
"Lupain niat lo itu." Arga berbalik setelah berkata demikian. Ia langsung melangkah pergi tanpa banyak kata. "Gue nggak bisa biarin setetes pun darah gue diambil buat dia."
"Tapi kenapa, Kak? bisa kasih aku alasannya?"
"Pikir aja sendiri," ujar Arga tanpa berbalik. Lelaki itu tetap pergi tanpa mempertimbangkan permintaan Nara. Namun, baru beberapa langkah, gerakan kaki lelaki itu berhenti secara tiba-tiba. Alasan hentinya langkah tersebut adalah karena sebuah teriakan dari belakang tubuhnya
"DIA SAUDARA KAKAK!" Nara berteriak cukup keras, padahal mereka hanya berdua di tempat sepi tersebut. "Kenapa Kakak enggak mau menolong dia?"
"Karena gue nggak mau."
Jawaban apa adanya Nara dapatkan. Respon tersebut tentunya semakin membuat Nara frustasi. "Kak...."
"Gue benci dia," potong Arga. "Gue benci wanita sial*n itu, termasuk anak-anaknya."
"...."
"Gue benci mereka, karena mereka benalu di hidup gue!"
Nara bisa merasakan sesak mendengar ucapan Agar. Lelaki itu terlihat sangat membenci Alexander, karena Alexander adalah putra dari wanita yang telah merebut posisi ibunya. Lalu bagaimana dengan Nara?
Nara juga memiliki ikatan darah yang sama dengan Alexander dan Alexanderia. Mereka berbagi ibu yang sama. Wanita yang sama dengan wanita yang sangat Arga benci. Baea harus berbuat apa sekarang?
Inilah salah satu alasan Nara menjauhi Arga. Ia meminta putus dan berhenti bekerja di cafe milik sang Jendral. Semua itu ia lakukan karena ia tidak mau Arga lebih tersakiti lagi saat mengetahui fakta tentang identitas aslinya sebagai putri benalu di hidupnya.
Semua itu berawal dari pertemuannya dengan wanita yang telah melahirkan dan menelantarkannya beberapa tahun silam. Nara diberitahu identitas aslinya saat itu.
FLASHBACK
"Ayah, Nara tinggal ke luar dulu, ya. Sepertinya ada yang datang berkunjung."
Pria paruh baya yang tengah terbaring lemah di atas tempat tidur itu mengangguk. Ia baru saja pulang dari rumah sakit. Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, akhirnya ia diperbolehkan pulang. Beberapa bagian tubuhnya yang terluka juga sudah mulai memasuki tahap pemulihan.
"Nara ke depan dulu," ujar putri gadisnya, sebelum berlalu.
Mendengar ketukan pintu dari luar, Nara lekas menuju pintu utama. Pasti Arsen dan Cacha datang berkunjung, pikirnya. Namun, bayang-bayang kedua sahabatnya yang datang berkunjung, tergantikan oleh sosok anggun yang berdiri di depan pintu.
Wanita dengan dress hitam yang melekat indah di tubuh, wanita itu berdiri di depan pintu, di kawal oleh dua orang pria berwajah sangar dan bertubuh tegap. Sepertinya bodyguard.
"I--bu?" cicit Nara.
Mana mungkin ia melupakan wajah itu. Wajah cantik wanita yang telah melahirkannya ke dunia. Dengan cepat Nara bergerak guna merengkuh sosok yang amat ia rindukan. Sosok yang telah ia cari selama bertahun-tahun lamanya.
"Berhenti di situ!" Wanita itu menahan pergerakan Nara dengan kalimatnya .
Kedua tangan gadis itu tertahan di udara. Hendak memeluk, namun urung.
__ADS_1
"Saya datang kesini bukan untuk mendapat pelukan dari seseorang yang seharusnya sudah mati."
Jantung Nara terasa diremat begitu saja. Ia lantas mendongrak, menatap wajah wanita yang berjasa besar, karena telah melahirkannya ke dunia.
"Siapa yang datang, Nar?"
Suara ayah Nara terdengar. Lelaki renta itu muncul dari balik pintu kamar. Ia berjalan lemah mendekati sang putri.
"Jadi benar kalian lolos dari maut?" cibir wanita tersebut.
"Sussanne. Kamu-"
"Kenapa? Kaget melihatku di sini, pria cacat?"
Andra, ayah Nara lekas menarik lengan sang putri agar lebih mendekat. "Mau apa kamu datang ke sini?"
"Cih. Aku juga tidak sudi datang kesini jika bukan karena terpaksa." Sussanne menatap mantan suaminya jijik. "Percuma aku bicara panjang lebar, kamu 'kan tidak bisa mendengar, Ndra. Kamu tidak lebih dari seorang pria cacat."
"Jaga bicara, Ibu!" Nara buka suara. Tak terima begitu saja ayahnya dihina. "Jangan menghina Ayah."
"Sekarang kamu berani, ya? Dasar anak pembawa si*l." Sussanne berkata seraya menatap Nara dengan sorot penuh kebencian. "Kamu itu terlahir sebagai aib yang tidak pernah saya inginkan."
Nara menatap wanita yang ia panggil 'ibu' itu tak berkedip. Namun, air matanya luruh tanpa diminta. Apa yang barusan ibunya katakan? ia hanya aib yang kelahirannya tidak diinginkan. Begitu kah posisinya di hari sang ibu?
"Sussanne, jaga bicaramu. Dia juga putri kita!"
Sussanne melipat kedua tangganya di depan dada. "Putriku cuma satu, dia adalah Alexandria Natadisastra."
"A-lexa?" lirih Alea. Apakah Alexa yang ibunya maksud itu adalah Alexa yang ia kenal?
Apakah Alexa adalah kakak perempuan yang selama ini ia cari?
"Sebaiknya kalian pergi dari kota ini. Pergi yang jauh, jangan sampai kalian menampakan diri lagi di hadapanku atau anak-anak saya." Sussane berkata sambil melemparkan sebuah berkas ke hadapan ayah serta anak tersebut.
"Dan kamu, berhenti merusak hidup seseorang." Sussanne menunjuk Nara menggunakan jari telunjuknya. "Arganta Natadisastra itu putra saya."
Tubuh Nara hampir saja ambruk jika tidak ditahan oleh ayahnya. Fakta tersebut begitu mengguncang jiwa dan raganya.
"Arganta Natadisastra, Alexander Natadisastra dan Alexanderia Natadisastra adalah anak-anak saya. Jangan sekalipun kamu berani menganggu mereka. Atau kamu tahu sendiri akibatnya."
Nara nasih terpaku di tempat. Jadi Arga, Alex, dan Alexa bersaudara? Berarti secara tidak langsung mereka adalah saudara.
Bibir wanita yang dilapisi Chanel lipstik rounge coco itu tersenyum tipis. Ia senang bukan kepalang rencananya berjalan dengan mulus. Ia kemudian berjalan mendekati Nara, lantas membisikan sesuatu.
"Saya menikah dengan ayahnya Arga, Alex dan Alexa. Kamu tahu sendiri bukan seberapa bencinya Arga kepada saya?"
__ADS_1
"...."
"Seharusnya kamu mengerti bagaimana jadinya perasaan Arga jika mengetahui identitas asli kekasihnya. Kamu lahir dari rahim wanita yang telah menghancurkan pernikahan kedua orang tuanya."
Jantung Nara berpacu dua kali lebih cepat. Ia tahu jika Arga memiliki hubungan yang tidak baik dengan keluarganya. Semua itu berawal dari kedatangan ibu tirinya. Arga sangat membenci istri kedua ayahnya, pun dengan anak-anaknya.
Sekarang ia berada di posisi yang sama dengan Alex dan Alexa yang dibenci oleh Arga. Karena ia adalah putri dari wanita yang telah merenggut kebahagiaan Arga dan Ibunya. Lantas, apakah Arga juga akan membencinya?
FLASHBACK END
Nara menghela nafasnya berat. Rongga dadanya terasa sesak. Fakta itu menyakiti relung hatinya. Ia masih terlalu rapuh untuk menguatkan diri berulang kali. Namun, semua itu ia lakukan demi orang-orang yang ia sayangi.
"Kak, tolong selamatkan kak Alexander. Dia butuh pertolongan Kakak."
Lelaki itu menghentikan langkahnya. Kedua tangannya terkepal erat di samping tubuhnya. "Jawab satu pertanyaan gue dulu."
Alea mendongrak, menatap punggung tegap lelaki rupawan itu was-was.
"Lo sayang dia?"
Susah payah Alea mencoba menelan saliva. Ia tidak menduga jika Arga akan bertanya demikian.
"A-ku...."
"Apa lo lebih sayang dia daripada gue?" cecar Arga.
Demi Tuhan, Nara tidak bisa menjawab pertanyaan satu itu. Ia menyayangi Alexander, terlebih lelaki itu adalah kakaknya yang telah lama menghilang. Akan tetapi, ia juga menyayangi Arga.
Jauh sebelum ia bisa mengungkapkan perasaannya. Nara telah menyayangi Arga sebesar apa ia menyayangi Seno dahulu. Tanpa sang leader ketahui, Nara bahkan sudah jatuh cinta kepadanya.
"Iya." Nara memejamkan matanya erat. Meresapi sesak di rongga dadanya yang makin menjadi. Mungkin kali ini ia harus mengorbankan perasaan Arga serta perasannya sendiri.
"Aku sayang dia."
Arga tidak bersuara. Lelaki itu kembali melangkah. Meninggalkan Nara sendiri di bawah naungan malam dengan sesak yang tidak ia ketahui. Gadis itu menangis sejadi-jadinya di sana. Seakan-akan belati kembali menghujam jantungnya.
Nara tahu perkataan salah. Semua itu tidak sepenuhnya benar. Ia juga sangat menyayangi Arga, bahkan mencintainya. Namun, ia harus melakukan kebohongan ini demi keselamatan Alexander. Lelaki itu butuh darah dari saudaranya, Arganta Natadisastra.
...**...
...TBC...
...Semoga suka 🖤...
...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...
__ADS_1
...Tanggerang 18-12-22...