Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
⁶⁹UFB


__ADS_3

Kecelakaan mau yang terjadi pada hari itu merenggut total dua korban jiwa. Korban jiwa pertama adalah supir taxi yang mengalami patah tulang dan pendarahan hebat di kepala, sehingga nyawanya tidak tertolong. Sedangkan korban jiwa kedua adalah Andra Atmajaya yang sempat dilarikan ke rumah sakit. Setelah mendapatkan perawatan intensif selama dua hari di rumah sakit, Andra juga harus berpulang ke pangkuan sang kuasa setelah jantungnya gagal mempertahankan denyut. Kematian Andra juga dipicu oleh lemahnya kondisi pria tersebut, ditambah lagi dengan cidera parah di tempurung kepala.


Aleanska Nara jadi satu-satunya korban yang selama dari cengkraman maut. Ah, mungkin belum. Mengingat saat ini gadis itu juga masih berjuang antara hidup dan mati dengan bantuan alat-alat penunjang kehidupan. Nara didiagnosis mengalami koma. Koma sendiri adalah tingkatan paling dalam ketika seseorang tidak sadarkan diri. Orang yang mengalami koma tidak dapat merespons terhadap situasi di sekitarnya sama sekali. Penderita koma tidak akan melakukan gerakan, mengeluarkan suara, apalagi membuka mata.


Kondisi tersebut tentunya membuat Arga, selaku kekasih Nara terpukul hebat. Belum lagi Alexander dan Alexanderia, selaku kakak yang dulu selalu bersama Nara ketika mereka masih sama-sama kecil. Mungkin Arga dan Alex bisa menutupi sebagian dari kepedihan mereka, namun tidak dengan Alexa. Ia sangat terpukul, sedih, marah, dan merasa bersalah.


Saat ia mengetahui fakta jika infinity itu adalah Aleanska Nara, ia juga tahu jika Nara adalah orang yang sama dengan sosok yang ia cari-cari selama ini.


Nara adalah adiknya, adik kecilnya. Gray memberi Alexa bukti-bukti valid soal identitas Nara. Gray juga yang mengungkapkan fakta jika Aleanska Nara sebenarnya bukan darah daging Andra dan Sussanne, melainkan darah daging seorang perempuan yang menitipkan bayi di sebuah panti asuhan. Hingga saat ini, Gray masih berusaha mencari tahu identitas orang tua kandung Nara.


Kondisi Nara sejauh ini masih sama, belum ada perkembangan. Dokter hanya menyarankan para keluarga dan kerabat pasien untuk sering mengajak pasien berkomunikasi walaupun tidak ada respon.


"Kapan lo mau bangun hm?"


Mungkin Arga bukan termasuk keluarga dan kerabat pasien, namun ia merupakan kekasihnya. Ia juga punya ikatan persaudaraan lewat di kembar. Setiap pulang sekolah, Arga akan datang untuk menyapa sang kekasih. Menggenggam telapak tangan mungil yang pucat dan dingin itu lama, sembari berceloteh lirih.


Arga akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama sang kekasih di rumah sakit, ketimbang bersama kawan-kawannya di markas SPHINIX.


"Apa dia mau buka mata kalau tahu orang yang paling dicintainya udah pergi?"


Arga menoleh ke arah datangnya suara tersebut. Benar, apa yang terjadi jika nanti kekasihnya bangun? Walaupun begitu, Arga tetap yakin jika kekasihnya akan segera bangun.


"Dia pasti bangun," jawabnya dengan penuh keyakinan.


"Jikapun dia bangun, gimana cara jelasin semuanya ke dia? Ayahnya terbunuh karena konspirasi ibu palsu dan Ayah mantan kekasihnya sendiri."


"Gue belum putusin dia," koreksi Arga. Sejak kapan ia setuju untuk berpisah? enak saja lawan bicaranya asal bicara. "Seberat apapun kenyataannya, dia tetap harus tahu. Ini resiko yang harus ditanggung kalau mau tahu sebuah kebenaran."


Alexander yang berdiri di ambang pintu itu mengangguk samar. "Gue nggak punya keberanian besar buat jelasin ke dia kalau suatu saat nanti dia bangun. Gue nggak mampu lihat dia terpuruk lagi. Selama ini yang dia punya cuma ayah."

__ADS_1


"Biarin gue yang jelasin."


"Oke." Alexander mengiyakan, lalu melangkah maju. Mendekat ke arah adik kecilnya tengah berbaring tak sadarkan diri di atas hospital bed. "Dia selalu jadi kelemahan gue. Dia kesayangan Ayah dan gue," lirihnya. "Dulu gue selalu berpikir, kenapa nyokap selalu pilih kasih ke dia. Gue sama Alexa selalu diberi makanan enak, jajan yang banyak, baju juga yang paling bagus. Tapi, giliran dia, serba seadanya. Cuma ayah yang selalu mengerti kebutuhan dia." Seulas senyum kecut tercipta di bibir kala ia mengingat kejahatan ibunya. "Tapi, pada dasarnya dia itu anaknya kuat. Dia nggak pernah sekalipun nanya, kenapa dia dibedakan. Sekarang, gue tahu alasannya kenapa nyokap bersikap begitu."


"..."


"Gue harap lo nggak bakal nyakitin dia lagi. Udah cukup rasa sakit yang dia tanggung selama ini. Lo harus bahagiain dia kalau suatu saat nanti dia bangun."


Arga tidak langsung menjawab. Namun, lelaki itu memilih mengeratkan genggaman nya di jemari mungil milik gadisnya. "Gue juga nggak berniat nyakitin dia."


"Dia nggak salah apa-apa, tapi dia jadi korban dari keegoisan, dendam dan kebencian orang-orang dewasa." Tangan Alexander terulur untuk mengelus surai hitam sang adik perlahan.


"Kita saudara, Arga. Kita berbagi darah yang sama."


Ya, Arga juga tidak bisa menampik fakta tersebut. Se-benci apapun dirinya, kenyataan tetaplah kenyataan. Darah tidak bisa diubah, sifatnya tetap, kekal dan tak berubah. Sekalipun orang tua mereka sudah berpisah.


Arga kontan menggeleng untuk pernyataan satu itu. "Dia milik gue."


"Jangan egois, Arga."


"Gue cuma punya Kakek dan dia di dunia ini. Tolong, jangan minta gue jauhi dia."


Seorang Arganta Natadisastra sampai meminta tolong. Sungguh luar biasa. Alexander jadi tidak bisa apa-apa. "Nyokap udah ajuin gugatan cerai ke Bokap. Mereka bakal pisah dan bakal sama-sama mendekam di penjara. Mereka harus menanggung jawabkan semua kejahatan yang mereka lakukan." Alexander mengubah topik pembicaraan. Ia lantas berbalik seraya menyimpan kedua tangannya di saku celana.


Soal Nara, biar waktu yang menjawab. Apa gadis itu akan memilih bertahan dengan Arga yang notabene anak dari salah satu dalang konspirasi pembunuhan ayahnya?


"Gue harap setelah ini nggak ada kesalahpahaman atau dendam lagi diantara kita."


Arga beranjak. Ia mendongrak, menatap lawan bicaranya. "Apa lo juga mau jelasin sesuatu soal kematian Seno?"

__ADS_1


Dari awal, selain masalah internal terkait hubungan darah, masalah lain yang membuat Arga membenci Alexander adalah insiden terbunuhnya Seno.


"Gue nggak ada sangkut pautnya sama kematian Seno. Gue bisa buktiin ucapan gue. Mereka yang berencana bunuh Seno adalah Geko sama dua kacungnya. Mereka dendam sama Seno, karena dianggap terlalui menguasai organisasi."


"Kenapa lo nggak bilang dari dulu?"


"Gue nggak punya cukup bukti. Sebelum sempat gue buktiin, lo udah lebih dulu benci sama gue."


Arga baru tahu ternyata inilah faktanya. Ia memang tidak mengetahui semua ini dari awal. Oleh karena itu, ia membenci Alexander yang ia pikir ada sangkut pautnya dengan kematian Seno. Pasalnya semenjak terpecah belah, Alexander lah yang langsung diangkat sebagai ketua geng PIONIX.


"Gue bakal jelasin semuanya sampai tuntas. Gue nggak mau ada kesalahpahaman lagi."


"Gue tunggu," jawab Dean. "Gue bakal pegang ucapan lo, dan lo bisa pegang ucapan gue soal yang satu ini."


"Soal?"


Arga menoleh, menatap sang kekasih lekat. Ia tidak pernah memprediksi akan jatuh hati seperti ini. Namun, siapa yang menyangka jika ia akan jatuh cinta kepada gadis yang dulu dititipkan oleh laki-laki yang sudah dianggap kakak sendiri.


"Gue sayang dia. Gue nggak akan biarin dia pergi lagi. Jadi biarin gue tetap bersama Adik lo."


🫐🫐


TBC


Semoga suka 🖤


Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘


Tanggerang 24-12-22

__ADS_1


__ADS_2