Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
⁷⁰UFB


__ADS_3

Harta, tahta dan cinta adalah salah satu titipan-Nya. Entah kapan pula direnggut atau diambil kembali oleh-Nya. Sebagai manusia, kita tidak ada yang tahu akan kehendak-Nya.


Jika ada yang bila hidup itu seperti roda berputar, kadang di atas kadang di bawah, memang benar adanya. Hidup Alexandria Natadisastra yang serba ada kini telah musnah tak bersisa. Jika Arganta dan Alexander sudah biasa dengan kesederhanaan, tidak dengan Alexandria. Ia hanya bisa meratapi nasib saat satu per satu barang-barang berharga di kediaman Natadisastra digelandang petugas kepolisian. Tersisa rumah yang kosong melompong, milik Arganta Natadisastra.


Rumah megah dan mewah itu dulunya atas namanya Anjani. Jadi, tanpa diketahui oleh Utama, Andro sudah membalikkan nama lagi sertifikat rumah tersebut atas nama cucunya, Arganta Natadisastra. Walaupun begitu, rumah tersebut tetap disegel petugas kepolisian untuk kebutuhan penyelidikan. Sebagai salah satu tindakan untuk mengamankan barang bukti yang bisa jadi masih tertinggal di kediaman Natadisastra.


Alexa tentu terpaksa harus hengkang dari kediaman megah nan mewah tersebut. Para pelayan dan pekerja juga dipulangkan tanpa pesangon. Mau protes juga bagaimana, mengingat tuan dan nyonya rumah tersebut sudah ditahan polisi. Alexa saja hanya keluar menggunakan pakaian seadanya. Untungnya masih ada beberapa kebutuhan yang bisa ia bawa, karena dibeli menggunakan uang non korupsi ayahnya.


"Kak."


"Apaan sih, manggil-manggil terus!"


Alexa yang duduk di jok penumpang belakang itu mengerucutkan bibirnya sebal. Saat ini ia sedang bersama Alexander. Mereka baru saja mengambil sisa barang-barang yang tidak disita oleh petugas kepolisian.


"Kita .... tinggal di mana?" lirih Alexa. Ia sudah tidak punya tempat tinggal. Barang-barang branded yang biasa ia pakai juga sebagai besar disita. Hanya beberapa barang saja yang tersisa. Itu pun jika dijual uangnya tidak seberapa. Tidak akan cukup bagi gaya hidupnya yang konsumtif dan hedonisme.


"Gue tinggal di markas. Terserah lo mau tinggal di mana pun."


Alexa mendongkrak, menatap kembarannya tak percaya lewat kaca spion. Markas PEONIX memang tidak sebagus dan selayak markas SPHINIX. Namun, itu bukan ide buruk untuk sementara tinggal di sana. Hanya saja, apa Alexander mau membawanya untuk tinggal bersama.


"Kok ke sini?" bingung Alexa. Alih-alih markas PEONIX, Alexander malah membawa kendaraannya ke Lumiere Cafe.


Mereka berdua, lebih tepatnya dengan Arga juga, memiliki untuk bolos sekolah. Mengingat pemberitaan mengenai ditangkapnya orang tua mereka sedang panas-panasnya. Jika mereka masuk sekolah, pasti suasana di sana juga sedang tidak kondusif.


"Lo tinggal di sini untuk sementara waktu," ucap Alexander setelah menurunkan standar motor.


Alexa kontan menggelengkan kepala mendengarnya. "Nggak. Aku nggak mau tinggal di sini. Aku tinggal sama kamu aja."

__ADS_1


"Kalau gue bilang tinggal di sini, maka Lo harus tinggal di sini."


"Nggak mau!"


"Jangan keras kepala, Lexa!" bentak Alex, habis kesabaran.


Alexa yang dibentak sang kembaran untuk pertama kalinya langsung terdiam dengan mata berkaca-kaca.


Melihat itu, Alexander langsung membuang napas kasar. Ia lupa jika lawan bicaranya adalah Alexandria Natadisastra. Putri kesayangan Utama Natadisastra. "Denger, gue nggak bermaksud buang lo. Sekarang kita cuma berdua, gue nggak bisa bawa lo tinggal di markas karena kondisi di markas nggak kondusif."


"Terus kenapa harus di sini? aku nggak mau repotin Arga lagi. Dia .... pasti benci sama kita."


Alexander menghela napas lemah. Ditatapnya lekat sang kembaran yang mulai menitihkan air mata. Alexander tahu jika Alexa hanya gadis biasanya yang pada dasarnya haus kasih sayang. Selama ini Alexa diperalat orang tua mereka untuk dekat dengan para anak tekan bisnis mereka. Alexander tahu jika Alexa juga sudah muak hidup seperti itu.


Ketika sudah lepas dari cengkraman orang tua toxic seperti Utama dan Sussanne, Alexa malah tidak memiliki tempat untuk pulang. Alexander juga tidak bisa membawa Alexa ke markas PEONIX, karena markas PEONIX tidak selayak markas SPHINIX. Jika tidak tinggal di markas SPHINIX, masih ada Lumiere Cafe yang dimiliki oleh geng SPHINIX. Oleh karena itu, semalam ia sudah menghubungi kakak tirinya.


"Lusa kita harus memenuhi panggilan kepolisian."


Alexa langsung mendongkrak mendengarnya. "Memenuhi panggilan kepolisian? kita juga bakal dipenjara?"


"Kita berdua sama Arga dipanggil pihak kepolisian, karena kita ditetapkan sebagai saksi."


"Tapi...."


"Lo jangan takut, mereka nggak akan bisa nyakitin kita lagi," ujar Alexander, mencoba menangkan. Ia tidak tahu pasti apa yang telah Alexa alami selama ini. Namun, melihat ketakutan di matanya, Alexander tahu jika kembarannya itu telah kenyang disakiti.


"Gue udah sepakat sama Arga. Lo tinggal di sini untuk beberapa waktu, sampai gue dapet kosan yang layak."

__ADS_1


"...."


"Jaga sikap lo selama tinggal di sini. Mereka mungkin belum bisa nerima keberadaan lo sepenuhnya, tapi tempat ini lebih baik buat lo untuk saat ini."


Alexa tidak punya pilihan lain. Setelah mengaku sebagai dalang dari peristiwa penculikan Nara, Arga terlihat sangat benci kepadanya. Ia merasa begitu bersalah dan tidak punya muka untuk bertemu lagi dengan Arga. Sekarang Alexander malah menyuruhnya tinggal di cafe lelaki tersebut.


"Lo mungkin nggak punya muka ketemu Arga. Tapi, dia itu tetap saudara kita. Cuma dia yang bisa bantu kita untuk saat ini," ujar Alexander seraya menyentuh bahu sang kembaran. "Kedepannya tolong perbaiki sikap lo. Kembali jadi Lexa yang dulu gue kenal."


Alexa mengangguk dengan air mata yang bercucuran. Sungguh, selama ini ia telah begitu jahat pada kembarannya sendiri. Padahal tanpa ia ketahui, Alexander selalu mengamatinya kesehariannya dari jauh.


"Maaf dan terima kasih, Kak," ucap Alexa. Lantas dengan segera ia merangkul tubuh tegap kembarannya. Menangis lebih keras di dada bidang lelaki yang sejak dulu menjaganya.


Tanpa mereka berdua sadari, sejak tadi ada dua orang yang mengamati interaksi mereka berdua dari balik jendela. Mereka bisa melihat bagaimana sepasang anak kembar itu berusaha saling menguatkan diantara guncangan yang datang secara bertubi-tubi.


"Gue rasa keputusan lo udah bener, Ta." Salah satu di antara dua sosok berjenis kel*min laki-laki itu bersuara. "Lo boleh-boleh aja benci nyokap mereka, karena wanita itu adalah perebutan kebahagiaan nyokap lo. Tapi, kalau lo benci mereka, gue rasa kurang tepat." Ia menoleh, menatap lawan bicaranya yang sekarang sudah buang muka ke samping. "Mereka juga korban, Ta. Seenggaknya lo pernah merasakan hidup bahagia tanpa dusta. Tapi, mereka? mungkin sejak lahir ke dunia, hidup mereka telah dimulai dengan dusta.


"...."


"Mereka nggak sepenuhnya salah. Mereka juga korban keegoisan nyokap sama bokap kalian."


...🫐🫐...


...TBC...


...Semoga suka 🖤...


...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...

__ADS_1


...Tanggerang 24-12-22...


__ADS_2