yang disediakan juga terdiri dari buah-buahan yang biasa Alexa konsumsi. Kebetulan kah?


Agaknya bukan Alexa saja yang dibuat penasaran, yang lain juga. Mereka yang sedang makan malam langsung terdiam, menanti jawaban lawan bicara Alexa. Ada banyak hipotesa yang tiba-tiba memenuhi kepala. Mengingat lawan bicara Alexa itu dikenal sebagai sosok yang tidak pernah mau repot-repot ikut campur urusan orang asing.


"Kembaran lo," jawab Orion. Lelaki yang irit bicara seperti Arga itu lantas pergi begitu saja setelah memberikan salad sayur tersebut.


"Terima kasih," lirih Alexa seraya meng*lum bibir. Menahan senyumnya yang tercipta, agar tidak semua orang dapat melihatnya.


Alexa merasa bersyukur, setidaknya masih ada yang peduli padanya di sini. Sekarang ia bisa mengisi perutnya yang sudah keroncong sejak tadi.


Sedangkan di sisi lain, Iki tampak mendekatkan wajahnya ke telinga Ibo. "Sejak kapan si Orion akrab sama Alexander, Bo?"


"Mana ketehe, Ki. Udah, mendingan makan aja. Kepo terus hidup lo!"


"Dih, gue nanya, bukan kepo!"


Ibo tersenyum jumawa seraya mengigit tempe mendoan. "Kamu nanyaa?" ujarannya, dibuat-buat seperti meme yang sedang viral.


"Kagak, ngomong sendiri!" seru Iki seraya kembali menikmati ayam mentega buatan Genta yang rasanya juara.


🫐🫐


TBC


Semoga suka 🖤


Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘


Tanggerang 25-12-22

__ADS_1


__ADS_2