Un Familiar Brother

Un Familiar Brother
⁶²UFB


__ADS_3

Lelah adalah titik dimana jiwa maupun raga sudah ingin menyerah untuk menghadapi masalah.


Lelah akan mendera ketika dirasa telah penat menghadapi segala sesuatu yang datang menimpa. Batas kesabaran seorang manusia pasti ada limitnya. Toh, sabar bukan barang yang bisa dibeli ketika sudah habis digunakan. Stok sabar setiap individu tentu berbeda-beda. Wajar jika pada suatu titik, manusia merasa lelah dan ingin menyerah.


“Arga?”


Suara penuh keterkejutan dari ibu sambung si pemilik nama, membuat orang-orang disekelilingnya menoleh.


“Arga, kamu datang?” tanya Utama.


Pria itu tampak terkejut mendapati putra sulungnya yang sekarang berdiri tepat dihadapannya. Anak-anak PEONIX yang kebetulan ada di sana juga tidak dapat menyembunyikan keterkejutan mereka. Siapa sangka mereka akan melihat leader of SPHINIX datang ke unit gawat darurat tempat ketua mereka dirawat.


Blake dan Gra saling pandang untuk beberapa saat. Keduanya bertanya-tanya dalam diam.


Apa mungkin leader of SPHINIX datang untuk menertawakan Si burung api yang tengah berjuang hidup dan mati di dalam sana?


“Dimana gue harus transfusi darah?”


Namun, kecurigaan, opini negatif, serta pertanyaan lain, terpatahkan saat Arga mengucapkan kalimat pertamanya.


Semua orang langsung menatap Arga tak percaya.


“Kamu ....mau menolong Alexander?” tanya Sussanne, ragu.


Begitu pula dengan Utama. “Kamu mau mendonorkan darah kamu untuk adik kamu?” tanyanya memastikan.


“Di mana?” tanya Arga lagi, kini dengan ekspresi yang semakin datar dan acuh tak acuh. “Gue nggak punya banyak waktu.”


Sussanne, ibu sambung Arga langsung beranjak. Seorang dokter kebetulan datang dan langsung membimbing Arga yang akan melakukan transfusi darah.


Lelaki itu datang sendiri, tanpa antek-anteknya. Kedatangannya tentu membawa tanda tanya besar bagi mereka, pun dengan pernyataan suka rela mau menolong Si burung api. Hal itu tentu membuat mereka bertanya-tanya.


“Mas, apa tadi itu benar Arga?” tanya Sussanne. Wanita itu tidak bisa membendung air mata, saat melihat sang putra yang baru saja dipindahkan ke ruangan lain. Sebagian hatinya terasa sesak mendapati wajah putra sematawayangnya pucat pasi dan tak berdaya. “Alexander pasti selamat ‘kan mas?”


“Hm. Kita berdo’a saja. Arga sudah datang untuk menyelamatkan adiknya,” ujar Utama, menenangkan sang istri. Setidaknya sekarang mereka bisa lega karena Arga datang. Alexander juga akan segera ditangani oleh dokter.


“Gadis itu ternyata berhasil,” lirih Utama, namun masih dapat didengar oleh sang istri.


Sussanne menoleh setelah menyeka sudut mata. “Maksud kamu apa mas?”


“Dia berhasil membawa Arga ke sini.”


Sussanne mengernyitkan dahi mendengarnya. “Maksud kamu?”


“Sebelum kamu mengusir gadis itu pergi, dia telah berjanji.”


“Berjanji?”


“Hm. Dia berjanji akan membawa Arga ke sini untuk akan menyelamatkan Alexander. See, gadis itu berhasil.” Utama menatap ke sembarang arah, menerawang. "Itu berat dia berharga bagi Arga."


“J—adi, dia….” Sussanne terbata-bata ketika hendak berkata.


“Gadis gembel itu menepati janjinya, Ssane. Dia membawa Arga kemari."


"...."


"Dia juga punya satu janji lagi."


"A-pa itu, Mas?"

__ADS_1


"Gadis itu berjanji akan pergi setelah ini.”


Sussanne mendongrak, menatap sang suami tak percaya. Namun, sekali lagi Utama menegaskan.


“Dia akan pergi dengan pria itu. Aku juga sudah mengirimkan anak buahku untuk menghabisi mereka.”


Suara ibu dua anak itu langsung tercekat di tenggorokan. Siapa sangka, gadis yang hendak ia dan suaminya celakai telah menyelamatkan nyawa putranya. Gadis itu peduli terhadap kondisi Alexander. Ia peduli pada laki-laki yang ia anggap sebagai kakak saat masih kecil, padahal notabene nya mereka adalah dua orang asing.


Ya, Aleanska Nara bukan darah dagingnya. Nara hanya bentuk dewasa dari bayi tanpa nama yang Sussanne ambil dari panti asuhan untuk menjebak Andra supaya mau menikah dengannya.


“Kamu tenang saja, kali ini akan ku pastikan jika mereka benar-benar pergi ke tempat yang seharusnya,” pungkas Utama penuh penekanan.


Utama tidak mungkin membiarkan dua manusia tidak berguna itu hidup lebih lama lagi. Ia tidak mau mengambil resiko lebih besar lagi jika mereka kedapatan masih hidup. Mengungkapkan mereka tak ubahnya hama bagi keberlangsungan hidup nyamannya.


🫐🫐


“Ternyata lo itu lebih lemah dari yang gue kira,” lirih lelaki rupawan yang tengah berbaring di atas hospital bad tersebut.


Pandangannya tertuju pada sosok yang terbaring tak berdaya di samping kanan. Selang-selang kecil tengah bertugas mengalirkan darah miliknya kepada lelaki itu. Sebagian lagi telah tersimpan dengan baik.


Sudah lebih dari sepuluh belas menit darahnya mengalih, memasuki tubuh lelaki berjuluk Si burung api tersebut. Lelaki itu, adiknya. Mereka berbagi darah dan gen yang sama dari seorang laki-laki tak bertanggung jawab dan bej*d yang telah membuat hidup mereka sengsara.


“Gue benci lo. Gue benci nyokap lo. Gue benci adik lo.”


Arga kembali bersuara. Kini pandangannya teralihkan ke langit-langit ruangan. Menatap nyalang ke arah tersebut.


“Gue benci fakta kalau kita berbagi darah yang sama. Mungkin—“ Arga memotong kalimatnya. “....kalau lo lahir dan datang dengan cara yang berbeda, gue nggak bakal benci seperti ini sama lo.”


“….”


“Lo punya bokap, nyokap, juga saudara. Kali ini aja, biarin gue egois buat dapetin dia. Dia sayang lo. T api, gue nggak peduli.”


“Gue lebih sayang dia ketimbang lo. Lo punya segalanya, gue cuma punya dia.”


Lelaki rupawan bersurai hitam itu menghela nafasnya lemah. Ia juga lelah, sampai kapan kebencian akan memupuk hubungan mereka? Apakah sampai salah satu diantara mereka ada yang tumbang atau menyerah?


Arga juga lelah. Ia tidak memiliki seseorang yang mengerti dirinya di dunia ini. Ia bahkan tidak memiliki rumah kembali. Kemana ia harus pergi? Kemana ia harus mengadu dan meminta pengertian? Arga seorang sendiri.


“Kali ini aja, gue mau lo lepasin dia buat gue.”


Keluarga, persahabatan dan kisah asmara Arga pelik. Semuanya rumit, apalagi semua itu diuji oleh perihal yang sama. Padahal pada dasarnya, masalah mereka itu cuma satu, yaitu tidak pernah bisa menerima kenyataan yang ada.


🫐🫐


“Ini pada mau kemana? Kok ada tas gede-gede di depan pintu?”


Gadis yang mengenakan jeans di atas lutut dipadukan dengan T-shirt putih polos itu berujar bingung. Kakinya yang terbalut sepatu slip on biru dongker, baru saja menjejakkan diri di kediaman sang sahabat. Ia khawatir, berhubung kemarin sang sahabat tidak kunjung kembali ke cafe dan malah memberi kabar tengah berada di rumah sakit.


“Nara ….lo ada di dalem ‘kan?” Ia berteriak memanggil si empunya rumah.


“Masuk aja, Cha. Aku ada di dalam.” Sahut suara dari dalam sana.


“Nara, itu tas sama—“ Ucapan gadis bersurai pendek itu terpotong seketika. “—lo kenapa? Kok bengkak gini matanya?” tanyanya risau.


Gadis bersurai sebahu itu tersenyum tipis. “Aku nggak papa kok. Kamu ada apa datang kesini pagi-pagi. Memang nggak sekolah?”


“Tanggal merah, neng.”


“Oh, iya. Maaf, lupa.” Gadis cantik itu meringis kecil.

__ADS_1


“Udah, udah, sekarang lo jawab pertanyaan gue! Kenapa mata lo bengkak gitu? Lo habis nangis ya?!” cerocos Cacha panjang kali lebar. Ia bertanya sambil berkacak pinggang, menunggu jawaban sang sahabat.


“Memang bengkak banget?”


“Iyalah, pake nanya lagi! Gue yang nangis nggak bisa beli album BTS, Proof aja, nggak gitu juga. Lo kenapa bisa nangis kejer sampe bengkak gitu? Cerita sama gue, beb.”


Bukannya menjawab, Nara malah kian memeluk sang sahabat. Cacha yang mendapatkan pelukan tiba-tiba itu tentu terkejut bukan main. “Lo ....ini kenapa?” lirihnya kecil sambil membalas pelukan sang sahabat.


“Aku nggak papa kok.” Nara mengurai pelukan tersebut. “Kalau kamu nyari si Juki, dia ada di depan. Niatnya mau aku kembaliin nanti.”


“Masalah si Juki gampang lah. Ini lo mau mudik kemana? Kok ada tas-tas besar di depan sono?” tanya Cacha.


“Ah, itu—“ jeda Alea. Ia mencoba merangkai kata yang pas untuk menjelaskannya.


“Jangan bilang kalo lo mau pergi tanpa pamit?” celetuk Cacha.


“Kenapa diem, Nar? Tebakan gue bener, ya?”


“Itu—“


“Jadi bener, lo mau pergi? Jahat banget nggak mau pamit sama gue!” rajuk Cacha marah.


Nara menghela nafasnya kecil. “Maaf.”


Cacha menatap  sang sahabat dengan sendu. “Jadi bener, lo mau pergi—“


Nara mengangguk samar. “Aku udah nggak mungkin tinggal di sini lagi, Cha.”


“Kenapa? Apa ini karena lo mau move on dari kak Arga?”


Nara terdiam. Bukan itu alasannya utamanya


“Atau  Karena masalah Kak Alexander? Kenapa? kenapa lo milih pergi, Nar? Lo tega ya sama gue!”


“Cha, sebenarnya Kak Alexander itu .... Kakak aku.”


Cacha yang hendak buka suara, langsung mengatupkan bibirnya lagi untuk beberapa saat. “Maksud lo, dia kakak laki-laki lo yang hilang itu?”


Nara mengangguk samar.


“Astaga naga, kok bisa?” Cacha tak habis pikir. “Jadi selama ini, Kak Alexander itu deketin lo karena dia tahu lo adiknya?”


Nara menggeleng sebagai jawaban. “Aku gak tahu,” lirihnya. “Tapi yang pasti aku harus pergi dari kota ini.”


“Kak Arga tahu soal in?”


Nara menggeleng. “Jangan—“ ia menatap sang sahabat sebelum melanjutkan. “—jangan sampai Kak Arga tahu soal ini. Aku nggak mau dia patah hati dua kali. Dia sudah terlalu banyak menanggung kesedihannya sendiri.”


“Tapi Nar, gimana sama perasaan lo? Lo sayang sama Kak Arga ‘kan? please, jangan egois. Semua bisa diselesaikan secara baik-baik.”


Nara tersenyum kecil mendengarnya. “Hm. Aku ....lebih dari sayang dia. Perasaan yang aku miliki tidak bisa digambarkan oleh kata-kata. Tapi—“ Nara menunduk. Menatap tautan jemarinya yang bergerak gelisah. “—sampai kapanpun kita tidak akan bisa bersama.”


...**...


...TBC...


...Semoga suka 🖤...


...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...

__ADS_1


...Tanggerang 19-12-22...


__ADS_2