
"Mana aja yang dia sentuh?"
Bungkam. Itulah satu-satunya yang Nara lakukan saat ini.
"Jawab gue, nana aja yang disentuh si bangs*t itu?" cecar Arganta Natadisastra lagi, walaupun lawan bicaranya masih enggan buka suara. "Lo nggak mungkin tiba-tiba bisu!"
Arga yang geram dan dibutakan oleh emosi, kini mencengkram ke dua bahu Nara dengan kasar. Menciptakan rintihan kecil muncul dari bibir gadis tersebut.
Padahal tadi Nara sudah berhenti menitihkan air mata, tetapi kini lelehan kristal bening itu kembali turun dari kedua matanya.
"Nangis nggak bakal mengubah apapun." Nada bicara Arga turun satu oktaf. Tangannya bergerak menarik dagu sang kekasih, supaya gadis itu mendongkrak.
Pandangan mereka bertemu. Untuk beberapa waktu mereka sama-sama diam membisu, hanya sepasang mata yang seolah-olah saling mengadu.
"Kenapa lo nangis lagi?" Arga jadi orang pertama yang angkat bicara. Ibu jarinya aktif menyeka air mata yang membasahi wajah sang kekasih. "Jawab gue, kenapa?"
"...."
"Lo nggak tuli, nggak mungkin tiba-tiba bisu juga. Jadi seharusnya lo bisa bicara sama gue. Gue bakal hapus jejak si bangs*t, kalau itu yang buat lo nangis."
Nara masih tak mau angkat bicara. Ia ingin menahan air matanya agar tidak jatuh di depan Arga, namun sulit. Ia tidak mau terlihat semakin lemah di depan Arga.
"Di mana aja dia nyentuh lo?" Arga mengeram lirih, mulai kehabisan kesabaran.
Nara mengalihkan pandangan sambil memejamkan mata. Saat ini yang ia mau hanya pulang. Ia butuh tempat tidurnya yang nyaman untuk menangis sepuasnya. Ia terlalu lelah dengan peristiwa buruk yang terjadi hari ini. Oleh karena itu, ia butuh istirahat.
"Bangs*t!" umpat Arga pada akhirnya. Ia mengurai rambutnya sendiri, frustasi. "Kenapa lo nggak mau bicara dari tadi hah?" desak Arga. "Oke, kalau lo nggak mau bicara."
Arga menjauh dari hadapan Nara. Benda-benda di sekitarnya lantas ladi objek pelampiasan. Ia tenda, banting, juga lempar ke dinding. Nara hanya bisa menonton kemarahan laki-laki itu dengan tangis dan rasa takut yang tergambar jelas.
Setelah puas melampiaskan amarahnya, Arga berjalan ke arah sebuah meja. Membuka salah satu lacinya, mengobrak-abrik isi didalamnya, sampai ia menemukan benda pipih di antara tumpukan benda yang lain. Lantas ia menekan tombol power agar benda itu berfungsi. Ketika sudah berfungsi dengan semestinya, jemarinya bergerak dengan lincah di atas keyboard touchscreen. Ada jeda sejenak baginya untuk menunggu, sampai akhirnya ia berhasil membuka apa yang ia mau.
"Bangs*t!" umpatan lagi-lagi Arga lontarkan pasca menonton hasil rekaman kamera pengawas di tempat kejadian.
Selaku pemilik Lumiere cafe, Arga tentu punya akses untuk melihat rekaman kamera pengawas yang terpasang di berbagai penjuru Lumiere cafe. Emosi Arga berhasil menduduki puncak tertinggi saat mengetahui titik mana saja yang telah disentuh Rick.
Arganta Natadisastra itu tipikal orang yang enggan berbagi. Jangankan berbagi, miliknya diganggu orang lain saja ia tidak akan tinggal diam. Apalagi jika disentuh sembarangan, murka lah sudah sang pawang. Jadi, dapat disimpulkan bahwa Arga itu sejatinya tipikal yang amat posesif. Si*lnya, hari ini Arga kecolongan.
Bagaimana tidak, ia hanya pergi beberapa jam dan ini hasilnya. Mereka baru saja jadian beberapa jam yang lalu. Ah ralat, Arga yang memaksa Nara menjadi pacarnya. Karena Nara sudah diklaim jadi miliknya, Arga jadi emosi saat melihat kepunyaannya diusik orang lain. Apalagi berniat ditandai, sedangkan dirinya saja belum sampat berbuat sampai sejauh itu.
"Gue bakal hapus jejak si bangs*t itu."
Nara tidak mengerti apa maksud dari ucapan Arga. Otaknya terlalu lelah untuk berpikir. Hari ini ada tiga lelaki yang mengobrak-abrik jiwa dan raganya. Pertama Alexander dengan kemunculannya yang tiba-tiba. Kedua, Arganta Natadisastra dengan insiden jadian dan kecupannya. Terakhir, Rick dengan tindakan pelecehan verbal dan non verbal yang menyakiti jiwa dan raganya.
Nara sudah mulai berhenti menangis. Air matanya berhenti di titik ini, kemudian perlakuan Arga kembali menyita perhatian.
"Kakak mau apa?" cicit Alea takut.
"Gue bakal hapus jejak ini!" dengan tangan kekarnya, Arga menyentuh area perpotongan leher dan bahu Nara. Membuat si empunya merinding kala sekelebat bayangan kembali muncul.
"Jangan, Kak...."
"Gue nggak suka milik gue disentuh orang lain," gumam Arga
Nara baru saja hendak menyuarakan protes saat Arga berhasil mengikis habis jarak di antara mereka. Sekarang Nara bahkan bisa merasakan napas serta bibir laki-laki itu menerpa bagian tubuhnya yang terbilang sensitif.
Kepala Nara terasa kosong. Blank saat Arga mulai bermain dengan area teritorial nya. Laki-laki itu mengecup di sana, melakukannya lebih lama dari yang pertama. Ia juga melakukannya dengan kuat, seolah-olah hendak menghilangkan bekas Rick, serta meninggalkan tanda yang ia ciptakan sendiri.
"Gue bukan dia, bukan cowok brengsek itu," ujarnya lirih kala menarik diri.
Dirasa cukup tenang, Arga melepaskan tawanannya. Ia kemudian berjalan ke arah meja dekat kursi yang teronggok di lantai, menggambil sesuatu dari dalam lacinya.
"Bengong?"
Nara tersentak. Akibat tindakan Arga beberapa saat lalu, ia benar-benar hampir kehilangan fungsi otaknya.
"Gue udah hilangin jejaknya," bisik Arga, tepat ketika ia berdiri hadapan Alea sambil mengangkat sebuah tisu basah. Tisu itu lantas digunakan untuk menyentuh, juga menekan bekas jajahannya. "Sebagian gantinya, gue buat tanda yang baru."
"Apa?" Nara masih belum dapat mencerna kata-kata Arga.
"Lo kebanyakan bengong." Arga berkata seraya tersenyum tipis melihat maha karya yang ia ciptakan di tubuh Nara. Lucu, warnanya merah hampir pekat. Besok pasti lain lain.
Sadar dengan arah pandang Arga, Nara lekas menggunakan tangannya sendiri untuk menutupi bagian tersebut. "Aku ....mau pulang."
Pandangan keduanya kembali bertemu. "Gue bukan cowok brengs*k itu, lo jangan takut."
Walaupun sudah ditenangkan berulang kali, nyatanya Nara belum bisa percaya apa-apa untuk saat ini.
__ADS_1
"Aku mau pulang," kekeuh Nara.
"Oke. Gue anter."
Nara mengangguk seraya tersenyum kecil, akhirnya ia bisa pulang. Laki-laki itu pasti akan segera membawanya pulang. Namun, prasangka tak seindah realita. Alih-alih membawa Nara pulang, Arga malah belok ke arah markas SPHINIX. Padahal seharusnya Arga mengambil jalan lurus ketika hendak mengantar Nara pulang.
Nara tentu saja kebingungan. Ia masih belum siap bertemu dengan siapa pun dalam kondisi ini.
Ternyata Arga mengajaknya ke area belakang markas SPHINIX. Area di mana poho-pohon pinus yang menjulang tinggi tumbuh dengan subur. Ada jembatan kayu pula di sana, menghubungkan satu pohon Pinus ke pohon lainnya. Tempat itu sangat terasa sunyi, tenang, dan nyaman untuk sekedar menenangkan pikiran. Walaupun ditumbuhi pohon-pohon yang tinggi, di sana cukup terang karena banyak penerangan dari bohlam lampu berwarna kuning yang dipasang berjajar.
"Aku mau pulang. Kenapa Kakak bawa aku kesini?"
"Nangis, kalau itu yang lo mau." Arga baru menjawab saat mereka turun dari motor. "Gue bukan dia. Harus berapa kali gue buat Lo yakin lo?"
Nara menunduk dengan bibir bungkam. Arga dan tekadnya memang tidak dapat didebat.
"Kalau ada yang nyentuh lo, gue nggak akan segan-segan, karena lo itu milik gue." Arga membuang muka ke samping. Ia juga tidak tahu kenapa bisa semarah ini. Aneh. "Gue bukan cowok suci, tapi gue juga bukan cowok brengs*k. Gue nggak pernah nyakitin cewek, makanya gue nggak sudi cewek gue disentuh apalagi disakiti."
Arga sadar jika ia sudah berbuat di luar kebiasaannya. Namun, ia hanya ingin Nara tahu jika gadis itu aman bersamanya.
"Lo sekarang cewek gue. Di luar tanggung jawab yang Seno kasih, gue punya hak lebih atas lo."
Kenapa kak Arga terdengar sangat peduli? Nara berbicara di dalam hati. Melihat serta mendengar tindakan dan ucapan laki-laki itu hari ini, membuat Nara sadar bahwa Arga itu sebenarnya peduli padanya. Namun, Nara tidak mau besar kepala. Ia tidak boleh terlalu percaya diri, takutnya semua ini hanya ilusi.
"Nangis, kalau itu buat lo lebih baik."
Nara mendongrak, menatap Arga dengan mata berkaca-kaca. Dibalas tatapan tenang nan menenggelamkan dari onyx hitam milik Arga.
"Gue janji, gue bakal selalu ada disisi lo. Selama lo nggak mendorong gue menjauh."
Tangis Nara kembali luruh mendengar perkataan Arga. Ia tidak tahu harus mengambil sikap bagaimana. Sikap Arga hari ini terlalu bahaya bagi kenormalan perasaan serta pikiran.
Ia takut Arga cuma ....iba padanya.
Pada akhirnya Nara memilih untuk kembali menumpahkan air matanya. Tak apa jika ia dicap cengeng. Toh, Arga sudah melihat begitu banyak tangisnya yang tumpah hari ini.
Barulah ketika sudah merasa lebih tenang, Arga menepati janjinya untuk mengantarkan Nara pulang ke rumah.
Sebenarnya acara yang dihelat di Lumiere cafe adalah kumpulan anggota geng SPHINIX yang berdomisili di luar kota. Mereka juga mengundang beberapa kubu yang menjadi sekutu. Namun, Arga tidak menyangka jika agenda tersebut malah berakhir dengan tragedi seperti ini. Ia yakin ada ada buntut panjang dari tindakannya beringasnya malam ini. Entah pada geng SPHINIX, atau pada posisinya sebagai leader.
"Terima kasih." Nara berucap setelah mengembalikan helm yang ia gunakan. Mereka baru saja tiba di depan rumahnya. "Aku masuk dulu kak," imbuhnya.
"Nara."
"I-ya?"
Laki-laki rupawan yang masih duduk di motornya itu tiba-tiba berkata, "jangan nangis lagi, lo kelihatan jelek."
"..."
"Bukan cuma Seno yang nggak suka lihat lo nangis, gue juga benci."
"I-ya," jawab Nara dengan suara kecil, sebelum buru-buru pamit undur diri.
Arga sempat bertahan di sana sampai Nara masuk ke rumah. Ketika punggung mungil gadisnya sudah tertelan di balik pintu, ia pun kembali tancap gas. Meninggalkan area perumahan kumuh tersebut.
Tanpa Arga ketahui, ketika suara raungan motornya terdengar semakin menjauh, tubuh Nara langsung luruh di balik pintu. Nara Kembali menangis seraya memeluk lutut.
Hari ini terasa begitu berat. Ia juga sudah lelah menangis, namun air matanya seolah-olah tak mau habis.
"Nara."
Merasa dipanggil, Nara dengan cepat mendongrak. Air matanya kian deras berjatuhan saat melihat sang ayah muncul dari balik sebuah pintu dengan balutan kain sarung lusuh, baju koko berwarna putih yang sudah kekuningan, lengkap dengan peci putih.
"Ayah hiks...."
Ayah mana yang tidak risau melihat putrinya pulang dengan keadaan kacau balau? itu pula yang sekarang Andra rasakan. "Putri Ayah kenapa?"
"Ayah...."
"Iya. Ini ayah, Nak." Andra datang mendekat, lantas berjongkok guna menggapai sang putri.
"Ayah hiks.... sakit.... hiks...." rintih Nara, pilu. Ia memukul-mukul dadanya sendiri yang kembali terasa sesak. "Hiks, Nara takut Ayah...."
"Sssttt, ini Ayah. Jangan takut."
Nara mendongrak, memastikan jika itu benar-benar ayahnya yang sangat ia sayangi. Sedetik kemudian, ia langsung berhamburan memeluk tubuh sang ayah. Tempat paling aman memang dekapan sang ayah. Nara tidak perlu meragukan hal itu.
__ADS_1
...🫐🫐...
"Nar, lo sakit, ya?"
"Enggak kok. Memangnya kenapa?"
Gadis yang baru saja membuka Hoodie Bangtan Boys alias BTS itu mengernyitkan dahi. "Lo pucet banget. Jujur aja, lo sakit 'kan? Kalau iya, mending kita ke UKS aja."
"Nggak usah. Aku nggak papa kok." Seulas senyuman terbit di bibirnya.
Cacha menatap sang sahabat penuh selidik. Perasaanya mengatakan jika Nara sedang kurang sakit hari ini. Wajahnya pucat, matanya juga sembab.
"Kita ke UKS aja, Nar. Gue khawatir sama lo. Jangan-jangan maag lo kambuh lagi?" Nara menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Tapi lo pucet banget loh."
"Aku nggak papa, Cha."
"Atau gini aja, kita ke kantin dulu, aku traktir kamu beli bubur. Kamu pasti belum sarapan, 'kan?"
"Aku masih kenyang, Cha."
"Nanti gue kasih Coki-coki se-pack deh, mau nggak?"
Nara menggeleng lagi sambil tersenyum.
"Sekali lagi terima kasih buat tawarannya. Tapi aku beneran gak papa. Mending kita lanjut ngerjain tugas di halaman empat puluh dua."
Nara memang langsung masuk sekolah keesokan paginya, walaupun kondisinya belum membaik. Namun, sudah terasa lebih baik pasca menangis semalam.
"Nar, lo udah tahu belum kalau darmawisata kita tahun ini bakal..." Cacha menoleh, lalu menatap sang sahabat yang sejak tadi terdiam. Ternyata sedang melamun. "Nar!"
"Eh iya, kenapa Cha?"
"Pantes aja nggak direspon dari tadi. Tahunya kamu lagi ngelamun!" ketus Cacha seraya melipat tangan di dada.
Nara tersenyum canggung, lalu mengucapkan permintaan maaf. "Maaf, tadi aku lagi mikirin rumus."
"Rumus apaan? Orang kita lagi belajar biologi bukan matematika. Ck, bohongnya ketahuan tuh." Cacha kian kesal.
"Memangnya kamu mau ngasih tau apa? soal Darmawisata?"
Cacha mengangguk. "Iya. Katanya darmawisata tahun ini bakalan ke Sukabumi loh."
Nara tersenyum tipis melihat kemanusiaan sang sahabat yang telah kembali.
Cacha memang sudah tidak sabar ingin segera mengikuti acara darmawisata atau yang lebih dikenal sebagai studi tour. Tetapi, anak-anak SMA Angkasa lebih mengenalnya sebagai darmawisata. Acara tersebut dilakukan saat memasuki semester genap di tahu kedua, atau lebih tepatnya kelas XI semester dua. Pelaksanaannya kisaran bulan Januari sampai maret.
Biasanya, satu angkatan kelas sebelas akan berangkat meninjau lokasi yang nantinya akan mereka jadikan sebagai tempat observasi. Sepulangnya dari sana, mereka akan ditugaskan untuk membuat laporan hasil observasi dari kegiatan yang mereka lakukan disana.
Setiap tahun tempat yang di kunjungi berbeda-beda. Mulai dari Bali, Yogyakarta, Surabaya, Semarang, Jakarta, lombok, dan tempat-tempat lainya sesuai konteks pelajaran mereka. Untuk tahun ini rencananya darmawisata akan berlangsung di kota Sukabumi. Salah satu kota yang terletak di pulau Jawa, provinsi Jawa Barat lebih tepatnya.
"Katanya sih darmawisata kali ini bakal mengobservasi tugas Biologi kolaborasi sama sejarah begitu. Makanya kita bakal berkunjung ke Geopark. Di sana kita buat observasi langsung di lapangan."
"Geopark?"
"Iya. Taman bumi, kalau dilihat dari arti katanya. Tapi kalau secara universal, kita search aja di Mbah google."
Nara mengangguk sambil tersenyum. Sekarang Cacha sudah tidak kesal lagi kepadanya.
"Nar, kayaknya kita harus siap-siap...." kalimat Cacha tidak sampai selesai diucapkan, karena ia sudah terlebih dahulu memekik saat tubuh Nara diguyur cairan hitam pekat berbau tidak sedap.
"Makan tuh air empang, dasar cewek kegatelan!"
Nara yang sempat mematung karena shock, kini mendongrak. Menatap si pelaku yang tega berbuat demikian padanya. Matanya sedikit menyipit, mengahalau cairan itu masuk dan mengotori indra penglihatan. Hidungnya juga sudah tidak dapat mencium aroma apapun, kecuali aroma bau busuk yang menempel di tubuhnya.
'Ya Allah, ini apa lagi?' batin nya lirih juga sedih.
🫐🫐
...TBC...
Kasihan Nara nggak sih 🙂😭😥
Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘
Ada rekomendasi novel keren juga nih 👇
__ADS_1
Tanggerang 20-11-22