Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
²⁷UFB


__ADS_3

Bersekolah di instansi yang ternama dan termasuk ke dalam jajaran instansi populer dikalangan old money, merupakan mimpi banyak orang. Menjajal peruntungan ketika mengenyam bangku pendidikan di instansi ternama, setidaknya membawa kenyamanan tersendiri. Selain karena sarana dan prasarananya yang memadai, ada banyak koneksi yang dapat dijadikan sebagai batu loncatan untuk mengembangkan bakat dan minat.


SMA Angkasa mungkin salah satu opsi yang paling banyak diincar para remaja ketika hendak beranjak memasuki bangku putih abu. Selain sekolahnya yang memiliki sarana dan prasarana yang memadai, tenaga pengajar di sana juga dapat dipastikan sangat profesional.


SMA Angkasa sudah menjadi sekolah penyumbang lulusan lulusan terbaik yang menyebar di berbagai universitas favorit di luar dan dalam negeri. Namun, ditinjau dari segi manapun ketidaksetaraan antar sesama tetap ada. Mau itu di kalangan sekolah menengah biasa, hingga internasional sekalipun. Tidak jarang ketidaksetaraan itu hingga membuat kebencian yang kian meradang.


"Kakak ngapain numpahin cairan itu ke baju Nara?"


Logikanya, orang mau yang bisa bersikap biasa saja kala temannya diperlakukan tidak manusiawi? Cacha juga mengapresiasikan hal tersebut saat Nara tiba-tiba diperlakukan tidak menyenangkan.


"Ops, kacung setianya si keganjenan berkoar-koar." Pelaku penyiraman bukannya minta maaf, malah semakin memancing emosi.


"Jangan mentang mentang Kakak senior di sini, makanya berbuat semena-mena!" Cacha tak gentar sekalipun ia melawan senior.


"Punya temen keganjenan aja bangga!"


"Sorry, Kak. Temen aku nggak gitu, ya!" bantah Cacha.


"Sok tau, lo. Lo aja yang nggak tahu sifat aslinya!" Decha, si pelaku penyiraman tampak berapi-api kala berkata demikian. Ya, lagi-lagi kaki-tangan Alexandria Natadisastra yang berulah. "Dia itu kegatelan, ganjen, dan perusak hubungan orang."


Cacha menggelengkan kepala tak percaya. "Kalau gitu mana buktinya kalau Nara itu ngerusak hubungan Kakak?"


Decha berdecak seraya mengeluarkan iPhone miliknya. Ia mengutak-atik permukaan layar touchscreen benda tersebut untuk beberapa saat, lantas menyodorkan benda itu pada Cacha setelahnya.


"Siapa cewek ganjen yang duduk dipangkuan cowok gue? teman lo bukan?" sinis Decha.


Cacha yang baru saja menyaksikan video berdurasi singkat itu langsung kicep. Ia lantas menatap sang sahabat dengan ekspresi penuh tanya.


"Nih, lihat pakai mata lo. Mana ada cewek nggak punya pacar, tapi di lehernya ada hick*y?" tambah Decha, provokatif.


Cacha masih belum angkat suara, kala Nara menutupi bekas kemerahan di lehernya menggunakan rambut. Bekas itu .... sekarang berwarna pekat, dan Nara tidak punya peralatan makeup seperti concealer atau foundation, untuk menutupinya. Ia hanya menggerai rambut untuk menutupi bekas tersebut.


"Nar, itu ....apaan?" Cacha sebenarnya tidak sebodoh itu, karena ia juga kerap menonton drama Korea. Hal seperti itu agaknya lumrah dalam drama. Namun, melihat sahabatnya punya love bite, itu berarti ada yang sudah menandainya.


"Nggak bisa bicara 'kan lo?!" serang Decha. "Dia keganjenan sama cowok gue!"


Alexa dan Putri yang datang bersama Decha hanya menonton seraya melipat tangan di depan dada. Mereka tampak puas melihat Nara dipojokkan oleh Decha.


"Dia mau rebut cowok gue, dasar cewek gatel?!" murka Decha sambil menarik rambut lepek milik Nara.


Nara yang tidak melakukan persiapan apa-apa tentu saja mempermudah Decha dalam berbuat agresif.


Cacha tentu tidak tinggal diam melihat sahabatnya disakiti. Ia juga membantu melerai Decha yang menarik rambut Nara dengan brutal. Kejadian tersebut tentu saja menjadi bahan tontonan, terlebih lagi semua terjadi di area terbuka. Sebagian besar penonton mulai mengambil gambar, rekaman, bahkan ada yang sibuk mencemooh Nara.


"Rasain tuh, siapa suruh jadi cewek kegatelan." Kekeh putri sambil menonton keributan di depannya puas.


Sedangkan Alexa, gadis cantik dengan style mewah dan fashionable itu tersenyum tipis.



Dalam hati ia bersorak, tanpa harus mengotori tangannya sendiri, sudah ada orang lain yang membantu membalaskan dendam nya. Namun, senyum itu tidak bertahan lama, karena langsung berubah menjadi kegugupan saat melihat seseorang memasuki ruangan.


"Lo apain cewek gue?!"


Arganta Natadisastra datang. Ia langsung menjauhkan Nara dari jangkauan Decha yang masih murka.


"Lo apa-apaan sih, Ta? Minggir nggak! ini urusan gue sama cewek gatal itu."


"Cewek gatel?" ulang Arga. "Gue nggak salah dengar?"


Decha berkacak pinggang. "Iya, kenapa? Dia itu cewek gatel yang bisanya modal tampang sama tubuh buat narik perhatian cowok. Korbannya itu termasuk lo, Ta."


"Tau apa lo tentang dia?" Arga balik bertanya. Ia sudah pasang badan untuk Nara.


"Ta, lo sebaiknya nggak usah ikut campur. Ini urusan mereka," tukas Putri, ikut menengahi.


Arga tersenyum sinis. Sejak tadi dirinya sudah memiliki firasat kurang menyenangkan, ternyata ini maksudnya. Darahnya langsung mendidih ketika melihat dari jendela kelas, gadis yang belum genap 24 jam menjadi pacarnya tengah menerima perundungan.


"Ta, kamu ngapain sih? mending kita pergi aja dari sini. Kita nggak ada sangkut pautnya sama masalah mereka." ajak Alexa. "Ta, ayo."


"Nggak usah ikut campur, urusan gue bukan sama lo!" seru Arga dengan suara dingin.


Alexa menggelengkan kepala. "Tapi, Ta...."


"Lo ngerti bahasa manusia? Gue bilang nggak usah ikut campur Alexa!" Arga murka. Dengan kasar ia menghempaskan tangan Alexa yang sempat menggelayut di lengannya.


"Dan lo," Arga menunjukkan Decha. "dia pacar gue," imbuhnya. Pernyataan tersebut tentu membuat banyak mata terbelalak saking terkejutnya, termasuk Cacha.


Sedangkan Nara hanya bisa menunduk. Antara malu, takut, juga kaget akan pernyataan Arga. Sebelah tangganya digenggam erat oleh Arga, tak peduli dengan Nara yang saat ini bau dan kotor.


"Kalau lo mempermasalahkan soal ini," Arga menyingkap rambut Nara. Menurunkan sedikit kerah baju kekasihnya, agar tanda yang ia buat terlihat jelas. "Bukan cowok lo yang buat."


Seisi langsung riuh dengan bisik-bisik tak percaya. Jadi siapa yang meninggal tanda itu? kira-kira itu pertanyaan yang terbesit di kepala mereka.


"Tapi Ta, video itu...."


"Pacar brengsek lo yang udah ganggu cewek gue!" potong Arga.


"Lo jangan bohong deh, Ta!" ujar Decha tak terima.

__ADS_1


Arga berdecak sebal. "Ck. Memangnya siapa yang nggak kenal reputasi cowok lo?"


Decha menggelengkan kepala keras-keras. "Nggak. Jelas-jelas gue lihat di video itu kalau cewek lo...."


"Cowok lo yang bangs*t!" potong Arga seraya merengkuh pinggang Nara posesif. "Dia lancang nyentuh cewek gue dengan paksa," tambahnya. "Tapi, lo tenang aja. Gue tentu nggak biarin cowok lo sampai nyentuh cewek gue."


Decha seolah-olah kehabisan kata-kata mendengar penuturan Arga.


"Soal tanda dileher dia," Arga menoleh pada sang kekasih. Salah satu sudut bibirnya terangkat, sebelum melanjutkan kalimatnya. "Semalem gue yang buat."


Suasana di kantin semakin tidak kondusif. Banyak siswi yang menjerit histeris karena tidak percaya dengan fakta yang baru saja dikonfirmasi oleh Arganta Natadisastra secara gamblang. Sedangkan para siswa, mengapresiasi dengan cara yang berbeda-beda melihat bagaimana sang leader mempertahankan harkat dan martabat kekasihnya.


"Gue nggak perlu 'kan jelasin gimana cara buat tanda itu di leher cewek gue?"


Decha bungkam. Hal itu tentu saja membuat senyum miring di bibir Arga kian tersungging.


"Gue juga nggak perlu jelasin lagi apa maksud dan tujuan gue tandain dia? Lo semua pasti udah pada ngerti."


Setelah berkata demikian, Arga berbalik, lantas berlalu bersama Nara. Meninggalkan Decha yang masih mematung, serta Putri dan Alexa yang sama-sama terdiam.


🫐🫐


"Ganti baju lo pakai ini. Gue tunggu di sini."


Nara yang baru saja hendak bicara, langsung dipotong oleh Arga.


"Gue bakal mastiin nggak ada siapapun yang masuk selama lo di dalem." Arga mendorong Nara agar masuk ke dalam toilet, dengan gerakan yang terbilang pelan.


Nara mau tidak mau segera masuk ke toilet seraya memeluk paper bag yang Arga berikan. Ketika sudah berada di dalam salah satu bilik toilet, Nara langsung membersihkan dirinya. Ternyata selain seragam bersih, di dalam paper bag pemberian Arga ada juga handuk kecil dengan inisial A di bagian pojok, sisir kecil, body wash, dan shampo. Baik body wash maupun shampo, semuanya beraroma Citrus. Aroma yang biasa menempel pada Arga. Apa mungkin semua itu memang milik Arga?


Paper bag itu Arga bawa setelah menghilang beberapa menit, meninggalkan Nara di depan ruang ekstrakulikuler basket. Laki-laki itu lalu kembali membawa paper bag yang sekarang diberikan pada Nara. Setidaknya dengan barang-barang ini, Nara bisa membenahi penampilannya.


Dua puluh menit berlalu, pintu toilet yang sejak tadi dijaga sang leader akhirnya terbuka. Derit pintu yang terbuka berhasil membuat Arga menoleh.


Nara baru saja keluar dengan seragam yang sudah berganti dengan yang bersih. Hanya ukurannya saja yang extra large di tubuhnya yang mungil. Untungnya rok Nara tidak terlalu parah terkena cairan bau tadi, jadi masih bisa diselamatkan.


"Lo mandi atau tidur?" sambut Arga, sarkasme.


Nara mendongrak, menatap lawan bicaranya beberapa detik, lalu menunduk dengan cepat. "Maaf, Kak."


"Udah, minggir. Mereka mau lewat."


"Mereka?" bingung Nara.


Laki-laki tampan itu menarik Nara pelan. Supaya tubuh mungil itu bergeser dari depan pintu.


"Kita udah boleh masuk, Kak?" tanya seorang siswi seraya menunduk takut.


"Hm."


Setelah mendapatkan izin, siswi itu bergegas masuk ke dalam toilet.


Nara tentu terkejut, karena bukan cuma satu atau dua siswi yang tertahan di dalam toilet karena keberadaan Arga. Melainkan hampir 5 orang siswi.


"Kenapa Kakak nggak biarin mereka masuk?"


"Ada lo," jawab Arga seraya membawa Nara pergi dari sana.


"Kakak bisa biarin mereka masuk kok. Walaupun aku ada di dalam, tapi masih ada banyak bilik yang kosong."


Arga tak menggubris. Ia memang menahan semua orang yang hendak masuk, supaya Nara lebih nyaman saat bersih-bersih. Salah apa coba?


"Aku jadi kasian sama mereka karena harus nahan pipis atau poop," lirih Nara, sedih.


"Mereka aja lihat lo di-bully nggak kasihan. Kenapa lo harus peduli?"


Perkataan Arga memang ada benarnya, namun ia tetap merasa tidak enak saat membuat orang harus menunggu.


"Kak ....kita mau kemana?" tanya Nara kemudian. Sadar jika ini bukan arah menuju kelas.


"Kesiswaan."


"Kesiswaan, ngapain?" kaget Nara.


Selama bersekolah di SMA Angkasa, Nara tidak pernah menginjakkan kaki di keruang kesiswaan, kecuali jika ada keperluan organisasi. Ruang kesiswaan biasanya selalu menjadi momok menakutkan bagi sebagian siswa, terutama siswa yang masuk black list. Disanalah nasib mereka akan ditentukan, jika sudah melewati Bimbingan Konseling, tetapi masih kekeuh membangkang.


"Lo dipanggil."


"Dipanggil kesiswaan? memangnya aku salah apa?"


"Nanti tanya aja sendiri."


Nara mengangguk lemah.


Sekarang hatinya berdebar-debar tak karuan. Ia tidak pernah terlibat kasus pelanggaran di sekolah sampai harus dipanggil ke kesiswaan. Nara selama ini selalu mencoba menjadi siswi yang taat akan peraturan.


"Kakak juga ikut masuk?"


"Hm."

__ADS_1


"Tadi kata aku yang dipanggilkan?"


"Sama gue," ujar Arga sambil meraih kenop pintu.


Jantung Nara kian berdegup kencang saat pintu ruang kesiswaan terbuka lebar. Memperlihatkan sosok anggun dan penuh wibawa yang mendiami kursi kebesarannya.


"Silahkan masuk, Arga, Nara. Ibu sudah menunggu sejak tadi."


Nara mengangguk. Ia mengekor di belakang Arga yang sudah maju terlebih dahulu. Ternyata bukan cuma mereka berdua yang dipanggil, melainkan ada Alexa, Decha dan Putri juga.


Ketika hendak duduk, Nara baru sadar jika sejak tadi tangannya masih bertautan dengan milik Arga.


"Lupa," ucap Arga dengan satu alis terangkat. Seolah-olah menggoda sang kekasih yang terlalu parno, sampai-sampai lupa akan tautan tangan mereka.


Interaksi keduanya tentu menjadi bahan tonton. Tidak terkecuali bagi Alexa yang juga ada di sana. Ia tampak tak suka melihatnya.


"Duduk Ale, Arga. Ibu ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepada kalian," ujar wanita paruh baya dengan setelah formal tersebut.


Mereka berdua pun diminta duduk oleh Bu Sarah, kesiswaan SMA Angkasa.


"Baik, sekarang Ibu bisa mulai membicarakan alasan kenapa kalian semua dipanggil ke sini." Bu Sarah menatap siswa-siswi nya bergantian. Lalu tatapnya berhenti pada Nara.


"Nara, kamu tahu kenapa ibu panggil kamu?"


"Tidak, Bu." Nara menjawab sekenanya. Ia duduk berdampingan dengan Arah yang tampak biasa saja.


"Kamu yakin?"


Nara mengangguk. "Iya, Bu."


Bu Sarah berdeham kecil, lalu kembali mengajukan pertanyaan. "Seragam siapa yang saat ini kamu pakai, Nara? ibu dengan seragam kamu kotor karena Decha."


Nara yang tadinya menunduk langsung mendongrak saat mendengar pertanyaan tersebut. Pandangnya tertuju pada sang lawan bicara.


"Ini seragam...."


"Saya," sela Arga, kelewat santai. "Seragam pacar saya kotor. Jadi, saya kasih seragam saya yang lain. Ibu lihat sendiri, tubuh mungilnya tenggelam di seragam saya." Pada akhir kalimat Arga masih bisa terkekeh, padahal jawaban tersebut mengundang berbagai ekspresi di wajah semua orang yang ada di ruangan.


Bu Sarah mengangguk samar, lalu tatapnya beralih ke sisi kiri.


"Decha, kamu tahu kenapa ibu memanggil kamu kesini?"


"Nggak, Bu. Kalau saya tahu, saya pasti nggak mau kesini," ujarnya angkuh.


"Kamu tahu kesalahan apa yang telah kamu perbuat?"


"Saya nggak buat kesalahan apapun. Tapi dia," Decha menunjuk ke arah Nara. "udah ngerusak hubungan saya."


"Benar itu Nara?"


Nara menggelengkan kepala. "Saya bahkan tidak mengenal pacar Kak Decha, Bu."


"Halah, jangan munafik lo. Mana ada perusak hubungan mau ngaku!" sewot Decha.


"Iya, Bu. Udah jelas-jelas kita lihat sendiri videonya," bela Putri.


"Video apa?" tanya bu Sarah.


"Video itu hasil editing," jawab Arga.


"Bisa kamu jelaskan Arga?"


Arga mengangguk dengan malas. "Kronologinya di Lumiere Cafe sekitar pukul sembilan malam. Pacar saya jadi korban pelecehan. Pelakunya si brengs*k yang dibangga-banggakan oleh Decha Aldera sebagai pacarnya."


"Nggak usah nuduh sembarangan lo, Ta. Udah jelas-jelas cewek kampungan ini yang udah godain cowok gue!"


"Mana mau cewek gue sama cowok lo, padahal cowoknya lebih ganteng," sahut Arga seraya tersenyum miring. Ia tidak hiperbola. Toh, ketampanan Rick masih jauh dibelakangnya.


"Disini pacar saya jadi korban. Saya minta keadilan seadil-adilnya untuk Aleanska Nara, pacar saya yang sudah menjadi korban pelecehan dan perundungan sepasang kekasih yang sama-sama pengen*t."


Tekanan Arga berikan pada akhirnya kalimatnya. Ia seolah-olah ingin menegaskan pada semua orang yang ada di sana.


Decha tentu saja tidak terima. "Ta, lo nggak usah ikut campur. Udah jelas-jelas kalau..."


"Saya saksi di sini, Bu. Sudah jelas kalau pacar saya cuma korban," potong Arga.


Onyx hitamnya menatap Decha remeh. Sesekali ia juga menatap Nara yang hanya menunduk. Orang yang terakhir ia lihat adalah Alexa. Gadis jelas sekali sedang menahan emosi di balik sikap tenangnya. Sedangkan Decha, jangan tanya lagi betapa kesalnya ia. Niat hati ingin membuat Nara di-drop out, malah gagal karena asumsi Arga sebagai saksi terlalu kuat.


...🫐🫐...


...TBC...


Semoga suka 😘


Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 👏


Ada rekomendasi novel keren juga nih 👇


__ADS_1


Tanggerang 21-11-22


__ADS_2