
Seorang wanita dengan dress coklat muda dengan model rok layer baru saja tiba di lobby perusahaan sang suami. Ketukan heels yang digunakannya menggema dengan begitu kontras saat bertemu dengan permukaan lantai. Sebuah tas branded dari brand Hermes juga ada dalam genggaman. Beberapa staf yang berpapasan dengannya tampak membungkuk hormat. Di hanya mengulas senyum kecil di bibir.
Para staf tentu saja mengenal dirinya. Posisinya di sini berbeda dengan mereka yang hanya pekerja. Mengingat ia adalah istri pemimpin perusahaan tersebut.
"Mas," panggilnya saat tiba di depan ruangan sang suami. Sambil meraih kenop pintu, ia memanggil sang suami dengan suara lembut nan anggun.
Sussanne memang sengaja datang pagi ini untuk memberitahukan jika rencana mereka sudah berjalan dengan sukses. Dua pengganggu dalam hidup mereka telah berhasil disingkirkan. Sebenarnya ia sudah berusaha menelpon sang suami sejak pagi. Namun, nomer pria tersebut tidak dapat menerima panggilan. Jadi lah ia memutuskan untuk datang sendiri, menyambangi kantor sang suami. Sudah lama juga ia tidak berkunjung.
Karena tidak menemukan wanita muda berkacamata yang biasa standby di meja sekretaris, Sussanne langsung saja menerobos masuk ke ruangan sang suami. Toh, ia istri CEO dari perusahaan ini. Tidak ada yang akan memarahinya jika tiba-tiba datang mengunjungi sang suami.
"Mas, aku datang—“ kalimatnya spontan terpotong. Suaranya tercekat di tenggorokan. Sesak tiba-tiba saja merayap melingkupi rongga dadanya. Matanya memanas menatap pemandangan tak pantas yang tersaji di depan sana, ketika ia berhasil melewati pintu.
"Sussanne, kamu—“ pria pemilik ruangan itu terhenyak kaget saat pintu tiba-tiba saja dibuka lebar-lebar dari luar.
"Nyonya—“ keterkejutan juga tampak mendominasi wajah wanita muda berkacamata yang tengah duduk di atas pangkuan pria tersebut.
"Jadi ini pekerjaan kamu di pagi hari, Mas?" Sussanne tersenyum miring menatap sang suami.
Jijik seketika itu pula menghinggapi. Ia jijik akan kelakuan bej*d sang suami yang ternyata memiliki hubungan gelap dengan sekretarisnya sendiri. Pria itu bahkan tertangkap basah tengah main gila di pagi hari. Di singgasananya sendiri. Tempat di mana mereka juga pernah bermain gila saat Utama masih menjadi suami Anjani.
"Ssane, ini tidak seperti yang kamu pikirkan." Utama Natadisastra segera beranjak dari duduknya setelah membenahi Zipper celananya. Ia buru-buru menyingkirkan wanita muda yang tadi duduk di atas pangkuannya. "Aku—“
"Ternyata benar perkataan Anjani sebelum mati. Aku merasakan apa yang dia rasakan." Sussanne tersenyum kecut.
Dulu, Anjani—Ibu Arga pernah memergoki mereka berdua yang sedang main gila di kamar utama Mansion Natadisastra. Menjelang ajal menjemput, wanita yang dulunya bintang besar di dunia seni tarik suara itu pernah bersumpah jika Sussanne juga akan merasakan apa yang ia rasakan.
Ternyata perkataan Anjani terbukti hari ini. Pria yang sudah sekali selingkuh, pasti punya potensi untuk melakukan hal yang sama di kemudian hari
"Kamu menyuruhku membunuh pria yang mencintaiku dan darah dagingku sendiri. Sedangkan kamu? Bercinta dengan ****** ini mas?!"
"Jaga bicaramu, Ssane!"
Sussanne tersenyum miring. Kedua tangannya terkepal. "Ini pilihan kamu, Mas." Ia menatap sang suami benci. "Aku mau pisah."
"Apa?!" Utama mendekati sang istri dengan emosi. "Apa-apaan ini? Kamu pikir bisa semudah itu berpisah dariku?"
"Kamu yang selingkuh, Mas. Kamu mengkhianati aku!"
"Aku pria. Aku bisa memiliki lebih dari satu wanita. Dia cuma wanita bayaran, sedangkan kamu istriku."
Sussanne tersenyum miring mendengarnya. "Terserah, Mas. Aku ini tipe wanita yang tidak bisa berbagi." Ia menatap suaminya lekat tak gentar sedikitpun. "Tunggu gugatan cerai dariku."
"Aku tidak akan membiarkan keinginan kamu terwujud, Ssane."
"Aku akan ambil setengah dari kekayaan yang kamu miliki," ujar Sussanne. "Aku juga akan bawa Alexander dan Alexa bersamaku. Jangan harap bisa menemui mereka lagi setelah kita bercerai."
"Sinting kamu!" Utama tentu saja murka. Ia tidak akan membiarkan semuanya terjadi sesuai rencana Sussanne. "Kamu tidak akan pergi kemana-mana bersama anak-anak."
Sussanne tidak menggubris. Ia menatap wanita berkacamata yang berdiri sambil menunduk di dekat meja kerja sang suami.
"Bersenang-senanglah dengan wanita simpanan kamu itu. Sekalian saja buat dia hamil anak kamu jika kamu menginginkan keturunan baru. Karena aku yakin, Arga, Alexander ataupun Alexa tidak akan pernah sudi lagi memiliki Ayah seorang pembunuh, penjilat, penipu, koruptor dan penjahat kelam*n seperti kamu."
Setelah berkata demikian, Sussanne melangkah pergi, meninggalkan ruangan sang suami. Sudah cukup baginya bertahan di sisi pria tersebut. Jika saja ia tidak mencintai Utama Natadisastra, ia tidak mungkin bertahan begitu lama.
Pria itu memiliki jabatan tinggi, uang bukanlah hal sulit untuknya. Wajar saja jika wanita silih berganti menggodanya demi meraup pundi-pundi rupiah. Namun, Sussanne tipe wanita yang tidak bisa berbagi. Utama tidak pernah bermain gila sebelumnya. Maka saat pria itu sudah berani bermain gila, Sussanne tidak tinggal diam.
"Halo?" sapanya pada suara di ujung sana ketika sambung telepon terhubung.
"Siapkan surat gugatan perceraian untuk saya. Saya juga ingin beberapa dokumen aset milik suami saya dialih namakan menjadi milik saya dan anak-anak. Saya ingin rumah, penthouse di Singapura, perusahaan, resort, departemen store di BSD, saham di yayasan pendidikan, perkebunan, pulau pribadi di lepas pantai Norwegia, beserta koleksi kendaraan mewah di showroom kemang. Semua dokumen atas aset itu harus ada di tangan saya siang ini juga."
Sussanne menatap jalanan dari balik kaca mobil mewahnya santai seraya mendengarkan penuturan kuasa hukumnya di sebrang sana.
"Baik. Saya akan segera kirimkan berkas-berkas yang diperlukan."
"…."
"Ah, dan satu lagi. Saya mau hak asuh anak-anak jatuh ke tangan saya."
Setelah pembicaraan dengan kuasa hukumnya selesai, wanita itu menyunggingkan senyum tipis. Inilah akhir kisah mereka. Ia akan menggugat cerai pria yang dulu dia rebut dari sahabatnya sendiri. Kendati demikian, ia tidak akan pergi dengan tangan kosong. Setidaknya ia harus memastikan jika setelah berpisah, ia punya cukup aset untuk menghidupi dirinya sendiri serta dua anaknya.
"Pak, putar balik. Antar saya ke rumah sakit."
__ADS_1
"Baik, Nyonya."
🫐🫐
"Ku menangis ….membayangkan, betapa kejamnya dirimu atas diriku
Kau duakan cinta ini
Kau pergi bersamanya
Ku menangis
Melepaskan
Kepergian dirimu dari sisi hidupku
Harus slalu kau tahu
Akulah hati yang telah kau sakiti."
Suara melengking milik lelaki berparas cantik itu seperti mewakili kegaduhan yang tercipta di kelas XII IPS I.
Berhubung sedang ada free class sebelum simulasi, mereka menggunakan waktu tersebut untuk bermain, berpacaran, mabar, nobar, ataupun sekedar menghibahkan banyak topik. Namun, hanya satu di antara mereka yang sedari tadi diam sambil menggoreskan pensil 2B di tangannya ke atas kertas. Kekacauan di sekitarnya tidak berarti apa-apa saat sepasang earphone menyumbat telinga. Pikirannya juga fokus pada arsiran gambar di buku tulis tersebut. Hobby lamanya akhir-akhir ini sering kali ia tekuni.
"Gue baru tahu kalau lo jago gambar."
Ia menoleh saat ada seseorang yang lancang melepaskan earphone miliknya.
"Anj*ng! Jangan ganggu gue."
"Sorry. Gue mau mengapresiasi aja." Gadis bersurai hitam sepunggung itu tersenyum kecil sambil berlalu. Ia sama sekali tidak gentar kala mendapat respon kurang menyenangkan dari sang leader.
"Anj*r, si Tere wanian uy," puji Iki yang melihat interaksi tersebut.
"Dia 'kan, memang suka gitu. Untung cewek, kalo cowok udah ditampol kali" imbuh Ibo.
"Hu'um." Kekeh si Iki. Ia jadi terhibur sendiri melihat interaksi sang leader dengan siswi bernama Tere. "Mood leader of SPHINIX lagi buruk. Untungnya dia jinak hari ini. Diem dipojokan sambil ngotret te pararuguh."
"Tapi si Orion sama Libra kemana nih? Mereka bolos."
"Nggak tahu tuh. Tadi mereka bilang mau sekolah kok. Tapi, nggak ak tau nyangkut kemana?" ujar Iki sambil mengedipkan bahunya acuh.
"Palingan mereka—“
"MINGGIR!"
Kalimat Ibo yang belum rampung diucapkan, terpotong oleh suara menggelegar dari ambang pintu.
"Itu bukannya suara si Libra?" tanya Ibo. Iki mengangguk sambil beranjak. Benar saja, sedetik kemudian lelaki itu muncul dengan langkah tergesa-gesa.
Lambaian tangan Iki berikan untuk menyambut kedatangan dua sahabatnya. "Woi, saudara. Dari mana aja—“
"Arga mana?" potong Libra.
"Weits, santun slurr," jawab Iki sambil mengelus dadanya. Kaget ia, kalimatnya dipotong begitu saja. "Noh. Nara kita ada di sana." Iki menunjuk ujung kelas, tempat di mana sang leader berada.
"Lagi pula lo ngapain teriak—“ belum selesai ia berbicara, Libra sudah berlalu begitu saja. "Kurang asem, gue dikacangin!" seru Iki, kesal. Namun, Libra tak menggubris sama sekali.
"Ta.”
"Hm?" jawab si pemilik nama. "Ada sesuatu yang terjadi?"
Libra mengangguk. "Cewek lo...."
"Kenapa sama dia?" serobot Arga cepat.
"Cewek lo mengalami kecelakaan."
Bak disambar petir di siang bolong. Lelaki yang sejak tadi tenang-tenang saja itu langsung beranjak dari tempatnya duduk. Maniknya berkilat antara marah dan gelisah.
"Di mana?"
__ADS_1
"Dia sekarang dilarikan ke di rumah sakit Pelita. Barusan Alexander hubungin Orion."
Arga tidak lagi butuh informasi apapun. Ia segera menyambar jaket serta kunci motor, lalu berjalan tergesa-gesa meninggalkan kelas. Semua itu tentu tidak luput dari seluruh penghuni kelas. Termasuk seorang guru yang memanggil-manggil namanya. Tetapi, Arga tidak menggubris sama sekali.
Saat tiba di koridor kelas XI, lelaki yang tengah tergesa-gesa itu tidak sengaja menabrak seseorang hingga kunci motornya terjatuh.
"****!" umpatnya marah.
"Nih." Kunci motor miliknya yang jatuh tiba-tiba disodorkan begitu saja ke hadapannya. "Kayaknya lo lagi buru-buru."
Arga menoleh, menatap si lawan bicara. Di hadapannya berdiri seorang lelaki dengan almamater SMA Angkasa lengkap, plus jas OSIS. Lelaki yang membawa tas punggung hitam itu tampak menatap Arga bingung.
Arga tidak mau ambil pusing. Ia langsung merebut kunci motornya lantas meninggalkan lelaki tersebut.
Arsen, lelaki yang Arga tabrak, mengedipkan bahunya acuh. Arsen memang mangkir di jam pertama dan kedua kegiatan belajar mengajar, tetapi sudah izin kepada guru piket dan wali kelas. Ia juga sudah memberi keterangan jika akan masuk di jam berikutnya. Oleh karena itu, lelaki yang memegang jabatan sebagai ketua OSIS itu baru datang ke sekolah.
"Arga kenapa kelihatan buru-buru? Apa ada sesuatu yang terjadi?"
🫐🫐
"Lex, hati-hati. Lo masih sakit. Masih proses recovery," lerai gadis cantik yang sedang berjalan mengekori kembarannya. Ia risau sendiri melihat cara berjalan saudaranya yang tergesa-gesa
"Gak usah banyak bicara, berisik."
Alexa mengangguk kecil. Gadis itu hanya risau, karena tiba-tiba kembarannya itu mencabut jarum infus yang terletak di punggung tangannya. Tindakan ekstrim itu dilakukan setelah Blake memberikan informasi jika adiknya mengalami kecelakaan.
Tapi, pertanyaan yang banyak muncul di kepala Alexa sekarang, siapa adik Alexander?
Apakah adik yang dimaksud adalah adik mereka yang selama ini telah meninggal?
"Aww," Alexa menjerit tertahan saat dahinya tidak sengaja menabrak punggung tegap sang kembaran.
"Lo nggak papa?" bukan, bukan Alexander yang bertanya. Melainkan Gray.
"I—ya." cicit Alexa.
"Lo bisa nggak sih jangan buat gue emosi?" Saat membalikkan tubuh, Alexander justru menatap sang kembaran dengan sorot penuh amarah. "Lebih baik lo pergi kalau bisanya cuma nyusahin."
"Gue—“
"Udah, Lex." Gray menyela. Lelaki yang berdiri gagah di samping Alexa itu menyentuh bahu kembaran si burung api guna memberinya ketenangan. "Dia nggak salah apa-apa."
"Ck." Alexander berdecak sambil melanjutkan langkah. Tergesa-gesa menuju Unit Gawat Darurat.
"Sebenarnya adik Alexander yang dimaksud semua orang itu siapa?" tanya Alexa penasaran. Sekarang ia melangkah sejajar dengan Gray.
"Infinity."
"Infinity?"
"Hm. Kita sepakat panggil dia dengan julukan itu dari dulu, karena dia jasanya tak terhingga dalam setiap kesempatan."
Alexa menoleh, menatap penuh pada wajah rupawan Gray. "Maksud lo?"
"Dia yang udah bujuk Arga buat nolong Alexander, itu salah satu contohnya."
"Dia .... berhasil bujuk Arga?" kaget Alexa. Hebat sekali, pikirnya.
"Hm. Dari situ lo bisa simpulkan sendiri gimana berharganya infinity buat Arga dan Alex. Ah, bukan buat mereka aja. Tapi, buat SPHINIX dan PIONIX," ujar Gray. Lelaki itu kemudian berbalik dan meninggalkan Alexa begitu saja.
Sepeninggalan Gray, Alexa masih dibuat penasaran dengan sosok dengan julukan infinity yang katanya berhasil membujuk seorang Arganta Natadisastra.
"Siapa sebenarnya Infinity? Kenapa dia bisa buat Alex sampai cemas begitu? dan Arga, bagaimana bisa dia membujuknya?"
...****...
...TBC...
...Semoga suka 🖤...
...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...
__ADS_1
...Tanggerang 22-12-22...